Merasa Saat Menjadi


Waktu kemarin sekeluarga mudik ke rumah, kakak saya berujar pada ibu saya,

“Setelah jadi orang tua, aku kok merasa sudah kurang ajar sekali pada mamah ya!”

“Lha ngapa?” tanya ibu saya.

“Sering membantah dan rewel.”

“Hah! Ya nggak! Semua anak seperti itu! Kalau nggak malah aneh!” tukas saya.

Ibu membenarkan saya. Tapi ada kemungkinan saya mengatakan itu karena sewot saja. Karena sepertinya dalam keluarga kami, sayalah anak yang paling kurang ajar. Kalau kakak saya saja sudah masuk kategori kurang ajar, apalagi saya.

Mungkin juga karena saya belum punya anak.

Tapi saya kan punya anjing.

Ah ya, mari kita bercerita tentang Cuka anjing saya. Cuka semasa kecil itu nakaaaaallll sekali. Kadang ia bermain di trotoar. Disuruh masuk lagi ke rumah, eh malah dia mengejek.  Mundur-mundur sembari tertawa riang melihat orang rumah. Kami harus menjaga agar dia tidak jauh-jauh ke tengah aspal. Jadi kalau dia sudah melonjak-lonjak mundur, kami diam saja. Takutnya semakin disuruh semakin ia bersemangat mundur. Tidak dituruti tak apa lah, yang penting keselamatan anjing nakal itu dahulu.

Nah, pada hari itu Cuka bermain agak jauh. Ya cuma terpaut sekitar dua rumah sih. Saat itu ada penjual salak dadakan di trotoar. Mungkin saking gemesnya dengan Cuka yang masih imut lucu itu, ia mengulurkan tangan. Ingin mengajak bermain maksudnya. Kenalan gitu.

Cuka kaget. Ia meloncat mundur. Ke aspal. Naasnya, saat itu ada mobil kijang lewat. Anjing kecil nakal itu terserempet. Sebenarnya tidak parah juga. Cuma terseret sebentar. Sudah itu bangun lagi.

Sayangnya ia jadi panik. Ia berlari seperti anjing gila di tengah jalan raya. Kakak saya segera mengendarai sepeda motor. Saya membonceng. Tidak ada waktu untuk memakai helm. Tiap detik terasa begitu penting.

Karena tertinggal jauh, sempat juga kami hilang jejak. Untungnya dengan petunjuk orang yang berbaik hati tanpa diminta, kami bisa mengejar Cuka yang berlari. Tapi tidak semua baik lho, ada juga pemuda yang mencoba menendang Cuka yang tengah kalap berlari.

Mungkin mengikuti naluri, Cuka menuruti rute ia biasa saya ajak berjalan-jalan. Ke jalan perkampungan yang sepi. Kami berhasil memepetnya, ia berbelok masuk ke dalam halaman rumah orang yang luas. Waduh. Lalu menghilang ke balik pintu seng garasi. Waduh. Kakak saya memarkir motor lalu mencoba masuk. Saya berjaga di luar.

Belum lama kakak saya masuk, Cuka berlari keluar.

Hup la! Pyuh! Cuka tertangkap. Tidak percuma saya sering bermain kejar tangkap dengannya.

Ia masih meronta seolah tak kenal saya. Saya tak peduli. Ia saya peluk erat dalam dekapan. Dari dalam terdengar suara kakak saya bercakap-cakap dengan seseorang. Sepertinya ia menerangkan yang terjadi pada pemilik rumah. Untung pemilik rumah orang baik-baik. Ramah. Tidak marah. Apalagi turut berusaha menendang.

Kami bertiga naik motor pulang. Cuka saya dekap erat agar tidak terlepas. Di rumah, Cuka lebih tenang. Telapak kakinya sobek. Darah-darahnya membekas merah di kaos saya yang putih.

Dua tiga hari ia kesulitan bangun dan berjalan. Untuk berpindah tempat lebih sering dengan digendong. Rasanya tak tega melihat ia tertatih kesakitan.

Mulai saat itu, seumur hidup cuka takut dengan jalanan. Bunyi kendaraan lewat menakutkannya. Turun ke trotoar apalagi aspal terlalu horor baginya. Melihat rantai yang biasa kami ikatkan untuk berjalan-jalan di luar, ia masih senang gembira. Mungkin mengingat betapa senangnya ia kalau diajak jalan-jalan atau lari pagi. Tapi begitu keluar rumah, ia meronta kalap ingin masuk.

Mulai saat itu, rantai Cuka menggantung nganggur berkarat.

Mulai saat itu, seumur hidup saya mengingat rasa cemas. Cemas saat yang kau sayangi tertimpa celaka.

Mulai saat itu, saya memahami perasaan orang tua saya kalau saya pulang terlambat tanpa kabar. Atau saat saya terkulai sakit. Saat saya kecelakaan dan terluka.

Mulai saat itu, saya berhati-hati pada perasaan ibu saya yang penakut luar biasa. Kalau saya hendak pergi dari rumah dan ia melarang, saya tetap berani membangkang. Tapi saya tak pernah sampai hati membiarkan ia tidak tahu di mana saya berada. Karena tidak tahu di mana dan apa yang dilakukan seorang anak, tentu menimbulkan rasa cemas luar biasa.

Karena mulai saat itu saya tahu, rasa cemas itu luar biasa menyiksa.

Anehnya saat saya besar dan membicarakan hal ini dengan ibu, ia berkata,

“Ya kamu bener, kalau nggak membangkang nanti kamu nggak pernah ngapa-ngapa.”

Sepertinya ini jadi soal keseimbangan. Ibu yang tahu dirinya terlalu mudah khawatir, dan anak yang ingin melihat dan menikmati dunia. Yang keduanya saling berusaha menjaga perasaan masing-masing. Dan untunglah dalam pergulatan ini, saya, kakak-kakak saya, tidak pernah di cap sebagai anak durhaka.

Hal tersebut tercermin dari betapa seringnya ibu mengutarakan rasa syukurnya memiliki anak-anak seperti kami. Itu juga yang membuat saya sewot saat kakak saya merasa sudah kurang ajar.

Saya paham asal muasal dari pada perkataan kakak saya tersebut. Rasa kurang ajar itu mengacu pada kedua anaknya yang mulai memasuki usia “anak menyebalkan”. Rewel, suka membantah, manja, pokoknya melelahkan orang tua.

Padahal menurut saya, keponakan-keponakan saya itu masih baik-baik saja. Bisa berterima kasih tanpa diminta. Bahkan saat tak sengaja melempar bola pada muka saya, “Aem sowwiii…” diucapkan dengan inisiatif sendiri.

Omong-omong soal anak, sebenarnya saya juga sudah punya anak. Yaitu si bungsu dari anak-anak kakak yang saya ceritakan tadi. Ya, keponakan saya itu.

Bukan! Bukan!

Jangan sekali-kali berpikir saya menghamili kakak ipar saya sendiri! Atau jadi donor sperma  pengganti kakak saya!

Yang saya maksudkan adalah keponakan saya itu sekaligus merupakan anak babtis saya. Beberapa tahun yang lalu kakak meminta saya untuk jadi ayah babtis bagi anaknya. Sungguh saya sudah memperingatkan kalau saya ini ke gereja saja malasnya luar biasa. Tapi kakak  tetap bersikeras. Ya sudah, saya pun tak berkeberatan kok. Malah ada bangganya juga. Yang penting pengertiannya, resiko ditanggung penumpang!

Lalu apa yang saya lakukan sebagai ayah babtis? Tidak ada. Selama ini saya hanya ayah babtis seremonial belaka. Hadir saat pembabtisan. Lalu turut makan-makan setelahnya. Sudah. Itu saja.

Tapi ternyata, jadi ayah babtis tak bertanggung jawab pun memberi pengertian baru pada saya. Tidak lain tidak bukan ketika jabatan ayah babtis ini mengingatkan saya kepada ayah babtis saya sendiri.

Kita sebut saja Pak Niti. Karena panggilannya memang begitu. Ia juga menjadi ayah babtis bagi kakak saya.

Pak Niti adalah tetangga kami. Hanya terpaut dua rumah saja. Pak Niti dan istrinya, Bu Niti, tinggal berdua dalam rumah besar. Anak-anaknya sudah tidak tinggal di sana. Bekerja di luar kota dan berkeluarga. Beliau berasal dari keluarga terpandang. Rumahnya saja disebut gedong. Sebutan rumah gedung pada jaman dahulu.

Sebagai anak babtis, kami rajin mengirim kartu dan kue saat natal pada mereka. Itu dulu, saat kami masih sekolah. Dan itu pun karena disuruh orang tua.

Pernah pada musim liburan mereka mengundang kami saat keluarga anaknya mudik. Cucu-cucu mereka memang seumuran kami. Sepertinya Pak dan Bu Niti berharap kami berteman dengan mereka. Tapi setahuku, kami bertemu ya cuma itu. Nama-namanya saja kami sudah lupa.

Begitulah. Seingat saya, Pak dan Bu Niti selalu berusaha mengundang kami main ke tempat mereka. Sampai suatu hari akhirnya, orang tua kami memaksa kami memenuhi undangan menginap di rumah mereka. Saat itu Pak dan Bu Niti sudah semakin tua.

Saya ingat hari itu. Pak dan Bu Niti tampak senang sekali. Mereka mempersilahkan kami berlaku selayaknya di rumah sendiri. Mereka menyuguhkan camilan. Juga minuman. Mereka mengutarakan keinginan mereka. Agar kami sering main ke sana. Habis sekolah atau di akhir minggu. Baca-baca buku. Membuat pe-er atau sekadar menonton tivi.

Tapi apa menariknya berkunjung ke rumah tetanggamu yang sudah jompo. Yang rumahnya berdebu dan bau. Yang camilannya impor tapi tak enak di lidah. Yang televisinya lebih kecil dari tivi rumah kami. Yang buku-bukunya banyak, tapi berkutu dan bahasanya belanda. Yang kasurnya keras dan beraroma jamur.

Sudah. Hanya sekali itu kami menginap.

Sudah. Kami tak pernah lagi bermain ke sana.

Sungguh saat itu saya tidak paham. Saya hanya anak kecil, yang menolak hal tidak menyenangkan tanpa peduli perasaan orang.

Orang tua kami juga merasa bahwa kami berlaku kurang layak. Keluarga Niti sudah memperlakukan kami dengan sangat baik, termasuk kesediaannya dengan senang hati menjadi orang tua babtis bagi kami-kami tanpa syarat apapun.

Akhirnya, saat menjadi ayah babtis bagi keponakan saya tadi, saya melihat hal yang sebelumnya tidak pernah saya sadari. Pun tidak disadari orang tua saya.

Bapak dan Ibu Niti telah berusaha merangkul kami dalam pelukannya. Berusaha menjadi orang tua kami dalam artian sesungguhnya. Bukan orang tua seremonial seperti yang saya lakukan.

Mereka ingin agar kami dekat dengan mereka. Mereka memberi dan kami menolak. Mereka mendekat dan kami lari pergi. Semata karena sayang mereka pada kami, anak-anaknya. Toh mereka juga tidak memperlakukan anak tetangga lain seperti memperlakukan kami.

Sedangkan saya malah berlaku kurang ajar pada orang tua babtis saya tersebut. Bukan dengan rewel. Manja. Menuntut. Membangkang dan membantah. Tapi lebih parah. Yaitu dengan ketidakpedulian saya pada mereka.

Dan ketika kesadaran itu hinggap, semuanya sudah terlambat. Ibu Niti meninggal beberapa tahun lalu. Pak Niti tinggal di rumah anaknya di luar kota. Ia bukan tetangga kami lagi. Rumah gedong itu sudah dihancurkan, disulap jadi showroom besar.

Kemudian tadi, dua tiga jam lalu, saya berdoa di depan peti tempat jenazah Pak Niti dibaringkan. Anaknya menghampiri dan menyalami saya.

“Temannya siapa ya ini?”

Mungkin ia mengira saya teman dari cucu Pak Niti.

“Saya anak babtis Pak Niti.”

“Oh…sini sini, duduk sini.”

Ia mendudukkan saya di barisan tempat duduk keluarga.

“Kok papi nggak pernah cerita ya?”

Yap! Pertanyaan tepat untuk seorang anak durhaka.

Yogyakarta, 05 Januari 2012

This entry was posted in Uncategorized and tagged , . Bookmark the permalink.

10 Responses to Merasa Saat Menjadi

  1. Tobias says:

    Semoga Pak dan Bu Niti diterima di sisi-Nya.

    Dari semua posting kamu, menurut saya ini yang paling bagus.

  2. benny says:

    emang enak jadi anak-anak
    tapi, tau rasa kalau sudah punya anak
    turut berduka cita, semoga beliau diampuni segala dosanya
    dan diterima disurgaNYA
    amien.

  3. Annie Soehardjo says:

    bagus banget, serasa ngalami sendiri :(

  4. wensa says:

    waduh cuka punya bad exp ama kendaran roda 2

  5. yulysafar says:

    penyesalan pasti ada, ya, mas kur. Tapi semoga terulang lagi. Begitu juga dengan saya dan yang lainnya :)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s