Dari Dahulu Begitulah Cina, Beritanya Tiada henti


Ahok begini, Ahok begitu…

Sudah Cina, Kristen pula…
Sudah Kristen, Cina pula…

Sebenarnya isu paling ramai adalah kekristenan Ahok, tapi yang diangkat cukup sederhana. Muslim, sebagai mayoritas dilarang memilih pemimpin di luar agamanya. Jadi untuk masyarakat kristiani yang hanya ingin hidup santai damai sebagai warga Indonesia, isu ini tidak terlalu menohok (walau saya tidak menampik isu ini bisa berkembang lebih besar dan mengancam ketentraman nantinya).

Nah, untuk isu Cina ini yang lebih mengerikan. “Dosa-dosa” keturunan Cina di Indonesia diungkit-ungkit, didedah, seolah-olah berkulit kuning dan bermata sipit adalah tanda seorang penjahat. Dengan pengobaran sentimen semacam ini, seolah bangsa Indonesia diingatkan bahwa keturunan Cina bukanlah bagian dari mereka. Kebencian disulut kembali. Prasangka, kecemburuan semu, dan dendam olahan disebarkan dalam masyarakat. Isu ini tidak hanya mengakibatkan Ahok saja yang ditatap dalam tuduhan, tapi seluruh keturunan Cina di Indonesia. Atau tepatnya, semua yang tampak dan mirip keturunan Cina.

Itulah sebabnya saya selalu tak suka bila ada keturunan Cina maju ke pentas politik. Kampanye negatif yang (pasti) digencarkan musuh politiknya bukan hanya mengincar ia sebagai pribadi, tapi juga semua keturunan Cina di Indonesia. Apa daya, kesipitan mata dan kekuningan kulit tidak selalu dapat disembunyikan oleh logat medok saya.

Tapi tentu saja Ahok berhak maju dalam pentas politik. Ketika saya berpandangan bahwa semua warga negara Indonesia adalah sama haknya di depan hukum, maka saya akan mengkhianati diri saya sendiri jika melarang Ahok maju sebagai calon wakil gubernur.

Ahok, atau Basuki Purnama adalah pendamping Joko Widodo (Jokowi) dalam perebutan kursi Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Jakarta yang diajukan PDIP dan Gerindra. Pasangan ini menantang calon kuat yang telah menjadi Gubernur periode sebelumnya, Foke. Dalam pemahaman masyarakat, Foke memiliki citra pemimpin yang arogan dan haus kekuasaan. Ia dekat dan tampak memelihara dua ormas yang sering membuat kekacauan, FPI (Front Pembela Islam) dan FBR (Forum Betawi Rempug). Jadi yang terlihat adalah, Foke memelihara kekuasaannya bukan dengan prestasi yang ia toreh, melainkan dengan memiliki pasukan non formal yang siap mengacak-acak pihak-pihak yang berseberangan dengannya. Bolehlah ia disebut pihak status quo.

Sebaliknya, Jokowi dan Ahok maju berdasar pencapaian yang telah mereka toreh selama memimpin daerahnya masing-masing. Pasangan ini digambarkan sebagai harapan rakyat kecil yang mendamba perubahan dan muak dengan kepemimpinan selama ini.

Lalu apa sih sebenarnya dosa-dosa yang dituduhkan pada warga keturunan Cina? Apa sih yang ditakutkan oleh para sinophobia, orang-orang yang ketakutan dengan segala sesuatu yang berhubungan dengan Cina?

Ekonomi! Keturunan Cina menguasai perekonomian Indonesia! Mereka menghisap kekayaan pribumi sampai habis, lalu melarikannya ke luar negeri. Nasionalisme! Mereka tidak peduli terhadap bangsa Indonesia, hanya loyal terhadap tanah leluhur di daratan Cina sana. Sebagai bukti kita bisa lihat kewarganegaraan mereka, banyak yang tidak berwarganegara Indonesia. Masih saja mengagung-agungkan bangsa leluhur di daratan Cina sana. Selama penjajahan, mereka juga memihak pada Kompeni sehingga diberi kasta di atas pribumi. Eksklusif, tidak mau berbaur. Mereka sendiri yang tidak merasa jadi bagian dari Indonesia. Yang dipikiran mereka hanya uang. Coba tengok, mana ada orang Cina di desa-desa. Memacul tanah dan bergelut dengan tahi kerbau. Mereka hanya berkumpul di kota-kota besar dan bergaul dengan sesamanya saja. Kalau tidak, kenapa sampai ada pecinan segala?! Indonesia tidak butuh penduduk seperti mereka! Selamatkan pribumi dengan mengusir mereka! Makmurkan bangsa asli dengan membantai mereka!

Bagaimana keturunan Cina bisa menjadi hantu yang begitu mengerikan bagi pribumi? Pernahkah Anda menanyakan hal ini sebelumnya?

Untuk mengetahuinya mari kita mundur ke masa lalu. Bukan dengan mesin waktu Doraemon, tapi dengan sedikit ingatan, beberapa buku, fasilitas pencarian google, dan semangat untuk memahami ruwetnya sejarah.

Mari kita tarik tuas mesin waktu kita menuju pembantaian etnis Cina terdekat! Wuuut…!

***

Tanggal 13-14 Mei 1998, kota Jakarta membara saat presiden yang berkuasa, Soeharto, sedang melawat ke Mesir. Toko-toko dijarah dan dibakar. Esoknya kerusuhan ini sudah menjalar ke Surakarta. Di kota itu dan kota-kota lain,  beberapa menempelkan tulisan “Pribumi Muslim” di pintu tokonya yang tertutup rapat. Kerusuhan ini memang mengincar warga keturunan Tionghoa. Toko-toko dan rumah mereka dijarah. Bukan hanya uang atau barang mewah saja yang diambil, beberapa kesaksian menyatakan bahkan sendok dan pakaian pun ludes tak bersisa. Itu termasuk beruntung, karena beberapa toko tidak hanya dijarah tapi juga dibakar. Perempuan-perempuan keturunan Cina, atau yang tampak seperti Cina ditarik ke jalanan lalu diperkosa secara massal. Saat itu, tidak tampak gerakan dari aparat keamanan untuk menghentikan kerusuhan yang terjadi.

Saat itu memang terjadi huru-hara di mana-mana. Masyarakat resah. Krisis moneter memukul mereka. Inflasi merajalela, harga-harga membumbung tinggi. Tuntuntan penggulingan presiden Soeharto yang sudah berkuasa selama lebih dari 30 tahun digerakkan oleh mahasiswa. Kelangsungan rezim terancam. Demo yang semula kecil jadi membesar tak terkendali. Boneka dan foto Soeharto dibakar. Tokoh yang selama ini begitu ditakuti, namanya diteriakkan di jalan-jalan. Gantung anjing Soeharto jadi frasa yang dipekikkan penuh kebanggaan.

Etnis Cina dituduh sebagai pihak yang mengakibatkan krisis moneter karena konon merekalah yang menguasai perekonomian Indonesia. Memang saat itu beberapa pengusaha keturunan Cina menjadi raksasa kolongmerasi. Mereka mendapat banyak fasilitas dan hak monopoli yang diberikan oleh rezim Soeharto. Sebagai gantinya, Soeharto meminta balas budi mereka saat merasa membutuhkan. Terutama melalui jaringan keluarganya, atau yang sering disebut keluarga Cendana.

Tanggal 21 Mei, Soeharto mengundurkan diri. Orde baru berganti menjadi orde reformasi.

Dua tahun setelah itu, Gus Dur selaku presiden berlaku yang terpilih mengeluarkan Keppres no: 6/2000. Kepres ini berisi pencabutan terhadap Inpres no:14/1967 yang berisi pelarangan tentang agama, kepercayaan, dan adat istiadat Cina. Sejak itu berbagai aturan yang bersikap diskriminatif dicabut. Masyarakat keturunan Cina diperbolehkan kembali untuk merayakan upacara dan adat istiadat secara terbuka.

Tapi darimana sumber segala pelarangan terhadap budaya Cina ini? Karena Cina yang jadi lintah bagi perekonomian bangsa, Cina yang eksklusif dan tidak mau berbaur?

Mari kita tarik tuas mesin waktu kita kembali. Karena kisah kita barusan adalah kisah pembantaian etnis Cina sekaligus kisah pergantian rezim, maka Anda boleh pilih pergi ke masa kerusuhan anti-Cina atau ke masa perebutan kekuasaan sebelumnya. Wuuut…!

***

Apapun pilihan Anda, ternyata kita kembali ke masa yang sama. Sekitar tahun 1973 -1974. Mirip kejadian tahun 1998, saat itu mahasiswa bergejolak. Muncul ketidakpuasan terhadap kebijakan perekonomian pemerintah. Pelaksanaan pembangunan dinilai terlalu memihak pemodal asing, terutama pemodal dari Jepang. Pengusaha-pengusaha kecil lokal menjadi hancur. Negara terlalu menggantungkan diri pada IMF dan bank Dunia. Ditambah lagi isu-isu KKN yang dilakukan lingkaran Soeharto.

TIba-tiba tanggal 5 Agustus terjadi penjarahan dan perusakan terhadap toko dan rumah etnis Cina di Bandung. Aparat keamanan saat itu juga terkesan melakukan pembiaran, bahkan dikabarkan bahwa ada prajurit terlibat dalam aksi tersebut.

Oktober 1973, para mahasiswa mengeluarkan “Petisi 24 Oktober”. Petisi itu menuntut pemerintah untuk meninjau kembali strategi pembangunan, juga meprotes  adanya perkosaan hukum, penyelewengan kekuasaan, korupsi, kenaikan harga, dan sempitnya lapangan pekerjaan.

Beredar juga desas-desus bahwa ada seorang jenderal yang akan menjatuhkan Presiden Soeharto. Jenderal yang dimaksud adalah Jenderal Soemitro.

Tanggal 14 Januari, terjadi demonstrasi di kantor Ali Moertopo yang dianggap bersalah terhadap kekacauan ekonomi yang sedang berlangsung. Aksi mahasiswa ini tidak menemui rintangan dari Jenderal Soemitro yang mengkoordinasi aparat keamanan saat itu.

Tanggal 15 Januari, demonstrasi besar-besaran dilakukan terhadap Perdana Menteri Jepang Tanaka yang melakukan kunjungan ke Indonesia. Mereka meneriakkan anti terhadap barang Jepang yang saat itu membanjir tanpa henti ke Indonesia. Namun aksi ini berubah menjadi aksi liar yang konon direkayasa oleh kelompok Opsus, bikinan Ali Moertopo. Massa mulai menjarah dan membakar kendaraan buatan Jepang. Kerusuhan ini mulai merambat ke daerah Glodok dan Senen. Mereka menjarah dan membakar toko-toko milik warga keturunan Cina. Lagi-lagi terjadi pembiaran oleh aparat keamanan.

Akibat dianggap gagal menjaga keamanan dan ketertiban Jakarta, Sumitro dipecat dari jabatannya. Ia diberi tawaran untuk menjadi duta besar di Amerika Serikat. Ia menolak tawaran itu dan meminta pensiunnya dipercepat.

Setelahnya terjadi beberapa mutasi dalam tubuh militer dan pemerintah bertindak lebih represif. Aksi-aksi menentang kebijakan pemerintah pun akhirnya padam.

Tapi tunggu, kita masih belum tahu asal muasal pelarangan budaya Cina di Indonesia. Bukankah tadi kita menarik tuas mesin waktu untuk mencari tahu hal tersebut. Oke, langsung saja kita pergi ke jaman saat peraturan tersebut dikeluarkan. Wuuutt….!

***

Dan di sinilah kita. Masa-masa pergantian dari orde lama ke orde baru yang ditandai dengan peristiwa G30S/PKI tahun 1965. Dan coba tebak, di masa ini pun kita menemui aksi anti-Cina. Lebih besar dan lebih mengerikan dari yang sudah kita bahas di atas.

Selepas peristiwa G30S/PKI, ribuan orang Cina dibantai, dianiaya, dan diusir di berbagai tempat di Indonesia. Toko-toko dan rumah-rumah dijarah, dirusak, dan dibakar. Menurut majalah Life, korban tewas mencapai ratusan ribu. Tapi jumlah ini simpang siur. Ada juga yang menyatakan “hanya” beratus-ratus, atau tidak sampai melewati angka dua ribu.

Pada Agustus 1966, diambil sebuah keputusan dalam Seminar Angkatan Darat II untuk mengganti sebutan Tiong Hoa dan Tiong Kok menjadi Cina.

“…untuk menghilangkan perasaan inferior pada orang kita dan di lain pihak menghapus perasaan superior pada golongan yang bersangkutan dalam negeri kita, maka adalah tepat untuk melapor bahwa seminar memutuskan untuk menggunakan lagi sebutan untuk Republik Rakyat Tiongkok dan warganya “Republik Rakyat Cina” dan “warga negara Cina”.”

Istilah Cina memang berkonotasi penghinaan. Dahulunya sering digunakan oleh Jepang saat menginvasi daratan Cina. Loh, lha terus dari tadi saya kok pakai kata Cina? Ya sudah, mulai saat ini saya akan menggunakan kata Tiong Hoa.

Dari mana kebencian ini berkobar, sampai-sampai perlu mengganti sebutan? Semenakutkan apakah keturunan Tiong Hoa ini sampai-sampai mereka harus dihancurkan?

Kita perlu mundur beberapa langkah untuk melihat keadaan secara lebih luas. Pergantian orde lama menjadi orde baru bukan sekedar pergantian kekuasaan dalam negeri. Kita harus sadar bahwa Soekarno sebagai penguasa orde lama adalah penguasa yang dekat dengan Tiongkok dan Uni Soviet. Si raksasa sosialis komunis. Sedang penguasa orde baru, Soeharto, adalah penguasa yang dekat dengan Amerika Serikat dan Inggris. Si raksasa kapitalis. Pada saat itu, antara dua kubu ini terjadi perang dingin. Mereka berebut pengaruh di antara negara-negara lain. Termasuk Indonesia. Untuk menumbangkan pengaruh sosialis komunis, agen-agen kapitalis ini selain melakukan propaganda komunisphobia, juga melakukan propaganda sinophobia. Tiong Hoa begini, Tiong Kok begitu, pokoknya yang jelek-jelek dan mengerikan. Dan saat kekuasaan Soekarno dibungkam, maka pengaruh Amerika Serikat dan Inggris membanjir masuk ke Indonesia. Akhirnya seperti yang telah diketahui, terjadi pemutusan hubungan diplomatik antara pemerintah Indonesia dan Republik Rakyat Tiongkok yang diawali dengan penyerbuan massa terhadap Kedutaan besar RRT di Jakarta.

Sentimen anti Tiong Hoa ini juga disambut masyarakat dengan cara menuntut diberlakukannya kembali PP no. 10 tahun 1959. Pengusaha pribumi ingin merebut perekonomian yang selama ini dikembangkan oleh pengusaha keturunan Tiong Hoa.

Di Makassar, walikota mengeluarkan larangan bagi orang Tiong Hoa WNA (Warga Negara Asing) untuk berdagang sembako di kota tersebut. Di Jawa Timur, orang Tiong Hoa WNA dilarang melakukan perdagangan besar di kota selain Surabaya. Mereka diharuskan membayar pajak per-jiwa,  juga dilarang menggunakan huruf dan bahasa Tiong Hoa di muka umum, di pembukuan, perdagangan, surat menyurat, bahkan percakapan telepon. Di saat yang sama, mereka dilarang berpindah domisili keluar dari Jawa Timur. Selain itu juga diperintahkan penutupan semua kelenteng di Jawa Timur dan Madura. Di Jawa Tengah dan DIY, seluruh orang Tiong Hoa WNA diharuskan memasang papan tanda kebangsaan agar aparat dapat dengan mudah melakukan pengawasan. Walaupun peraturan ini berlaku terhadap keturunan Tiong Hoa yang WNA, tapi harus diketahui bahwa saat itu status kebanyakan warga keturunan Tiong Hoa masih mengambang gara-gara UU no. 52 tahun 1958 yang mengurusi soal penyelesain kewarganegaraan ganda antara Indonesia dan RRT.

Aduh apa lagi PP-10 tahun 1959 dan UU no 52 tahun 1958 ini?

Mari kita tarik lagi tuas mesin waktu kita. Wuuut…!

***

Ternyata kita harus keluar sebentar ke negeri Tiongkok sana. Untuk menggalang kekuatan dari orang-orang Tiong Hoa yang hidup di perantauan, Mao Zedong mengumumkan bahwa RRT menganut asas ius sanguinis, yaitu siapa saja di mana saja yang lahir membawa marga Tiong Hoa maka ia otomatis menjadi warga negara Tiongkok. Ini menjadi permasalahan di Indonesia yang tidak mengenal kewarganegaraan ganda.

Bersamaan dengan Konferensi Asia Afrika di Bandung tahun 1955, ditandatangilah perjanjian Dwi Kewarganegaraan antara Pemerintah Indonesia dan Pemerintah RRT. Isinya adalah mengharuskan orang Tiong Hoa di Indonesia untuk memilih menjadi Warga Negara Indonesia (WNI) atau menjadi warga negara RRT. Aturan ini menggantikan aturan tahun 1946 yang menyatakan bahwa siapa saja yang lahir di Indonesia adalah warga negara Indonesia. Disadari atau tidak, aturan ini akan menyebabkan banyak orang keturunan Tiong Hoa di Indonesia akan menjadi WNA, kalau bukan malah tidak berkewarganegaraan. Bukan karena keturunan Tiong Hoa di Indonesia memilih menjadi warga negara Tiongkok, melainkan karena ketidakmampuan mereka untuk memenuhi syarat-syarat pengajuan kewarganegaraan Indonesia. Untuk menjadi WNI, mereka harus menyatakan melepas kewarganegaraan RRT-nya dengan pergi ke pengadilan negeri. Untuk mendaftar di sana dibutuhkan banyak dokumen, misal akta kelahiran, akta kelahiran orang tua, surat kawin, dan KTP. Padahal kantor catatan sipil bagi keturunan Tiong Hoa di Indonesia baru ada di Jawa tahun 1919. Sedang yang di luar Jawa baru pada tahun 1926.

Dan bagaimana mengerikannya status tidak berkewarganegaraan itu bisa kita tanyakan pada kaum muslim Rohingnya yang sedang ramai dibicarakan belakangan.

Implikasi dari aturan ini benar-benar terasa pada tahun 1959. Muncul Peraturan Pemerintah no. 10 yang ditandatangani Soekarno pada 16 November 1959. Peraturan ini memaksa semua pedagang eceran Tiong Hoa di wilayah pedalaman, yaitu di luar ibukota daerah tingkat I dan tingkat II untuk menutup usaha mereka sebelum 1 Januari 1960. Ini sama saja mengusir keturunan Tiong Hoa dari desa-desa dan kota kecil ke kota-kota besar. Bila tidak, bagaimana mereka mencari nafkah. Mengingat sebagian besar dari mereka berprofesi sebagai pedagang.

Nah, sekarang kita sudah memahami kenapa keturunan Tiong Hoa seakan angkuh tidak mau jadi WNI dan tetap memegang kewarganegaraan Tiongkok. Kita juga tahu kenapa keturunan Tiong Hoa seakan angkuh, tidak mau tinggal di desa-desa. Selain itu dengan empati, kita juga mengerti kenapa banyak dari mereka tidak banyak berbaur dengan masyarakat luas. Tentu saja karena rasa takut. Bagaimana bisa dengan enteng kita berbaur dengan orang yang sekonyong-konyong bisa menghina, menjarah, membunuh, dan memperkosa dirimu? Sejarah telah menggores trauma pada mereka.

Tapi tentu kita belum puas, masih banyak dosa keturunan Tiong Hoa yang belum kita gali. Bukankah keturunan Tiong Hoa ini juga merupakan antek Belanda, bersama-sama dengan mereka menindas bangsa Indonesia? Kenapa seolah mereka hanya mau hidup dari perdagangan saja? Bagaimana cap rentenir dan lintah darat melekat pada mereka? Bukankah eksklusifitas mereka juga ditandai dengan adanya pecinan di berbagai kota besar di Indonesia?

Mari kita kembali menggunakan mesin waktu. Sekali lagi Anda boleh memilih. Menarik tuas ke masa perebutan kekuasaan di nusantara atau ke masa pembantaian etnis Tiong Hoa sebelum G30S/PKI. Saya rasa kedua pilihan tersebut akan membawa kita ke masa yang sama.

Wuuuutttt….!

***

Apa lagi kalau bukan proklamasi kemerdekaan tahun 1945. Selepas proklamasi, muncullah sebuah masa yang tampaknya tak pernah muncul dalam buku sejarah kita. Namanya masa bersiap!

Masa ini ditandai dengan seringnya seruan, “Bersiap!” Sebuah periode kacau balau yang diakibatkan oleh kekosongan kekuasaan. Jepang sudah runtuh. Belanda belum datang. Sementara Republik Indonesia yang baru saja diproklamasikan belum memiliki pemerintahan. Keadaan tidak terkontrol.

Korbannya tidak lain adalah orang-orang yang dianggap musuh saat itu, dan tidak memiliki kemampuan untuk melawan. Orang-orang sipil Belanda, Indo, dan etnis Tiong Hoa. Massa pemuda menjarah, memperkosa, dan membunuh dengan seenaknya. Pekikan, “Siap!” menjadi tanda yang menakutkan bagi mereka. Kejadian ini tidak lepas dari sikap para tokoh perjuangan sendiri. Dalam pidato-pidatonya, Bung Tomo bersikap rasis dan menggelorakan sikap anti Tiong Hoa. Bahkan Bung Hatta memberi pernyataan,

“Karena kenyataannya para pedagang Ting Hoa  menjadi kepanjangan tangan dari kapitalis asing di masyarakat Indonesia, mereka telah menimbulkan kesan tidak disenangi. Juga selama… pendudukan Jepang, diamati bahwa orang-orang Tiong Hoa berusaha agar mereka selamanya berada dalam posisi yang menyenangkan…Memang benar orang-orang Tiong Hoa tersebut sebagai instrumen membuat banyak kekacauan kepada pengusaha Jepang, tetapi setidaknya mereka berusaha agar posisi ekonominya tetap berada di atas.”

Sikap anti Tiong Hoa pada masa awal kemerdekaan yang paling terkenal adalah pembantaian Tangerang. Awal Juni 1946, ratusan orang Tiong Hoa dibantai, hartanya dijarah, dan rumahnya dibakar. Alasan pembantaian ini adalah bahwa orang Tiong Hoa dituduh dibalik pelaporan penyergapan laskar Republik oleh tentara NICA. Orang Tiong Hoa dituduh sebagai mata-mata. Kerusuhan ini menyebar dengan cepat. Banyak dilaporkan adanya orang Tiong Hoa yang dibakar hidup-hidup. Ada pula para lelaki Tiong Hoa yang disunat secara paksa, sedang remaja putrinya diperkosa. Kerusuhan ini baru berakhir pada tanggal 8 Juni. Tidak lama setelah itu, Belanda berhasil memperluas daerah kekuasaannya ke pinggiran Jakarta. Memang sebelumnya Belanda sudah berniat menduduki Tangerang pada tanggal pada tanggal 13 Juni. Dan pembantaian ini memberi alasan moral bagi Belanda untuk melakukannya.

Sejak itu, orang-orang Tiong Hoa mulai mengungsi ke daerah-daerah yang dikuasai oleh Belanda. Mereka takut perbuatan yang dilakukan oleh laskar Republik ini terulang pada mereka.

Melanggar isi Perjanjian Linggarjati, pada tanggal 21 Juli 1947 Belanda mulai menyerang kedaulatan Indonesia. Peristiwa ini dikenal sebagai agresi militer Belanda. Tujuan utama agresi ini adalah merebut daerah-daerah yang penting dan kaya. Daerah-daerah pelabuhan, perkebunan, dan pertambangan. Menyadari bahwa sulit melawan Belanda secara langsung, maka pemerintah Republik Indonesia (RI) memilih mundur secara teratur sembari menjalankan perang gerilya dan taktik bumi hangus.

Taktik bumi hangus adalah taktik untuk membakar habis bangunan-bangunan penting yang mungkin dapat digunakan oleh Belanda, terutama pabrik-pabrik. Namun dalam keadaan kacau seperti itu, terjadi hal-hal yang tak diharapkan. Selain membumihanguskan bangunan-bangunan yang penting, ternyata aksi itu juga dilakukan sembari menjarah harta benda, rumah-rumah, dan tempat usaha etnis Tiong Hoa. Tak luput juga pembunuhan dan perkosaan. Mendapat serangan seperti itu, etnis Tiong Hoa merasa frustasi dan mengharap pertolongan dari tentara NICA. Bahkan beberapa akhirnya memihak Belanda dengan menjadi mata-mata mereka. Hal ini memperparah keadaan, karena dengan demikian terjadi pembunuhan serampangan dengan tuduhan sebagai mata-mata.

Apakah memang sedemikian jahatnya pasukan Republik ini?

Mungkin. Tapi perlu diingat bahwa pada masa itu, selain pasukan formal (terikat pada induk kesatuan) dari pemerintah ada juga pasukan informal yang juga mengatasnamakan Republik. Pasukan-pasukan ini dikenal sebagai laskar atau gerombolan liar. Salah satu contoh yang terkenal adalah saat tahanan dari penjara Kalisosok Surabaya dilepaskan. Mereka dipersenjatai dan diminta membantu Republik untuk membantu taktik bumi hangus yang didahului dengan cara mengosongkan kota. Kekacauan ini terus berlangsung hingga akhir tahun 1949.

Belanda sendiri juga tidak dapat dilepaskan dari dosa ini. Karena tiap kali mereka hendak memasuki kota, mereka berhenti dan memberi kesempatan agar taktik bumi hangus dapat dilaksanakan. Bahkan di Sukabumi tercatat, bahwa Belanda menyebarkan pamflet terlebih dahulu. Artinya juga, memberi kesempatan terhadap penjarahan dan pembantaian terhadap etnis Cina. Selain mendapat keuntungan dengan hancurnya reputasi Republik yang tampak masih barbar, Belanda juga mendapat keuntungan dengan perpecahan antara pribumi dan etnis Cina.

Hasil adu domba ini tampak jelas dengan terbentuknya Pao An Tui. Ketika pemerintah Republik Indonesia secara resmi mengambil sikap bahwa penjarahan dan pembakaran yang ditanggung oleh etnis Cina adalah harga yang harus ditanggung demi revolusi, maka etnis Cina berpaling kepada Belanda. Belanda yang merasa tak mampu melindungi mereka, akhirnya memberi ijin pembentukan Pao An Tui, badan yang bertugas menjaga keamanan etnis Cina. Dalam prakteknya, Pao An Tui ternyata ada juga yang dapat diajak bekerja sama dan dipersenjatai oleh Belanda.

Keberadaan Pao An Tui masih jadi kontroversi selama ini. Apakah ia musuh Republik, ataukah sekedar badan guna melindungi etnis mereka sendiri. Karena nyatanya Pao An Tui pusat di Jakarta masih bersikap anti-Belanda dan banyak juga kalangan dari etnis Tiong Hoa yang bersikap menentang keberadaan Pao An Tui. Yang jelas Pao An Tui menghasilkan kesalahapahaman di masyarakat, seolah-olah mereka adalah barisan pemuda keturunan Tiong Hoa yang melawan pemuda Indonesia. Dan perlawanan ini tampak nyata karena Pao An Tui memang dibentuk untuk menghalau penjarahan yang dilakukan oleh laskar liar yang berisi pemuda pribumi.

Ketika kita melihat sikap antipati masyarakat terhadap etnis Tiong Hoa yang dimanfaatkan Belanda bisa sedemikian besar, tentunya kita curiga. Kebencian pribumi terhadap etnis Tiong Hoa tentunya sudah berakar dari sebelum proklamasi kemerdekaan.

Mari kita tarik tuas mesin waktu kita kembali. Ke masa perebutan kekuasaan sebelum proklamasi. Wuuut….

***

Pearl Harbour diserbu Jepang pada 8 Desember 1941. Setelah itu, gantian Hindia Belanda yang jadi sasaran. Jepang sangat membutuhkan kilang-kilang minyak untuk mendukung perangnya. Pertempuran berlangsung sangat cepat, 8 Maret 1942  angkatan perang Belanda sudah menyerah pada Jepang di pulau Jawa. Seluruh Hindia Belanda telah jatuh ke tangan Jepang. Para pemimpin pergerakan Indonesia terpecah menjadi dua, sebagian menentang sebagian lagi pro-Jepang.

Masyarakat Tiong Hoa di Hindia Belanda kembali berada dalam posisi sulit. Karena pada saat yang sama, berkibar perang antara Jepang dan daratan Tiongkok. Seluruh pemimpin dan tokoh Tiong Hoa  ditangkap. Partai politik, ormas, dan penerbitan diberangus. Mereka yang ditahan, dijadikan satu dengan tahanan Belanda dalam kamp interniran. Orang-orang Tiong Hoa yang tidak tertawan mengorganisasi gerakan-gerakan bawah tanah menentang Jepang.

Selain penjarahan dan perampokan terhadap toko dan rumah Tiong Hoa saat pendaratan pasukan Jepang, eksekusi dan penyiksaan terhadap tokoh-tokoh Tiong Hoa yang menentang Jepang, tidak ada pembantaian massal terhadap etnis Tiong Hoa di bumi nusantara.

Tapi masih perlu kita catat juga bahwa ada pembantaian massal terhadap etnis Cina pada masa ini di Singapura. Singapura merupakan markas besar tentara ketujuh Angkatan Darat Jepang, yang juga membawahi wilayah Sumatra.

Jadi di masa ini, tidak ada cukup keterangan yang dapat kita ambil. Bagaimana kalau kita ke masa perebutan kekuasaan yang lebih lalu lagi, adakah pembantaian etnis Tiong Hoa di sana? Wuuuttt…

***

Sekarang kita berada pada masa perang Jawa, 1825-1830, atau yang sering disebut juga perang Diponegoro. Pangeran Diponegoro adalah putra sulung Sultan Hamengkubuwono III. Namun ternyata ia tidak diangkat menjadi putra mahkota. Penguasa Hindia Belanda lebih tertarik memberikan takhta pada adiknya.

Dengan ditandai pematokan di atas tanah Pangeran Diponegoro, maka pecahlah perang. Pematokan ini dilakukan oleh kraton atas permintaan Residen Yogyakarta (semacam kepala daerah dalam pemerintahan Hindia Belanda), tentu saja tanpa seijin Pangeran Diponegoro. Banyak bangsawan yang turut memihak Pangeran Diponegoro. Dukungan ini terutama disebabkan oleh keputusan menghentikan hak sewa lahan perdesaan oleh Gubernur Hindia Belanda yang dinilai mematikan sumber penghasilan para bangsawan. Tidak hanya para bangsawan yang membantu perjuangan Diponegoro, tetapi banyak juga orang Tiong Hoa yang turut serta. Selain bantuan secara pasif dalam bentuk uang, senjata, dan candu, bantuan ini juga bersikap aktif. Turut serta mengangkat senjata melawan Belanda. Namun bantuan ini tidak berjalan langgeng, di pertengahan perang orang-orang Tiong Hoa menarik dukungan terhadap Diponegoro. Berkhianatkah mereka?

Pada masa awal perang, Raden Ayu Yudakusuma puteri dari Sultan Hamengbuwono I bersama pasukannya menyerbu Ngawi. Saat itu Ngawi merupakan pos perdagangan yang penting. Di sana, terjadi pembantaian etnis Tiong Hoa oleh pasukan tersebut. Ternyata pembantaian ini tidak hanya terjadi di Ngawi. Di berbagai tempat di Jawa Tengah dan sepanjang Bengawan Solo, pembantaian ini terjadi terus menerus.

Kabar mengenai pembantaian ini akhirnya diketahui oleh para Tiong Hoa yang membantu Diponegoro. Rasa kecewa dan prasangka muncul. Namun sikap ini bersifat timbal balik. Orang-orang Jawa juga curiga dan berhati-hati pada Tiong Hoa. Pangeran Diponegoro sendiri memerintahkan para komandannya menjaga hubungan agar tidak terlalu akrab dengan orang Tiong Hoa. Bahkan dalam Babad Dipanagara, Diponegoro menyalahkan kekalahannya di Gowok akibat ia terjebak kecantikan seorang gadis Tiong Hoa yang ia tangkap dan ia jadikan tukang pijatnya. Kekalahan Sasradilego, ipar Diponegoro, dalam pertempuran di pesisir utara pun dilimpahkan kepada pundak orang Tiong Hoa. Yaitu Sasradilego melanggar perintah Diponegoro untuk tidak menggauli seorang perempuan Tiong Hoa di Lasem. Padahal kemenangan yang sedemikian cepat diraih Sasradilego dalam awal pertempuran bisa dibilang didapat dari bantuan para Tiong Hoa yang mampu menyelundupkan senjata api. Sedang kekalahannya disebabkan oleh pihak Belanda yang sudah berhasil mendatangkan bala bantuan.

Sebenarnya saat itu memang sudah muncul gesekan antara orang Jawa dan orang Tiong Hoa. Penyerbuan Raden Ayu Yudakusuma yang sebelumnya mempunyai hubungan baik dengan orang Tiong Hoa pun bukan tanpa alasan. Orang-orang Tiong Hoa saat itu banyak yang berprofesi sebagai rentenir maupun pemungut pajak dan sewa.  Oleh karena semakin lama pajak dan uang sewa ini semakin mencekik, maka wajar jika muncul kebencian terhadap orang-orang Tiong Hoa yang datang menagih. Tapi kebencian ini sebenarnya tidak terjadi pada kaum bangsawan.

Setelah Daendels dan Raffles selaku Gubernur Hindia Belanda waktu itu mengurangi wilayah kekuasaan para raja, maka semakin sedikit pula sumber penghasilan para raja. Untuk itu mereka harus mendapatkan keuntungan lebih dari wilayah yang mereka miliki. Keuntungan ini mereka dapatkan dari menyewakan sawah dan pekerja kepada para wiraswasta. Sedangkan para wiraswastawan pada waktu itu adalah orang-orang yang sudah memiliki kemampuan berhitung, orang-orang yang terbiasa berdagang. Tentu saja kalau bukan orang Eropa, ya orang Tiong Hoa. Dan karena kepemilikan mereka akan uang, banyak dari mereka yang juga memberikan pinjaman, alias jadi rentenir. Termasuk Raden Ayu Yudakusuma, yang juga sering meminjam uang pada orang-orang Tiong Hoa ini.

Pemerintah Hindia Belanda yang melihat keefektifan kerja orang Tiong Hoa dalam menarik sewa, akhirnya melakukan hal yang sama. Mereka mempekerjakan orang-orang Tiong Hoa untuk melakukan penarikan pajak di wilayah mereka. Dalam prakteknya, pasti kegiatan-kegiatan penarikan pajak dan rentenir ini akan menjerumus pada tindakan-tindakan pemerasan. Tapi para bangsawan dan pemerintah Hindia Belanda tidak peduli, karena mereka mendapatkan uang dengan lancar. Kebencian rakyat terhadap mahalnya pajak pun tidak terarah pada mereka. Melainkan pada golongan Tiong Hoa yang langsung turun ke lapangan.

Lalu apakah sebenarnya orang Tiong Hoa ini memang anak emas pemerintah Hindia Belanda? Mengingat kegiatan orang Tiong Hoa dalam menarik pajak dilindungi oleh mereka?

Dari segi pajak, orang Tiong Hoa menghadapi pajak yang jauh lebih tinggi. Dalam perdagangan, pajak orang Tiong Hoa bisa sampai tiga kali lipat lebih besar dari orang Jawa. Orang Tiong Hoa juga dikenai pajak konde atau pajak per-kepala. Selain itu ada berbagai peraturan dari pemerintah Hindia Belanda yang mengekang orang-orang Tiong Hoa. Peraturan-peraturan itu antara lain;

Wijkenstelsel, orang-orang Tiong Hoa dikumpulkan pada satu tempat. Mereka diharuskan bermukim hanya pada tempat-tempat yang ditentukan. Tempat-tempat ini lah yang kemudian berkembang dan disebut dengan pecinan. Aturan ini dibuat agar orang-orang Cina mudah diawasi.

Passenstelsel, aturan yang menyebutkan tiap orang Tiong Hoa harus memiliki pas (surat ijin) jika bepergian. Tiap kali mereka perlu keluar dari wilayah yang ditentukan oleh wijkenstelsel, mereka harus mendapat ijin dari penguasa Belanda. Selain sebagai pengawasan, aturan ini juga menjadi lahan basah para opsir Belanda untuk memeras orang Tiong Hoa.

Undang-undang Agraria 1870,  secara resmi UU ini bertujuan melindungi hak petani pribumi dari pemodal asing. Caranya dengan melarang orang asing untuk memiliki tanah di Hindia Belanda. Akibat langsungnya adalah, orang-orang Tiong Hoa kehilangan lahan pertaniannya yang mungkin saja sudah mereka garap sendiri secara turun-temurun.

Ketiga peraturan ini secara tidak langsung memperlihatkan usaha pemerintah Hindia Belanda untuk memisahkan pribumi dengan orang-orang Tiong Hoa. Juga ketakutan mereka atas orang-orang Tiong Hoa sehingga mereka harus selalu diawasi dengan seksama. Apa yang menyebabkan ketakutan ini?

Seperti yang sudah-sudah, kita coba menjawab pertanyaan kita dengan mesin waktu yang kita miliki. Kemana kali ini kita akan pergi? Bagaimana kalau ke pembantaian etnis Tiong Hoa terdekat sebelum perang Jawa dimulai. Tarik tuasnya! Wuuuttt…!

***

Sekarang kita berada di Batavia. Pada masa-masa mulainya kehancuran VOC. Tahun 1932, terjadi wabah penyakit di Batavia. Penegakan hukum yang dilakukan oleh VOC pun membuat banyak orang bangkrut karena kehilangan mata pencaharian. Praktek-praktek kotor dan curang memang sudah jadi praktek sehari-hari di masa itu. Pengangguran merajalela. Namun orang-orang Tiong Hoa yang sebelumnya didatangkan oleh VOC untuk mengerjakan pekerjaan-pekerjaan yang tidak mau dilakukan oleh pribumi dan Eropa terus saja berdatangan. Penumpukan pendatang ini menciptakan problem baru, terutama kebanyakan dari mereka menjadi pengangguran akibat lapangan kerja yang semakin menciut. Kriminalitas mulai terjadi di daerah-daerah pinggiran. Keadaan ini berlanjut terus sampai tahun 1740.

Untuk itu VOC mengeluarkan peraturan yang berguna membatasi orang Tiong Hoa di Batavia. Setelah gagal membendung imigran, VOC membuat aturan yang lebih keras. Tiap orang Tiong Hoa yang menganggur akan dideportasi.ke Ceylon dan Afrika Selatan. Ketika aturan ini mulai diberlakukan, terdenganr kabar bahwa ini hanyalah akal-akalan pemerintah. Orang-orang Tiong Hoa yang tertangkap dan dinaikkan kapal tidak pernah sampai di Ceylon atau Afrika Selatan, melainkan dibuang ke laut!

Orang-orang Tiong Hoa mulai takut akan adanya kabar burung ini. Mereka mulai nekat. Beberapa pemberontakan muncul di luar tembok kota. Sebenarnya tidak ada bukti bahwa orang-orang Tiong Hoa yang ada di dalam tembok kota ikut terlibat, tapi rasa was was penduduk sudah sedemikian hebat. VOC memberlakukan jam malam bagi warga Tiong Hoa, bahkan tidak diperkenankan membuat api sekalipun. Pemerintah VOC takut apabila itu digunakan sebagai tanda aba-aba bagi orang-orang Tiong Hoa di luar benteng untuk menyerang kota. Karena memang ada desas desus penyerbuan itu akan ditandai dengan api di dalam kota.

Penduduk non Tiong Hoa berkumpul di jalan-jalan sambil membicarakan rumor tentang penyerangan. Mereka bertambah curiga dengan tiadanya orang-orang Tiong Hoa di antara mereka, yang sebenarnya memang dilarang keluar oleh pemerintah. Para majikan Belanda yang merasa terancam mempersenjatai  bawahannya yang terdiri dari berbagai ras dan suku bangsa. Tidak lama terjadi kebakaran di beberapa warung Tiong Hoa. Kemungkinan kebakaran ini terjadi karena penggeledahan senjata oleh aparat. Tapi bagi orang-orang Belanda, kebakaran ini diartikan sebagai dimulainya pemberontakan oleh orang Tiong Hoa.

Kerusuhan tidak terelakkan. Penjarahan dan pembakaran rumah-rumah Tiong Hoa terjadi dengan kejam. Semua orang Tiong Hoa, laki perempuan, besar kecil, tua muda, semua dibantai. Banjir darah terjadi. Sungai menjadi merah dalam arti sebenarnya. Dari sinilah nama Angke yang berarti kali merah berasal. Meriam-meriam ditembakkan ke rumah-rumah orang Tiong Hoa. Sekejap begitu banyak korban terpanggang hidup-hidup. Banyak di antara mereka yang memilih bunuh diri dari pada jatuh ke dalam tangan orang-orang Belanda, pribumi, dan orang-orang kulit hitam yang memburu mereka. Sebuah kesaksian menyatakan, pada saat pembakaran berhenti tidak tampak seorang Tiong Hoa pun di kota. Semua jalan dan lorong penuh mayat, kali-kali ditimbuni mayat sehingga orang dapat menyebrang di atas mayat-mayat tanpa kakinya menjadi basah.

Kabar mengenai kejadian ini segera menyebar ke luar Batavia. Orang-orang Tiong Hoa yang marah mulai melancarkan pemberontakan terhadap VOC. VOC meminta penguasa Jawa saat itu yaitu Sunan Paku Buwono II untuk membantunya, tetapi Sunan bersikap hati-hati. Tidak pernah sebelumnya orang Jawa menangkapi orang Tiong Hoa. Lagipula ia tidak mau membuat kesalahan dengan menangkap orang yang tidak bersalah. Sunan berusaha bersikap netral.

Namun lama kelamaan, pemberontakan ini mulai didukung oleh orang Jawa. Selain benci dengan VOC, orang-prang jawa juga merasa bersimpati terhadap orang Tiong Hoa yang sudah hidup harmonis dengan mereka selama beberapa generasi. Sedang Sunan yang terus ditekan kekuasaan VOC berada di kebimbangan. Para bangsawan kraton terpecah menjadi dua, antara yang ingin membantu VOC dan yang ingin turut serta membantu orang Tiong Hoa.

Pemberontakan terus meluas. Pasukan Tiong Hoa mulai merebut kemenangan di mana-mana. Sunan sendiri akhirnya memilih membantu orang Tiong Hoa secara rahasia. Secara resmi ia masih mengulur waktu, tapi di bawah tangan ia memerintahkan penguasa-penguasa bawahannya untuk menyerang VOC.

VOC menyadari tidak mungkin bertahan dengan kemampuan yang ada. Ia berusaha mendapatkan bantuan. Akhirnya VOC mendapat bantuan pasukan Cakraningrat IV dari Madura yang memang mengulurkan tangan. Cakraningrat IV meminta janji dari VOC bahwa ia akan mendapat kemerdekaan dari penguasaan Kartasura. Bala bantuan ini menjungkirbalikkan perimbangan. Pasukan pemberontak ditumpas. Di Madura, Jawa Timur, dan Jawa Tengah, terjadi pembantaian terhadap orang Tiong Hoa oleh pasukan Madura.

Mengetahui Cakraningrat IV yang merupakan musuh politiknya membantu VOC, Sunan akhirnya memihak pemberontak secara terbuka. Namun ketika ternyata pasukan Belanda dan Madura lebih kuat, terutama saat kegagalan merebut Semarang, Sunan menyatakan untuk menghentikan permusuhan lebih lanjut. VOC menyambut gembira pernyataan ini. Pemberontak Tiong Hoa dan sebagian besar anak buah Sunan marah mengetahuinya. Mereka ganti menyerang kraton Kartasura. Namun tidak lama kemudian, pemberontakan ini pun berhasil ditumpas. Sunan Paku Buwono II dipulihkan kedudukannya sebagai penguasa Mataram.

Sejak saat itu pemerintah kolonial VOC selalu memberi pengawasan ekstra terhadap orang Tiong Hoa. Kebijakan ini diteruskan oleh pemerintah Hindia Belanda, dan dilanjutkan lagi oleh pemerintah Indonesia.

Ternyata pembantaian orang Tiong Hoa di Batavia ini adalah pembantaian etnis Tiong Hoa pertama di Nusantara. Bahkan yang pertama pula di luar daratan Tiongkok.

Sebelum ini hubungan antara pribumi dan Tiong Hoa tampak harmonis. Hubungan ini bisa dilihat dari banyaknya orang Tiong Hoa yang diberi jabatan oleh penguasa. Juga catatan-catatan yang memperlihatkan baiknya hubungan bilateral antara kerajaan nusantara dan kerajaan Tiongkok. Misalnya pengangkatan Cik Go Ing, atau Tumenggung Mertaguna menjadi bupati Lasem oleh Sultan Agung atas jasanya dalam perang Mataram (1620-1625).

Satu-satunya konflik antara Tiong Hoa dan pribumi yang tercatat di nusantara sebelum ini hanyalah ekspedisi Kubilai Khan pada tahun 1292. Namun perlu kita catat, selain sebenarnya Kubilai Khan adalah penguasa Mongol yang menjajah Tiongkok, ekspedisi itu bersifat konflik antar kerajaan. Tidak membawa-bawa etnis tertentu. Dan kita catat lagi, ekspedisi ini membawa dampak besar pada nusantara. Prajurit-prajurit Kubilai Khan yang akhirnya menetap di nusantara tersebut melakukan transfer teknologi. Terutama teknologi perkapalan dan senjata api. Dengan teknologi baru ini dengan sangat singkat akhirnya Gajah Mada berhasil mempersatukan nusantara di bawah panji-panji Majapahit.

***

Nah, sekarang pertanyaan-pertanyaan mengenai dosa keturunan Tiong Hoa dapat kita ganti menjadi:

Kecuali pembantaian yang pertama, mengapa pembantaian dan penjarahan terhadap etnis Tiong Hoa besar-besaran selalu berbarengan dengan perebutan kekuasaan yang besar-besaran pula?

Kita lihat tidak ada perlunya lagi kita menggunakan mesin waktu untuk mencari jawaban atas pertanyaan-pertanyaan kita.

Pembantaian pertama dilakukan penguasa atas ketakutannya akan etnis Tiong Hoa. Lalu mereka melihat besarnya kekuatan yang tercipta dari bersatunya etnis Tiong Hoa dan pribumi. Ini lebih berbahaya lagi bagi mereka. Untuk itu penguasa berusaha memisahkan keduanya dengan cara menciptakan jarak dalam kehidupan mereka. Lebih lanjut dari itu, penguasa juga menjadikan etnis Tiong Hoa sebagai alat pemeras rakyat jelata.

Keberhasilan dari adu domba ini meledak pertama kali saat perang Jawa. Sentimen anti Tiong Hoa yang sudah tercipta terus menerus digunakan penguasa-penguasa sesudahnya. Untuk apa menciptakan sasaran baru, kalau sasaran yang ada sudah tersedia. Kita bisa mengamati bahwa wijkenstelsel yang dilakukan oleh kolonial dihidupkan kembali dalam masa kemerdekaan dalam bentuk PP-10 dan UU no. 52 tahun 1958. Pemerasan dalam bentuk penarikan pajak yang dilakukan kolonial dengan menggunakan etnis Tiong Hoa diulangi kembali dalam bentuk pemberian hak-hak monopoli terhadap etnis Tiong Hoa yang dijadikan sapi perahan penguasa Indonesia. Imbasnya etnis Tiong Hoa yang ketakutan dan memiliki cukup banyak harta, memilih menyimpan hartanya di luar negeri mengingat harta mereka di dalam negeri bisa dijarah sewaktu-waktu. Selalu ada pemikiran, bahwa ada kemungkinan mereka harus kabur ke luar negeri. Yang tidak memiliki cukup banyak harta…yah, di mana-mana orang miskin memang tak punya pilihan.

Dalam tiap perebutan kekuasaan selalu ada penguasa yang dipertanyakan. Dalam tiap perebutan kekuasaan selalu ada rakyat yang mendendam. Tiap penguasa ini butuh pihak untuk disalahkan, dan rakyat butuh pihak tempat untuk melampiaskan amarah. Dan yang terjepit ditengah selalu yang jadi korban. Di nusantara, kebetulan pelanduk di antara gajah ini adalah etnis Tiong Hoa.

Mau bagaimana lagi sekarang? Semua sudah telanjur terjadi. Apalagi sudah dimulai beratus tahun silam.

Masa reformasi memang sudah mengembalikan hal-hak keturunan Tiong Hoa yang diberangus penguasa-penguasa sebelumnya. Namun kita tak boleh lengah, kerusuhan-kerusuhan dapat saja terjadi sekonyong-konyong seperti waktu-waktu lalu. Bahkan penguasa masih saja menyisakan peraturan-peraturan diskriminatif itu. Coba lihat Surat Keputusan Walikota Pontianak no 127/2008 yang melarang atraksi naga dan barongsai di jalan umum. Atau di Yogyakarta, yang selama ini disebut sebagai model terbaik dari pluralisme  Indonesia.  Instruksi Kepala Daerah Daerah Istimewa Yogyakarta Nomor K.898/I/A/1975 yang melarang WNI non Pribumi untuk memiliki sertifikat hak milik atas tanah masih berlaku hingga saat ini. Tapi yah…

Dari dulu begitulah Cina, deritanya tiada henti.

Namun derita ini bukan milik keturunan Tiong Hoa saja! Derita ini adalah derita segenap bangsa Indonesia!

Bagaimana tidak, tiap kali kerusuhan anti Tiong Hoa terjadi pastilah ekonomi kita tersendat. Pelarangan bagi WNI keturunan Tiong Hoa untuk berdagang berkali-kali nyatanya tidak membuat kekosongan ini dapat diisi oleh pribumi begitu saja. Kita terganjal dari gerak maju. Mengaca pada sejarah, coba bayangkan seberapa kuatnya bangsa ini jika kebencian-kebencian ini tidak memisahkan keturunan Tiong Hoa dari pribumi. Kita bahu membahu menjadi bangsa yang kuat. Bersatu padu membangun sebuah budaya yang disegani kawan dan lawan. Berapa besar potensi yang hilang karena kita saling curiga dan penuh prasangka. Betapa menyedihkan dari jaman VOC sampai sekarang kita dikadali dengan kadal yang sama. Tapi yah…

Dari dulu begitulah kita, deritanya tiada henti.

Namun derita ini bukan untuk diratapi. Derita ini juga bukan alasan agar kita dikasihani. Apalagi diungkit-ungkit demi ganti rugi. Derita ini untuk kita pelajari, kita mengerti, dan kita sadari. Hingga kita akhirnya paham, bahwa tiap kali kita dilanda kebencian dan prasangka karena sentimen anti Tiong Hoa atau sentimen apapun, dan berada di pihak manapun, kita harus ingat untuk bertanya;

“Siapakah sebenarnya yang diuntungkan oleh kebencian kita ini? Siapakah sebenarnya yang dirugikan? Apa saja keuntungan yang didapat? Apa saja kerugian yang harus ditanggung?”

Karena jangan-jangan yang rugi sebenarnya hanya kita-kita saja, dan yang untung hanya penguasa-penguasa juga. Karena jangan-jangan yang menanggung kita-kita juga, dan penguasa tinggal ongkang-ongkang saja.

Karena bangsa yang hanya mampu meluapkan amarah memang tak pantas maju. Karena penguasa yang hanya mampu melempar salah memang tak perlu diaku.

Yogyakarta, 26-29 Agustus 2012

nb: sebenarnya saya tak suka istilah pribumi karena banyak keturunan Tiong Hoa yang sudah ratusan tahun hidup di nusantara, tapi saya tetap memakainya untuk memudahkan penyebutan

referensi:

- Tiong Hoa Dalam Pusaran Politik, Benny G. Setiono, Transmediapustaka
- Hoakiau di Indonesia, Pramoedya Ananta Toer, Garba Budaya 1998
- Nusantara: Sejarah Indonesia, Bernard H. M. Vlekke, KPG 2008
- Mur Jangkung: Babad VOC, Bentara Budaya Yogyakarta, 2005
- Perang Pasifik, P.K Ojong, Kompas 2009
- http://transtvnews.blogspot.com/2012/08/ngapain-milih-ahok-masih-banyak-orang.html
- http://en.wikipedia.org/wiki/Sinophobi
- http://politik.kompasiana.com/2010/05/16/permasalahan-etnis-tionghoa/
- http://suar.okezone.com/read/2012/05/28/285/636666/gus-dur-pahlawan-etnis-tionghoa
- Indonesia Raya dibredel, Ignatius haryanto ( http://books.google.co.id/books?id=1eaUmS1dkHcC&pg=PA88&lpg=PA88&dq=petisi+24+oktober&source=bl&ots=dPNIadX8Cg&sig=KKb6sAgqv1yTeD0ylqHYEvrnUYc&hl=id#v=onepage&q=petisi%2024%20oktober&f=false )
- http://www.kependudukancapil.go.id/index.php/suara-warga?func=view&catid=2&id=5282
- http://id.wikipedia.org/wiki/Agresi_Militer_Belanda_I
- sejarah-interaktif.blogspot.com/2011_10_01_archive.html
- http://www.japanfocus.org/-Hayashi-Hirofumi/3187
- http://sejarahbangsaindonesia.blogdetik.com/2011/03/26/masa-bersiap/
- http://www.rnw.nl/bahasa-indonesia/article/rawagede-beda-dengan-zaman-bersiap
- http://jiastisipolcandradimuka.blogspot.com/2011/09/sejak-masa-penjajahan-kolonial-belanda_26.html
- Perlawanan atas Dikriminasi rasial-etnik, Faruk, Bambang Purwanto, Bakdi Soemanto ( http://books.google.co.id/books?id=cIlydhee_mYC&pg=PA21&lpg=PA21&dq=Undang-undang+agraria+1870+Tiong+Hoa&source=bl&ots=3FciGqQokV&sig=1XkVx4efRIHrNcJ8sA-khrn80Y0&hl=id#v=onepage&q=Undang-undang%20agraria%201870%20Tiong%20Hoa&f=false)
- http://joglosemar.co/berita/pecinan-eksistensi-tionghoa-12866.html
- http://id.wikipedia.org/wiki/Undang-undang_Agraria_1870
- http://home.netvigator.com/~sadar/news/SumbangsihSGT_BUKU.pdf
- http://www.hukumonline.com/klinik/detail/lt4fa0a5a5e0f60/masalah-hak-wni-keturunan-tionghoa-untuk-memiliki-tanah-di-yogyakarta

This entry was posted in Uncategorized and tagged . Bookmark the permalink.

232 Responses to Dari Dahulu Begitulah Cina, Beritanya Tiada henti

  1. Tobias says:

    Terima kasih, Kur…

    • Tentang kisah atau cerita yang anda tulis belumlah tentu sesuai dengan fakta yang terjadi karena boleh jadi yang anda tulis itu karena membaca tulisan pihak lain atau pemberitaan oleh pihak lain atau mendengar kisah dari pihak lain.
      Jikalaupun anda sendiri menyaksikan suatu peristiwa yang kemudian anda tulis, bisa saja dalam penulisan anda bercampur dengan subjektifitas.Tapi itu boleh, karena apa yang tulis belumlah tentu merupakan SEJARAH, namun boleh jadi merupakan cerita atau yang diceritakan.
      Tentang si ahok atau si zhong wan xi atau derita orang Tiong Hoa atau orang cina yang anda sebut menderita itu boleh juga menurut anda.
      Jika itu suatu sungguh merupakan derita boleh juga bukan karena kesalahan orang lain melainkan sebagai akibat dari perbuatan sendiri.
      Lagi-lagi tentang itu masih boleh sebab belum tentu benar atau salah.

      Namun jika sudah berbicara tentang ranah HUKUM seharunya anda konsultasi terlebih dahulu dengan ahlinya sebab hukum itu adalah PASTI, maka jangan sekali-kali berbicara/me menulis tentang hukum bila tidak pasti (tidak sesuai dengan yang sebenarnya) karena sangat fatal.

      Dalam tulisan anda terdapat beberapa hal YANG BERTENTANGAN DENGAN HUKUM antara lain :.
      1. Bung Tomo bersifat rasis

      Tulisan anda yang menyebutkan Bung Tomo bersifat rasis sangat berpotensi sebagai fitnah.

      2. Anti Cina

      Dalam penulisan anda tentang penyebutan anti cina sangat berpotensi sebagai spekulasi dan provokasi.

      Sebab menurut hukumnya suatu yang anti belum tentu salah karena boleh jadi anti itu sebagai suatu sifat menentang/melawan yang tidak benar.

      Jikalau maksud tulisan anda mengenai Pribumi anti cina boleh saja terjadi karena cina atau tiong hoa itu melakukan perbuatan yang tidak benar atau melawan hukum.Sehingga dengan demikian Pribumi yang anti cina adalah BENAR dan tidak salah.

      Sifat ANTI tidak serta-merta salah namun terkadang sukap ANTI adalah suatu yang benar atau menjalankan kewajiban memperjuangkan atau menegakkan kebenaran atau HUKUM

      3. Tentang “Semua warga negara sama”
      Bahwa dalam UUD 1945 tidak ada ketentuan yang menentukan bahwa setiap warga negara mempunyai hak yang sama, namun menentukan BERSAMAAN HAK ATAU KEDUDUKANNYA
      Pasal 27 ayat (1) UUD 1945 Menentukan : (1) Segala warga negara bersamaan kedudukannya dalam hukum dan pemerintahan dan wajib menjunjung hukum dan pemerintahan itu dengan tidak ada kecualinya.egala warganegara bersamaan kedudukannya
      Menurut hukumnya, kata ‘SAMA’ mempunyai pengertian hukum yang berbeda dari ‘BERSAMAAN”
      Sehingga dengan demikian tulisan anda tentang “semua waga negara sama” adalah suatu keadaan, pendapat yang BERTENTANGAN DENGAN HUKUM atau SALAH
      4. Tentang “Bangsa Indonesia”.

      Bangsa Indonesia tidak sama dengan bangsa orang Tiong Hoa atau orang cina
      Menurut Hukumnya Bangsa Indonesia lahir pada tanggal 28 Oktober 1928 yang terkenal dengan peristiwa SUMPAH PEMUDA yang merupakan Hasil dari Kerapatan Pemuda/pemudi Indonesia yang diselenggarakan di Negeri Jakarta tanggal 27-28 Oktober 1928 yang terkenal dengan Kongres Pemuda
      Dalam peristiwa SUMPAH PEMUDA dan KERAPATAN PEMUDA tersebut 4 (empat) orang perwakilan Orang Tiong Hoa atau Cina bukan peserta melainkan PENINJAU
      Sehingga dengan demikian menurut HUKUMNYA, maka orang/bangsa Tiong Hoa atau Cina bukanlah Bangsa/orang Indonesia karena memang demikianlah adanya.
      Sehinga apabila anda menyebut orang Tiong Hoa atau Cina adalah Bangsa/orang Indonesia adalah BERTENTANGAN DENGAN HUKUM atau adalah suatu KESALAHAN
      Sebaiknya dan saya sarankan agar anda meralat tulisan anda khusus mengenai “semua warga negara mempunyai hak yang sama” dan “Bangsa Indonesia” karena sudah ada HUKUM dan atau KEPASTIANNYA dan tidak seperti yang anda maksud atau tulis.
      Tentang Bangsa atau Orang sebaiknya anda memperhatikan ketentuan UUD 1945 antara lain :
      Pasal 6 ayat (1) UUD 1945, menentukan : (1) Presiden ialah Orang Indonesia asli.
      Pasal 26 ayat (1) UUD 1945, menentukan : (1) Yang menjadi warga negara ialah orang-orang bangsa Indonesia asli dan orang-orang bangsa lain yang disahkan dengan undang-undang sebagai warga negara.
      Dari ketentuan tersebut jelas menunjukkan perbedan orang atau Bangsa Indonesia dengan Orang atau Bangsa lain termasuk berbeda dari orang atau bangsa cina atau Tiong Hoa karena memang demikian adanya ‘HARUSNYA” sesuai dengan HUKUM ALAM atau HUKUM TUHAN
      Yang BERBEDA jangan dan tidak dibenarkan disebut SAMA juga yang SAMA jangan dan tidak dibenarkan disebut BERBEDA karena berpotensi sebagai MELAWAN TERHADAP HUKUM atau menentang TUHAN, sebab TUHAN
      lah yang membuat manusia bangsa-bangsa. Tempatkan perbedaan itu secara proporsional sebab itulah yang dekat dengan ADIL
      HUKUM entah itu dalam wujud PANCASILA, UUD 1945 atau Bhinneka Tunggal Ika tidak menjadikan KEPALA sama dengan ekor.

      Jika anda hendak bermaksud menulis kisah “sejarah” tulislah sesuai fakta, jangan menurut cerita atau kisah orang lain atau malah menuliskan subjektifitas anda.
      Jika handa hendak menjastifikasi maka kemukakanlah dasar dan alasan hukumnya.
      Janganlah menulis untuk menyesatkan atau memprovokasi untuk melakukan sesuatu yang tidak benar jangan pula melakukan fitnah sebab melakukan fitnah hukumnya lebih keji dari pembunuhan!!!!!

      • Woooow…..betapa tersanjungnya saya mendapati tulisan saya ditanggapi oleh seorang advokat. Terima kasih atas pelajarannya mengenai hukum Indonesia, hukum alam, dan hukum Tuhan :)

      • Anto Basuki says:

        Horas, Bung Simbolon,

        Saya hanya ingin mengatakan satu hal :
        “Hanya hati nurani lah yang tidak bisa berbohong. Terlepas siapa yang berkomentar, Sarjana Hukum, advokat, insinyur..atau apapun, terlepas dari seberapa dalam kadar subyektifitas seseorang dalam berpendapat…..pada akhirnya “HATI NURANI” lah yg sanggup menghakimi-nya”

        Jadi apakah Anda atau saudara Kurnia yang “BENAR”….kita serahkan pada HATI NURANI kita masing-masing.

        Anto Basuki,
        seorang Cina, yang tidak pernah merasa menderita sebagai bangsa Indonesia.

      • Danny says:

        baru lulus S1 bagian hukum saja sudah sok tau. Jangan fanatik macan kampung aja belagu.

    • menurut saya anda itu goblok cuma provokasi, cerita anda bnyk yg ngaco dari yg bnr klo emg situ tau sejarah belanda jajah indonesia berapa tahun naah qm ada sebut RI dan indonesia merdeka tahun brp emg belanda msk ke indonesia dl atau jepang cerita qm itu semua aja ud ga jelas apa lg yg lbh jauh,

      • bung asik digoyang, blog ini bukan ajang ujian
        dan sebelum coba beradu pengetahuan atau argumentasi, ada baiknya belajar berbahasa dengan benar terlebih dahulu

      • Savraz says:

        Gak usah belajar berbahasa dengan benar dulu dah, belajar bahasa yang dapat dimengerti aja udah cukup :D.

  2. selvi says:

    postingan yang berani…
    angkat 10 jempol…..

  3. ariel says:

    Kurang satu bahan analisinya…Pembantaian etnis Tiong Hoa tahun 1740

  4. 1. Ahok bukan dari Jalur Independen tapi dari Partai Gerindra
    Yang Independen itu Faisal Basri

    2. FBR = Forum Betawi Rempug, rempug itu semacam guyub kalo basa jawa

    3. “Bersiap!” Sebuah periode kacau balau yang diakibatkan oleh kekosongan kekuasaan
    saya jadi tahu istilah “persiapan…persiapan…tarahu, karacang” rupanya sejak 1945

    4. Saya cuma bisa prihatin, karena walaupun saya Jawa 100% saya hanya pengangguran katolik yang tidak punya akses ke RI 1.

    5. Menulis blog itu sulit?
    Blog ini memang payah.
    Ini tulisan tidak cocok hanya masuk blog, terlalu bagus, terlalu komplit uraiannya. Buatlah buku!
    Ini tulisan kelas buku komersial, kawan.

    • 1. Nah ini aku sebenarnya bingung soalnya banyak yang menyebut mereka dari jalur independen. Aku pikir awalnya dari independen, terus akhirnya didukung Gerindra. Perlu direvisi nggak ya?

      2. Oh, yang betul Rempug ya…kalau yang ini akan saya revisi. Trims masukannya

      3. yaaa…begitulah

      4. berteman dengan kaum minoritas tanpa sentimen tertentu sudah merupakan tindakan terpuji, paling nggak menurut saya

      5. Yah, kalau dibuat buku cuma jadi berapa halaman?

  5. Mas Yud says:

    Mantap! Jadi ingat novel “Putri Cina” tulisan Sindhunata.
    Moga bangsa ini bisa merdeka dari kebodohan, gak gampang diadu domba.

  6. komen dulu baru baca
    tumben postingannya panjang benerrrrrr… :-))

  7. Sundari Maret Putri Haloho says:

    Baca postingan ini, banyak nambah pengetahuan saya akan etnis tionghoa.
    Terima kasih Mas Kurnia.
    Saya suka. Lanjutkan.

    *Terima kasih jg utk ‘koel’nya.
    Sudah sampai ke tanah batak, medan. Mas Yustinus yg punya acara. Hehe.
    Satu rumah baca ‘koel’, semua kena ‘sindiran’nya. Hihii.
    Gbu

  8. elang says:

    Kepanjangan. terus terang males bacanya. mungkin baik kalau dipisah jadi 2-3 tulisan… tapi ya sudahlah, saya hargai tulisanmu yang keren ini walau tak tuntas kubaca,

    Mendengar orang Indonesia etnis Cina disinggung dan dipandang negatif ke-cina-annya, saya biasanya langsung flashback ke masa muda. (sekarang masih setengah muda)

    Belasan tahun lalu, saya sekolah di SMA swasta di Jogja di mana saya terbiasa memanggil teman sekolah yang keturunan cina dengan kata “hey, cina!”. Saya juga memanggil yang keturunan Batak dengan, “Hey, Batak”. Demikian juga dengan yang keturunan Papua dan Ambon. Dan mereka pun bisa memanggil saya dengan, “Hei, Jawa!”

    Serunya, tidak ada yang berani tersinggung ketika dipanggil demikian. Karena kami belajar untuk pertama tidak menutupi perbedaan suku dan ras kami. Justru mengakui dan memahami perbedaan itu dan tidak menjadikannya penghalang atau masalah.

    Sayangnya, lulus SMA, sulit menemukan lingkungan yang sama.
    Andai saja…, tapi berandai-andai sedikit manfaatnya.

    • Sempat kepikiran gitu lang, tapi takutnya kalau informasinya dipotong-potong yang mbaca berpotensi cuma mengambil info sepotong-potong juga. Bukannya malah berbahaya?

      Iya, aku setuju sama kamu. Karena ditutup-tutupi, diawali dengan pemisahan lalu pelarangan, kita jadi nggak mengenal satu sama lain. Dan ketidak-tahuan itu mudah sekali diubah jadi prasangka :(

    • bener banget, menemukan lingkungan yang sama itu sulit sekali.

      saya pun punya kenangan manis bersama teman2 kuliah saya. kami sangat berbaur sekali, tidak membedakan suku dan ras satu sama lain. bahkan panggilan “cina lo” dan “pribumi lo”, bukan berniat mendiskriminasi. tapi hanya gurauan saja. disini kita bisa menjadi belajar terbuka. tidak menjadikan perbedaan menjadi satu hambatan untuk bersahabat.

      malah teman2 saya yang pribumi yang ceritanya jadi orang cina.
      dan kami yang chinese menjadi pribumi. kami bergurau dengan memerankan terbalik, lalu tertawa bersama setelahnya.. dan kami masih bersahabat sampai detik ini. walaupun sekarang kota tempat tinggal kami sudah berbeda. :)

  9. Khimura says:

    Bacaan yang sangat memperluas wawasan saya ttng kenapa suku minoritas Tionghoa ampe sekarang selalu dijadikan pelampiasan, terima kasih atas rangkuman nya…

  10. Don Mercie says:

    Mantap tulisan ente gan, perlu disebarluaskan neh biar masyarakat Indonistan semakin melek matanya… Thanks again for the writings :shakehand

  11. Ericova says:

    Pak Kurnia Winata, apakah diperbolehkan saya share ke blog saya? *tetap ada nama blog dan nama Pak Kurniawan. Terima Kasih

  12. FPI DAN FBR PERLU DICARIKAN SOLUSI YG BAIK.
    EKSISTENSI MRK PERLU DISALURKAN YG POSITIF.
    KALAU DILAWAN DGN KEKERASAN AKAN BERDAMPAK NEGATIF!
    INI PR PERTAMA UTK JOKOWI DAN BASUKI

  13. Jessica Gabriella says:

    jangan mentang-mentang kami hanya numpang disini lalu kalian seenaknya saja ngata”in kami, kami juga manusia, makan nasi seperti kalian, kalau dosa kami di masa lampau memang tak bisa di maaf kan, lalu bagaimana dgn dosa kalian, apakah kalian tidak sadar akan apa yang kalian lakukan? kami dulu bukannya tidak mau menjadi warga indonesia ka,mi namun kami hanya ingin keturunan kami punah. mungkin kalian boleh berkata seperti itu, namun lihatlah, sekarang ini kami telah jauh lebihn sukses dari kalian, kami bukan sombong namun kami hanya ingin menunjukan keberhasilan yang kami raih. dahulu, kami susah, namun sekarang kami telah makmur, dahulu, untuk mencari sesuap nasi kami harus bekerja keras, namun sekarang sangat mudah kami mencari nasi. saya sangat menentang artikel ini, ini merupakan sebuah hinaan besar bagi etnis tionghoa. saya memang baru 12 tahun, dan itu artinya pemikiran kalian tidak lebih dari anak usia 12 tahun. harusnya kalian malu akan hal itu.

    • Jessica Gabriella yang baik, di alam maya ini tidak penting berapa umurmu secara biologis. Yang dapat dihitung adalah sikap kita dalam menanggapi sesuatu. Dalam hal ini saya sarankan Anda untuk memahami sampai tuntas terlebih dahulu sebelum memberi tanggapan secara emosional :)

    • enzer31 says:

      hehehe kaya cuma baca separo ni orang.

    • saya rasa anda tidak usah tanggapi artikel semacam ini belum tentu benar sumbernya, sejarah yg dia tulis aja bnyk yg slh dan tdk bnr, menurut saya artikel ini hanya membuat provokator karna sumbernya bnyk yg tdk bnr. jika benar org2 pribumi dari dulu berbuat kejahat terhadap wrg keturunan sejahat thn 98 itu maka bangsa ini terkutuk & skrg di hukum sama yang di atas maka bangsa ini sampai skrg tdk bs maju2, hrs ingat bangsa ini dulu nenek moyong kita bnyk belajar dari nenek moyang org tionghoa dari sebagian budaya smp makanan yg kita merasa punya indonesia tp ternyata asal usulnya ternyata dari org tionghoa juga ada dan tanpa klian sadari bahasa indonesia kt pake terkadang bahasa tionghoa juga dari makanan smp nama brg, satu lg tanpa kt sadar dr org2 tionghoa sk lakukan bisnis dagang sebagian kita bljr dri mrk jg, saya sebagai org pribumi indonesia sangat tdk setujuh jika ada klian intimidasi org2 tionghoa saya sebagai bangsa indonesia meminta maaf ke semua wrg keturunan tionghoa jika dulu saudara2 kami ada kekerasan terhadap org2 tionghoa. jika kita punya pemikir maju untuk negara ini kita hrs atau slhny dimana bangsa ini kita bs lihat contoh negara tetangga kita mrk sngt haragai wrg keturunan bakan pemerintah mereka akui negara mrk maju karna ada wrg keturunan tionghoa yg pinter dagang dn mrk sm bnykn dagang secara ekonomi jadi bgs, berita pernyataan pemerintah malaysia ini saya baca dr kompas. jadi hanya satu kata kita jgn cuma bisa sirik terhadap mrk tp kita patut belajar sprt mrk

    • mungkin, kalian lebih sukses, mungkin..berapa emg perbandingan populasi etnis kalian sama yg pribumi? indonesia populasinya 200jt lebih hmpr 300jt, etnis kalian ada brp persen di sini?? mungkin kisaran 5%, apakah yg 5% itu sukses smua?..inget ya, sukses bukan diukur dgn uang yg kalian punya..
      rata2 negara dgn populasi tinggi emg susah diatur n susah maju, byk kriminalitas, contoh: india, RRC, indonesia.. kecuali semacem US, mereka populasi byk karena byk jg org2 luar yg emg brkualitas pindah kerja ke sana n tinggal di sana, tp tentunya mereka jg gak lepas dr isu kemiskinan dan kriminalitas, malah isu kriminalitas mereka lebih parah dan edan..cuma smua hal itu gk diekspos media sana, cuz media mereka lebih mngutamakan pendidikan…

    • toto says:

      Kurasa orang2x yg sifatnya kyak beginilah yg paling menghambat persatuan dan kerukunan yg akhirnya juga merugikan etnis tionghoa sendiri.Mumpung anda masih termasuk katagori orang dewasa maka saya anjurkan kedepannya supaya anda banyak belajar berkomentarlah dengan kata2x yg bisa diterima oleh semua pihak dan jangan mengandalkan emosi anda yg kelihatannya seperti mempamerkan suatu sifat yg angkuh dan sombong yg sama sekali tidak bermanfaat bagi pembaca malah menimbulkan kemuakan dan tidak simpatisan terhadap anda sendiri.

      • toto says:

        Kurasa orang2x yg sifatnya kyak Jessica Gabriella beginilah yg paling menghambat persatuan dan kerukunan yg akhirnya juga merugikan etnis tionghoa sendiri.Mumpung anda masih termasuk katagori orang belum dewasa maka saya anjurkan kedepannya supaya anda banyak belajar berkomentarlah dengan kata2x yg bisa diterima oleh semua pihak dan jangan mengandalkan emosi anda yg kelihatannya seperti mempamerkan suatu sifat yg angkuh dan sombong yg sama sekali tidak bermanfaat bagi pembaca malah menimbulkan kemuakan dan tidak simpatisan terhadap anda sendiri.

  14. Jessica Gabriella says:

    jika dahulu kalian berfoya” atas kemakmuran kalian, dan kami menangis iba atas kematian sanak saudara kami yang telah kalian bunuh, maka sekarang kami bertanya besok makan apa, namun kalian bertanya besok makan tidak. ini adalah hasil kerja keras kami, etnis tionghoa. bukan dari hasil mencuri seperti yang sekarang banyak terjadi. mungkin kalian akan berkata “alah, anak kecil aja banyak ngomong, tau apa sih lu?” namun jangan lah kalian mengumpat dari kenyatan ini, bahwa pemikiran kalian tidaklah lebih dari anak usia 12 tahun. terima kasih. saya doakan semoga tuhan mengampuni dosa kalian.

    • Meydiano Ichiko Olivia says:

      heh bocah ! lu baca dulu dari atas sampai bawah baru maki-maki !
      ini bukan penghinaan, ini penjelasan kenapa ada jarak antara pribumi sama chinese
      mungkin karena penjelasan nya terlalu panjang jadi lu kurang ngerti kali yah
      gua aja chinese benteng bisa maklum dengan penjelasan ini,
      this is what ppl calling bout explain, not insult the other loh -_-

    • opi says:

      woi bocah baca ampe selesai baru lo koment
      GUOBLOK

      • Nggak perlu marah-marah gitu dong. Nggak apa, tiap orang kan harus melalui proses belajar. Maaf, saya hapus beberapa komen yang lain. Saya nggak ingin tempat ini dijadikan ajang saling memaki. Tapi terimakasih lho sudah mampir :)

    • Christ says:

      Nonik yg masih 12 tahun.
      kalo mau marah2 baca dulu sampai habis.
      kita bukan mau ngatain km masih bocah, tp emg kamunya yg belum bisa memahami arti tulisan org lain.
      dalam artikel di atas tidak ada sedikitpun unsur yg menjatuhkan etnis kita (tionghoa, krn aku jg tionghoa).
      makanya lain x dibaca dulu dan dipahami sampai habis, jgn baca cm bbrp baris trs marah2 ^_^

    • Anto Basuki says:

      Nonik,…tulisanmu terlalu dewasa utk usia 12 tahun,…cuman belum cukup dewasa dalam berkomentar. Banyaklah membaca terlebih dulu, sebelum berbicara…itu akan membuatmu menjadi pribadi yang bijak.

    • toto says:

      Jessica Gabriella..kicauan kamu semakin parah dan tak bermanfaat sama sekali ya…

  15. Anggie Setiawan says:

    ada beberapa fakta yang ingin saya ralat dari posting ini
    1. tidak semua etnis tionghoa itu berkulit kuning dan bermata sipit
    2. kami tidak mencuri apa-apa dari kalian
    3. memang banyak etnis tionghoa yang memiliki KTP bangsa china itu pun semata-mata karena pengurusan KTP indonesia sangat sulit
    4. kami menduduki tingkat perekonomian tinggi karena memang itu hasil kerja keras kami
    5. kami menjadi pintar atas dasar usaha kami sendiri dan tidak bermalas-malasan seperti kalian
    thanks, tolong lain kali koreksi ucapan anda..

    • Terima kasih perhatiannya.
      Tolong lain kali Anda baca terlebih dahulu secara lengkap sebelum mengoreksi :)
      Bukan hanya tulisan saya, tapi juga tulisan orang lain.
      Pahami dahulu pendapat orang lain sebelum menghakimi, karena itulah sumber utama perselisihan di antara manusia.

    • kocrot labamba says:

      Cina perusak segala hal,cina itu gak perlu d bela,klo mang cina itu bagus d indonesia cina pasti gak akan mau d bumi hanguskan,kalian cina tionghoa pencuri dan penipu

      • Halo Kocrot,
        Saya yakin Tiong Hoa memang tidak ingin dibumihanguskan. Siapa sih yang mau.

      • kocorot manusia seperti anda lha yg merusak negara dan bangsa ini, jika benar dulu kita ada slh hrs malu knp smp berbuat tdk manusiawi apakah panas sebagai sesama manusia yg punya hati dan agama apakah krn kita hanya sirik terhadap mrk dngn alasan mrk perusak

      • Felix J.Wang says:

        @ kocrot_lamamba ( sang Pribumi kampungan ) : Loe ngakunya pribumi Indonesia atau “orang Indonesia” ( mungkin ) tetapi TIDAK DAPAT MENULIS DENGAN TATA BAHASA YANG BENAR … ketahuan Anda ini memang SAMPAH. Pakai OTAKmu … kalau loe bilang “China perusak segala hal”, lihat deh, di Indonesia ini ( dari contoh yang paling sederhana ) … apakah lalu lintas bisa setertib di Singapore ( mayoritas penduduknya etnis Tionghoa ) atau di USA ? Pelanggar rambu lalu lintas mayoritas siapa ? PRIBUMI ! Para petinggi POLRI siapa ? PRIBUMI yang mayoritas otaknya ngga sanggup mengatur lalu lintas & lebih mementingkan duit daripada ketertiban …

        Yang LEBIH merusak negara ini adalah orang yang “merasa pribumi” atau “mayoritas” itu … yang umumnya tidak bisa diatur atau tertib sesuai aturan yang telah mereka rumuskan sebagai undang-undang. Belum lagi korupsinya … .

  16. Sangat bagus. Terima kasih

  17. Namo says:

    masa lalu biarlah berlalu dan dijadikan sejarah
    saya akhirnya mengerti kenapa warga keturunan tionghoa bergaul secara eklusif. Tapi perseteruan dan menutup pergaulan hanya membuat oang keturunan pribumi semakin gelap mata. Anda tentu tidak ingin kejadian pahit runtuhnya orde baru terjadi lagi. Anggaplah dulu benar orang pribumi mendiskriminasi kalian, tapi apakah kini juga kalian ingin didiskriminasi dengan memisahkan diri dari pergaulan….

    • Benar sekali Mas Namo. Saya menulis ini bertujuan ke dua arah. Pertama ke “pribumi” yang selalu memandang penuh curiga ke keturunan Tiong Hoa dan ke keturunan Tiong Hoa yang enggan berbaur dengan “pribumi”. Saya berharap keduanya dapat menurunkan tirai prasangka masing-masing. Tanpa usaha kedua pihak, saya rasa kedamaian sejati tetap akan jadi angan-angan belaka :(

      • ini bener banget mas,memang kadang orang keturunan tionghoa itu sedikit enggan berbaur karena merasa terpojoki dan memiliki suatu Ketakutan terhadap orang asli Indoensia melihat terjadinya kejadian2 dimasa lalu yang begitu menakutkan bagi orang2 keturunan,tapi biarkanlah masa lalu menjadi pelajaran dan kita ambil saja hikmahnya,yang penting kehidupan sekarang kita bisa sama2 mengerti satu sama lain,saling menghargai,bahkan berjuang bersama untuk menajga kebersihan negara kita,karena kita satu negara dan satu idealisme PANACSILA ! :D

    • sofi says:

      sangat setuju. good commeent

  18. Bayu says:

    hiih…. pas baca pembantaian jadi serasa rumahku yang di hancurkan massa.
    Tapi saya baru liat artikel mirip ensiklopedia kayak gini.. Keren deh blognya.
    Saya juga ada pertanyaan buat anda:

    -Mesin waktunya beli di mana??

  19. Asuu Kurap says:

    mungkin ulasan di blog anda sesuai dengan kenyataan, tapi yg tidak anda sadari ada tulisan2 di blog ini yg secara tidak langsung menebar kebencian thd etnis cina, satu hal lagi Ahok memang sengaja dipasang Prabowo utk tujuan menebar kebencian dan menimbulkan isu SARA, begitulah taktik licik Prabowo. wasalam

    • Terimakasih atas masukannya. Terimakasih juga sudah membaca tulisan panjang ini dari awal sampai habis. Buat saya, lebih baik berani melihat kenyataan daripada berada dalam kedamaian yang dibangun dari kebohongan. Karena itu kedamaian semu. Rapuh. Dan hasilnya nanti malah mungkin meledak saat katupnya sudah tak kuat lagi :)

  20. Putra says:

    Ini Mengandung SARA..
    Anda Jangan Diskrimintatif..
    Lihat Dari Sisi Positifnya..
    Misalnya Olahraga Bulutangkis..
    Keturunan Cina/Tionghoa Melambungkan Nama Indonesia ke Kancah Internasional sperti Lim Swie King,dll..
    Trima Kasih..

  21. Mr X says:

    Bagus sekali artikelnya

    Mantabbb :D

  22. qiwhdajksnaiusdkjhb says:

    Mas Kurnia..Saya ras Tionghoa
    Tulisan nya bagus…saya kira tulisannya tentang pelecehan ras Tionghoa. .
    Setelah baca sampei selesai ternyata inti yang saya tangkap : kebencian2 negeri kita terhadap ras Tionghoa timbul dari berbagai pelosok masalah, masalah yang rumit yang hampir smuanya didalangi penguasa(penjajah)..bener ga sih?
    Saya pribadi sangat sedih terhadap kaum saya..kaum saya seakan menjijikan untuk ras lainnya, sedikit saja kesalahan kami buat dan sangat besar hukuman menanti
    (Contoh : kasus delman dan sedan di bandung, saya ga tau gimana cerita lengkapnya, intinya terjadi tabrakan, karena yg punya sedan[sipit] marah & memukul delman, maka korban nya merembet menjadi semua toko2 Tionghoa di lempari & dijarah & katanya sih ada yg diperkosa jg)
    Saya gatau ada dosa apa jaman dulu nya, mungkin kalo berdasarkan blog ini, kaum Tionghoa dulu menjadi pernah bawahan VOC yah?
    Masalahnya ,saya bukan bawahan VOC..
    saya lahir di tanah Indonesia..
    saya hanya bisa bahasa Indonesia & sedikit sunda..
    taruh saya di negeri Cina dan saya akan berakhir di kantor polisi karena dianggap bisu & tuli
    Saya cuma bisa ngomong Wo Ai Ni
    Tolong buat yg rasis, coba lebih terbuka lagi..
    Saya salut sama Amerika, mereka yg kulit putih rasis terhadap kulit hitam(Afrika) , sampai ada KKK segala
    Tapi seiring waktu berlalu, dibuat sanksi/hukuman bila melakukan kriminal terhadap korban yg berbeda ras..namanya hate-crime (http://en.wikipedia.org/wiki/Hate_crime)
    dan seiring berjalan waktu, Obama (kulit hitam) jadi presiden
    Mereka begitu menghargai perbedaan ras~
    Maaf kalo panjang2..maaf kalo ada yang tersinggung..
    Bersatu kita teguh!

    • Terimakasih. Saya menulis ini juga berawal dari rasa heran saya akan kebencian pada etnis Tiong Hoa yang membabibuta. Jelas berakar secara budaya. Dan kebetulan buku-buku yang saya baca mengungkapkannya satu persatu.

      Tentu tidak mengapa berkomentar panjang-panjang, tulisan saya juga panjang. Terlalu panjang malah :)

    • naah yg amerika qm cerita itu sejarah nyata, itu lha di sebut negara yg demokrasi, di negara kita belum bisa demokrasi krn bentok dengan agama & ada brp agama di negeri kita di negeri ini yg fanatik juga banyak krna agama yg provokator juga bnyk, maka disitu lha jadi ada gesekan jadi benci ras, karna ras yg menentu dia memeluk agama apa kita bisa lihat negar timur yg di sana smp skrg mereka juga saring membenci saring membantai. saya tegaskan yg kurniahartawinata tulis sy lihat intinya dari dulu org2 tionghoa itu di benci dan di bantai dimana mana mau dari jaman raja jawa smp VOC smp ORD LAMA & smp ORD BARU, secara harusnya provokator memberitahu bangsa ini memang wrg keturunan tionghoa itu untuk di bantai. knp saya bisa ngmg sprt itu karna wkt kurniahartawinata buat artike ini pas ahok yg seorang turunan tionghoa lg mau jd cawagub bnyk yg bertengtang dngn ahok secara harus ajak msyrkt pribumi anti cina, makanya hati2 yg baca ini krn sejarah yg di tulis bnyk tdk bnr jika ada yg bnr tp tdk sprt itu ceritanya

  23. WONG CILIK says:

    PKI sebutan yang cocok bagi koruptor di indonesia karena KORUPTOR = produk kolonialisme yg masih awet sampai sekarang. Mau tahu PKI = Pokoke Kantonge Isi (sebutan keren para koruptor Indonesia sekarang).
    Agama = ageman pakaian untuk kedok kejahatan manusia terbaik sekarang. Lihat Yang terhormat Saudara LHI dan AF belum lagi penghinaan terbesar pencetakan ALQuran dipilih sebagai mesin duit sebuah partai dan semua ini dilakukan oleh warga yg mengaku Pribumi.
    Bencana alam sudah menunggu kita semua penghuni tanah Indonesia (china, jawa, batak, sunda, ambon, dll) dengan memakai kedok agama dan menyebut nama Tuhan dengan sembarangan. Dan menggambar mati Tuhan Allah penguasa alam semesta ini.
    Jadi BRO di jaman sekarang tidak jamannya berbicara SARA tetapi lihatlah:
    1. AKHLAKNYA (SECARA ISLAM), atau
    2. KASIH (SECARA KRISTEN/KATOLIK),
    3. ROSO KAMANUNGSAN (CARA JOWO).
    Apabila manusia indonesia tidak memiliki salah satu dari 3 hal ini maka sebuatan dia = PENGKIANAT NKRI sekaligus PENGANUT ANTEK BELANDA/KOLONIALISME.
    Manusia yg melanggar hal ini wajib dimusnahkan dari bumi NKRI.
    Ingat pemilu Gubernur DKI jakarta = bukti bahwa rakyat jakarta sudah sadar akan kebohongan lidah tak bertulang dari pendahulunya yg sok agamis tapi tak berakhlak alias Jarkoni (iso ujar rabiso nglakoni= hanya bisa omong tak bisa jalani).

    revolusi alam
    wong cilik

  24. mustika says:

    Bole2 aja menguasai perekonomian tp jgn menghalalkan segala Cara donkk

    • Tentu. Untuk semua hal sebaiknya jangan menghalalkan segala cara. Tapi maaf, saya tidak paham konteks dari komentar Anda :)

    • Bang Jampang says:

      jangan menghalalkan segala cara ? lebih tepatnya kalimat ini ditujukan kepada pemuka agama yang menggunakan ayat2 kitab suci sesuai keperluan & tujuan pribadinya sendiri.
      Tepat juga ditujukan kepada para Politikus, yang lebih mungkin meng-HALAL-kan segala cara. Politikus biasanya bersekutu dengan para pemuka agama, karena para pemuka agama yang biasanya memiliki Massa ( pengikut).

      Politikus dan Pemuka agama , menghalalkan segala cara demi Harta Wanita & Tahta

  25. diskon says:

    yang tahun 80 kok gak ada, lebih dahsyat daripada 98 lho, maklum, tahun 80-an bukan takut sama polisi tapi takutnya sama garong

  26. Indonesia tanah Kelahiranku, disini aku dilahirkan, di Tanah Borneo oleh orangtuaku
    Indonesia tanah airku, disini aku berdiam dan tinggal diatas tanah Borneo – Indonesia, disini juga saya minum airnya.
    Indonesia Tanah Tumpah Darahku, di Indonesia, telah banyak darah orang Tionghoa terdahulu menumpahkan darahnya, ditumpahkan darahnya, tertumpah darahnya. Mulai dari Sumatera, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, Papua.
    Indonesia Tanah Tercinta, walaupun sudah menumpahkan darahnya, menneteskan air matanya, mengujurkankan keringatnya. dihina, dicaci maki, difitnah, dibenci dsbnya. TETAP CINTA INDONESIA.
    INDONESIA RAYA, Indonesia yang Raya ini, disini kami orang Tionghoa membangun Negeri ini.
    Bukan Seperti Amerika, Portugis, Spanyol, Belanda, JEPANG yang menjajah INDONESIA, yang mengambil SDA Indonesia secara Paksa.
    Kami Bangsa Indonesia, yang bekerja, mengumpul rupiah demi rupiah untuk membangun keluarga, perekonomian, pendidikan di INDONESIA.
    Kami Bangsa Indonesia, kami bisa membaur dengan semua orang diseluruh Nusantara, bukan hanya di Jawa untuk Jawa, Dayak untuk Dayak, Sunda untuk SUnda.
    Kami Bangsa Indonesia selalu saling membantu, bukan ISLAM untuk ISLAM, Kristen untuk Kristen, Katolik untuk Katolik, BUdha untuk Budha. Kami untuk sesama umat manusia, bukan seperti “Untuk Sesama Ummat” kami adalah untuk sesama Umat Manusia’

    KAMI ADALAH MANUSIA MANUSIA KORBAN POLITIK

    KAMILAH YANG ASLI INDONESIA bukan MEREKA.
    Salut buat Pak Kurnia Harta Winata. Tetap berkarya dan publikasikan kepada Semua Bangsa Indonesia.

  27. Moh Rifky Setiawan says:

    Etnis Tionghoa pada awalnya adalah pendatang dari luar negeri,dari negara China,pada saat generasi pertama mereka datang ke Indonesia.Pada saat itu China adalah sebuah negara yg sangat miskin&sengsara,lebih miskin dari Indonesia.Sebuah negara komunis yg sangat menutup diri terhadap dunia luar,sangat sedikit pengaruh negara luar yg didapat,negara tanpa agama(seperti Korea Utara pada saat ini),negara dgn pemerintah yg kejam,yg menyuruh rakyatnya untuk bekerja keras,kemudian harus menyetorkan semua hasil kerjanya kepada pemerintah.Oleh sebab itu kemudian penduduk China menyebar ke seluruh dunia,termasuk ke Indonesia.Setelah sampai di tanah yg baru&mendapatkan kesempatan mencari nafkah di tanah yg baru,seharusnya etnis Tionghoa bisa bergaul&membaur dengan penduduk lokal,saling bantu-membantu dengan penduduk lokal,tidak bersikap diskriminasi terhadap ras lain.Namun kenyataannya,mayoritas etnis Tionghoa tidak bisa bergaul&membaur dengan masyarakat pribumi,mengeksklusifkan diri,menganggap derajat mereka paling tinggi dibandingkan ras lain,sehingga membuat mereka bersikap diskriminasi secara semena-mena terhadap warga pribumi.Situasi ini telah berlangsung ratusan tahun,dan siap meledak sewaktu-waktu seperti bom waktu.Dan puncaknya adalah Kejadian Mei 1998.Setiap kejadian pasti ada hikmah yg bisa diambil,yg bisa membuat kita berintrospeksi diri,supaya kejadian Mei 1998 tidak akan pernah terulang lagi.Pembauran itu indah,karena bisa membuat bangsa dan negara tercinta kita ini lebih maju.Sudah saatnyalah semua ras yg hidup dibumi pertiwi ini bersatu,bersama-sama membangun negeri ini supaya lebih disegani oleh negara2 lain. Bravo Indonesia dimasa yg akan datang !!!!!!!!!

    • masalah ini memang soal pelik, karena arus imigrasi dari dataran cina memang datang bergelombang-gelombang. bahkan sejak indianiasi belum terjadi di nusantara.ada generasi yang berhasil membaur, ada pula yang gagal. tapi semoga mulai sekarang kita semua bisa hidup damai :)

      terimakasih atas tanggapannya :)

  28. Joe says:

    Trlalu pinter yg nulis ni artikel, wkwk, kebetulan yg comment disini ampas otak2 bgo, pantesan lu rakyat indo ga maju2 ,, kasian….

  29. Simon Jonathan says:

    ooo . . . Ternyata gitu dulunya.
    ternyata salah jika kita membenci etnis tionghoa, karena juga tidak ada satupun ras bangsa Indonesia ini yang dpt dibenci.
    Malah saya pribadi seakan mulai membenci kaum penjajah, khususnya Belanda.
    Ini hanya pendapat saya. Bagaimana menurut mas Kurnia??
    . . . .
    btw, mantap kali nieh risetnya. 4 jempol :-) buat ni blog.
    jadi nambah otak sy . .
    hhh . . .

    • terimakasih untuk jempolnya :)

      menurut saya, yang sudah terjadi ya sudahlah terjadi. kita cuma bisa mengambil pelajaran darinya. kebencian jangan sampai dipelihara. kita semua yang akan rugi ^_^

  30. Siswanto says:

    Sebenarnya Kalau kita mau jeli, Bukan hanya warga tionghoa saja yang mengalami kepahitan. Cuma karena terlihat maka disorot. Kita semua Indonesia tapi dalam realitanya persamaan hak dan kedudukan sering terabaikan karena ada penyakit yang mengrogoti orang Indonesia..
    1. Masalah Sarah terkadang menjadi dominan bila Prikeadilan dan Prikemanusiaan telah hilang karena kesejahteraan menurun.
    2. Berkuasa terkadang di indentikkan dengan uang yang banyak dapat membeli apapun termasuk harkat dan martabat, juga sarana mengadu domba untuk kepentingan pribadi.
    3. Korupsi adalah bagian dari suatu penyakit kronis tetapi penyakit yang membuat korupsi adalah Nepotisme sebagai akarnya.
    4. Pengetahuan moral kebangsaan yang semakin menipis karena tidak di ajarkan secara frontal seperti jaman kemerdekaan.

    Demikian penilaian saya tentang Tulisan anda, saya usulkan jangan hanya Tionghoa coba lebih kepada Bangsa Indonesianya juga anda tulis. Karena Kita semua Bhineka Tunggal Ika. Sebatas Tulisan di kaki Burung Garuda. Jaman sekarang Kekuasaan dan Politik kadan menjadi Dominan dan sangat berbahaya untuk kepentingan Individu dan Golongan.
    Tulisan anda layak dapat bintang pa Kurnia

    • Benar sekali Pak Siswanto,
      masalah kita memang pelik dan banyak sekali :(

      • anti cina says:

        Hey cina,
        Kalian itu hanya NUMPANG
        Jadi jangan sok sok bilang “kami ini juga manusia, cuma cari makan”; “kami itu hemat, pintar cari uang ” anjrit buapaklo lo tuh ! Klen tuh sukses karna klen tu pada penipu semua, ! Pada zaman orde baru klen pinjam uang ke bank tanpa jaminan , waahhhhh…. Setelah usaha nya bangkrut pindah ke luar negri trus usaha diasuransikan bangunan, pabrik , mall dsb semuanya diasuransikan . Nah kira kira mau bangkrut dibakar tuh aset-aset biar dapat uang . Dasar Picik. Trus kalok di toko toko gitu kalok belanja suka nipuin , jual obat pemutih kulit eh ternyata isinya gak sesuai sama yang ditawarkan. Jual ATK harganya dimainmainin , mentang yyang beli anak anak . Trus ada lagi nih cina penipu , pura pura cacat supaya dibeli barangnya , eh ternyata besoknya jumpa lagi di suatu temap dah jalan normal ! Ckckckckck

        Macam mana cina gak cepat kaya ???
        Pulaknya gini tabiatnya
        !!!

      • Halo Agung Kurnia yang baik,

        Sayang sekali kita semua ini hanyalah penumpang. Kita semua yang berada di nusantara ini adalah campuran dari berbagai imigran yang datang dari arah utara. Berbagai bangsa dari berbagai generasi datang secara bergelombang ke tanah yang sekarang kita sebut Indonesia.

        Saya prihatin akan pengalaman Anda dalam berhubungan dengan keturunan Tiong Hoa. Saya yakin itu menyebalkan. Saya juga pernah mengalaminya. Saya berharap kita semua cukup dewasa dalam menghadapi persoalan. Jangan sampai kebencian kita membuat kita gelap mata.

  31. Black_Claw says:

    Kalau pengalaman saya, yang berkasus ini sebenarnya kesalahan orang Cina yang ga bergaul, tapi bawa-bawa nama etnis. Coba pikir, orang Arab yang brengsek persentasenya sama saja dengan persentase kebrengsekan suku lain. Toh orang Arab lebih diterima di Indonesia. Karena mereka bergaul. Mudah kawin campur, dan menggunakan bahasa lokal tempat dia mendarat sebagai bahasa utama untuk anak-anaknya.

    Hal ini mungkin dipermudah karena agama mereka sama dengan mayoritas bagi mereka yang datang belakangan. Bagi mereka yang datang pra-islam di Indonesia, mereka selain berdagang juga menyebarkan agama.

    Hal ini berbeda dengan mayoritas orang Cina yang datang berdagang doang. Mau han, tiocu, khek, semuanya dagang tok. Ga ada yang datang nyebarin konghucu sekalian dagang. Akibatnya sedikit pula yang kawin campur, sehingga meninggalkan jejak berupa eksklusifitas yang tetap ada sampai kini. Sangat sedikit yang saya lihat mau gaul sama yang disebut pribumi tanpa tetap menjaga jarak. Alasan klise disebutlah sejarah, pembantaian etnis dan sebagainya. Padahal bukan dia yang ngerasain. Entah itu zamannya bapaknyalah, kakeknya lah. Pastinya bukan zamannya dia.

    Makanya, kakek saya bilang, merantau itu harus kaffah. Sepenuhnya. Liat contohnya beliau, yang diturunkan dari kakeknya beliau. Kakeknya kakek saya datang dari Tiongkok mungkin masih menganut nama tiga kata. Tapi semua anaknya yang lahir diberi nama lokal. Dinikahkan dengan “stok lokal” tapi kalaupun mau nikah dengan sesama perantau Cina ga masalah. Yang penting anaknya tetap bernama lokal. Budaya yang dianut di rumah? Ya budaya lokal. Bahasa yang dibiasakan di rumah? Lokal. Bagi beliau, kakeknya kakek saya itu, cukup dia saja yang Cina karena kenyataannya memang dia lahir di sana. Dan itu berhasil. Semua keturunan kakeknya kakek saya walaupun sipit atau kuning ya dianggap lokal. Semua teman kakek saya malah bilang kakek saya itu lokal yang mirip Cina. :))

    Kalau ada yang nanya kakek saya setelah tau dia emang keturunan Cina, enteng aja dijawab: “Saya lahir, besar, dan makan di sini. Ga pernah sekalipun saya lihat itu dataran Tiongkok. Bukan mau tidak mengakui asal-usul, tapi saya kan bukan moyang saya. Kita semua pribumi kok. Bedanya cuma ada yang ngaku pribumi, ada yang nggak.”

    Jadi, cukuplah bilang saya Indonesia TAPI keturunan, saya Indonesia dari suku Tionghoa, saya chinnese-indonesian, dll dsbg yang dimanis-manisin tapi tetap bikin jarak. Cukup: Saya Indonesia. Kalau ditanya aslinya? Sebut saja tempat dilahirkan, dan pasti bukan Cina, kecuali anda emang lahir di Cina ya anda bukan pribumi. =))

  32. Michael says:

    Sejak kerusuhan Mei 1998 saya sekali-kali menyempatkan diri mencari informasi tentang sentiment anti cina di Indonesia. Tulisan Pak Kurnia cukup lengkap dan memberikan wawasan yang mendalam terhadap polemik yang dialami sahabat Tionghoa di Indonesia. Anti Cina di Indonesia merupakan hasil adu domba devide et impera yang dilakukan oleh Belanda dan penguasa lokal yang bermaksud mengambil keuntungan dari etnis Tionghoa sebagai pihak yang lemah. Kebencian anti Cina disemai dan dirawat dengan baik oleh penguasa selama bertahun-tahun. Sebuah proses panjang yang dapat digunakan sewaktu-waktu pada saat dibutuhkan. Asimilasi dan segala bentuk anjuran pembauran yang dimaksud untuk meredakan/mengurangi jurang antara Tionghoa dan Pribumi Indonesia sebetulnya sudah berjalan sangat baik. Di tingkat akar rumput, hubungan ini berlangsung tanpa masalah etnis. Jika terjadi pertikaian sebenarnya merupakan hal yang lumrah karena itu bisa saja terjadi antar sesama keluarga sendiri. Jadi kalau pertikaian sederhana diblow-up menjadi sentiment anti ras pasti ada provokator yang menjadi dalang utamanya.

    Tidak mudah mengubah persepsi yang sudah dibangun demikian lama. Sama seperti mengajak bangsa Indonesia untuk makan gandum tanpa nasi. Tulisan Pak Kurnia memang betul, ada pihak-pihak yang khawatir jika bangsa ini bersatu, kekuatan yang dihasilkan memang luarbiasa. Siapa yang tidak tergiur dengan tanah Pertiwi yang makmur membentang dari Sabang sampai Merauke ? Namun, sekali lagi uang dan kekuasaan sering mengalahkan akal sehat.

    Jika mempelajari dari Sejarah anti Cina di Indonesia yang sudah berlangsung berabad-abad. Kekhawatiran akan timbulnya kejadian serupa yang dimanfaatkan oleh penguasa atau pihak-pihak yang berkepentingan bisa saja terulang. Semoga bangsa kita semakin dewasa dan cerdas mengambil sikap dalam menghadapi setiap persoalan demi masa depan Indonesia yang lebih baik.

  33. inggar susanto says:

    Saya adalah orang Jawa yang tidak begitu suka dengan kekerasan dan apalagi dengan ketidakadilan. Ini disamping asli karakter saya, namun juga ajaran agama saya yang mana harus mengedepankan kasih sayang dengan sesama dan berbuat adil. Mantan Perdana Menteri Singapura pernah mengatakan bahwa Indonesia dan Malaysia adalah negara yang bermasalah dengan etnis China-nya. Dan saya lihat memang begitu adanya. Kenapa ya? Hal demikian tidak terjadi di Thailand dan Filipina. Apakah karena di Thailand etnis China ada kesamaan dengan pribumi setempat, yaitu sama-sama beragama Budha. Sementara di Filipina ada kesamaan yaitu sama-sama beragama Kristen. Apakah perbedaan agama potensial menimbulkan konflik dengan etnis China? Amerika Serikat (AS) adalah negara yang sangat multi etnis dan multi kultur. Tapi kerusuhan berbau SARA sangat jarang terjadi di negara tersebut. Kita tahu, AS adalah negara demokrasi yang menjadikan hukum sebagai panglima. Di samping itu, keadaan ekonomi rakyat AS secara umum adalah baik dan bahkan kuat. Dan bolehlah kita berbangga hati, karena saat ini nampaknya negara Indonesia berada di jalur pengembangan demokrasi, penguatan sistem hukum dan pembangunan ekonomi yang cukup bagus. Soal mengapa orang China banyak yang kaya? Meskipun yang miskin juga tidak sedikit! Saya punya beberapa teman dari etnis China. Sebagai manusia, mereka sama saja dengan saya yang etnis Jawa. Bedanya adalah pada budaya atau nilai-nilai kehidupan mereka. Menurut penilaian saya secara subjektif, mereka sangat sangat, bahkan teramat sangat berorietasi pada HARTA alias DUIT. Untuk itu mereka sangat hemat dan sangat menghargai hartanya. Sampai-sampai saya pikir seluruh hidupnya hanyalah untuk cari harta. Mungkin menjadi orang kaya adalah nilai kehidupan yang tertinggi bagi mereka. Dan untuk menjadi seperti itu saya dengar mereka ada atau barang kali banyak yang melakukan ritual klenik yang menurut saya aneh. Tapi apapun yang mereka lakukan adalah urusan mereka sendiri. Saya tidak memandang perbedaan etnis sebagai suatu masalah. Soal stigma negatif bahwa orang China licik dalam berbisnis, penipu dan sebagainya, saya kira penegakan hukum di negara Indonesia ini adalah tumpuan harapan saya. Soal pembunuhan masal terhadap etnis China dari masa ke masa, baik oleh kaum penjajah Belanda maupun kaum “pribumi”, itu pastilah ada sebabnya. Indonesia sebagai negara hukum haruslah dapat melindungi hak-hak semua warga negaranya. Tidak boleh ada pembantaian etnis ataupun diskriminasi yang berbau SARA.

  34. Anonymous says:

    Saya cuma mau bilang, etnis tionghua itu yang pegang pilar ekonomi dan bisnis di indonesia.
    ibarat nya kalau dalam 1 keluarga, ini kakak yg tiap hari berdagang untuk cari nafkah buat keluarga.

    kalau kalian benci, kalian ganggu terus, bukan nya kalian dukung. gimana bisa maju negara ini.

    Saya etnis tionghua, teman saya dan rekan bisnis yg pribumi sangat banyak. untung nya semua cukup baik dan tidak rasis. bahkan ada yang sudah seperti saudara.

    teman saya yg pribumi juga banyak yg kaya-kaya. saya juga tidak tau mereka usaha apa, dan tidak tertarik untuk tau. yang penting selama berteman saling menguntungkan atau tidak merugikan saja sudah cukup.

    saya juga pernah di tipu orang pribumi dlm usaha percetakan, untung nya hanya uang kecil.
    saya anggap sebagai pelajaran aja dalam berbisnis jangan mudah percaya dengan orang.
    tidak perlu rasis mengatakan semua pribumi adalah penipu kan.

    orang yang suka Menggeneralisir, itu ada lah orang yang ruang lingkup nya kecil ibarat “Katak dalam Tempurung” , pikiran nya sempit. padahal sudah tahun 2013. kok masih rasis .

    Salam Damai.

  35. william says:

    Saya keturunan Tionghoa, bermarga LIE. Semakin saya besar semakin saya sadar akan identitas diri saya. Tionghoa memang dibenci masyarakat indonesia. Dan saya berpendapat bahwa : SAYA TIDAK INGIN MENJADI TAMENG PARA PENGUSAHA TIONGHOA YANG KONGLOERAT DI INDONESIA, SERING SEKALI LUPA AKAN ORANG2 CHINESE YANG SUSAH/KELAS BAWAH. Teringat akan dosen saya yang berkata : LEBIH BAIK MAKAN TANAH DAN SUSAH DINEGERI SENDIRI DARIPADA MAKAN TANAH DAN SUSAH DINEGRI ORANG+HINAAAN. Saya akan berjanji, suatu saat saya akan pulang ke tanah leluhur saya RRT. I’M PROMISE! Saya tidak ingin menjadi tameng bagi pengusaha yang tidak peduli akan sesamanya (Walau sama etnis tionghoa), saya ingin menghimbau kepada etnis tionghoa lainnya yang membaca postingan saya ini agar pulanglah ke tempat asal kita berada, karena sebenarnya bukan disinilah tempat kita berada. Jangan mau dijadikan Tameng! Lebih baik menghadapi ketidakpastian di negri asal kita daripada susah dan TERHINA di negri orang! THX.

    • Saya turut prihatin dengan apa yang Anda rasakan. Tapi sebelum kembali ke “tanah leluhur”, sebaiknya Anda coba-coba dulu. Apakah di sana Anda juga dianggap sama seperti mereka, atau jangan-jangan tetap dianggap sebagai orang asing?

    • I Wayan Suardiana says:

      Betul kata Mas Kurnia, Memang RRC mengalami perkembangan pesat. Namun saya bisa merasakan kerasnya hidup bagi pendatang bahkan bagi orang RRC sendiri( orang desa yg merantau ke kota ) tak jarang mereka juga mengalami diskriminasi. Sekarang ini Indonesia menuju kepada perubahan dan mudah2an kedepannya menjadi lebih baik. Saya juga pernah mengalami ribetnya birokrasi Idonesia terutama dalam pengurusan Kitas istri saya yang asli RRC tapi saya juga banyak dibantu orang. Jadi perlu dipikirkan apakah kembali ke RRC menjadi pilihan terbaik lagian masih baanyak tempat disini yang bisa menghargai perbedaan.

    • gua bangga jadi orang chinese says:

      buat wlliam, tidak semudah itu balik dan kembali ke negara china, sekarang negara ini sudah maju, kalau kita balik sekarang maka orang mainland tidak menganggap kita china asli tetapi sebagai orang china overseas, dan mereka sendiri akan mempertanyakan kemana saja kita dulu pada saat mereka sedang kesusahan (saat revolusi kebudayaan)

    • sch says:

      saya curiga juga sama pengusaha2 besar itu, kasian sama etnis tioghoa disini bagi segelintir elit itu etnis tionghoa disini cuman angka

  36. ZHANG says:

    yah inilah kenyataan hidup berbangsa, saya yakin semua negara di dunia ini pasti mengalami kejadian serupa, contoh yang paling dekat ke kita adalah Malaysia dan Singapura, kedua negara tetangga kita kondisinya hampir sama dengan kita yang berbeda adalah mereka di pimpin oleh orang orang terdidik, beda dengan kita , Indonesia pada Zama dulu hanya di pimpin oleh orang / manusia yang tidak berpendidikan , kalau pun berpendidikan pun arah nya yah dari Belanda jadi yah aroma nya pun aroma Penjajah, perlu di ingat Negara negara bekas jajahan belanda di dunia ini adalah negara negara terbelakang, indonesia sudah sangat beruntung kondisinya di bandingkan negara 2 bekas jajahan belanda yang lain nya, beda sekali dengan ex negara2 jajahan Inggris Raya , hampir rata2 berkembang jadi negara maju.

  37. Andi says:

    Artikel yang bagus. Permasalahan dan sejarah kelam yang cukup panjang, baik bagi (yang disebut) pribumi maupun keturunan Tionghoa. Susah juga mengurai benang kusut untuk mencari solusinya, meskipun itu bukan berarti mustahil, tapi sampai sekarang pun tampaknya Tembok Berlin sudah dibangun cukup kuat di hati dan benak kedua belah pihak, dan lebih kuat daripada Tembok Berlin yang aslinya di Jerman.

    Saya pernah mengamati baik dari pengalaman pribadi maupun dari pendapat orang lain sekitar saya.

    1. Kebencian terhadap orang cina/tionghoa, sebagian besar karena jurang pemisah ekonomi. Orang-orang pribumi yang dengan dendam memaki-maki (baik langsung maupun cuma sebatas obrolan dengan sesama) dan bahkan sampai tindakan penjarahan dan pembunuhan, intinya karena meyakini : ” Saya yang punya tanah , saya yang punya negara, suku saya memiliki tanah adat di Indonesia, kenapa saya miskin sedangkan para pendatang (orang tionghoa) itu kaya? ”
    Secara logis, tentu semua pasti akan memahami, siapapun yang bekerja keras pasti akan mendapat hasil, mau suku ABC, Tuhan ga pernah pilih-pilih rezeki diberikan berdasarkan suku, ras, dan agama. Tapi … secara urusan perut, hal yang logis pun dianggap tidak logis. Ditambah jurang pemisah yang cukup lebar, (apalagi jika ada gejolak kenaikan harga), pas sudah. “Kenapa saya miskin? Karena ada orang kaya yang merebut hak saya, Siapa? Tuh orang Cina.” . Pasti seperti ini.

    2. Orang-orang Cina ahli dalam diplomasi dan lobby. Saya sendiri berbisnis dengan mereka. Disatu sisi ini menguntungkan, saya jika diskusi cara melobby client kadang sering minta bantuan saran dari teman yang orang tionghoa. Tapi juga ada sisi buruk, jika lobby itu diarahkan ke pejabat pemerintahan. Banyak kasus kolusi (dan disebut korupsi) yang menyeret rekanan pengusaha cina. Sogok menyogok dikalangan pengusaha cina kelas atas kepada pejabat pemerintahan. Bagaimana cara si koruptor menghindar? Gampang, salahkan si cina yang menyogok dan mereka cuma “korban” . Dibumbui oleh rasa sentimentil masyarakat terhadap kasus korupsi, maka mudah dialihkan. Saya masih ingat jaman TVRI era Soeharto, setelah acara berita, ada penayangan koruptor-koruptor dan 100% semua orang Cina/tionghoa.

    3. Sekali waktu saya pernah tanya kepada teman-teman, kenapa orang cina tidak diakui sebagai orang indonesia? Rata-rata jawaban mereka, “Karena orang cina tidak punya tanah adat di Indonesia, mereka datang dari Negeri Seberang, mereka ke indonesia untuk menjajah (mungkin maksudnya peristiwa serangan Kerjaaan Mongol ke Singosari)”
    See.. paham maksud saya? Jika kebanyakan orang pribumi ditanya dari mana asal orang cina bisa ada di indonesia sejak dulu, sebagian besar mereka akan menjawab, orang cina datang sewaktu menyerbu singosari dan tersebar melarikan diri ke berbagai daerah di indonesia (khususnya ke kalimantan) sewaktu pasukannya dihancurkan tentara Majapahit.
    Berdagang??? No..no… yang datang berdagang itu orang Arab, bukan orang Cina.
    Begitulah pemikiran yang saya tangkap.

    4. Orang bugis mencari menantu orang bugis, orang jawa mencari menantu orang jawa, dan sebagian suku-suku di tanah air juga begitu. Tapi, orang cina dipermasalahkan karena hanya mencari pasangan sesama orang cina. Kenapa?

    5. Terakhir, saya memiliki teman orang cina atau keturunan tionghoa, bapaknya orang tionghoa, ibunya orang tionghoa, dan darah keturunan keatas juga demikian. Tapi dia tidak kaya, bergaul sejak kecil dengan anak-anak kampung, bermain, kelahi, dan bersenang-senang. Tidak ada sama sekali temannya yang mengatakan dia orang cina, dan dia sendiri sering mengkritik teman-temannya yang orang cina kaya yang tidak mau bergaul dengan teman-teman lainnya yang bukan orang cina. Kalo saya tanya kepada teman dia, “Itu si Anu orang cina ya?” , kebanyakan dijawab ” Cina apaan, dia itu orang jawa kejebak di casing cina”
    Lha kok bisa tidak ada sama sekali teman-temannya yang rasis, padahal saya tahu persis lingkungan tempat dia tinggal termasuk yang kental dengan “anti cina” .
    Yah silahkan disimpulkan sendiri.

    Apa yang saya utarakan diatas adalah fakta, jangan bilang saya rasis, karena demikian itu fakta dilapangan. Perbedaan pasti tetap ada, tapi solusi untuk membuat perbedaan itu tidak menjadi permusuhan, perlu dicari. Orang pribumi “benci” kepada Orang Cina bukan karena fisik, bukan mata sipit dan kulit putih (malah fisik orang cina serring dianggap bagus oleh orang pribumi, tuh banyak kosmetik pemutih kulit laku keras dipasaran dan tebak siapa pembelinya ), tapi lebih kepada sifat (bukan berarti semua begitu ya), sejarah, dan utamanya ini masalah ekonominya. Saya pikir jika orang cina (terutama yang kaya) mau sedikit peduli, yah misalnya bakti sosial atau bagaimana membantu UKM milik pribumi, dll yang intinya PDKT lah kepada pribumi, saya rasa antipati terhadap orang cina bisa dikurangi (setidaknya kepada yang bersangkutan)
    Saya kenal bos orang cina yang baik kepada karyawannya, dan efeknya, benar-benar dicintai oleh karyawannya. Karyawan dianggap keluarga, dan kalo ngomong masalah cina atau pribumi, beliau blak-blakan aja kepada karyawannya. Kata beliau, “Perbedaan itu harus diakui karena itu ada, tidak perlu disembunyikan atau disamarkan, tapi bukan berarti untuk memisahkan, kita ini seperti puzzle, setiap kepingannya berbeda, tapi coba buang satu kepingnya. Apa bisa jadi gambar yang lengkap?”

    • Andi says:

      Tambahan sedikit dari saya.
      Kasus perselisihan etnis dan pembantaian yang pernah saya tangani adalah di Sampit , Kalteng. Yang berselisih adalah suku Madura dan suku Dayak. Saya termasuk salah satu tim mediator.
      Awal ketemuan dengan suku Dayak, wah… 100% tidak mau menerima orang Madura, “Usir orang madura dari bumi kalimantan!” “Orang madura pencuri tanah” , “Orang madura maling” dll.
      Kenyataannya, orang madura memang menguasai perekonomian Sampit dan sekitarnya. Mereka gigih berusaha dan kaya raya. Akhirnya timbullah periode jurang ekonomi. Yang punya tanah merasa dirampok. Tidak bisa dipungkiri bahwa sebagian orang madura (terutama yang pendidikannya rendah) memang jumawa (sombong), berani menantang orang adat, timbul perselisihan, pembunuhan, penyerobotan tanah milik warga pribumi (dayak), dll, sampai pecah perang sampit. Entah berapa banyak korbannya…….

      Kembali ke perundingan, oke awalnya memang timbul penolakan yang besar untuk orang madura. Tapi lama-lama dilakukan dialog. Sederhana. Siapa yang jualan sayur? Siapa yang jualan ini itu? Siapa yang selama ini melayani kebutuhan di Sampit? Apakah ekonomi lebih baik dengan /tanpa orang madura? Apakah semua orang madura tidak baik, coba diingat siapa teman madura anda yang anda anggap baik? apakah anda pernah berhubungan usaha atau pertemanan dengan orang madura? dll. Intinya mereka disuruh mikir kembali, berapa orang madura yang brengsek, dan berapa orang madura yang baik. Kalo memang banyak yang brengsek dan tidak berguna bagi kehidupan mereka, yah udah, orang madura dilarang datang ke sampit. Kenyataannya? Sudah puluhan bahkan ratusan tahun mereka hidup bersama orang madura, sudah jadi kesatuan kehidupan selama bertahun-tahun. Kebencian sebesar apapun, kalo diingatkan kembali ke memori yang baik, tentu akan luruh. Orang manusia ini hidupnya simbiosis mutualisme, kita makhluk sosial. Membasmi musuh kadang dirasa adalah tujuan , tapi kalo dengan itu harus kehilangan semua teman, apakah jadi harga yang pantas?
      Akhirnya diputuskan, orang madura boleh kembali ke sampit, boleh beraktifitas seperti biasa termasuk berdagang dll, dijamin aman asal tidak ada lagi kericuhan, masing-masing menjaga diri. Yang dilarang kembali ke Sampit cuma Organisasi yang namanya IKAMRA . Bayangkan, kerusuhan yang demikian besar pun jika ditelaah kembali, diurai pelan-pelan, pasti mengerucut ke dalam suatu solusi.

      Mungkin bisa diambil hikmah. Terima kasih

    • terimakasih sudah bersedia berbagi pendapat di sini :)

  38. juragan saham says:

    tulisan yang luar biasa…..meski sebenarnya saya lagi cari info tentang pki….mau buat tulisan soalnya….kebetulan juga hobi nulis…..!

    terus terang saya gak habis bacanya….panjaaannnnggggg sekaleee….meski begitu saya berkesimpulan bahwa Anda benar-2 seorang yang tekun dan analitis…..2 hal yang sangat diperlukan dalam hal menulis….salut….!

    kembali ke pokok pembicaraan…..yahhh, mau dipikirkan sampai jutek juga rasanya benar-2 gak masuk akal….! kekejaman manusia kepada sesamanya selalu terjadi dimana saja…..entah itu beda etnis atau beda agama….bahkan yang sealiran juga tidak kurang yang saling menyakiti dan saling bunuh….!

    itulah kenapa dalam menulis saya lebih suka mengingatkan seseorang kepada dirinya sendiri….belajar menerima segala kekurangan dan kekeliruan yang pernah dilakukannya….belajar “tenang”…belajar “diam”….!

    ini memang bukan perkara mudah….tapi kenapa tidak dicoba dilakukan…?

    memang. biasanya, begitu kita bertekad menjadi “lebih baik” maka hal-hal buruk malah seakan-akan membanjiri….! pasukan penghalang menghadang di depan jalan. siap menjegal dan menjagal bila perlu….!

    tapi mau bagaimana lagi? inilah kehidupan….! jalannya memang begini….!

    jadi, meski untuk saat ini saya masih belajar menerima keadaan saya yang selalu dianggap “alien” di tempat dimana saya dilahirkan dan dibesarkan ini……saya berharap bahwa setiap kita mau melakukan perubahan dengan cara: belajar tidak komen sembarangan (apalagi mengumbar marah dan kebencian), mendukung hal-hal baik supaya semakin menyebar dan membawa kedamaian dan kebahagiaan (tanpa meributkan apa dan darimana kebaikan itu berasal).

    terakhir, saya ucapkan banyak terima kasih kepada bapak/mas kurnia yang telah mau berbagi info luar biasa ini gratisan….!

    salam

  39. Difi Damanik says:

    Saya tidak sengaja ketemu tulisan anda ketika sedang googling. Terus terang saya salut dengan isinya dan memperkaya wawasan saya mengenai isu ini. Saya juga dahulunya adalah seorang yang sangat anti Cina ooops sorry Tionghoa. Akan tetapi sejalan dengan perjalanan usia dan pengalaman hidup dimana saya banyak bergaul dengan orang-orang Tionghoa serta banyak membaca tulisan-tulisan seperti ini menyebabkan saya sadar bahwasanya yang lebih diuntungkan dari pertentangan ini adalah penguasa yang hanya mementingkan kekuasaannya bukan penguasa yang memang benar2 ingin mensejahterakan rakyatnya.

    Sebenarnya kedangkalan berpikir dan benih-benih kebencian yang tersisa terlihat dari komentar orang-orang di sini. Saya kurang tahu apakah mereka membaca tuntas tulisan anda yang bernas ini (soalnya emang puanjaang banget :)) atau memang hati mereka sudah penuh dengan kedengkian dan kebencian sehingga tulisan yang menurut saya netral dan bagus ini justru dipandang sebelah mata.

    Saya tahu bahwa penjalanan masih panjang terhadap bangsa ini tapi kita sudah memulai ke arah yang lebih baik dan itu harus dikawal. Memang masih banyak kekurangan di sana sini tapi saya yakin kalau orang-orang seperti anda ini masih ada dan bertambah banyak, negara ini pasti maju ke arah yang lebih baik.

    “Don’t curse the darkness but light a candle instead. If each and everyone of us can light a candle we can dissipate the darkness”

    Yuk kita bangun negara ini mulai dari diri kita sendiri dengan bersikap positif terhadap orang. Kalau kita bersikap positif maka insya Allah orang juga akan bersikap positif terhadap kita.

    wassalam,

  40. Are Bee says:

    Wah panjang bener penjelasannya om….
    saya masih belajar untuk saling menghormati dan menghargai aka indahnya perbedaan.
    numpang izin copas dan tag ya om…

  41. Vera says:

    bagus…baru di sini saya tau sejarah orang Tionghoa di Indo. Terimakasih ya :D

  42. arif says:

    Klian itu bodoh,menganggap orang cina itu perusak..
    Tolol begok lo orang banyak makan belacan ya jadi gini..
    Gak ada cina di indonesia gmna mau berkembang indonesia ini bodoh..
    Klo gk ada cina gua yg sengsara..
    Baju,celana,hp,komputer,semua barang yg lo pakai itu hasil kerja keras cina coy..
    Klo gk ada cina gmna brang” yg mahal bisa masuk indonesia..
    Orang” pribumi itu taunya buat anak aja..
    Hahahahahahahahaahaaah
    Gk mau berusaha coba lo liat tu cina tau buat anak tau juga berusaha..
    Gk kyak kita orang pribumi tau nya buat anak banyak2 trus tiba dtang susah nya yg disalahin cina,goblok lo pada..
    Klo Gk ada cina di indonesia ini..
    Gmna bisa ada juga perusahaan2 besar yg skrang terbangun megah di indonesia ini terutame jakarte…
    Orang pribumi tau nya itu KORUPSI,mau kaya sendri rakus dengan uang..
    Sama kyak elo2 pada..
    Wkwkwkwkwkwkw

    • Saya yakin kita semua saling membutuhkan, karena itu mari memulainya dengan tidak saling memaki satu sama lain :D

    • anda buta dan tuli…gak bisa liat variasi karakter manusia..gak semua org pribumi buruk, dan gak semua org cina buruk..manusia kotor yg cuma ada maunya memakai segala cara itu yg buruk dan sayangnya manusia seperti itu yg punya kuasa di DUNIA ini..

  43. Yonathan C. says:

    Halo Kak Kurnia,

    Terima kasih banyak sudah membuat artikel ini. Sebagai orang Indonesia ber-etnis Tionghoa, artikel ini sudah membuka mata saya untuk melihat akar-akar saya sebagai seorang Indonesia ber-etnis Tionghoa. Mari kita bersama membuat Indonesia menjadi sebuah negeri yang maju dan harmonis.

    Saya hanya ingin tahu, apa Kak Kurnia sudah membaca Tetralogi Buru yang ditulis oleh Pramoedya Ananta Toer? Di sekolah SMA saya, kita sedang membaca tetralogi roman tersebut dan seri tersebut memberi wawasan yang unik tentang sejarah masyarakat Indonesia. Kak Kurnia kan seorang penulis dan pencinta sejarah, jadi saya sangat sarankan seri tersebut karena seri tersebut menunjukan perspektif yang menarik tentang beberapa permasalahan masyarakat Indonesia kini yang sebenarnya sudah ada ratusan tahun lampau. ^-^

    Saya juga punya pertanyaan lain: mengetahui sentimen dan pemisahan parsial antara masyarakat Indonesia ber-etnis Tionghoa dan masyarakat Indonesia lainnya saat ini, apa menurut Kak Kurnia adalah solusi supaya semua orang Indonesia, maupun yang beretnis Tionghoa, dapat maju bersama dalam membangun bangsa ini?

    Terima kasih Kak, saya sangat menghargai penulisan Kak Kurnia

    Hormat saya,
    Yonathan C.

    • Halo Yonathan,

      Saya penasaran sekali di mana kamu bersekolah. Ya, kebetulan saya sudah membaca Tetralogi Buru. Menurut saya menjadikannya sebagai bacaan di sekolah adalah hal yang luar biasa untuk dilakukan.Tidak heran kalau tulisanmu sangat rapi dan terstruktur. Sampaikan rasa salut saya untuk gurumu :)

      Menurut saya, mengetahui dan memahami pemisahan ini adalah langkah awal agar kita semua dapat maju bersama. Masih banyak hal yang perlu dilakukan untuk meruntuhkan sekat-sekat ini. Tidak cukup dengan satu dua generasi.Tapi kita bisa memulainya dari diri kita sendiri.

      • Nita T says:

        Hallo Ka Kurnia,

        Artikelnya luar biasa sekali. Sebagai etnis Tiong Hoa Indonesia kristen, artikel ka” benar-benar membuka wawasan kenapa adanya ketegangan antara etnis Tiong Hoa yang saya pertanyakan selama ini. sringkali saya mendengar keluarga berkata “Jangan kamu main dengan Ing ni jen! orang-orang bego semua. nanti kamu juga jadi bego.” lalu saya bertanya pada diri sendiri, “kalau mereka memang bego. kenapa saya lebih banyak belajar dari pembantu saya dari pada orang tua sendiri?” Bahkan mereka menganut agama kristen karena ‘kong hu cu kan ngga boleh, ya dari pada ikut islam kaya org ing ni jen, kristen aja lah.’ sungguh hal yang ironis.

        Generasi muda Tiong Hoa sekarang, menurut apa yang saya lihat, adalah generasi yang mempertanyakan ketegangan antara entis ini, yang menurut saya adalah sebuah titik terang yang mungkin dapat menyelesaikan konflik ini.

        Tetapi motivasi semata tidak lah cukup. Kami (saya tahu blog ka” ini dari Yonathan hahaha) etnis Tiong Hoa muda ini bagailah Minke, seorang jawa tetapi tidak mengenal bangsa sendiri. Toh sebagai orang TIong Hoa kita di ‘proteksi’ oleh orang tua dari komunitas pribumi. Karena ini artikel ka” sangat membuka wawasan.

        Termakasih, sungguh luar biasa ka!

        @Yonathan: Muka marketing lu! hahaha

      • Terimakasih Nita sudah bersedia membaca.

        Ya benar, segala kebencian ini tidak dapat ditumpahkan hanya pada pelaku kekerasan saja. Korban, dalam hal ini etnis Tiong Hoa pun perlu instropeksi. Karena pada kenyataannya kebencian dan prasangka yang ada adalah dua arah. Tugas orang-orang yang sadar seperti Anda lah untuk membongkar segala permusuhan itu.

        Selamat berjuang :)

  44. ranadhanduri says:

    bgus artikel nya aku orang jawa tulen dan trut bersedih atas perlakuan yang kurang adil trhadap kaum tipng hoa yang memiliki hak yang sma dngan bngsa indonesia yang lain

  45. Farid says:

    Cinta memang tiada habis ceritanya.

  46. apa says:

    CINA ITU EKLUSIF RACIST TIDAK MAU BERGAUL KALO BUKAN SESAMA CINA. BEGITULAH YANG DI AJARKAN KE ANAK2 NYA DARI ORANG TUA CINA CINA. BUKAN CUMA DI SINI. DI KANADA JUGA ORANG KANADA SUDAH MUAK SAMA ORANG CINA. GILIRAN KEWAJIBAN OGAH GILIRAN HAK DIA MAU, SEPERTI JADI MENTRI YANG GAJINYA 50 JUTA SEBUALN. APAAN ITU CINA.

    • Halo mas Apa,

      Maaf ada empat buah komentar lain dari Anda yang saya hapus. Saya enggan kalau tempat saya ini penuh dengan kata-kata makian. Tapi saya sisakan satu komentar Anda di sini. Agar semua pembaca melihat kenyataan kalau masih ada kebencian begitu besar di antara kita seperti yang Anda perlihatkan. Semoga bisa jadi bahan instropeksi bagi kita semua.

      Semoga damai selalu besertamu :)

    • gua bangga jadi orang chinese says:

      saya heran kenapa orang pribumi yang begitu banyak sangat perhatian dengan segelintir chinese yang tinggal di indonesia? jangan gunakan tameng racist, ga level itu, orang batak bergaul dengan sesama batak dengan bahasa batak boleh boleh saja, orang padang sesama padang, orang sunda dengan sesama orang sunda juga boleh, kenapa orang cina bergaul dengan sesama cina dan berbahasa daerah tidak boleh? standard ganda? atau ini bentuk dari ketidak mampuan bersaing, sehingga menggunakan alasan yang dibuat buat.

    • gua bangga jadi orang chinese says:

      satu lagi buat apa, anda menyebut orang kanada muak dengan orang cina? siapakah orang kanada yang anda maksud, orang kulit putihkah? (rusia jerman inggris belanda prancis), arab atau afrika? atas dasar apa anda menyebut mereka sebagai orang kanada? atau yang anda maksud orang indian? (yang jumlahnya tinggal segelintir akibat kalah bersaing dengan orang kulit putih yang datang lebih awal)

  47. Mas Yayank says:

    Memang jika mengkaji sejarah yang ternyata sangat bermanfaat bagi kelangsungan hidup bernegara, berbagai kasus rasisme ternyata sangat menarik untuk dikaji tetapi kehawatiran mengkaji sejarah yang berhubungan dengan rasisme akan menimbulkan fanatisme akan tetapi hikmah yang diambil jika kita bersikap bijak sebagai warganegara yang baik tentunya akan kembali kepada Pancasila sebagai dasar negara, maka dari sebaiknya teruskan kajian yang kita anggap perlu tetapi jangan sampai meninggalkan pedoman hidup berbangsa dan bernegara agar tidak lagi menimbulkan perselisihan pendapat yang bis berakibat fatal pada pembantaian demi mempertahankan pendapatnya, semoga kajian ini bisa diambil hikmahnya demi kemajuan Indonesia yang berazaskan Pancasila

  48. Fuad Nurhadi says:

    Bagus sekali ini tulisan, berdasarkan sejarahnya. Ada nggak di buku2 yang anda telaah itu dibahas mengenai mengapa Orang Cina bisa dengan mudah membaur di Thailand, Filipina, Vietnam, Burma, sedangkan di Indonesia dan Malaysia kok tidak bisa? Apakah iya hanya karena faktor2 yang anda sebutkan: politik memecah belah dari penguasa kolonialis, kebijaksanaan yang diskriminatif dari penguasa Order Lama / Orde Baru? Kalau dilihat sejujurnya, penghalang yang utama itu bukankah agama? Oleh karena suatu alasan, Orang Cina tidak mudah untuk menjadi Muslim, sedangkan di Filipina, Thailand, Vietnam, mereka dengan mudah mengadopsi agama setempat (Katolik atau Buddha). Setelah itu dengan mudah mereka kawin campur dengan penduduk lokal sehingga batasan-batasan itu hilang. Sedangkan di Indonesia, walaupun sudah kawin campur (peranakan) tetapi kalau agamanya bukan Islam, ya tetap Cina.

    • Sayang sekali buku-buku yang saya baca masih terbatas pada sejarah nusantara. Tapi akan saya coba uraikan sedikit yang saya tahu mengenai masalah menarik ini.

      Arus imigrasi penduduk dari daratan Tiongkok ke nusantara datang secara bergelombang-gelombang. Pendatang-pendatang generasi awal ini kebanyakan lelaki. Maklum, umumnya mereka datang untuk berdagang atau melakukan pekerjaan berat lainnya. Kebanyakan yang tinggal lama lalu menikah dengan penduduk lokal. Sempat ada catatan perjalanan seorang Tiong Hoa yang menyayangkan bahwa orang-orang Tiong Hoa yang menetap di nusantara meninggalkan kebudayaan nenek moyangnya. Dari sini kita bisa menyimpulkan bahwa masa itu inkulturasi terjadi dengan baik. Inkulturasi alami ini terhenti saat pemerintah kolonial menerapkan wijk stelsel. Orang-orang dari ras Tiong Hoa dikumpulkan menjadi satu tempat dan kalau akan keluar harus memiliki surat jalan yang tidak murah.

      Orang-orang Tiong Hoa yang datang ke nusantara pada awalnya sudah banyak yang muslim. Bahkan ada teori yang menyatakan kalau Islam datang ke nusantara melalui Tiong Kok. Kini contoh yang paling terkenal adalah Laksamana Ceng Hoyang mendirikan masjid di Semarang. Namun pada masa orde baru teori ini memang dibungkam. Saat prasangka-prasangka mulai muncul dan sekat-sekat sosial terbentuk, pembauran jadi semakin sulit. Bahkan pada masa Perang Jawa tahun 1825-1830, Pangeran Diponegoro mengeluarkan larangan untuk mengawini perempuan Tiong Hoa karena dianggap sial. Aturan ini dikeluarkan “hanya” gara-gara Pangeran DIponegoro kalah perang setelah sebelumnya menggauli perempuan Tiong Hoa.

      Sekarang, kebanyakan keturunan Tiong Hoa beragama Kristiani atau Budha. Hanya sedikit yang beragama Islam. Ini dipicu pada masa pasca G 30 S dan penetapan presiden mengenai hanya diakuinya lima agama resmi di Indonesia. Orang-orang keturunan Tiong Hoa yang awalnya menganut agama leluhur tiba-tiba dipaksa memilih agama yang ada. Beberapa memilih Budha karena yang paling dekat dengan kepercayaan asal. Beberapa ogah memilih Budha karena agama itu masih memiliki citra kebudayaan Tiong Hoa yang kental sehingga rawan mengalami diskriminasi. Nah, kebanyakan dari mereka ini lalu memilih Kristen dan Katolik karena dianggap agama yang paling “mudah”. Kedua agama ini membuka diri pada yang istilahnya “agama KTP”. Walau kemudian secara berangsur-angsur sebagian kelompok dari agama itu juga melakukan kristenisasi dalam artian sesungguhnya.

      • Fuad Nurhadi says:

        Terima kasih atas jawabnya. Lha itulah pertanyaan saya, mengapa agama2 lain bisa membuka pintu untuk menampung orang Cina yang harus memeluk agama resmi, sedangkan Islam tidak. Padahal seperti Kristen, agama Islam juga aktif dalam masalah dakwah. Mengapa ada yang anda sebut (di-paraphrase nih) “ketidakmudahan” yang inherent dalam Islam dibandingkan agama Kristen? Saya kira ini salah satu faktor penting.

    • gua bangga jadi orang chinese says:

      walaupun sudah kawin campur (peranakan) tetapi kalau agamanya bukan Islam, ya tetap Cina.<- koreksi ya, di negara china, ada orang china etnis hui, mereka ini seratus persen orang han asli hanya menggunakan jilbab, sholat dan tidak makan babi. jadi ya tetap saja disebut orang china (masih satu ras).

  49. boy arianto says:

    artikel yg bagus dan lengkap. Sesuai dg apa yg selama ini saya pertanyakan.
    Andai kita bisa bersatu, tapi kita telanjur di bumbui sejak turun temurun.

  50. Luis says:

    Saya ingin menambah sedikit perspektif berbeda dalam diskusi ini.
    Kebencian atau diskriminasi terhadap bangsa Cina bukan hanya terjadi di Indonesia, tapi di berbagai negara di seluruh Asia tenggara dan bahkan negara2 barat.

    Kalau anda mengetik Anti chinese riot di google, maka akan keluar berbagai artikel mengenai kerusuhan anti cina di Indonesia, amerika dan australia.

    Tapi ada satu fenomena yang sangat menarik dari sentimen anti cina di Asia tenggara.
    Masuknya gelombang budaya Korea serta gambar2 cantik/ganteng artis2 korea mengubah perspektif orang Asia Tenggara pada umumnya dan orang melayu pada khususnya bahwa orang asia timur yg bermata sipit adalah jelek2. Meskipun banyak yang menyangkal bahwa orang korea bisa cantik karena operasi pelastik, namun tidak dapat dipungkiri banyak artis2 korea yang secara alami memang cantik berbeda dengan orang cina.

    Wajah2 cantik dan ganteng artis2 korea ini mengubah pandangan banyak orang asia tenggara dan bahkan (dalam pandangan saya) mengurangi sentimen anti cina diantara orang2 asia tenggara atau melayu.

    Yang menarik dari fenomena ini adalah melihat hasil penelitian genetik orang asia timur (cina, jepang dan korea).
    Kutipan dalam bahasa Inggris dari wikipedia mengenai genetik orang2 korea:

    http://en.wikipedia.org/wiki/Koreans

    “A recent paper published in 2009 shows Koreans have no Austronesian DNA, whereas the Japanese and Chinese have some Austronesian DNA in their genome. Among the East Asians, Koreans share the least DNA with the Austronesians, while the Han Chinese have the most DNA in common with Austronesians, indicating some interaction between Austronesians and Han Chinese. The Japanese are shown to have slightly more DNA in common with Austronesians than the Koreans. ”

    Ternyata diantara orang2 asia timur (cina, jepang dan korea) orang cina paling banyak campuran darah atau gen melayunya, penelitian genetik orang cina di cina, taiwan dan hongkong menunjukkan bahwa campuran melayu orang2 cina bisa mencapai 40%, gen atau campuran darah melayu orang cina yang hidup di asia tenggara tentunya bisa jauh lebih banyak lagi
    Sebaliknya orang korea, secara genetik tidak mempunyai darah campuran atau gen melayu.

    yang menjadi pertanyaan adalah mengapa orang2 melayu banyak yg mengagumi fisik atau kecantikan orang korea tapi sebaliknya membenci fisik orang2 cina?

    • terimakasih sudah urun pemikiran di sini

      tapi saya sulit menerima anggapan bahwa orang-orang melayu sulit menerima fisik orang tiong hoa. pada masa lalu, sering ada penculikan perempuan2 berkulit kuning di daerah2 pesisir jawa oleh orang-orang kerajaan. begitupun sekarang (mulai sebelum demam korea), masih banyak saya jumpai orang melayu yang bilang sipit itu cantik, kulit yang bagus yang kuning langsat. apalagi begitu dimulai dengan demam film taiwan (sepertinya sebelum demam jejepangan dan korea). bukankah orang taiwan dan cina daratan tidak berbeda?

    • gua bangga jadi orang chinese says:

      kalau anda mengetik Anti chinese riot di google, maka akan keluar berbagai artikel mengenai kerusuhan anti cina di Indonesia, amerika dan australia.
      – anda harus hati hati dalam menerima informasi, google itu milik negara barat dan berbahasa inggris, apakah anda tahu bahwa isu anti barat juga terjadi di negara china? apakah anda mencarinya dalam bahasa inggris? karena nyaris tidak ada penduduk china daratan yang menggunakan google dan menggunakan bahasa inggris.
      ada banyak negara barat yang dengan senang hati menulis berita yang menjelekan negara china, alasanya simple, politik! (dulu china pernah disayang sayang amerika saat china sedang ribut dengan uni sovyet, kemudian berbalik digebuk amerika ketika usaha meliberalisasikan china gagal (peristiwa tianamen))

      namun tidak dapat dipungkiri banyak artis2 korea yang secara alami memang cantik berbeda dengan orang cina.
      – ha ha ha, anda bilang banyak artis korea berwajah cantik alami? mas, negara korea itu negara paling murni rasnya didunia. dan mayoritas bermata sipit tidak berkelopak dan berdagu kotak. kalau orang china anda mungkin tidak tahu bahwa orang china utara banyak yang berhidung mancung dan bermata besar karena hasil asimilasi dengan orang persia rusia turki kazakh tajik korean manchu dll.

      orang cina paling banyak campuran darah atau gen melayunya,
      – ya jelas karena china selatan berbatasan dengan nenek moyang orang melayu toh.

    • gua bangga jadi orang chinese says:

      tambahan lagi buat si mas luis, banyak artis boyband dan girlband yang berasal dari china, kalau situ suka kPoP pasti tau dong personal suju dan miss A yang orang chinese.

      • Rio says:

        intinya klo cina yg dekat negara barat ya berhidung mancung, klo yg dekat melayu ya agak campur melayu , klo gak dekat mana2 alias cina tengah ya rada murni, korea salah satunya

  51. Fujihira says:

    Buat sdr Lie klo mau pulang RRT pulang aja sana,biar tau aja Orang RRT memangil kita keturunan Thionghua itu dgn sebutan Indonesia,jgn berharap bnyk pd Tanah nenek leluhur RRTmu, karna kenyataan memang begini sdr Lie

  52. Rusly Moch says:

    Tulisan yang menjengkelkan, etnis Tionghoa yang anda sebut “eksklusif” itu memang sekarang masih ada dan kalau boleh jujur saya setengah mati bencinya sama mereka. Bukan karena saya Muslim dan mereka “kafir” (karena puji Tuhan saya nggak fanatik) tapi lebih karena kesadaran naluriah saya sebagai pribumi; eh elu pendatang kok nggak mau gaul sama tetangga? eh.nggak semua pribumi bodoh dan barbar kan?

    di forum-forum dunia maya saya juga mudah tersinggung dan sentimentil kalau ada hubungannya sama etnis satu ini, tapi jujur kebencian saya bukan karena kedengkian, apalagi itu dihubungkan dengan bahwa semua etnis Tionghoa itu “brengsek dan serakah”. Apalagi saya punya rekan kerja yang kebetulan Cina Benteng (istilahnya bener nggak?) tapi dia nggak item, putih dan mukanya chinese bener, orangnnya sopan kalau mau apa-apa selalu bilang “sorry bro sorry bro” malah kadang saya yang brengsek suka nitip kerjaan ke dia hahaha….

    Apa karena dia kebetulan “sederajat”?
    Nggak juga, karena saya juga punya kenalan mantan Bos Tionghoa yang baik, waktu kerja sama dia saya sering disuruh solat hahaha… (dalem ati; Cina bego) meski Kong Hu Chu tapi kalau ada acara atau syukuran di Perusahaan dia selalu panggil Ustadz buat ceramah dan do’a, basa basi? Nggak juga, karena dia serius bener tiap kali bilang Amien hahaha…. (Cina bego part II)

    Meski begitu rasa sentimentil saya nggak ilang sepenuhnya, saya masih enek kalau denger klakson tan.. tin.. mobil tetangga Tionghoa saya yang rumahnya gede dan nggak pernah keluar rumah (meskipun nggak pernah ganggu juga, tapi saya tetep benci). Ada yang bilang saya rasis, munafik, tapi entahlah yang jelas rasa semacam itu hanya muncul sesaat dan tak pernah terlintas sedikitpun dipikiran saya untuk mencelakai, mengambil hak apalagi merenggut kebahagiaan yang mereka miliki (jujur meskipun saya agak brengsek tapi nasihat baik Ibu saya selalu mengganjal).

    Saya menaruh banyak jempol buat tulisan dan komentar diatas yang ditulis dan dibaca dengan hati yang lapang, anda belajar kamipun belajar; mengenal, menahan, meminta-memaafkan dan memahami. Apapun diatas itu semua ada Cinta yang merangkul tanpa batas (jujur meskipun secara pribadi skeptik, tapi nasehat Ibu saya selalu terngiang).

    Salam buat samua kawan disini, saya pribumi tapi saya nggak menganggap Mas Kurnia ini sebagai “Cina” karena dia menulis Bahasa Indonesia dengan fasih dan lugas. Menjelang Imlek, jadi Gong Xi Fat Cai…

    *sorry nih bukan analisa tapi curhat membosankan hahaha…

    • Ah, jauh dari membosankan kok :)

      Saya memahami kebencian Anda terhadap keturunan Tiong Hoa. Keekslusifan mereka tidak bisa dibantah. Tulisan saya tidak saja diperuntukkan pada pribumi, tetapi juga pada mereka.

      Mungkin saya lancang, tapi yang saya harapkan dari Anda cukuplah memahami bahwa tidak semua keturunan Tiong Hoa semenjengkelkan itu. Seperti yang sudah Anda contohkan. Rekan kerja dan bos Anda, yang saya lebih suka menyebutnya baik hati dari pada bego :). Juga saya, yang berusaha menggunakan Bahasa Indonesia dengan baik dan benar :p

      Saya salut terhadap Ibu Anda. Kita berharap agar ada selalu ada Cinta yang merangkul tanpa batas. Cinta untuk Anda, saya, dan semua orang di dunia tanpa memandang warna kulit dan lebar mata.

    • gua bangga jadi orang chinese says:

      tambahan saja buat rusly, biar anda agak ngerti sifat orang chinese. saya sendiri sebegai chinese kadang kesel juga loh sama sesama chinese yang rada katrok dan belagu, jangan anda anggap semua orang chinese itu akur.
      jadi pada dasarnya karakter orang china itu bermacam macam, ada yang ramah ada yang ketus ada yang galak, ada yang cuek.
      ini sedikit banyak pengaruh dari asal usul nenek moyang dulu dari wilayah mana, kalau nenek moyangnya dulu orang gunung biasanya galak dan adatnya keras dan tertutup (maklum secara turun temurun hidupnya selalu terancam dari suku suku lainnya) contohnya ya tau sendirilah siapa orang paling galak di jakarta he he he.
      mereka ini didatangkan oleh belanda karena jago dalam urusan pertambangan.
      sebaliknya orang pesisir karena nenek moyangnya suka berdagang, secara turun temurun punya sifat lebih ramah dan terbuka. lah iya masak mau berdagang punya sifat galak galak, tar siapa yang mau beli?

    • Rio says:

      aku cina dan rumahku disita orang cina, kau masih untung rumahmu gak disita, kau sekedar cuma iri karena ada si kaya, aku jujur dalam bekerja tapi bosku memihak teman kerjaku yg pribumi dan maling padahal dia juga cina, aku tidak bisa bekerja lagi karena kerugian ditanggung dua, lah aku rugi kan aku gak nyolong, sementara temanku mengakui kalau dia nyolong, lalu kau yg pribumi ini bagaimana menyikapi aku yg cina tertindas ini?

  53. Edbert says:

    Woi Kurnia Aku etnis tionghua kamu nag pain ejek ejek suku saya anjing kau

    • Menyebut saya anjing adalah kebanggaan untuk saya. Apakah Anda sebagai entis Tiong Hoa tahu bahwa panggilan Siaw Ko, anjing kecil, digunakan untuk menyebut anak yang baik.

      Sepertinya kita perlu bersabar lebih banyak. Melihat situasi tanpa terburu rasa marah. Saya berharap Anda sudi membaca tulisan saya sampai dengan selesai :)

  54. Edbert says:

    Aku setuju dengan Si arif kalau gak Ada etnis cina Indonesia mana bisa berkembang yang pribumi tau Hanya minta uang Dan Jadi abang becak Kalian Selalu bilang keyakinan cina itu berhala seperti puja patung Dari pada Kalian orang Islam puja dinding sekalian puja pantat kita etnis cina lebih hebat daripada orang pribumi indonesia di medan di perumahan ku di sampingnya Ada perkumuhan liar orang Indonesia miskin !! Entah orang macam apa Kalian

  55. Edbert says:

    Kalian mau tau kenapa Aku benci pribumi pertama waktu Aku ulang tahun KE 12 pada waktu November 2013 baru Saja Aku makan Kue ku Dan keluar Aku langsung hamper dilempari batu Untung sebelum kena Aku menghindar Dan melempari meerkat batu bata Dan nenekku cerita banyak Saudara Kakekku pamanku dibunuh Dan dirampok waktu 1998

    • Dipukul, diteriaki, dilempar, dibunuh, diperkosa, dijarah, adalah sejarah yang tidak lepas dari hubungan antara keturunan Tiong Hoa dan pribumi di Indonesia. Saya merasa prihatin akan apa yang terjadi pada dirimu dan keluargamu. Jadi bagaimana kalau kita berusaha menghentikan penderitaan ini dengan menghapus kebencian, menggantikannya dengan pemahaman dan kasih agar tidak jatuh korban lagi :)

    • gua bangga jadi orang chinese says:

      turut berduka untuk keluarga kamu yang meninggal, saya mengerti kamu emosi, hanya saja masih ada kok pribumi yang baik, contohnya pada saat kerusuhan 1998, saya dan teman saya sedang mengendarai motor pulang kantor dari jakarta utara menembus blokade ke jakarta timur, teman saya yang orang batak itu bilang, biar aku saja yang bawa, kaw bonceng saja di belakang saja biar aman. dan mulai lah perjalanan pulang tak terlupakan seumur hidup, jakarta terlihat seperti sedang dilanda perang. sempat juga liat tiga orang polisi berlumuran darah di gebuki masa.

  56. _medan_ says:

    gw asli suku tiong hua dan kakek gw asli dari tiongkok
    tapi sekarang kami smua uda jadi rakyat indo dan bila di buang ke negri cina kami di sana juga bingung mw ngapain karna pertama bahasa mreka aja gk ngerti gimana buat komunikasi
    tapi gw harap rakyat pribumi juga harus maklum kalau suku tiong hua banyakan menutup diri tapi itu bukan berarti kami sombong or sok kaya..
    karna gk semua suku tiong hua kaya masi banyak gw liat suku tiong hua di kampung”
    contohnya kalau kalian ada ke medan se x” jalan ke blahrang
    di sana banyak peternak dan petani yg bermata cipit..
    balik ke intinya jgnlah bagi para pribumi berburuk sangkah tentang kami karna kami tiong hua mungkin ada yg merasa trauma dan masi butuh waktu buat berbaur seperti kalian para pribumi yang masi butuh waktu untuk berhenti mengatain kami or panggil kami CINA karna kami bukan org cinta tapi kami org indo dan suku tiong hua…jadi tidak ada hubungan ke kata “CINA” sama se x jadi saling mengerti dan pahami aja dan bila ada masalah jgnlah buat kami suku tiong hua yang jadi alat pelampiasan terus karna kita sesama manusia dan dalam semua agama di larang untuk membunuh manusia
    dan tambahan pada masa penjajahan para suku tionghua juga ikut memrebut kemerdekaan dalam bentuk raga maupun materi
    dalam raga brrt ikut berperang dan dalam materi memberi suport senjata yang di beli dari luar untuk di berikan ke rakyat indo tapi sayang pemerintan gk pernah menuliskan itu dalam sejarah dan perjuangan suku tionghua pun gk di anggap….
    THX BRO BUAT BLOG NI salam damai and HORAS!!!

  57. Alicia says:

    Lagi browsing tentang akulturasi cina di indonesia..malah ketemu artikel2 yang memuat hujatan trhdp etnis cina..

    Lagi emosi eh terus ketemu artikel ini..
    Salut banget sama Kak Kurnia, udah melakukan studi pustaka buat bikin beginian

    Tulisan bagus yang akhirnya bisa memberikan penjelasan kepada saya yg selama ini bertanya” kenapa etnis Tionghoa sangat dibenci..
    Ternyata politik adu domba Belanda emang sebegitu hebatnya hahaha
    Sayang tulisan kayak gini nih cuma di blog..harusnya bisa dipublikasikan supaya bisa menyadarkan baik org indonesia dan etnis tionghoa

    Kita harus sadar kalo kita bergabung dan gak bertikai terus, bahkan amerika bisa kalah =))

    Trims artikelnya dan minta ijin buat publikasi ya tentunya dengan tetap mencantumkan nama penulis :D

    • Terima kasih sudah membaca :)
      Silakan untuk mempublikasikannya. Toh tulisan ini saya buat agar bisa dibaca oleh sebanyak mungkin orang. Kalau dipublikasikan secara online, bilamana sempat tolong berikan tautannya di sini ya. Biar saya tahu tulisan ini ke mana saja (dan mungkin bagaimana tanggapannya). Trims

  58. raditsu says:

    kita harus mengakui ada chinese yang baik dan chinese yang perusak , ada pribumi yang baik dan pribumi yang perusak, semua tidak bisa disamaratakan!, kita hidup di bumi dan dinaungi langit yang sama.
    kalau kita tidak puas hidup di dunia kita tanyakan langsung ke Tuhan, bukankah kita bangsa yang religius.
    Tindakan penjarahan itu semuanya bertentangan dengan PANCASILA, itu yang saya tahu dari sekolah saya. segala sesuatu yang bertentangan dengan PANCASILA berarti menghianati negara kita tercinta Republik Indonesia bukan Republik Rakyat Cina, betul nggak?
    Akhirnya salam damai

  59. Triatmo Joyo says:

    Tulisan anda bias sekali dengan banyak fakta yang tampak dimunculkan dari opini orang2 yang dibuat jadi sebuah artikel. Darimana sumber anda menyatakan kalau cina adalah sekutu belanda waktu penjajahan? Darimana sumber anda bilang cina menguasai ekonomi dengan bantuan suharto? Darimana sumber anda bilang kalau cina eksklusif DARI SANANYA SEBELUM PEMERKOSAAN DAN TINDAK ANARKIS TAHUN 98?

    Cina menguasai ekonomi karena prinsip ekonominya kuat: gemar menabung. Pendapatan masuk, sebagian kecil digunakan, sebagian ditabung, dan SEBAGIAN DIJADIKAN INVESTASI UNTUK MEMBESARKAN BISNISNYA

    Pribumi?
    Dapat 10juta rupiah, wow, REJEKI DARI ALLAH! Habiskanlah karena itu adalah hakmu, besok PASTI ADA LAGI. Ya, mana bisa kaya kalo begitu?

    Kalau soal sekutu belanda, darimana sumbernya? Kenyataannya cina gak ada kaitan militer ataupun mendanai kemiliteran belanda waktu penjajahan, so?

    Eksklusivitas, pribumi membakar, menjarah, dan memperkosa chinese, karena keirian dan kedengkian mereka, yang DIPROVOKASI OLEH PEJABAT BUSUK YANG SAAT INI MEN CAPRES. Sebelum itu? Silakan anda cek seberapa eksklusif cina pada pribumi. Berkacalah kalau anda masih punya kaca dan mata.

    Dan, kalau umur anda masih baru lulus kuliah, cari pengalaman dulu, jangan cuma modal semangat dengki, laptop dan modem lantas berlagak membongkar kebenaran. Anda tampak dungu di mata kami

    • Halo Triatmo Joyo,

      Semua sumber yang saya pakai di tulisan ini saya tuliskan di daftar pustaka. Daftar pustaka itu ada dibagian bawah dari tulisan saya. Anda akan menemukannya kalau membaca secara utuh dari awal sampai akhir. Dari komentar Anda, saya berpraduga Anda hanya membaca paragraf-paragraf awal saja. Terima kasih sudah bersedia membaca tulisan saya ini, tapi saya akan lebih berterima kasih apabila Anda mau meluangkan waktu dan energi untuk membaca secara keseluruhan.

      Sekali lagi saya ucapkan terima kasih kepada Anda. Sungguh saya memang harus mencari pengalaman lebih banyak :)

      Salam damai

    • topan says:

      Sedikit pencerahan aja bung Joyo, saya asli pribumi ..
      Agama kita berbeda, kita diajarkan tidak hanya mengejar hidup didunia, tapi juga diakhirat,
      Saya tidak tertarik beradu argumen tentang persoalan etnis tiong hoa di indonesia karena istri saya juga warga keturunan,
      Kalau bisa sekali2 anda mampir ke palembang, mungkin anda bisa belajar banyak di sana, terutama pergaulan dan perkumpulan tanpa memandang etnis.
      Di pulau kemaro dan di wilayah lain palembang pergaulan tidak memandang etnis,
      Menurut saya anda terlalu terobsesi dengan kekayaan dan uang, sehingga membuat mental anda sempit.
      Jangan lah membawa agama dan Tuhan hanya untuk menunjukkan anda benar,

  60. Arifin says:

    99% KOMEN DIATAS MEMBELA CINA WALAUPUN TULISAN DIATAS 95% BERTENTANGAN DENGAN FAKTA YANG SEBENARNYA, ADA YANG MENGAKU CINA, ADA YANG MENGAKU JAWA, ADA YANG MENGAKU MADURA ATAU KALMANTAN..LUCU JADINYA.. TAPI YAH BEGITULAH CARA2 CINA MENIPU PRIBUMI, MEREKA BERHARAP PRIBUMI YANG MEMBACA ARTIKEL INI AKAN BERSIMPATI KEPADA MEREKA DAN MELUPAKAN CATATAN2 HITAM MEREKA DIMASA LALU YANG SAMPAI SEKARANG SEBENARNYA MASIH TERUS TERJADI.

    CUMA SAYANGNYA MEREKA MENGANGGAP KEBANYAKAN PRIBUMI BODOH DAN MUDAH DITIPU DENGAN SEBUAH ARTIKEL SEPERTI DIATAS, BUKTINYA MEREKA JUGA BERPIKIR BAHWA SEMUA PRIBUMI MUDAH DITIPU DENGAN PENCITRAAN JOKOWI, MEREKA PIKIR SEJARAH YANG SEBENARNYA ITU AKAN MUDAH DIHILANGKAN BEGITU SAJA.

    MEREKA PIKIR ANAK2 MUDA SEKARANG TIDAK TAU PERISTIWA YANG TERJADI PULUHAN TAHUN ATAU BAHKAN RATUSAN TAHUN LALU, MEREKA PIKIR TIDAK BANYAK YANG MEMBACA CATATAN SEJARAH..MEREKA PIKIR RAKYAT INDONESIA TIDAK TAU KALAU CINA DULU SECARA SEMBUNYI2 MEMBANTU BELANDA DENGAN BERBAGAI CARA AGAR MEREKA BISA SELAMAT DARI KEKEJAMAN BELANDA DAN BISA HIDUP LEBIH BAIK DENGAN BERFIHAK KEPADA BELANDA. BELANDA MEMBANTAI CINA ADA SEBAB2 LAIN, BUKAN KARENA CINA MEMBELA TANAH AIR INI, ETNIS CINA TIDAK PERNAH MAU BERKORBAN DEMI TANAH AIR INI, SILAHKAN BACA SEJARAHNYA KENAPA BELANDA MEMBANTAI CINA?.

    MEREKA PIKIR PEMUDA INDONESIA TIDAK TAU KALO CINA TELAH MEMBELA PKI UNTUK MEMERANGI NEGARA INI, BAHKAN RRC TELAH MEMBERIKAN 100 000 PUCUK SENJATA API UNTUK PKI MELAWAN TNI, MEREKA PIKIR RAKYAT INDONESIA TIDAK TAU SIAPA PEMILIK PABRIK2 NARKOBA, SIAPA BANDAR2 JUDI BESAR YANG TELAH MENIPU DAN MEMISKINKAN BANGSA INI, SIAPA PEMBUAT DAN PENJUAL BARANG2 PALSU, SIAPA BOSS2 TEMPAT MESUM, SIAPA BOSS PENJUAL ANAK2 KECIL PRIBUMI DIJADIKAN BUDAK SEX DAN MEREKA MENGAMBIL KEUNTUNGAN DARI ANAK2 PRIBUMI YANG MEMANG DALAM KESULITAN EKONOMI, SIAPA PENGEDAR VIDEO2 PORNO, SIAPA YANG MENGAJARI MENYOGOK ATAU MENYUAP PARA PENEGAK HUKUM DIREPUBLIK INI, SIAPA PARA PERAMPOK BESAR YANG MERAMPOK NEGARA INI DAN MEMBAWA LARI UANGNYA KELUAR NEGERI SEHINGGA MEMBUAT NEGARA INI MEMPUNYAI BEGITU BANYAK HUTANG KE IMF MAUPUN LEMBAGA KEUANGAN INTERNATIONAL LAINNYA…

    APA KALIAN BISA MENGINGKARI FAKTA2 TERSEBUT? PADAHAL NI BARU SEBAGIAN KECIL YANG SAYA SEBUTKAN, DAN SAYA TAU PASTI KALIAN BERSAMA KAWAN2 KALIAN MENCACI MAKI SAYA SEBAGAI RASIS ATAU PENGANUT AGAMA BEJAT, ITU MEMANG SUDAH SIFAT KALIAN DAN SUDAH MENJADI KEBIASAAN KALIAN KALAU KAMI MEMBONGKAR CATATAN2 HITAM CINA, BAHKAN SEBAGIAN DARI KALIAN AKAN MENGAKU SEBAGAI PRIBUMI DAN MEMBELA CINA, SAYA SUDAH TAU ORANG2 YANG KOMEN DENGAN KALIMAT

    ” SAYA SEORANG JAWA ATAU ETNIS LAINNYA DARI PRIBUMI SAYA BLA BLA BLA BLA DAN CINA ITU BAIK KOK ” INI PENIPUAN YANG SUDAH SANGAT BASI, SE-BODOH2 PRIBUMI TIDAK AKAN MENJUAL BANGSANYA UNTUK MEMBELA CINA YANG SUDAH MEMBUAT BANGSA INI SEMAKIN MELARAT, SAYA KATAKAN BAHWA BANGSA INI MENJADI MELARAT KARENA KELICIKAN ETNIS CINA DINEGERI INI,

    KALIAN MENGATAKAN BAHWA PERSTIWA PEMBANTAIAN CINA YANG TERJADI BEBERAPA KALI SEJAK JAMAN BELANDA DAN TERAKHIR TERJADI TAHUN 98 TIDAK AKAN TERULANG LAGI, MUNGKIN KALIAN BERPIKIR BAHWA KALIAN SEKARANG PUNYA UANG DAN ADA BEKING, TAPI KETAHUILAH BAHWA PERISTIWA PEMBANTAIAN CINA ITU SEERTI SIKLUS GUNUNG BERAPI, TIDAK AKAN PERNAH BERHENTI MELETUS SAMPAI GUNUNG ITU RATA DENGAN TANAH ATAU SAMPAI CINA KELUAR DARI REPUBLIK INI, SEBAB DAPAT DIPASTIKAN BAHWA ETNIS CINA TIDAK AKAN PERNAH BERUBAH DARI SIFAT2 BURUKNYA, CINA BUKAN HANYA DI INDONESIA, TAPI CINA DISELURUH DUNIA TIDAK DISUKAI KEHADIRANNYA, ITU DISEBABKAN OLEH KARENA SIFAT2 LICIKNYA.

  61. @Kurniahartawinata

    Sekarang WNI suku tionghoa sudah mulai berbaur dan berpolitik, malah dibawa lagi tuduhan dan masalah ke perspektif agama seperti di bawah ini :

    http://www.voa-islam.com/read/opini/2014/02/26/29262/munarman-sh-cina-kafir-tahun-2014-melakukan-uji-coba-politik;#sthash.YnPAd4Ww.dpbs

    masalah hanya bersumber dari pikiran dan diri sendiri. kebencian yg timbul dari pikiran sendiri. praduga-praduga dan persepsi yg seharusnya disingkirkan jauh-jauh.
    bagaimana negara indonesia kita bisa maju kalau “mindset” nya masih dipenuhi dgn kebencian dan tuduhan-tuduhan? selain CINA sekarang sudah merambah ke kata “KAFIR”

    hanya berharap semoga semua makhluk dan manusia berbahagia.

    ajaranlah yg membuat manusia mengkafirkan manusia lain.

    masalah hanya bersumber dari pikiran dan diri sendiri. kebencian yg timbul dari pikiran sendiri.

    Buddha mengajarkan :
    “Dia menyakiti saya, Dia memukul saya, Dia mengalahkan saya, Dia merampas hak saya” — bagi mereka yg masih berfikiran sedemikian, maka kebencian tidak akan pernah berakhir

    dan tentu saja masalah akan terus datang tiada hentinya.
    .

  62. Tri says:

    dan tak bisa dipungkiri juga,bahwa orang China di Indonesia telah merampok kemerdekan warga pribumi.Sekarang mafia China semakin kuat dan menggurita di indonesia,dan mereka sudah pnya wakilnya di politik salahg satunya Ahok.Jokowi pun juga didukung oleh mafia China.Anda akan menemukan banyak yang bukan sekedar katanya,jika anda independen anda akan menemukan yang namanya “MAFIA CHINA” di indonesia.

    • saya berusaha independen dan menemukan tidak cuma “mafia cina” :)
      terima kasih atas sarannya

    • gua bangga jadi orang chinese says:

      bisa kasih contoh merampok kemerdekaan warga pribuminya seperti apa? apakah warga pribumi dilarang beribadah? apakah dilarang bekerja dikantor dan pabrik? tidak dikasih THR? (hari raya perlu dikasih duit?). tidak diijinkan mendirikan rumah ibadah? atau dilarang bangun sekolah?

      yang namanya mafia itu ada dimana mana, mafia tanah abang yang jadi wakil rakyat bukannya juga sudah hebat itu? apa kurang puas? kalah bersaing?

  63. satria putih indonesia says:

    BENAR BENAR BISA DINALAR…….
    TAPI KENAPA RAKYAT INDONESIA ERA INI DIAM SAJA.AJUKAN PEMBAHASAN INI KE MEDIA TELEVISI DAN BUATLAH WIN WIN SOLUTION DENGAN RAS CHINA.
    UNTUK BISA HIDUP BERDAMPINGAN YANG BAIK.
    UNTUK RAKYAT INDONESIA
    -HORMATILAH SESAMA MAHKLUK TUHAN.
    -HARGAI PERBEDAAN BERAGAMA.
    UNTUK CHINA DI INDONESIA
    -HARGAI WARGA PRIBUMI
    -HORMATI WARGA PRIBUMI SEBAGAI TUAN RUMAH KALIAN.
    -PEKERJAKAN MEREKA DENGAN KEMANUSIAAN.
    -JANGAN TEBARKAN BUDAYA BURUK HARAM HALAL HANTAM SEPERTI JUAL TOGEL . RENTERNIR . DAN BERFIKIR SEMUA BISA DILAKUKAN OLEH UANG.
    -JANGAN BANGUN TEMBOK RUMAH ATAU PAGAR TINGGI TINGGI KARENA BAGI SAYA PRIBADI KALIAN AKAN AMAN KALAU BAIK BAIK DENGAN RAKYAT.DAN JUGA ADA APARAT KEPOLISIAN.KALIAN ANGGAP APA KITA INI KOK SAMPAI BANGUN PAGAR TINGGI TINGGI ? APA BIAR TIDAK KETAHUAN KALAU ANDA ADA BISNIS ILEGAL ATAU BAGAIMANA ?
    -BERBAIK BAIKLAH JIKA KALIAN INGIN DIBAIKI.
    -HAMPIR SEMUA RAKYAT INDONESIA TAHU..KALIAN SOMBONG ANGKUH DAN INDIVIDU..? KALIAN PASTI JAWAB MAKAN TIDAK MINTA KITA “ITU BETUL TAPI KALIAN HIDUP DIMANA ?
    SEMOGA BISA DI BUAT KAJIAN MUNCUL DI TV.UNTUK MENGINGATKAN PARA PESOHOR CINA YG HIDUP DI INDONESIA AGAR SIFAT ANGKUH,SOMBONG,INDIVIDU BISA DIKURANGI.
    DAN UNTUK RAKYAT INDONESIA BISA SALING MENGHORMATI SESAMA MAHKLUK TUHAN.
    MARILAH PRIBUMI DAN CHINA HIDUP BERSAMA.PANDANGLAH RAKYAT KECIL JANGAN HANYA ORANG ORANG BESAR YG KALIAN SAPA KARENA YANG KECIL TAPI BANYAK IBARAT ANDA SINGA BERADA DAN MANDI DI SUNGAI AMAZON ,MESKIPUN KECIL TAPI PIRANHA AKAN MENYISAKAN TULANG YG KERAS SAJA….
    Terimakasih juragan yang punya blog.
    Anda benar benar seorang pemberani sejati…
    BUKAKAN MATA HATI RAKYAT INDONESIA YG PADA GALAU INI….

    • Terima kasih atas tanggapannya, tapi lain kali ada baiknya capslock-nya dimatikan saja :)

    • sleone says:

      jd manusia sempurna dan baik tu bukan hnya pake mulut bebek, tpi hrs pikir dan lakukan, tuhan menciptakan manusia untuk sling hormati dan saling menolong dan kerjasama bukan saling cemburu,iri dan menyiksa,, walaupun etnis tiong hoa merebut barang kalian , klian pun hrs merebut kembali dengan kerja keras kalian bukan hanya merebut dengan melakukan perbuatan yang haram ke etnis tiong hoa.

    • super sekali…hidup berdampingan itu indah jika harmonis dan saling menghargai..

  64. fu yung hai says:

    intinya satu siapapun kamu dari manapun asal usulmu…dimana bumi dipijak disitu langit dijunjung

    berbaur… menyatulah dengan semua orang disekitarmu…. itu aja kok…ga ribet toh apapun warna kita kita semua tetap merah putih!

    cmn kasihan aja ama anak2 cina yg masih duduk dibangku TK. gmn ga kasihan mereka kecil2 udah “cina” ! mereka udah disekolahin 1 sekolah yg isinya cina…. sd sampe sma bahkan kuliah nanti juga bakal disekolahin di sekolah yg mayoritas “cina”

    jadi? kapan mereka membaur? ujung2nya sikap apatis lagi dari “pribumi” tul gak?

    membaur kalo kalian merasa orang indonesia maka jadilah orang indonesia…jgn ikutan kaum eksklusif sempit….

    • den_hario says:

      seperti’y tidak bisa karena anda tau “kulit hitam selalu salah”

    • gua bangga jadi orang chinese says:

      apakah anda chinese? kalau ya, apakah anda pernah disekolah negeri?
      saya pernah, sd negeri smp negeri sma negeri.
      selama 12 tahun sekolah negeri ya.
      saat sd karena tidak ada guru agama budha, akhirnya saya terpaksa ikut belajar agama islam (sampai sekarang saya masih bisa melafal Surat Al-Fatihah, he he he)
      di smp saya sempat di bully oleh anak racist yang di backup oleh ketua preman di kelas), untung masih ada yang membela saya (sekali lagi ga semua pribumi jahat)
      di sma, saya agak dijauhkan oleh beberapa teman walaupun saya tadinya tidak berprasangka buruk.belum lagi kebiasaan tawuran, merokok serta minum minuman keras (ini pengalaman pribadi saya dan teman teman) selama 12 tahun sekolah negeri : saya memiliki teman dekat dari suku padang sunda batak jawa flores dan betawi makasar dll.

      setelah punya anak, saya putuskan anak saya tidak sekolah di sekolah negeri, mengingat pengalaman yang pernah saya alami selama disekolah (sempat stress).

    • sch says:

      saya dulu mlah g punya temen sama sekali, pdahal kebetulan Tuhan ngasih saya mata sipit dan kulit kuning, stigmatisasi sih g perlu menghakimi krna mungkin dapet dari pengalaman hidup, kmd saya suka kluyuran siang hari agar kulit saya jadi agak gelap dan voilla jadi gelap dan kmd banyak temen, cuman mata sipit g bisa di ilangin untung bapak saya ngasih nama jawa ha2..yg saya takutkan skrang anak saya cino plekkk..padahal ibuny jowo..smg anak saya ndak mengalami yg saya alami

  65. indah says:

    bro kur, IMHO :
    1.Really nice and enlightening essay (panjang bgt soalnya).saat2 kayak gini, kita perlu tulisan2 seperti ini.judulnya agak provokatif, tapi isinya tidak.
    2.Sebaiknya dibikin seri 1,2,3 dst, soalnya kebanyakan ‘wuutt,wuut-nya’ jd flashback trs
    3.Soal statement bung tomo tsb, alangkah lbh baiknya klo brokur tulis, sumbernya drmana,supaya tdk diblg ‘fitnah’
    4.Saya setuju sekali soal betapa dahsyatnya Indonesia bila etnis tionghoa dan pribumi bersatu, karena sebenarnya bukan etnis tionghoa tidak py nasionalisme, tapi mereka tdk diberi kesempatan untuk menunjukan nasionalismenya,contohnya, jd polisi, tni,pns,dan nyemplung di dunia politik seolah menjadi tabu, dan susah.
    5.btw, how old are you?CMIIW kayaknya masih muda, tapi udah py pemikiran seperti ini?hehehehe

    MERDEKAAAAA.,

    • Terimakasih banyak atas masukannya :)
      Saya sudah lumayan tua kok, kalau tidak malah memang sudah tua haha

    • gua bangga jadi orang chinese says:

      untuk indah, ayah saya seorang PNS, jujur dan tidak korupsi, beliau melarang saya mengikuti jejaknya menjadi pns (jaman gub Alisadikin ada ketentuan anak pns bisa masuk menjadi pegawai negeri). karena menurut ayah saya, sebagai WNI keturunan, pangkatnya tidak naik naik.

  66. Rudy Ong says:

    Gue cuma mau bilang, Sedih melihat coment yang rasis dan memojokan etnis china. Mereka dibencinhanya karena mata mereka beda, kulit mereka beda. Buat sobat semua, kalau emang kita beragama, gak ada satupun dari agama yg kita anut mengajari kita memusuhi sesama manusia hanya karena kulit dan mata mereka berbeda, tapi kalau ternyata ada yg memberikan comment yg extrim diatas tadi mengenai etnis china…..sudah dipastikan orang itu gak beragama, dirinya dikuasai oleh kebencian. Yuk mari kita bergandengan tangan , buat negara kita lebih maju dengan bekerja sama dan mengesampingkan perbedaan. Aku seorang Tionghoa dan istri aku seorang pribumi muslim, ternyata hidup aku begitu indah dan penuh diberkati. Semua dari hati teman teman.

    • sch says:

      saya salut pada bapak, tapi tidak bisa dipungkiri juga kalo di perusahaan yg dimiliki oleh WNI keturunan banyak yg sangat rasis ni crita tidak cuman satu dua untuk dinilai hoax dan itu cuman bisa disembuhin oleh para WNI keturunan sendiri

  67. tsu says:

    Bangsa Cina mendarat di Indonesia pada abad ke 5, di pesisir pantai Jawa Timur. Mereka adalah pedagang yg berlayar untuk mencari rempah2, dan kemudian karena satu dan lain hal, mereka menetap di Indonesia dan berasimilasi dengan penduduk setempat. Para pedagang Cina ini juga diyakini sebagai yg membawa agama dan tradisi Islam masuk ke Indonesia, karena berkat Jalan Sutra, agama Islam yg berasal dari Arab, masuk ke Cina melalui India. Bahkan menurut sejarah, beberapa orang dari Wali Songo adalah keturunan Cina seperti Sunan Ampel, Sunan Bonang, Sunan Kalijaga, dan Sunan Gunung Jati. Hal ini merupakan sesuatu yg ironis di masa pada jaman sekarang hanya sedikit orang Tionghoa yg memeluk agama Islam. Mengapa bisa demikian?

    Pada jaman Kolonial Belanda, tahun 1680, para pedagang Tionghoa memegang peranan penting dalam perekonomian di Batavia. Bahkan usaha penjajah untuk memonopoli pun terhambat dan mereka terpaksa berbisnis dengan para pedagang Tionghoa tersebut. Akibatnya, penjajah merasa terancam karena keberadaan orang Tionghoa secara tidak langsung menyokong kehidupan pribumi di Indonesia, dan jika orang Tionghoa dan pribumi bersatu untuk melawan, para penjajah akan kewalahan. Karena itulah, para penjajah berusaha mengadu domba pribumi dan orang Tionghoa, dan mereka berhasil.

    Pada tahun 1740, karena krisis ekonomi yg disebabkan oleh turunnya harga gula di pasar global, Belanda hendak mengikis upah gaji para pekerja dengan cara memindahkan para kuli, yg sebagian besar adalah pribumi, ke Afrika. Padahal maksud sebenarnya adalah mereka bermaksud membuang para kuli itu ke laut lepas diam2. Entah bagaimana caranya, isu tersebut tersebar dan para pedagang Tionghoa di Batavia, menggalang kekuatan untuk menyerbu kapal2 Belanda tersebut. Pertumpahan darah pun tidak dapat dielakkan.

    Akibat perlawanan tersebut, Belanda mengeluarkan perintah untuk memeriksa dan melucuti para pedagang Tionghoa, namun yg terjadi sebenarnya adalah pembantaian besar2an di mana dalam 3 hari, 50.000-60.000 orang Tionghoa dibunuh. Belanda juga mengeluarkan dekrit bahwa orang Tionghoa lah yg berencana membunuh para kuli pribumi dan mereka seolah2 bertindak sebagai penyelamat bagi orang2 pribumi. Kemudian Belanda juga menjanjikan imbalan bagi setiap kepala orang Tionghoa yg berhasil dibunuh. Inilah awalnya perselisihan antara Tionghoa dan pribumi. Nama “Kali Angke” yg ada di daerah Jakarta Utara berasal dari kata “Sungai Merah” yg menggambarkan kejadian pembantaian saat itu di mana sungai2 menjadi warna merah oleh darah Tionghoa.

    Pada jaman perang kemerdekaan, orang Tionghoa juga berperan penting dalam perjuangan melawan menjajah di mana dalam BPUPKI terdapat 6 orang Tionghoa yg berkontribusi dalam pembentukan UUD’45. Hanya sedikit orang Tionghoa yg terjun langsung pada konflik bersenjata karena pada saat itu jumlah mereka hanya sedikit. Pada jaman agresi militer, Belanda dan Jepang melakukan blokade terhadap impor barang2 kebutuhan seperti sabun dan peralatan memasak. Orang Tionghoa memegang peranan besar dalam menyelundupkan barang2 itu masuk ke dalam negeri. Namun karena situasi negara saat itu sedang kacau, tidak ada catatan jelas mengenai hal itu sehingga peranan Tionghoa dalam perjuangan meraih kemerdekaan menjadi blur.

    Tahun 1955-1965, perselisihan pun terjadi antara pribumi dan Tionghoa di mana Tionghoa dituduh “tidak patriotik” dan tidak ikut serta dalam perang meraih kemerdekaan. Pemerintah Indonesia saat itu pun akhirnya mengeluarkan peraturan yg membatasi peran Tionghoa dalam politik. Hal itu menyebabkan orang Tionghoa pun lebih fokus dalam bidang perdagangan dan industri. Kemajuan para Tionghoa dalam perekonomian ternyata kembali menyebabkan perselisihan di mana para Tionghoa dituduh sebagai agen kolonial dan menerima suap. Pemerintah pun memerintahkan para pedagang Tionghoa untuk menutup usahanya di kota2 besar dan memindahkan mereka dengan paksa ke daerah2 seperti Kalimantan dan Palembang. Saat itu kurang lebih ratusan ribu orang Tionghoa “dibuang”, dan 42.000 yg dituduh membangkang dibunuh.

    Sebagai protes, banyak orang Tionghoa yg mencoba pulang kembali ke negara asalnya, hanya untuk menemukan bahwa mereka tidak diterima di sana karena dianggap sudah “tidak berdarah murni” Hal ini menyebabkan orang2 Tionghoa di Indonesia kehilangan jati diri, karena mereka bukan Indonesia dan juga bukan Cina. Akhirnya sebagian dari mereka pindah ke negara2 lain seperti Malaysia, Singapura, dan Brazil.

    Pada jaman pemerintahan Soeharto, orang Tionghoa di Indonesia diharuskan mengganti nama mereka dengan nama Indonesia. Hal ini merupakan sesuatu yg sangat pedih karena mereka menjadi kehilangan marga dan nama keluarga mereka. Segala tradisi yg berbau Cina diharamkan, dan bahasa Mandarin pun dilarang karena mereka dituduh menyebarkan paham komunis. Di beberapa daerah juga hal ini disangkut pautkan dengan agama di mana orang Tionghoa dianggap tidak menghormati agama Islam dan tradisi muslim dan dibunuh. Pada periode 1965-1975, aparat dapat dengan seenaknya mengeksploitasi orang Cina dengan merampok dan memperkosa keluarga mereka. Cara satu2nya untuk survive pada masa itu adalah dengan menyogok.Bahkan para Tionghoa yg berjasa bagi Indonesia pun ditangkap, dipenjara, dan dibunuh, dan hal ini menyebabkan orang Tionghoa menjadi memisahkan diri dengan Indonesia. Mereka tidak senang disebut sebagai warga “Indonesia” Hal ini terjadi hingga hari ini. Walaupun generasi muda saat ini tidak seekstrim leluhurnya dalam menjalani tradisi Tionghoa, tapi tetap mereka merasa berbeda dan menjaga jarak dengan pribumi. Budaya mereka menjadi lebih kebarat-baratan, karena banyak orang tua Tionghoa memilih untuk menyekolahkan anak mereka ke Amerika atau Eropa.

    Pada kerusuhan 1998, orang Tionghoa dituduh menjadi biang krisis ekonomi dan KKN di Indonesia karena mereka sering menggunakan sogokan untuk mendapatkan kemudahan dari pemerintah. Ratusan ribu orang Tionghoa di Indonesia, dibunuh, diperkosa, dan milik mereka dijarah massa. Hal ini menyebabkan banyak orang Tionghoa memutuskan untuk lari dari Indonesia, dan pindah ke negara2 tetangga seperti Australia dan New Zealand. Dan bahkan setelah reformasi, sebagian besar memutuskan untuk tidak kembali ke Indonesia karena mereka menemukan bahwa negara2 barat lebih menghormati hak2 mereka ketimbang Indonesia.

    Setelah reformasi, pada masa pemerintahannya, Gus Dur mencabut larangan bagi orang Tionghoa untuk berpartisipasi dalam pemerintahan. Kwik Kian Gie dijadikan menteri perekonomian. Gus Dur juga memberikan ijin bagi orang2 Tionghoa untuk menjalankan tradisinya tanpa harus meminta ijin kepada pemerintah. Pada masa pemerintahan Megawati, hari raya Imlek pun ditetapkan sebagai hari libur nasional.

    Setelah 45 tahun dilarang di Indonesia (sejak tahun 1965), pada tahun 2000, Metro TV menjadi stasiun TV pertama yg menggunakan bahasa mandarin. Pada tahun 2006, pemerintah mengeluarkan undang2 yg menghapus segala perbedaan antara Tionghoa dan pribumi. Dan pada tahun 2007, SBY meresmikan istilah “Tionghoa” sebagai nama bagi penduduk keturunan Cina di Indonesia.

    So, setelah membaca uraian di atas, bisa kita lihat bahwa pada awal mulanya, orang Tionghoa dan pribumi hidup berdampingan. Diskriminasi terjadi akibat usaha penjajah untuk memecah belah Indonesia. Berbagai usaha perbaikan telah dilakukan oleh pemerintah, namun luka yg telah mendarah daging selama berbagai generasi tidaklah semudah itu untuk dihapuskan.

    Marilah kita sebagai generasi muda, belajar dari kesalahan pada leluhur kita, untuk bersikap kritis. Jangan mudah diadu domba oleh pihak2 yg tidak bertanggung jawab. Diskriminasi adalah sebuah hal yg menginjak2 martabat dan hak asasi manusia, dan perbedaan SARA adalah sebuah kekayaan budaya bangsa yg harus kita hargai. Satu nusa, satu bangsa. Bhinneka Tunggal Ika :) LOVE INDONESIA <3

  68. fendy says:

    Kami cari uang ya ga gampang
    Salahkan diri sendiri
    Pemalas orgnya suka mengeluh :D
    Pliss jangan provokasi, bwt lah artikel yang berguna untuk masyarakat

  69. gua bangga jadi orang chinese says:

    untuk admin, maaf ya bila saya lancang terlalu banyak menanggapi komentar orang. serasa yang punya blog saja he he he…

  70. elima says:

    Saya jadi heran,jadi saya ini di sebut apa?
    Bapak saya Jerman,China,Jawa & mamak saya batak..
    Saya pake 2marga china & batak.
    Setiap saya blg saya china di dpan org pribumi(yg saya pun gak ngerti suku apa aja yg di sebut pribumi) selalu saya di ejek.tapi kalo saya blg saya batak mereka cm diam.
    Marga china saya Gho,tapi di akte lahir dibuat Ghona.kata nya susa hdup di indonesia ini org2 china.
    1 lagi saya masi ingat wktu saya SD penjarahan org2 china di kota saya di lakukan besar2an.kami mesti ngungsi ke rmh opung kami.
    Apa salah china?!kalo ga ada china stiap kota bakal jadi kota mati.krna perdagangan la kota jadi hdup!!
    Anti china,padahal minta kerja sama org china.makan uang org china!!

  71. Edbert says:

    Hei fu yung hai kamu enggak hargai kerja Keras bangsa tionghua ? Emang kau pikir kau ini siapa

    • topan says:

      Hei bert, apa kau sadar dimana kau tinggal, numpang aja sok jagoan kau.
      tinggal kau dipalembang, habis kau sampai turunan kau.
      cakap ga berguna kau, apa kau ga merasa ada gerakan pasukan revolusi dimedan, hati2 kalau kau cakap di website.

  72. David says:

    Mas kurniawan,mata saya sampe pening ni bca artikelnya, tpi menurut saya bagus juga mas artikelnya hahahaha

    oh iya mas knapa artikelnya g mau di masukin ke surat kabar ato yg lainnya aj mas? Kan bsa terwujud tuh impian mas kurniawan untuk membuat damai negara kta ini supaya tidak ad perbedaan suku dan ras lagi hahaha dan dunia pun bsa serasa satu keluarga

    hahahaha makasih atas info artikelnya mas…. :D

  73. Edy Sunjaya says:

    sudahlah yang lalu biarkan aja berlalu. Untuk kurnia artha mungkin baiknya ceritanya lebih dipersingkat supaya orang lain gak salah nangkep, atau mungkin kalimat penting di bold. Memang saya tidak membaca semua tapi melihat dari komentar saya bisa mengambil kesimpulannya. Saya memang orang keturunan cina ya tapi lahir di Indonesia emang bagi saya cukup lah marah denger cerita pembantaian orang tionghoa waktu zaman dahulu. Tapi sekarang apakah kita bangsa Indonesia harus seperti dulu lagi? saling bermusuhan, saling menjauhi? Tentulah tidak. Sekarang dari generasi muda kita harus membuat negeri kita menjadi negara maju. Sangat tidak diharapkan memandang seseorang dari etnis/agama, Ingatlah Bhinekka Tunggal Ika “Berbeda beda tetapi tetap 1 jua”. Kita berbeda suku, etnis, agama, serta iman tetapi harus saling membantu toh satu dengan yang lainnya. Tuhan menciptakan kita dengan derajat yang sama artinya sangat tidak diperbolehkan memandang seseorang dari etnis, suku, agama. Udah saatnya kita bersatu, berjuang buat negara ini. Sebagai keturunan orang cina saya hanya bisa berkata ” Say No To Racism” saya menghargai kalian semua yang menghargai saya.

    • terima kasih atas sarannya,

      saya memang memilih menulis berpanjang-panjang karena isinya memang panjang. kita terlalu sering menyingkat sesuatu agar tidak membuang waktu, alhasil ktia tahu tapi tidak memahami

  74. PUTRI says:

    Mau kasih saran nih, merujuk beberapa komentar sebelumnya dimana ada yang meragukan validitas informasi dalam tulisan ini, sebaiknya memang dibenahi lagi tulisannya.
    Referensi itu ada bukan hanya untuk di-‘tempelkan’ di bawah tulisan; rujukan/referensi juga harus disertakan dalam uraian agar pembaca bisa tahu informasi yg diberikan berasal darimana & apakah sumber tersebut terpercaya atau tidak (FYI: wikipedia & blog pribadi bukan sumber terpercaya loh); terlebih juga karena yang Anda tulis bukan pengalaman pribadi.
    Well, overall, nice article though :)

    • terima kasih atas sarannya :)

      ya, saya tahu kelemahan saya atas masalah referensi ini begitu tulisan selesai dibuat. tapi apa lacur, saya terlalu malas untuk, apa sih namanya, memberi tanda atau catatan kaki pada masing2 informasi. ya sudah, saya biarkan begitu saja. karena toh ini kan blog pribadi pula, yang seperti Anda katakan dan saya sadari, bukan sumber terpercaya.

  75. apa pun ras ,suku dan agamanya….tetaplah satu dalam bhineka tunggal ika

  76. Amazal says:

    ya sudah lah gk usah diungkit lagi…..aku turut prihatin juga membacanya sampai mataku melek entah ini artikel dongeng atau realita yang penting bangsa ini sudah berhasil dalam penyatuan budaya maupun pembauran…hanya saja masih ada saja tionghua yang eksklusif di daerah tertentu di luar pulau jawa. kalau dijawa gk usah ditanya bahkan tionghoa disini medok javanese.
    aku hanya berharap bangsa ini lebih baik lagi….jangan kayak chinese malingsia maksudnya malaysia perilaku macam komunis bahkan tak hormat sama golongan melayu disana..jangankan tak hormat sedikit bahasa melayupun tak lancar. berharap tionghoa di Indonesia tetap ada hati jiwa nasionalisme …segala keterbukaan di negeri ini menjadi kebanggan untuk semua ras suku dan etnis. jangan ada saling curiga di antara kita yang akan nantinya menimbulkan permasalahan di negeri ini.
    salam bhineka tunggal ika.

  77. jacky says:

    Saya sudah membaca postingan anda,,,,memang saya pun mengalami sendiri tentang orang china yg memang sangat berkuasa di negara ini,,,bahkan mereka pun acuh sekali sama warga pribumi,apalgi sekarang mereke mentang2 punya harta dan duit seenaknya aja klau mereka memarahin warga pribumi.aq kerja di lapangan jadi aq tau kondisi dan sifat2 orang china,yg lebih menjijikan lgi yaitu punya sifat dan watak yg sangat pelit,,,saking pelitnya takut kehilangan harta mereka sampai2 rumahnya dipagar rapat sekali,warga pribumi bnyak yg kaya tapi gak segitu pelitnya dan rumahnya pun gak dipagar rapat sekali.terus terang aq sangat benci orang china,maaf bukan aq mau jadi provokator tetapi itu lah kenyataanya.!!!!!! Trims

  78. Christian Siauwijaya says:

    Itu peraturan pemerintah pontianak agar tidak melakukan pertunjukan barongsai dan liong di jalan umum untuk tetap menjaga arus perjalanan mobil agar tidak terhambat

    Sensi amat wkkwkwkkwkwk

  79. Jimi says:

    mas maaf nih bukan maksud rasis tapi sebagian besar mungkin koreksi lebih lanjut mengapa bila mereka yang jadi bos (china) suka pelit atau kasar dalam omongan kepada bawahan non-china/pribumi?

  80. Erwin Wijadi says:

    dari sekian banyak komentar dan tidak sempat semua komentar yang saya baca,saya ingin menjelaskan arti dari cerpen dr saudara kurnia:
    1.bukan menjelekkan etnis
    2.bukan memprokasikan untuk pemicu saling membenci
    jadi setelah saya baca memang ada beberapa kata dan bahasa yang kurang adanya dibubuhi titk dan koma sehingga bagi yg awam kurang bisa memahami sehingga bisa menjadi konflik dan pra duga,sebenarnya kejadian di tahun 98 itu yang dijarah dibakar diperkosa bukan hanya etnis thionghua saja yang jadi sasaran tapi ada juga warga etnis lainnya serta yg dr pribumi saja juga terkena dampaknya,namun mau saya ingatkan kepada saudara2 sekalian dlm agama apapun menjelaskan jangan pernah membeda-bedakan agama ataupun suku krn kita hidup tidak bisa sendiri pasti perlu sokongan dan dukungan,coba dilihat mengapa tuhan tdk menciptakan dunia ini dan dikhususkan saja antara ras biar tidak ada konflik dan pembedaan etnis?jawabannya satu tuhan ingin memberikan ikatan yang kuat dlm persahabatan dan kekeluargaan,dlm QUR’an dan pribahasa juga ada penjelasannya coba dibaca “TUNTUTLAH ILMU SAMPAI KE NEGERI CINA”makna dan maksudnya adalah ilmu ini tidak hanya bisa kita cari 1 tempat melainkan harus banyak tempat jadi kita hidup di dunia ini untuk saling merangkul,memang ada beberapa etnis thionghua yang kl kita liat ada yang memperkerjakan orang pribumi namun selalu dimarah,dicaci dan sbgnya namun tidak semua etnis thionghua seperti itu,sama halnya juga ada juga beberapa perusahaan orang kita prbumi yang memperkerjakan etnis tionghua dan kejadiannya juga sama ada makian ,cacian,dimarah2,menurut saya itu sudah mutlak krn tidaklah mungkin seorang bawahan benar kerjanya ,kl pun benar tetap salah dimata atasan,sekian yang bisa saja klarifikasikan semoga bermanfaat dan tdk terjadi perbedaan antara etnis baik thionghua,batak,jawa,melayu dll,ingat kita hidup di indonesia dimana 5 lambang yang di sebut bhinekka tunggal ika yang selalu kita hormati mempunyai makna 5 agama,5suku,5kebudayaan,5 kebangsaan yang bersatu kita teguh bercerai kita luntur

  81. lontong sayur says:

    Tadi ada katanya cina hanya bergaul dengan sesamanya? Bodo amat yg nulis,ga tau faktanya ga usah banyak omong,gw pribumi tpi 95% teman chinese gw,mereka baik berteman dengan gw,gw juga baik ma mereka

    Dan orang cina banyak nguasain perekonomian karena mau usaha,ga usaha gimana mau hidup,berani rugi besar,berani untung besar,makanya usaha

    Dan juga,kita ni sama ga perlu bertengkar soal beginia

  82. michael says:

    Artikel ini sudah dua tahun, masih banyak yang komentar juga yah. Saya membacanya dengan santai, seperti halnya membaca novel sejarah, bukan buku sejarah. AFTA 2015 sudah dipenghujung pintu, seberapa siapkah kita?

  83. meantuz says:

    HMMMM.. asyiik bner nyimak lumayan nambah wawasan sejarah

  84. anton says:

    Bloggg anjinqqqq rasisss phueiiiiii pribumi anjinq kurapppo

  85. anto says:

    Kalau mengacu pada semboyan “bhinneka tunggal ika”, saya yakin kita akan kuat. Kalau semboyan ini diresapi dan dipraktekkan, indonesia adalah bangsa yg besar dengan keberagaman etnis yg menjadi sumber kekuatan untuk menuju masyarakat indonesia yg maju dan beradab

  86. Arie says:

    hanya kritik untuk pribadi saja yang mungkin nggak ada hubunganya dengan artikel di atas…. Kesalahan orang lain, sedikit atau banyak kita turut berpartisipasi di dalamnya….

    berSAMA nggak harus SAMA, khan…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s