Pernahkah Kamu Memeluk Seolah Tak Kan Pernah Lagi Memeluk


pelukan terakhir

Karakter diambil dari komik Senja dan Bintang

Saat Cuka masih muda, cantik lucu penuh vitalitas, punya anjing terasa begitu menyenangkan. Saat itu aku berpikir, kalau Cuka sudah mati, tentu aku ingin anjing lagi. Kalau bisa persis seperti dia. Dikloning kalau perlu.

Lalu Cuka menua. Rambutnya menipis. Matanya kelabu terkena katarak. Pandangannya semakin buruk. Lagaknya tak lagi gesit. Beberapa kali sakit, beberapa kali harus diperiksa dokter.

Dari awal, tentu saja kami sekeluarga tahu bahwa Cuka akan mati. Umur anjing jauh lebih pendek dari manusia. Kami tahu, kemungkinan besar, ia akan pergi meninggalkan kami lebih dahulu. Tapi tahu ternyata berbeda dengan menghadapi. Continue reading

Advertisements
Posted in Uncategorized | Leave a comment

Menciptakan Ruang Dialog di Komik Media Sosial


*ditulis dalam rangka menyusun pikiran untuk berbicara di Jamasan (Jagongan Malam Santai) Dagadu, 8 Desember 2017, dengan tajuk “Seniman Berkarya ‘Menggelitik’ Ruang Digital”

Saya diundang ke Jamasan Desember 2017 karena komik-komik saya di media sosial. Komik-komik tersebut dianggap sebagai kritik sosial-politik yang kadang disampaikan secara jenaka.

Saya mulai mengunggah komik daring pada pertengahan tahun 2008. Di blog, multiply. Tujuannya biar ada yang membaca. Pertengahan 2009, karya saya berpindah ke facebook sampai sekarang. Pernah nyoba twitter, tapi malas ngurus akunnya. Sekarang mencoba instagram, tapi masih baru-baru saja. Jadi mohon permaklumannya kalau pembahasan yang saya lakukan terbatas pada facebook.

Awalnya, saya membuat komik secara rutin sebagai sarana tetap menggambar. Melemaskan tangan dan melatih ketrampilan. Tapi saya ingin sesuatu yang lebih berarti, yang lebih bermakna. Jadi saya letakkan tujuan. Visi misi komik saya adalah, haha, malu juga nyebut: Continue reading

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Hingga Usai Usia, Horor Sebuah Komitmen


12806118_10207467111269475_3183470261149387756_n

Menikah itu konsep yang mengerikan. Apalagi bagi pernikahan Katolik yang tidak mengenal cerai kecuali salah satu dari pasangan meninggal. Betapa menyiksanya kalau terjebak dengan orang yang salah, hingga usai usia.
Horor atas komitmen hidup bersama hingga usai usia ini tampak begitu menghantui saya. Apalagi mengingat saya sangat mudah terganggu akan keberadaan orang yang tidak saya sukai. Kalau sudah bener nggak cocok, orangnya duduk nggak ngapa-ngapain saja tetap membuat saya risih. Bahkan dengan orang-orang biasa, over dosis interaksi dapat membuat saya uring-uringan. Continue reading

Posted in Uncategorized | 5 Comments

Jogja atau Yogyakarta, Apalah Arti Sebuah Nama


 

yogya istimewa

Jogja istimewa memiliki arti “Perang yang istimewa”.

William Shakespeare bisa saja ngomong, “Apalah artinya sebuah nama?” Lha wong dia orang berbahasa Inggris. Orang berbahasa Inggris memang tidak menjunjung tinggi sebuah nama. Bisa kita lihat dari nama Perdana Menteri Inggris sekarang, Theresa May. May, alias bulan Mei. Perdana menteri kok namanya pakai nama penanggalan. Di Jawa sejajar dengan orang yang namanya Jumadilawal, atau Rebo, atau Kliwon. Tahu nama presiden Amerika Serikat sekarang? Donald, sama kaya bebek yang nggak pakai celana. Continue reading

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Berebut Gunungan, Berebut Entah Apa


habis dijarah

Jarang-jarang bisa melihat simbok-simbok tua keriput berjarik lecek berkumpul bersama gadis-gadis muda berkulit putih memakai hotpants. Garebeg Sawal di Alun-Alun Utara Yogyakarta pada hari kedua Idhulfitri kemarin menyatukan mereka. Orang-orang berjejal menonton barisan prajurit. Orang-orang berjejal merayah gunungan yang dibagikan.

Garebeg merupakan tradisi yang sudah ada dari zaman sebelum manusia bule menyerang. Arti katanya dekat-dekat dengan gembrebeg alias keramaian. Atau anggap saja begitu. Saat acara garebeg, dibagikan juga gunungan. Gunungan itu makanan yang disusun tinggi. Disusun di dalam keraton, diarak pada hari yang ditentukan, lalu diberikan untuk rakyat. Dulu sih katanya dibagikan. Kalau sekarang dirayah. Diperebutkan. Continue reading

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Anjing Baru Untuk Kehidupan Baru


nyil_04

Satu seperempat tahun setelah Cuka meninggal, saya punya anjing baru. Unyil namanya. Unyil bukan sosok yang saya harapkan, namun juga bukan sosok yang saya tolak keberadaanya. Kehadirannya sepaket dengan perempuan yang saya nikahi. Unyil adalah peliharaannya, tidak tega diberikan orang dan tidak mungkin ditinggalkan begitu saja. Sudah setengah bulan lebih ia mengisi hidup saya. Continue reading

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Motivatologi: Kibal-Kibul Motivasi


cover_motiv Berikut adalah naskah awal artikel pengantar tiap bab pada komik saya, Kibal-Kibul Motivasi. Isinya adalah pertanyaan-pertanyaan atas keadaan yang membawa saya untuk mengerjakan karya ini. Komik ini mulai dikerjakan dari Januari sampai Oktober 2014. Karena satu dan lain hal, baru diterbitkan secara mandiri pada Mei 2016.

Bagaimana cara mengajarkan anjing sebuah trik?

Jangan lupa beri ia imbalan tiap kali berhasil melakukan hal yang diperintahkan. Imbalannya tentu berupa makanan. Boleh ditambah tepukan di kepala. Apalagi yang diinginkan anjing selain itu. Jika kurang ajar, pukul. Kalau tega. Saya sih tidak tega.

Mendidik anak tampaknya tidak jauh beda.

“Kalau mau disuntik nanti dikasih permen,” atau;

“Kalau tidak bikin PR nanti dihukum Pak Guru.”

Namun semakin dewasa, keinginan dan ketakutan kita berubah.

Buat apa permen, sudah bisa beli sendiri. Cuma dihukum lari keliling lapangan karena tidak mengerjakan tugas, kecil. Mending berlari daripada bekerja.

Walau berubah, namun keinginan dan ketakutan itu tetap selalu ada. Ingin punya ponsel pintar, sepeda motor, mobil, rumah sendiri. Ingin naik gaji. Naik pangkat dan jabatan.

Penuh semangat, kita berjuang mendapatkannya. Semakin banyak yang didapat, semakin takut kita kehilangan. Semakin takut, semakin kita berusaha merengkuh banyak-banyak.

Ketika yang banyak-banyak itu sudah begitu banyak, kita lupa bahwa kita bisa hidup dari sedikit. Kita lupa awal mula kenapa kita ingin. Kita lupa apakah keinginan mengendalikan kita, atau kita yang mengendalikan keinginan.

Dan benarkah kalau itu yang kita inginkan?

*** Continue reading

Posted in Uncategorized | 2 Comments