Kolumnis, Bukan Komunis


Barusan saya menonton “Marley and Me”. Lalu saya jadi berkeinginan. Biasaaaaa…..gampang kepingin. Ingin ini ingin itu, begini begitu banyak sekali. Bukan. Saya nggak ingin punya anjing baru. Anjing saya satu dan sudah merepotkan. Apalagi kalau harus ditambah dengan anjing seperti Marley. Aduh. Ampun dah.

Kali ini saya ingin jadi kolumnis. Kolumnis ya, bukan komunis. Seperti John Grogan. Penulis “Marley and Me”. Sepertinya enak. Bekerja menulis beberapa paragraf untuk kebutuhan seminggu dua kali. Bisa menulis apa saja yang diingini. Bahkan bisa menulis tentang anjing sendiri!

Wohohoho, menulis tentang anjing sendiri! Bagi anda yang belum pernah punya anjing kesayangan, bercerita anjing sendiri itu seperti bercerita tentang anak. “Eh, anakku sudah bisa jalan sendiri lho.” Dengan semangat sama di mata, pemilik anjing bisa bercerita, “Eh, anjingku bisa jalan di atas dua kaki lho.” Atau, “Si Bleki paling suka makan rambutan,  kalau tidak diberi ia bisa ngambek seharian. Ngumpet di kolong tempat tidurku tak mau keluar.”

Saya membayangkan menulis tentang Cuka. Lalu tulisan saya terbit di surat kabar. Oh ya, Cuka itu nama anjing saya. Para pembaca kemudian bertanya-tanya, wah seperti apakah Cuka ini sebenarnya. Kemudian saya akan memamerkan Cuka dengan bangga. Mmmm…impian tentang kolom Cuka ini berhenti di sini saja. Saya masih sayang padanya. Tak terbantahkan. Tapi kalau membanggakan, saya rasa Cuka sudah bukan anjing yang pantas dipamerkan. Ia sudah tua. Matanya mulai kelabu. Katarak, tanda paling jelas penuaan pada anjing. Dan yang paling payah, ia sudah semakin jago menghindar dari acara mandi dan bersisir.

Okelah, kan tidak harus menulis tentang Cuka. Saya bisa menulis apa saja. Sama ketika saya menulis di blog. Cuma bedanya kali ini saya menulis untuk dibaca oleh orang lain.
Ya ya, sepertinya saya mulai terpanggil menulis untuk orang lain. Perkara orang lain suka nggak suka bukanlah soal buat diperdebatkan lebih dahulu. Kan ini masih di media saya sendiri. Kalau orang pada nggak suka, saya juga nggak akan dipecat dari apapun. Kalau suka, saya ikut suka saja. Dan kalau sewaktu-waktu saya ingin berhenti juga tidak akan ada yang berhak melarang. Bahkan kalaupun langsung sehabis menulis tulisan ini.

Ehehehe, main-main andai-andai seperti anak kecil saja saya ini. Tapi saya memang suka. Apa mau dikata. Dan untuk tetap bisa bermain-main seperti inilah saya mengundurkan diri dari dunia perburuhan. Saya tukarkan jaminan finansial dengan kesenangan mewah ini. Jadi tunggu apa lagi. Saatnya merayakan!

malam hari di kamar, 22 Juli 2010
gambar diambil dari: http://carolchs.com/wp-content/uploads/2009/01/marley_and_me.jpg

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

2 Responses to Kolumnis, Bukan Komunis

  1. Timbul says:

    Selamat Blog barunya. Lebih cuantix. Weh, malah belum nonton filmnya Marley. Ga tertarik nonton filmnya karena takut endingnya sama dengan bukunya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s