Merendahkan Diri Menuai Tawa


Siapa yang tidak kenal Tukul Arwana? Komedian yang kini rutin mengisi acara talkshow di sebuah TV Swasta. Mas Tukul ini fenomenal karena tampil beda. Dia membuat tertawa dengan merendah-rendahkan dirinya sendiri. Ke-desa-an yang biasa membuat seseorang dilecehkan, ia tampilkan dengan penuh kesombongan. Dan kita pun tertawa.

Untuk orang-orang daerah, maksud saya Daerah Khusus Ibu Kota, yang terbiasa dengan lelucon ala lenong betawi, lawakan seperti Tukul mungkin terasa sebagai sebuahan kesegaran baru. Namun sebenarnya gaya merendahkan diri untuk memancing tawa ini sudah tumbuh sangat subur di daerah Jawa Tengah dan Jawa Timur. Tempat yang disebut orang-orang “daerah” (khusus ibu kota) sebagai “jawa”. Kalau kita mau sedikit memperhatikan, lawakan ibu kota memiliki perbedaan yang khas dengan lawakan “jawa”. Lawakan ibu kota mengandalkan kelucuan dengan meninggikan diri dan merendahkan orang lain. Misalnya saat bermonolog, pelawak “daerah” akan menyamakan diri dengan seorang artis terkenal. Nicholas Saputra misalnya. Lalu penonton tertawa. Penonton juga akan tertawa saat seorang pelawak menyamakan rekannya dengan jalangkung, kaleng krupuk, tong sampah, kain pel, atau silakan isi sendiri dengan apa saja yang tidak menarik.

Berlawanan dengan pelawak “daerah”, pelawak “jawa” jauh lebih gemar merendahkan diri untuk memancing tawa. Bisa saja sama seperti pelawak “daerah”, saat bermonolog si pelawak “jawa” ini akan mengaku seperti Nicholas Saputra. Penonton tertawa. Tapi ia tidak berhenti di sana. Ia akan melanjutkan, “nek kecemplung got!” – kalau jatuh ke dalam got!. Dan penonton tertawa lebih keras.

Banyak cara merendahkan diri untuk melucu. Bagi yang memang sudah bertampang khas, bisa melakukan seperti yang dilakukan Joned. Pelawak di acara Obrolan Angkring TVRI Yogyakarta. Dia mengaku gondrong, tapi bukan rambutnya. Wong rambutnya jelas-jelas cepak. “Lha ini apa kalau bukan gondrong,” ujar dia sambil menunjuk giginya yang maju alias mrongos. Bagi yang berpenampilan normal-normal saja, kita bisa menengok ke pelawak Srimulat yang sudah kondang. Tarzan. Langganan berperan sebagai raja atau pembesar lainnya, ia hobi memancing tawa dengan berpura-pura lupa kalau ia ningrat. Disuruh-suruh dan dimaki-maki pembantunya. Lamaaa, baru ia ingat dan ganti memaki. Merebut kembali singgasananya dari pantat anak buah tak tahu diri. Hal yang canggung bila dibawakan pelawak “daerah”.

Bertahun-tahun sebelumnya, jaman sepeda motor masih benda langka, dan saya belum ada di dunia, Dagelan Mataram yang digawangi almarhum Basiyo sudah fasih dengan teknik lelucon ini. Sampai-sampai ia pernah menyatakan bahwa ia tidak takut penggemarnya akan bosan, “Karena mereka toh akan datang untuk melihat wajah saya yang jelek”.

Walau sudah akrab dengan lawakan khas jawa ini dari kecil, saya baru sadar akan daya tariknya saat SMA. Saat kawan saya Anton menggunjingkan kawan saya lainnya, Itong. Menggunjingkan dalam arti baik tentunya. “Itong itu pinter bikin tertawa teman-temannya. Yang lain juga sih. Tapi Itong lain. Kalau umumnya kita bikin bahan tertawaan dengan menceritakan kebodohan dan kesialan teman lainnya, Itong itu bikin ketawa dengan menceritakan kebodohan dan kesialan diri sendiri. Dengan begitu dia tidak beresiko membuat orang lain tersinggung. Semua senang.” Saya tersadar pada saat itu. Dan mulai belajar memperolok diri sendiri, atau memberi celah teman untuk memperolok saya. Bukan hal yang mudah tentunya. Sampai sekarang masih sering saya temui bahwa saya membuat lelucon dengan melukai perasaan yang lain. Tapi saya bertekad terus belajar dan terus belajar untuk bisa tertawa tanpa membuat sakit siapa pun. Saya, orang lain, maupun mahkluk lainnya.

Saya dapati pula beberapa teman melakukan hal yang sama dengan saya dan Itong. Lebih pandai malah. Sampai-sampai yang lainnya mengira bahwa teman tersebut memang rendah dan tidak mampu membalas. Dan mulai bertingkah kebablasan dengan lebih berusaha merendahkan daripada membuat tawa bersama.

Tawa pantas diperjuangkan dengan beragam teknik dan gaya karena tawa adalah kebutuhan dasar tiap manusia. Caranya terserah kita. Namun yang patut diingat janganlah kebutuhan tawa kita penuhi dengan mengambil kebahagiaan orang lain. Karena itu berarti kita tidak akan bisa tertawa bersama. Dan tawa bersama adalah perayaan agung seluruh umat manusia.

di kamar, menulis sambil menahan kelopak mata yang terjatuh, 23 Juli 2010

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

4 Responses to Merendahkan Diri Menuai Tawa

  1. antondewantoro says:

    Rupanya kalau lawakan saya lebih ke lawakan orang daerah – Daerah Khusus Ibukota Jakarta. Maklumlah KTP saya sekarang DKI dan wajah saya mirip Nicholas Saputra. Menertawakan penderitaan orang lain juga keahlian saya seperti:
    – saat itonk jatuh dari atap NP saya spontan tertawa dan baru diam beberapa detik kemudian setelah sadar mungkin saja itonk terkena cedera serius.
    -saat SMP dikau terinjak-injak saat pramuka, saya (dan 70% lebih peserta upacara-pembelaan diri) , tertawa kencang dan baru berhenti saat sadar bahwa luka dalam di mukamu cukup parah.

    Tapi dengan berada di satu kutub sebenarnya mudah saja untuk mengubah gaya lawakan menjadi baik. Tinggal lakukan saja apa yang berlawanan dengan kebiasaan saya selama ini. Karena saya pun ingin turut merayakan tawa bersama yang tulus tanpa menyakiti.

  2. Asep 'Gigi' Hendra Saputra says:

    coba jadi comic aja min.. stand up comedian,,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s