Yang Muda yang Berpolitik


Politik pertama yang saya kenal adalah pemilihan ketua kelas saat sekolah dasar. Tidak terlalu menarik menurut saya. Selalu saja siswa siswi populer yang terpilih. Percobaan selain itu selalu saja berakhir gagal. Dan saya tak suka. Tapi tak apa, toh mereka-mereka ini ujung-ujungnya ya cuma jadi suruhan guru.

Semasa SMP, usaha-usaha untuk memilih siswa siswi tak populer sebagai ketua kelas tampak lebih menjanjikan. Namun sayang hasil yang ada tak begitu bagus. Satu-satunya kemungkinan siswa siswi tak populer berhasil menduduki jabatan dalam kelas, hanyalah jika didukung sepenuhnya secara gila-gilaan oleh siswa atau siswi yang populer.

Namun ada saat dimana hal pilih memilih ini saya beri catatan khusus. Kejadian itu terjadi saat kami kelas dua, saat kelas memilih calon untuk maju dalam pemilihan pengurus OSIS. Pemilihan dilakukan dengan cara voting tertutup menggunakan nama yang ditulis di secarik kertas. Pemilihan dilakukan tanpa kejujuran, penuh rekayasa, dan semua itu diketahui oleh seluruh kelas untuk alasan bersenang-senang mengerjai teman. Mungkin ada seratus bahkan lebih surat suara di meja, padahal kelas kami hanya berisi 40 murid.

Saya tidak tahu tindakan yang kami lakukan itu demokratis atau tidak. Tidak demokratis karena pemilihan dilakukan dengan penuh kecurangan. Demokratis karena kecurangan itu didukung oleh mayoritas kelas. Demokrasi kami menghasilkan calon seorang siswa tidak populer yang akhirnya mengagetkan kami semua.Calon main-main kami ini melaju terus hingga akhirnya menduduki jabatan sekretaris OSIS. Wow!

Perpolitikan semasa SMU lebih seru lagi. Akhirnya tidak harus jadi populer untuk memiliki jabatan publik. Saya suka. Tapi yang menjadi buruk adalah segala urusan pemilihan ini dan itu jadi bertambah rumit. Rekayasa bukan lagi bertujuan untuk bersenang-senang. Memang ada kepentingan lebih “besar” yang “harus” diperjuangkan.

Benturan ini pertama saya kenal saat pemilihan ketua kegiatan ekstrakulikuler yang saya ikuti. Awalnya pemilihan dilakukan dengan voting terbuka. Seorang kawan memperoleh suara terbanyak namun dianulir oleh para senior. Alasannya adalah karena kawan kita ini memeluk agama minoritas, dan sudah jadi rahasia umum bahwa pemeluk agama minoritas akan mengalami kesulitan jika harus berurusan dalam lingkup sekolah kami. Tidak. Senior-senior kami tidak membenci golongan minoritas sehingga menganulir hasil voting. Senior kami memperhatikan kepentingan organisasi secara keseluruhan. Bukan keputusan yang menyenangkan, tapi harus saya akui itu keputusan bijak. Sekolah kamilah yang seharusnya dibenahi.

Benturan kedua terjadi saat pemilihan ketua OSIS. Salah satu calon berasal dari kelas saya. Ia populer tapi nakal. Sekubu dengan siswa, tak bersekutu dengan guru. Dan tak perlu ditutupi kalau sekolah tidak menghendaki ia menjadi ketua OSIS. Suatu hal yang sangat menjijikan kemudian bahwa politik kotor sudah diperkenalkan sedari SMU. Beberapa oknum guru terang-terangan menganjurkan untuk tidak memilih kawan kita ini di depan kelas saat pelajaran berlangsung. Tidak cuma itu, agen-agen “status quo OSIS” bergerilya memasuki ruang-ruang kelas satu. Mereka secara terang-terangan menganjurkan para siswa yang masih baru, belum paham situasi sekolah, belum kenal para calon, dan mudah dibujuk ini untuk tidak memilih kawan tersebut. Lengkap dengan daftar alasan berupa kejelekan-kejelekannya. Sampai saya lulus saya masih tak percaya hal itu. Saya percaya baru setelah adik angkatan saya, yang semasa itu duduk dikelas satu, bercerita pada saya.

Yang saya kenang menyenangkan dalam politik SMU adalah saat saya kelas dua. Seingat saya, dalam setahun itu minimal kami memiliki empat ketua kelas. Ada kudeta karena bosan. Ada pemilihan sekadar menghindari pelajaran sekolah (minta jatah jam pelajaran ke wali kelas). Dan para pemimpin kami beragam pula kepemimpinannya. Ada yang cuek bebek, ada yang gampang disuruh-suruh (sampai piket menghapus papan tulis dan mengisi tinta spidol selalu dikenakan kepadanya), ada pula yang tegas keras memperjuangkan jam kosong😀

Waktu kuliah saya semakin jauh dari hingar bingar politik. Saya tidak pernah sekalipun menggunakan hak suara saya, kecuali untuk memilih ketua angkatan di semester satu. Tapi tentu tidak semua mahasiswa seperti saya. Pernah suatu waktu seorang kawan yang seharusnya maju untuk presentasi tugas kuliah, malah pidato politik di depan kelas. Tidak tahunya ia sudah menjadi aktivis BEM dan mencalonkan diri jadi presiden apalah namanya. Tentu saja saya tidak memilihnya. Karena malas. Karena tidak peduli. Dan untunglah saya tidak memilihnya.

Di suatu waktu, saat dosen kami meninggalkan kelas, saya mengambil (mencuri tepatnya) setumpuk kecil kertas stensil yang disediakan di depan kelas. Alasan saya waktu itu adalah karena kertas stensil enak untuk membuat sketsa dan untuk membeli harus satu rim utuh. Yang tidak saya duga adalah reaksi kawan-kawan saat melihat kelakuan saya. Bukannya melarang, mereka malah berhamburan menjarah kertas yang masih ada. Tumpukan kertas yang tadinya tak kentara sudah diambil secara tidak semestinya, kini habis tak bersisa. Dan salah satu penjarah itu adalah kawan politikus kita di atas. Tidak saya lupakan kilatan rakus di matanya. Saya tak tahu untuk apa kertas itu baginya. Yang saya tahu saya tak akan pernah, takkan pernah memilih penjarah seperti itu dalam pemilihan politik apapun.

Ingatan lain adalah saat gencar-gencarnya pemberitaan anggota DPR kita membolos sidang. Mahasiswa-mahasiswa dari BEM ini dan itu rajin mendemo mereka. Waktu itu adalah bulan puasa. Menjelang lebaran. Universitas hanya memberi libur seminggu. Mahasiswa banyak yang protes. Alasan yang dipakai adalah lama perjalanan pulang pergi mahasiswa yang berasal dari pulau-pulau ujung Indonesia. Seminggu tidak cukup untuk mengakomodir kebutuhan mudik mereka. Di papan pengumuman saya menemukan selebaran dari BEM Fakultas ditempel. Selebaran tersebut adalah ajakan membolos bersama! Ahahaha…Sebagai seorang pembolos saya menganggap tindakan mereka ini pengecut. Kalau mau membolos ya membolos sajalah, buat apa cari teman berbagi kejahatan. Terlebih lagi, mahasiswa-mahasiswa penyeru bolos bersama ini juga pendemo anggota DPR yang membolos. Pembolos teriak bolos!

Ada pula kejadian lain yang cukup ramai. Mahasiswa menuntut ada perwakilan dari mereka ikut menjadi….ngggg…saya lupa namanya. Sejenis dewan di universitas yang berasal dari perwakilan-perwakilan dosen, rektor, dan sebagainya. Salah satu tugas mereka adalah merumuskan aturan dan kurikulum universitas. Nah, mahasiswa-mahasiswa tukang tuntut ini juga ingin ambil bagian dalam menentukan kebijaksanaan kampus.

Pada sore cerah sehabis kuliah, di anak tangga depan jurusan, saya dan beberapa kawan duduk bersama profesor jurusan sebelah, yang juga dosen kami. Ia mengeluhkan tuntutan mahasiswa di atas. “Universitas itu kan seperti tukang kayu, mahasiswa kayunya. Kalian-kalian ini kan kayu jati nomer satu (universitas kami adalah universitas favorit). Kalau ada kayu yang bagus, tukang kayu ini kan ingin membuat karya sebaik-baiknya. Kalau meja ya meja kuat yang penuh ukiran indah. Lha ini kok kayunya mau ikut-ikutan menentukan. Kayu mentah itukan belum tahu apa-apa. Masak nanti cuma minta dibikin jadi kusen jendela, daun pintu….kan sayang.” Saya yang sebelumnya mengganggap tuntutan mahasiswa tadi konyol, saat itu mulai yakin mereka benar-benar tolol.

Lalu ada soal demo gaji rektor. Ini sempat heboh di koran daerah. Rektor universitas akan dinaikkan gajinya. Dari yang (kalau nggak salah ingat angka) lima juta menjadi tigapuluh juta (kalau nggak salah ingat angka juga). Heboh!!! Protes langsung membahana! Akhirnya setelah berbagai tekanan dari mahasiswa dan masyarakat, kenaikan ini dibatalkan.

Nah, beruntunglah saya iseng ikut teman saya menemui dekan fakultas untuk suatu urusan. Dekan ini curhat. Mahasiswa tukang demo ini nggak mengerti esensi dari kenaikan gaji rektor tersebut. Selama ini, seorang rektor memiliki pemasukan dari macam-macam hal. Dari tunjangan-tunjangan bahkan tanda tangan. Tiap membubuhkan tanda tangan, seorang rektor akan mendapat bayaran. Istilahnya adalah uang tanda tangan. Dan dari segala macam ini, pendapatan rektor sangat tinggi. Melebihi tigapuluh juta tadi. Inilah yang mau ditertibkan. Segala macam uang aneh-aneh itu dihapuskan, sebagai kompensasi gajinya dinaikkan. “Walah, mahasiswa-mahasiswa sontoloyo asal demo!,” pikir saya.

Lain lagi tentang uang SPP mahasiswa baru. Berhubung subsidi negara akan dicabut dari universitas kami, kampus akan menaikkan uang SPP secara signifikan. Uang SPP kami memang sedemikian murah, apalagi untuk para mahasiswa lama. Demo lagi. Ramai lagi. Yang lucu adalah, universitas akhirnya mengalah. SPP cuma naik sedikit, tapi jadi ada uang SKS. Selain SPP, mahasiswa juga harus membayar tiap SKS yang mereka ambil. Sama saja. Bahkan jatuhnya bisa lebih banyak dari SPP mahal tadi, dan jelas-jelas merugikan mahasiswa pintar tapi miskin. Yang mampu mengambil banyak SKS dalam tiap semester.

Herannya, setelah kebijakan baru ini diumumkan, mahasiswa tukang demo sudah nggak teriak-teriak lantang lagi. Mungkin sudah merasa menang. Tuntutannya dipenuhi. Walau sebenarnya secara esensi perjuangan mereka kalah. Mungkin mereka memang cuma ingin demo. Masih dipenuhi euforia penggulingan orde baru. Entahlah.

Satu lagi. Tentang pelajaran pentingnya satu suara saja. Kawan saya mencalonkan diri menjadi ketua mahasiswa jurusan. Sebenarnya saya mendukungnya. Tapi gara-gara malas antre untuk mencoblos, maka melayanglah suara saya. Nggak tahunya perolehan suara kawan saya ini sama dengan saingannya. Dan tidak tahu mekanismenya bagaimana, terjadi kesepakatan soal pembagian kekuasaan. Kursi ketua diberikan ke “bukan teman saya”. Dan di bawah kepemimpinan ketua baru ini, kami para mahasiswa pecinta senang-senang menerima perlakuan yang tak menyenangkan. Tempat kami biasa main kartu bersama digusur dengan cara menyakitkan. Semua kartu kami hilang. Kalau beli, menghilang lagi. Ya, kami memang biasa bermain di ruang keluarga mahasiswa jurusan. Ketawa-ketiwi kami yang biasa mengganggu kelas dan ruang dosen di seberang dinding kini menghilang. Hmm, saya tak tahu apa yang terjadi kalau saya menggunakan suara saya. Mungkin lebih baik, mungkin juga lebih buruk.

Walau sudah menerima pelajaran tentang pentingnya satu suara tersebut, sampai sekarang saya masih perjaka dalam soal pemilihan umum. Belum pernah sekalipun saya memilih anggota DPR, DPRD, atau Presiden. Saya memang nggak suka urusan politik. Politik rumah tangga, politik kantor, atau politik negara. Kalau saya suka pemilihan ketua kelas, itu semata cuma buat senang-senang. Karena tidak ada konsekuensi yang berdampak pada kelangsungan hidup saya, jadi politik semacam ini aman buat main-main.

Saya juga tidak percaya kalau saya menggunakan hak suara saya (dan suara saya yang akhirnya terpilih) maka otomatis kehidupan saya jadi lebih baik. Saya tak percaya demokrasi adalah sistem terbaik dalam segala kondisi. Saya tak percaya suara rakyat suara Tuhan. Saya tak percaya suara terbanyak adalah kebenaran. Bahkan saya tak percaya orang yang saya pilih mewakili saya akan benar-benar mampu mewakili saya. Sepandai dan sebaik apapun orang tersebut.

Tapi bukankah lebih baik memilih yang terbaik diantara yang buruk? Oh, saya sependapat dengan itu. Cuma masalahnya saya tidak tahu siapa yang baik, siapa yang buruk, apalagi yang terbaik diantara yang buruk. Dan kalau masih ada yang memaksa saya memilih maka saya keluarkan alasan sejati saya untuk tetap perjaka golput sampai sekarang.

Daripada ke tempat pemilihan untuk melayani ego manusia akan kekuasaan, saya lebih suka bersantai di depan televisi menonton Spongebob Squarepant. Saya bukan kampanye mengajak pembaca semua menjadi golput seperti saya lho. Saya sadar kok tidak semua orang suka Spongebob.

Oh, namun saya berniat menggunakan hak suara kalau memang akan ada referendum untuk menentukan keistimewaan Daerah Istimewa Yogyakarta. Pilihan saya tentu penetapan bukan pemilihan. Feodal? Tak masalah. Saya jauh lebih percaya “tahta untuk rakyat” raja saya Sri Sultan Hamengkubuwono X daripada demokrasi ala Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia.

Oktober 2010, di kamar

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

10 Responses to Yang Muda yang Berpolitik

  1. kudha says:

    hm hm hmmmm…

  2. kosa says:

    capek bacanya…. tapi toh dibaca sampai selesai.

    tulis terus kur!

  3. Timbul says:

    Bagus bagus ^_^ *Walau sbenernya ga rela memuji.

  4. antondewantoro says:

    Saya iri dengan kekuatan ingatanmu dan kemampuan untuk mengungkapnya kembali dengan runtut.

    Apa yang dimaksud dengan politik di sini rupanya lebih ke arah demokrasi. Saya percaya demokrasi itu baik, untuk tingkat pemilihan kades, skala kecil. Untuk skala besar demokrasi berarti pemborosan, ketidak-tertiban, dan kesia-siaan. Itulah mengapa kita lihat perbedaan dari kemajuan yang dicapai Cina (full tirani) dan India (katanya sih demokrasi). Indonesia, seperti biasa…non blok alias bingung.

    Untuk DIY saya setuju tetap kesultanan. Walikota, bupati, dan camat pun sebaiknya ditunjuk oleh keraton. Lurah dan kades boleh lah pakai demokrasi-demokrasian.

    Sorry mungkin saya kuno, tapi memang sedang muak juga dengan demokrasi tidak jelas. Atau barangkali karena sudah kebanyakan minum teh Cina dan kue bulan sehingga pikiran agak bergeser.

  5. Tobias says:

    Wah..cerita-cerita kamu tentang kuliah membawa ingatan saya kembali ke jurusan tercinta..hahaa.. Btw, waktu pada ngambil kertas stensil itu, saya ada disana nggak ya?😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s