Pondok Cinta


Pagi ini saat bangun, sebungkus nasi sudah tersedia di meja dekat dipan. Lengkap dengan beberapa gelas air minum kemasan dan seteko kecil teh rosella. Saya nggak berani menyentuhnya walau sebenarnya yakin kalau semua itu memang untuk saya. Buat siapa lagi coba, kalau penghuni kamar tamu itu hanya saya.

Keluar kamar saya temui sandal saya masih menghilang. Saya putuskan ke kamar mandi telanjang kaki. Di pelataran samping kamar mandi itu saya ditegur seorang ibu-ibu, “Kok nggak pakai sandal?” Saya tergagap bingung mau jawab apa, akhirnya saya jawab jujur saja. “Masih menghilang Bu.”

Begitu saya keluar dari kamar mandi, pemuda yang tadi duduk-duduk bersama ibu tadi bergegas menghampiri saya sambil menyorongkan sandal jepitnya.

“Ini pakai ini saja.”

“Nggak usah. Nggak apa.”

“Pakai ini saja nggak apa. Ini milik saya kok.”

“Nanti mbalikinnya gimana?”

“Sudah, nanti taruh sana saja.”

Sampai di kamar, seorang pemuda yang saya kenal kemarin, yang saya tahu tidak berwenang akan keberadaan saya, mempersilakan saya makan. Tak lama, pemuda itu masuk lagi.

“Sandalnya hilang lagi ya Mas?”

“Ah, nanti kan muncul lagi.”

Sandal hilang itu memang salah saya. Pertama menghilang, saya sudah diperingatkan agar selalu menyimpannya di kamar jika tidak terpakai. Tapi karena malam tadi sedikit terburu plus malas, saya menggeletakkannya saja. Di depan kamar bersama beberapa sandal lain. Wajarlah kalau kemudian menghilang. Sandal saya sandal jepit kamar mandi. Sandal “milik semua orang.”

Seorang kenalan baru yang lain muncul. Melihat saya sedang makan, dengan tampang sumringah dia bercerita, “Naaah, itu yang namanya nasi boranan. Jadi makanan khas di Lamongan itu bukan soto saja. Ada juga nasi boranan.” Sebentar saja ia masuk, sebentar ia sudah keluar. Tampaknya hanya ingin menerangkan apa yang sedang saya makan.

Sebentar kemudian ada yang tergopoh-gopoh membawa dua pasang sandal yang mirip sandal saya. “Sandalnya yang mana ya Mas?”

Pagi ini adalah pagi kedua saya di Desa Turi, Lamongan. Tepatnya di Pondok Turi, Pesantren Yayasan SPMAA. Sumber Pendidikan Mental Agama Allah. Pondok yang menampung siapa saja. Dari saya yang  sekadar bertamu numpang lewat numpang hidup, anak bermasalah buangan polisi, bayi berumur dua hari yang tak dikehendaki, orang gila kiriman dinas sosial, sampai orang jompo yang menunggu sisa hari. Bahkan saat saya menulis ini, dari corong masjid dua orang suster memperkenalkan diri. Mereka hendak mondok selama dua minggu. Belajar ilmu pekerti yang melimpah ruah di pondokan ini.

Semua bahan diskusi yang saya persiapkan sebelum berangkat, mentah semua. Lidah saya kelu. Saya tak bisa bicara banyak di hadapan Gus Khosyi’in, direktur pesantren ini. Untuk apa membicarakan wajah Islam kalau mereka tidak mengaku yang paling benar. Bagaimana memperdebatkan Al Quran kalau tidak satu pun ayat di kutip di hadapan saya. Mengapa membicarakan kasih sesama manusia kalau itu semua telah terhampar di depan mata.

Pondok ini pantang menolak siapa saja yang datang. Semua santri tidak dipungut biaya apapun berapapun. Buat hidup buat belajar. Padahal untuk makan saja, dibutuhkan lebih dari dua ton beras tiap bulannya. Mereka memiliki sekolah gratis yang terbuka untuk siapa saja. Dari yang sekadar bodoh, sampai yang mengalami gangguan mental sosial. Dari Pendidikan Anak Usia Dini sampai Madrasah setingkat SMA.

Pondok ini memiliki tambak, yang ikannya tidak melimpah karena sering dipancing santri. Sawah yang tidak menghasilkan maksimal karena digunakan untuk praktek belajar. Lahan kecil tempat santri belajar berkebun. Ayam-ayam petelur untuk dikonsumsi sendiri. Dan para santrinya juga diwajibkan memelihara seekor kambing. Satu orang satu. Yang nggak sanggup beli, dibelikan.

Santri yang sudah selesai belajar tapi ingin tetap tinggal dipersilakan. Yang sudah bekeluarga dibangunkan rumah. Sederhana memang. Cuma kayu. Tapi sama seperti rumah para Gus yang tampak asri namun reyot.

Dari mana dana untuk semua itu? Bagaimana mereka melakukannya? Tak ada donatur tetap.

Selain mandiri, mereka juga membantu keluar. Jembatan desa didirikan. Jalan dibangun. Kalau ada bencana di belahan Indonesia lain mereka datang membantu. Dari tanah longsor sampai tsunami di Aceh. Salah satu Gus sekarang berada di Wasior, kota di Papua yang baru saja habis disapu banjir badang. Survey bantuan apa yang bisa diberikan.

Butuh waktu lebih dari satu perenungan untuk sedikit memahami. Mereka mandiri bukan karena memiliki lahan luas atau pandai berdagang. Mereka mandiri karena teladan berani miskin demi kesejahteraan masyarakat. Teladan dari Bapak Muchtar. Pendiri Pesantren ini, yang memilih dipanggil Bapak Guru dan menolak dipanggil Kyai. Mereka mandiri karena kasih sayang murni meninggalkan ego pribadi.

Kalau agama didefinisikan bagaimana kita memperlakukan orang lain, maka agama saya tidak ada apa-apanya. Separuhnya tidak. Sepersepuluhnya tidak. Secuilnya pun tidak.

Pondok Turi Lamongan, 15 Oktober 2010. Pagi hari sambil mendengar pengajian.

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

10 Responses to Pondok Cinta

  1. GA9 says:

    koreksi untuk kepanjangan dari SPMAA. yang benar adalah Sumber Pendidikan Mental Agama Allah. terimakasih

  2. Anton says:

    jadi ke Lamongan to?
    senangnya bisa punya pengalaman seperti itu

  3. Timbul says:

    Bagus bagus ^-^

  4. wanti says:

    ya allah trnyata msh bnyak orang” yg sngat prduli dn baik hati,,,wlaupun mereka d dlm kondisi yg tak berlimpah,,,,,,,semoga allah sllu mlindungi mereka smua amin

  5. yuradita says:

    Luar biasa banget Mas Kur tulisannya. saya baru tahu ada tempat seperti itu🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s