Menjadi Tua


Dari pintu kamar yang terbuka saya melihat lelaki jompo itu berjalan tertatih-tatih. Terpeleset sedikit, badannya goyang. Seperti bisa jatuh kapan saja. Semua penghuni pondok pesantren di mana saya bertamu sedang menjalankan sholat isyak. Tinggal saya yang termangu harus bertindak apa.

Saya beranikan diri mendekat. Paling tidak kalau jatuh saya akan sempat menangkapnya. Ia memakai baju putih terbalik. Kancingnya ada di punggung. Sekilas mengingatkan saya akan pasien rumah sakit gila. Bingung sebentar, saya paksakan diri bertanya.

“Mau kemana Pak?”

“Cari air. Mau cuci tangan.”

Saya tuntun dia ke tempat wudhu, pas kebetulan sama dengan arah ia berjalan tadi. Saya pegang tangannya. Saya ulurkan ke arah keran. Ia pegang keran, tapi malah berjalan maju ke pojok. Saya mulai bingung. Saya putar kerannya agar ia bisa merasakan air mengalir. Tapi ia tetap menatih diri ke pojok. Loh! Kok malah mengangkat celana ?!?

Kencinglah ia di tempat wudhu. Dan saya yang menuntunnya ke sana. Saya menoleh panik ke arah masjid, tempat orang-orang sedang sholat. Apa yang harus saya lakukan?

Saya teringat kedua orang tua saya di rumah.

Beberapa waktu sebelum pak tua ini menyelesaikan hajatnya, beberapa orang sudah sadar akan kepanikan saya. Berlari ke arah kami sambil berteriak dalam bisikan, “Najis? Najis?”

Saya mengangguk lega. Bantuan tiba. Tangan dan kaki lelaki tua yang belum sehari tiba di panti jompo tersebut dibersihkan dari cipratan air kencing. Dituntun masuk kembali ke kamar. Digantikan celananya.

Saya teringat kedua orang tua saya.

Kelak mereka akan seperti lelaki tua tadi. Ringkih dan pikun. Mungkin kencing berak sembarangan. Kalau sial, mungkin saya harus mengorek kotoran dari anus mereka. Mungkin beberapa hari saja. Mungkin bertahun-tahun. Mungkin saya menyewa perawat. Mungkin saya tidak peduli dan membuang mereka ke panti jompo.

Saya teringat wejangan ibu saya. Bahwa pada saatnya mereka akan kembali seperti anak kecil. Rewel. Mau menang sendiri. Ngomong nglantur dan harus dilayani dalam segala hal. Ibu saya berpesan agar saya tidak ragu mengingatkan kalau ia dan ayah mulai seperti itu. Ibu saya juga berpesan bahwa saya harus sabar. Memaklumi keadaan mereka.

Saya teringat betapa seringnya saya nggak sabar mendengarkan ibu bercerita. Cerita  yang mulai terus mengulang. Meracau kesana kemari.

Saya teringat ketika saya marah pada ibu saya, gara-gara saya tak tahan kebebalannya saat saya mengajarinya mengirim sms.

Ketika selesai mengingat orang tua saya, saya teringat diri saya sendiri. Kelak saya akan seperti lelaki tua tadi. Ringkih dan pikun. Mungkin kencing berak sembarangan. Kalau sial, saya harus merelakan orang lain mengorek kotoran dari anus saya. Mungkin beberapa hari saja. Mungkin bertahun-tahun. Mungkin ada yang bersedia merawat saya. Mungkin dibuang ke panti jompo. Mungkin tidak ada yang peduli, dan saya meninggal kesepian sendirian di kamar yang berbau pesing dan penuh kotoran.

Pondok Turi Lamongan, 26 Oktober 2010. Di aula di atas masjid Ruhullah.

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

7 Responses to Menjadi Tua

  1. vennie says:

    Mas kurnia,perkenalkan nama saya Vennie. Saya mahasiswi jurusan komunikasi. Saya sangat tertarik dengan postingan ini, postingan ini menarik.Dengan kalimat yang sama mas mampu mengubah sudut pandang cerita sehingga terasa reflektif.. Jika saya perhatikan mas hanya mengubah kata ganti orangnya saja, “mereka” menjadi “saya”. Namun seketika, itu menjadi suatu evaluasi bagi diri..bagaimana bila itu terjadi dengan diri kita. Two thumbs up! =D ada tips2 khusus ga mas dalam menulis postingan seperti ini? saya juga lagi belajar aktif untuk menulis di dalam blog jadi memang suka juga mencari inspirasi melalui tulisan blogger..mohon bantuannya mas. hehe..thx..

    • Hai Vennie. Salam kenal. Terima kasih sudah menyukai postingan ini dan menceritakannya. Saya sudah menyempatkan diri berkunjung ke blog anda dan saya tidak tahu apalagi yang harus saya tipskan. Postingan-postingan yang ada di blog anda menarik dan runtut. Enak dibaca.

      Proses menulis saya juga sederhana. Maklum tak pernah belajar menulis secara khusus. Pertama saya merumuskan apa yang ingin saya sampaikan, mengumpulkan materi yang ada, lalu mencari alur yang tepat untuk menceritakannya. Setelah selesai saya diamkan beberapa waktu. Saya baca kembali. Kata-kata dan kalimat yang tidak enak saya tulis ulang. Cuma begitu. Tidak ada yang spesial.

  2. Timbul says:

    Simbah kok nuntun simbah….

  3. Anton says:

    anda juga sudah mulai pikun, gambar tidak nyambung dengan isi cerita.
    mudah2an masih lama sampai tiba saatnya orang harus mengorek kotoran itu

    • Huehehehe….bener komentarmu. Saya memaksakan gambar karena nggak punya gambar lain. Sebenarnya agak nyambung dikit sih, foto itu adalah foto pintu bangsal Panti Wredha Mental Kasih bagian wanita. Tapi memang, karena berdiri sendiri foto itu nggak mewakili apapun. Terima kasih sudah mengingatkan kepikunan saya : )

  4. Pingback: Cuka Sudah Tua, Majikan Sabar Disayang Tuhan | Kolom Kurnia

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s