Emas dari Trinil


Trinil, seorang wanita muda, diserahkan masyarakat pada Pondok Turi. Pondok Turi memang memiliki panti asuhan, pesantren, dan panti jompo. Tapi sayangnya pondok ini tidak memiliki layanan psikiatri apalagi rumah sakit jiwa. Urusan gila dan sakit ingatan ada diluar kompetensi.

Gus Hafidz menjamu saya di serambi rumahnya yang terbuat dari kayu bekas, dinding gedhek (anyaman bambu), dan atap asbes. Kami lesehan di lantai yang terbuat dari lembaran batang bambu. Ada teh manis, es kelapa muda, ketela goreng, dan agar-agar. Disinilah saya mendengar kisah tentang Trinil dalam versi terlengkap.

Trinil, ditemukan tanpa identitas. Tanpa ingatan. Tak bisa apa-apa diam saja. Berak buang air di tempat. Karena ia ditemukan di hutan Trinil, Purwodadi, maka ia dinamai Trinil. Kondisi saat ditemukan mengindikasikan kalau ia mengalami kekerasan seksual. Entah KDRT atau pemerkosaan.

Saya hanya sempat melihatnya sekali. Beberapa hari lalu. Saat ia disisiri lalu dipakaikan jilbab untuk menutup aurat. Ia diam saja. Duduk mematung. Pandangannya kosong.

Pengurus menggelar rapat saat Trinil diserahkan. Rapat memutuskan tidak menerima Trinil dengan alasan tidak memiliki kemampuan untuk  mengurus pengidap penyakit jiwa. Pondok Turi bukanlah tempat penampungan pasien sakit ingatan. Saat itulah Gus Hafidz menghadap Bapak Guru Muchtar pendiri Pondok Turi. Memberi laporan akan hasil keputusan rapat pengurus.

“Boleh, boleh saja kalian menolak Trinil. Tapi sebelumnya jawab pertanyaan saya terlebih dahulu,” ujar Bapak Guru.

“Kalau ada orang yang membawa emas sebesar Trinil, apakah kalian juga akan menolak emas tersebut karena pondok ini bukanlah gudang emas? Kalau Trinil itu anggota keluarga kalian sendiri, apakah kalian juga akan menolaknya? Ataukah mencari jalan agar bisa dirawat disini? Kalau kalian mengaku beriman, mengapa tidak mampu menyayangi sesama manusia seperti menyayangi diri sendiri? Walaupun gila, bukankah Trinil juga manusia? Apakah emas lebih berharga daripada manusia?”

Semut-semut hitam mengerumuni agar-agar di piring. Gus Hafidz mengetuk-ngetuk piring tersebut sambil berseru, “Hus hus, pergi pergi! Ini jatah kami dulu. Kalian kami beri nanti.” Setelah semut-semut pergi, ia mengambil sepotong dan memakannya. Lalu mempersilahkan saya untuk turut mengambil.

Duh Kanjeng Gusti Pangeran! Allah ingkang Maha Kuwaos! Berapa kali saya menolak teman yang hendak berkunjung hanya karena saya ingin tidur siang!?!

Pondok Turi, 29 Oktober 2010. Di kamar tamu, rasa manis hasil jamuan Gus Hafidz masih di mulut.

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

4 Responses to Emas dari Trinil

  1. Anton says:

    Duh Kanjeng Gusti Pangeran! Allah ingkang Maha Kuwaos! Berapa kali saya menolak teman yang hendak berkunjung hanya karena saya ingin tidur siang!?!
    Fungsi dan kapasitas tiap orang beda2, orang yang tega dan kurang peduli seperti saya perlu ada agar orang yang baik tampak baik. Malam perlu ada untuk membedakannya dengan siang. Begitulah bumi berputar

  2. Timbul says:

    Itu foto Gus Hafidz nya kah?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s