Hal Penghiburan


Pondok Turi menerima sumbangan dalam bentuk apa saja. Dalam kuantitas dan kualitas bagaimanapun. “Jangankan beras satu truk, sampeyan bawa pisang satu biji saja kami bisa menyampaikannya pada yang membutuhkan,” terang Gus Adhim pada saya. “Kalaupun nggak punya apa-apa, sampeyan bisa mijitin orang-orang jompo di panti wredha. Itu sudah sangat membantu. Pokoknya kalau berniat membantu, pasti ada yang bisa diberikan.”

Cito, kawan saya, bercerita kalau baru saja mencoba melamar ke temannya sebagai relawan bencana Gunung Merapi. Temannya tadi menjawab, “Kalau nggak bisa apa-apa nanti malah mengganggu.” Lemaslah seluruh badan Cito.

Tadi pagi di tangga depan kamar tamu, Gus Na’im bercerita tentang pengalamannya sebagai relawan dari bencana satu ke bencana lainnya. “Nggak usah ngasih barang macam-macam, kita cuma mendengarkan saja mereka sudah senang sekali. Mereka ini kan kesepian. Anak istrinya meninggal. Harta bendanya musnah. Butuh teman curhat. Saya ini pernah cuma duduk diam mendengarkan sampai dua jam. Nggak ngapa-ngapain. Setelah selesai mereka sudah terima kasih terima kasih terus. Jadi cuma modal kuping saja ini lho, kita sudah bisa meringankan penderitaan orang.”

Cerita Gus Na’im di atas menerangkan misteri yang dibawa Fauzan pada saya. Fauzan ini santri kecil dari Lombok yang mondok di Pondok Turi.

Entah dari mana, saat duduk-duduk berdua, Fauzan bercerita tentang dirinya. Di akhir cerita ia berkata, “Kadang saya tidak betah di sini. Tapi sekarang saya senang karena ada Mas yang menghibur saya.”

Buseeett!!! Kapan saya menghibur? Jangankan membacakan dongeng atau mengajak bermain, ini adalah kali pertama saya dan Fauzan bertukar kalimat. Tapi saya diam saja dalam keheranan tersebut.

Kalau diingat-ingat, interaksi saya dan Fauzan belum berlangsung lama. Interaksi pertama adalah interaksi standar yang terjadi antara saya dan penghuni pondok ini, saling bertukar senyum saat berpapasan. Selanjutnya, Fauzan sering memanggil saya, “Mas!” Saya lalu cuma menoleh dan melempar senyum. Ia ikut tersenyum. Sudah begitu saja. Dan kami pun saling berlalu.

Jangan-jangan penghiburan yang ia dapatkan dari saya adalah senyum tadi. Kalau tidak dari mana lagi? Senyum memang bahasa persahabatan tiap makhluk, tapi saya tak menyangka senyum bisa semudah itu digunakan. Sama tak menyangkanya kuping bisa menjadi senjata hebat untuk  meringankan beban korban bencana.

Lalu apakah kita masih punya tangan untuk memijit? Apakah telinga kita berfungsi? Apakah mulut kita bisa tersenyum? Alasan apalagi untuk tidak memberi penghiburan bagi sesama?

4 November 2010, Pondok Turi Lamongan – di kamar tamu yang penuh nyamuk.

 

nb: tapi tetap lebih susah daripada sekadar menuliskannya (8November 2010)

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

5 Responses to Hal Penghiburan

  1. Timbul says:

    Wuih. Keren banget! Jempol sepuluh!

  2. antondewantoro says:

    aku mau nyumbang kuping juga ah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s