Beladiri Tertinggi


Seorang Jepang kecil kurus bernama Morihei Ueshiba pernah mengajarkan kepada murid-muridnya sebuah bela diri tertinggi. Bela diri tertinggi itu dapat dipraktekkan oleh semua orang, mulai balita sampai manula. Mulai yang sehat jasmani sampai cacat permanen. Bela diri tersebut adalah, “Tersenyum dan memberi salam.”

Huehe, terdengar seperti bela diri kaum lemah dan pengecut. Tapi jangan salah, Morihei Ueshiba ini seorang pemain pedang. Master Jujitsu. Menimba ilmu dari satu guru ke guru lainnya, dari satu dojo ke dojo lainnya. Morihei Ueshiba atau yang lebih dikenal dengan O-Sensei adalah pendiri aliran bela diri Aikido. Aliran bela diri yang didirikan untuk kedamaian dunia. Bela diri yang bertujuan bukan saja menjamin keselamatan praktisinya, tapi juga keselamatan semua makhluk Tuhan. Keselamatan semua itu termasuk juga orang-orang yang ingin memukul anda atau saya.

Loh, bagaimana caranya? Bukannya yang namanya bela diri itu pukul memukul nendang menendang, kok bisa-bisanya menjaga keselamatan? Bukannya nanti pasti ada yang memar, atau paling tidak merasa sakit. Minimal merasa malu karena kalah.

Aikido menekankan pada harmonisasi. Tidak mengenal penyerang maupun yang diserang. Oleh karenanya tidak mengenal pemenang dan pecundang.

Jadi walaupun latihannya gedebak gedebuk di matras, apabila di jalan ada seseorang yang berteriak, “Ayo maju kalau berani!”, seorang praktisi Aikido sejati malah akan berkata, “Saya nggak berani.” Apabila dihadang seseorang yang meminta dompetnya, sebisa mungkin ia akan mundur. Jika ditodong dengan pisau, ia akan mundur lebih jauh. Mungkin kabur. Jika ditodong dengan pistol, ia akan menyerahkan dompetnya. Yang ditodong dan yang menodong sama-sama selamat.

Welhadalah, lalu apa gunanya bela diri kalau ujung-ujungnya menyerahkan dompet. Apa gunanya juga pandai berenang saat menghadapi  tsunami.

Semua yang diatas itu kira-kira saja, dari yang saya baca dan saya dengar. Kalau ada aikidowan yang merasa tersinggung silakan marah. Patahkan tangan saya kalau perlu. Biar tidak bisa mengetik lagi. Yang jelas, dengan mengetahui ajaran O-Sensei, saya jadi percaya dengan penyelesaian masalah tanpa konflik. Kalaupun sampai ada konflik, saya percaya bahwa itu bisa diselesaikan tanpa menyakiti siapapun.

Prakteknya tentu tak terbatas di jalan. Apalagi mengingat saya belum pernah terlibat tawuran atau ditodong. Paling banyak dan paling terasa adalah saat terlibat adu mulut. Dahulu saya paling suka bersilat lidah. Kata-kata saya tajam. Bahasa saya menusuk. Saat lawan bicara tak berkutik, tak mampu menjawab, berputar-putar tak jelas, atau berpindah topik bahasan, saya merasa jagoan. Pendekar mulut nomer satu. Tak peduli tajamnya lidah saya sudah menggores menikam hati orang lain. Saya seperti Bruce Lee yang mendongak saat lawan babak belur terpekur di bawah kaki.

Kini saat saya berusaha menghindari konflik dan menjaga keharmonisan, saya menemukan sesuatu yang tak pernah saya lihat sebelumnya. Baru beberapa kalimat dalam adu jurus berkata-kata, sering saya sudah membisu. Habis kata-kata saya. Yang muncul di kepala hanyalah kata-kata yang berpotensi tinggi mengundang permusuhan. Tentu saja saya berusaha menahannya agar tak keluar. Akhirnya pembelaan yang mampu dilakukan oleh mulut saya hanyalah tersenyum.

Jangan-jangan itu juga yang dilakukan oleh lawan-lawan bicara saya terdahulu. Karena menahan diri agar tak melukai hati saya, maka mereka terdiam. Dan saya membalas dengan serangan yang semakin gencar. Kemudian saya merasa menang. Tapi percuma karena kemenangan saya cuma di mulut. Percuma karena kata-kata saya hanya selesai di kulit, tidak sampai di hati lawan bicara. Saya seperti anak kecil  memukul-mukul orang dewasa yang tak melawan. Saya bangga karena tak ada pukulan yang mengenai saya. Saya bangga karena pukulan saya masuk semua. Padahal apa yang saya lakukan tidak menimbulkan efek apa-apa bagi lawan. Bahkan mungkin dianggap lawan pun saya tidak. Jangan-jangan saya merasa menang karena orang-orang mengasihani saya. Jangan-jangan saya merasa berbangga karena hati saya sempit dan rapuh.

Mungkin. Mungkin karena itulah sebelum mampu berbicara, memukul, apalagi menendang, seorang bayi belajar tersenyum terlebih dahulu.

Pondok Turi, 2 November 2010

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

5 Responses to Beladiri Tertinggi

  1. kudha says:

    mantebs ne isinya
    uhuiii…. latihan lagi kur…??

  2. antondewantoro says:

    Dunia ini tidak menarik lagi saat kita tidak mengenal pemenang atau pecundang.
    Dulu saya punya banyak kawan yang selalu membalas setiap ejekan yang saya lontarkan, sekarang mereka cenderung hanya tersenyum dan membalas ejekan saya dengan kata-kata diplomatis, beberapa malah mulai memanggil saya dengan kata “njenengan” atau minimal “sampeyan”.
    Sebagai orang yang hobi ejek-mengejek, saya amat sedih dengan kenyataan ini.
    Ibarat orang hobi ikan lalu ikan itu dimatikan begitu saja dengan diinjak. Nyesek

    • Wah kalau itu konteksnya lain ton.
      Kebahagiaan nyek-nyekan adalah bentuk keakraban tersendiri, harus dibedakan dengan urusan adu menang adu kuat. Nyek2an yang sehat, mau menang mau kalah sama-sama senang. Jadi bisa dibilang bahwa hakekatnya juga nggak ada menang kalah.
      Sampeyan ndak perlu takut nge-nyek saya, saya masih suka dan menikmati nyek2an. Kalau saya cuma senyum, itu berarti memang nggak bisa ngomong lagi. Bukannya menahan diri.

  3. Beladiri->membela diri->melindungi diri dari kejahatan

    senyum->menghindarkan diri dari kejahatan

    jadi pantaslah kalau senyum itu disebut beladiri tertinggi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s