Mukjizat Kebetulan


Alkisah Yesus dan Nabi Muhammad bermain golf. Mereka saling mengetahui bahwa lawannya mampu mengadakan mukjizat. Bisa jadi tanpa dipukul pun si bola sudah berada di lubang. Agar permainan tetap seru, maka mereka berdua sepakat untuk tidak menggunakan mukjizat dalam permainan.

Nabi Muhammad mendapat giliran pertama. “Bismillah!” Bola dipukul. Melayang tinggi di udara dan jatuh tepat ke tengah lubang. “Hole in one!” Nabi Muhammad girang tanpa lupa mengucap, “Alhamdullilah.”

Giliran Yesus. Diangkatnya tongkat tinggi-tinggi dan diayunkannya keras-keras. Twerrrr…..pukulan Yesus ternyata tidak pas. Melintir. Bola melayang jauh ke kanan. Nabi Muhammad senyam senyum yakin menang, sementara Yesus tenang-tenang.

Saat itu sebuah burung elang yang besar lewat. Menubruk bola tadi dan membuatnya berubah arah. Bola jatuh ke kolam. Tapi dipantulkan  punggung seekor kura-kura yang sedang berenang. Bola menggelinding pelan mendekat ke arah lubang. Nabi Muhammad berkeringat. Bola berhenti hanya sejari dari tepi lubang. Nabi Muhammad bernafas lega.

“Tunggu dulu,” ujar Yesus. Seekor bajing yang sedang berlari menyenggol bola itu hingga masuk ke dalam lubang. “Holy one!” Yesus melonjak senang.

“Ayolah, kenapa bermain-main. Kita kan sudah sepakat untuk tidak melakukan mukjizat!”

“Loh? Mukjizat apa? Tadi kan cuma kebetulan saja,”  jawab Yesus sambil cengar-cengir.

Saya pernah mengalami kecelakaan sewaktu masih SD. Lutut saya mengelupas parah sekali. Saat yang paling menyakitkan adalah saat luka itu mulai mengering. Muncul lapisan kaku akibat darah kering di permukaan. Jika lama tidak bergerak, lutut terasa perih sekali saat digerakkan. Maka saya menghindari duduk lama-lama. Sebentar duduk. Sebentar berdiri.

Menjelang hari Natal saya takut sekali. Karena misa natal itu misa yang lama. Saya harus duduk di bangku gereja dalam hitungan jam. Tak terbayangkan bagaimana sakitnya lutut nanti saat harus berdiri. Dan saya harus menghadapinya di tengah kerumunan orang. Bagai Kristus yang berdoa di Taman Getsemani meratap ketakutan sehari sebelum disalib, saya juga berdoa meratap ketakutan. Memohon kepada Tuhan agar meloloskan saya dari penderitaan kakunya luka kering di lutut.

Untuk alasan yang saya lupakan, saya tidak berangkat ke gereja bersama kakak seperti biasa. Sebagai ganti, saya pergi bersama ayah yang tidak pernah ke gereja. Biasanya pada misa hari raya, saya berangkat minimal satu jam sebelum acara dimulai. Memastikan diri mendapatkan tempat duduk. Maklum, hari raya adalah saat dimana orang yang tak pernah ke gereja pergi beribadah. Apalagi natal. Pasti meluber. Tapi tampaknya ayah saya tak tahu. Atau tak peduli. Kami masih di rumah saat limabelas menit menjelang misa dimulai.

Tak ayal kami tak dapat tempat duduk. Kami berdiri di sudut gereja. Dari awal datang sampai misa berakhir, saya terus memendam rasa jengkel pada ayah. Saya masih mengingat rasa jengkel  itu. Rasa jengkel yang sampai ke ubun-ubun. Seingat saya, sepanjang misa saya cemberut.

Ketika misa selesai kami beranjak pulang. Berjalan menuju pelataran parkir. Saat itu tiba-tiba saya menyadari lutut saya tak apa. Tak ada sakit mengerikan yang saya takutkan. Sakit itu tak mendera karena saya berdiri terus. Saya terbebas dari penderitaan bukan karena Tuhan membebaskan saya dari rasa sakit secara ajaib. Saya terbebas dari sakit karena kemalasan ayah untuk berangkat lebih awal. Dengan caraNya sendiri yang tak terbayangkan sebelumnya, Tuhan mengabulkan doa saya. Tuhan mengabulkan doa saya melalui kebetulan.

Seberapa sering kita mengharap mukjizat. Seberapa sering mukjizat itu tak datang. Lalu kita kecewa pada Tuhan. Lalu kita mengecewakan Tuhan.

Apakah pernah terpikir bahwa mukjizat itu sebenarnya sudah pernah mampir. Cuma kita melewatkannya karena tak tahu. Karena ia tidak hadir melalui sesuatu yang tampak agung. Akbar dan fenomenal. Karena ia hadir melalui orang-orang di dekat kita yang tampak biasa-biasa saja. Melalui hal-hal kecil sehari-hari. Yang karena saking biasanya kita lewatkan. Melalui serangkaian kebetulan yang tampak menjengkelkan.

Pondok Turi, Lamongan. 26 Oktober 2010, di kamar tamu yang penuh nyamuk.

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

8 Responses to Mukjizat Kebetulan

  1. Lutfi Retno Wahyudyanti says:

    Aku lebih percaya Tuhan ngabulin doa semua orang dengan caraNya. Yang kadar kita engga ngerti karena kurang bersyukur.

  2. kudha says:

    another thread yg muantebs
    benernya anda itu agamis atau gimana sih…?

  3. Johantri says:

    kurnianisme yud ^_^

  4. antondewantoro says:

    Tukar ayah sebentar yuk, ayahku terlalu gemar ke gereja. Mulai dari memetik alpukat, jual kalender, sampai mengambil komuni.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s