Para Pemburu Akherat


Semasa kecil saya ingin sekali mati sebagai seorang martir. Memang cobaan sebagai seorang martir itu teramat berat. Tapi cepat. Bagi saya, berat dan cepat lebih mudah dilalui daripada mudah tapi lama. Begitulah hitung-hitungan saya agar dapat masuk surga.

Tiap orang yang memburu pahala, gila kekayaan akhirat, dan tak sabar dimuliakan di surga, memiliki hitung-hitungannya sendiri-sendiri. Ada yang mengumpulkan dengan pelan sabar. Ada pula yang melakukan perburuan seperti serigala kelaparan. Nafsu akan pahala akhirat membutakan kemanusiaan. Membunuh dan memaksa orang lain memeluk keyakinannya, karena beranggapan yang dilakukannya membawa diri ke kemewahan surga. Malaikat sabar ditinggalkan. Setan serakah mereka undang.

Yang melakukan dengan pelan dan sabar merasa diri lebih elegan. Bersedekah dengan harapan diganjar harta akhirat. Membangunkan rumah orang miskin karena ingin memiliki istana di surga. Memberi pelayanan dengan pamrih agar dilayani para malaikat kelak. Berbuat kebaikan sekarang agar memperoleh keuntungan kemudian. Malaikat sabar mereka undang, tapi setan serakah tak mereka usir.

Baik yang cara instant atau cara sabar sama-sama melakukannya ala pedagang. Menimbang untung rugi. Susah sekarang, senang kemudian. Menuruti aturan hanya karena takut siksa neraka. Berbuat baik sekadar mengais janji surga.

Pohon tidak menjadi baik karena memiliki buah baik. Pohon tidak menjadi buruk karena menghasilkan buah yang buruk. Sebaliknya. Pohon menghasilkan buah yang baik karena ia memang pohon yang baik. Pohon menghasilkan buah buruk karena ia memang pohon yang buruk. Pohonlah yang menentukan baik buruknya buah. Hati manusialah yang menentukan baik buruknya perbuatan.

Maka ketika manusia mementingkan perbuatan daripada hati, munculah hal-hal yang menuruti kaidah tapi meninggalkan esensi kasih sesama. Tidak perlu jauh-jauh seekstrim naik haji saat tetangga kita tak punya uang untuk berobat. Dalam sehari-hari dapat kita saksikan hal-hal kecil yang nyaris tak tampak. Seperti teman yang rela membingungkan kawannya gara-gara tidak mau bilang ia puasa. Karena berpikir bahwa pahala lebih besar dapat ia raih jika berpuasa tanpa berkata ia puasa. Atau ajakan halus untuk masuk keyakinan tertentu. Walau ajakan tersebut didasarkan keinginan untuk menyelamatkan, untuk menikmati surga bersama, tapi tetap saja memunculkan rasa tidak nyaman. Lupa kalau karya yang dijalankan sebenarnya sudah sama. Sudah sejalan. Bajunya saja yang berbeda.

Saat itulah surga nyata yang berupa keharmonisan hidup manusia dirusak oleh nafsu mengejar pahala. Nafsu mengejar kemuliaan akhirat. Godaan bagi orang baik namun belum mampu mewaspadai setan serakah.

Ketika para pemburu akhirat ini merasa kebaikannya di dunia sudah cukup, maka muncullah keinginan untuk segera mengecap segala hasil jerih payah. Apalagi yang diharapkan kalau bukan segera menjemput kematian. Setan serakah pelan-pelan mendorong malaikat sabar. Sulit dikenali karena ia menyaru sewujud dengan malaikat.

Apa yang dirasakan tuan rumah jika tamunya tak sabar ingin segera pulang. Apa yang dipikirkan seorang atasan jika karyawannya tak sabar hendak pensiun. Allah adalah tuan rumah. Allah adalah atasan. Kita sebagai manusia adalah tamu yang cuma mampir minum. Kita adalah karyawan yang mengabdi. Kenapa terburu pulang. Kenapa terburu pensiun. Kenapa tidak menunggu dipersilakan. Kenapa tidak menunggu waktunya. Sudahlah, toh semua ada waktunya. Kenapa tidak mempergunakan waktu untuk menikmati minuman sembari ngobrol. Kenapa tidak berkonsentrasi pada pekerjaan selagi bisa. Kenapa tidak menghargai tuan rumah. Kenapa tidak mensyukuri tugas pekerjaan.

Selain itu saya penasaran dengan pola pikir pemburu akhirat ini untuk menumpuk kekayaan. Apakah mereka pernah membaca cara orang-orang terkaya dunia mendapatkan kekayaannya? Mereka selalu menekankan untuk memikirkan cita-cita pelayanan bukannya uang. Ketika pelayanan terbaik sudah diberikan maka uang mengalir dengan sendirinya. Seperti semboyan “Satu PC satu rumah” yang mengantarkan Bill Gates menjadi orang paling kaya di dunia. Atau keinginan bercerita J.K Rowling, pengarang Harry Potter, telah membuatnya menjadi penulis berpenghasilan paling besar. Lalu kenapa orang-orang yang memburu kekayaan akhirat ini malah lebih suka berhitung dibanding orang-orang yang kaya secara duniawi? Kenapa tidak tinggal melayani, melayani, dan cuma melayani saja?

Entahlah. Tiap orang memang punya cara berhitung masing-masing. Saya sendiri sudah meninggalkan hitung-hitungan itu. Berhadapan dengan integral dan diferensial saja saya sudah tak berkutik, apalagi harus berhadapan dengan hitung-hitungan akhirat yang pasti lebih rumit. Oh oh oh, tapi lihat betapa sombongnya saya. Betapa beraninya saya menulis semua ini, padahal dengan sesama kawan saja saya masih suka menghitung untung rugi.

25 Oktober 2010, Pondok Turi

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

3 Responses to Para Pemburu Akherat

  1. antondewantoro says:

    Konsep akhirat yang muncul bersama agama samawi (Yahudi, Kristen, dan Muslim) memunculkan para pemburu akhirat yang kalap. Agama asli tanah Jawa ini yaitu animisme dan dinamisme lebih berpusat pada dunia dan menurut saya lebih sesuai bagi saya untuk diyakini. Tapi kok saya takut dianggap aneh atau bahkan lebih takut lagi dianggap PKI kalau menyatakan diri tidak beragama (samawi). Sudahlah biar KTP ku Katolik saja, biar istriku bahagia juga memiliki suami seiman.

    • Sebenarnya nggak cuma ajaran asli tanah jawa yang lebih berpusat pada “kekinian”, ajaran para brahmana india, Budha, dan Tao juga demikian. Cuma karena memang ajaran2 tersebut bukan ajaran dakwah jadi kurang populer. Saya sendiri juga ber-KTP Katolik, mau pindah agama juga percuma nggak akan mengubah budi pekerti saya, malah nanti ngrepoti Pak RT dan Pak RW saja buat ngurus administrasi.

  2. Sebenarnya kalau terus mencari, anda akan mempunyai kesempatan lebih besar menemukan apa yang anda cari……….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s