Tentang Cita-Cita


Saya kecil benci pertanyaan, “Apakah cita-citamu?”. Kalau tidak menjawab diharuskan menjawab. Kalau menjawab berarti bohong karena sebenarnya saya tidak tahu. Sayangnya saya menemukan bahwa lebih mudah berbohong daripada menjawab tidak tahu. Maka muncullah cita-cita imajiner saya yang ngasal dan klise, jadi dokterlah, jadi pilotlah, jadi dokter hewanlah, jadi apalah.

Tidak bercita-cita ini terus terjadi saat saya masuk SD. Lulus ke SMP. Lalu SMA.

Di SMA saya semakin pusing, sebentar lagi sudah harus kuliah dan memilih jurusan. Sampai kelas dua SMA saya belum tahu ingin jadi apa. Tes psikologi yang saya harapkan dapat memecahkan persoalan ternyata memberi hasil yang tidak diinginkan. Menurut hasil tes itu, saya cocok masuk ke jurusan yang persis saya tuliskan pada kolom “jurusan yang anda inginkan”. Padahal saya hanya mengisi asal saja. Ini juga terjadi pada teman-teman saya. Sempat terpikir untuk berkonsultasi pada guru BP. Sayangnya kepercayaan saya kepada pihak sekolah yang gemar mencuci otak siswanya untuk menggantungkan hidup pada hasil Ujian Masuk Perguruan Tinggi Negeri telah runtuh sejak lama. Saya takut nanti malah disesatkan.

Saya bingung. Bahkan kebingungan ini saya bawa sampai bangku kuliah. Jadi wajarlah bila sampai sekarang ijazah sarjana saya belum pernah terpakai.

Bagi saya, berkeinginan untuk memiliki profesi tertentu merupakan hal absurd. Kita bisa saja gagal hanya karena hal sepele yang berupa takdir. Misalnya kita tidak bisa menjadi dokter karena buta warna, yang merupakan kondisi bawaan. Atau batal menjadi tentara karena tinggi badan yang tidak mencukupi. Padahal kita tidak mampu mengetahui berapa tinggi badan dewasa kita saat masih kelas dua SD.

Lebih absurd lagi karena profesi adalah label. Bisa jadi sama-sama guru tapi kehidupannya sangat berbeda. Yang satu guru honorer di daerah miskin terpencil dengan pendapatan seperlima upah minimum daerah, satu lagi guru di sekolah bertaraf internasional dengan fasilitas berlimpah. Dan label itu sering menipu. Kita bisa bangga meyandang profesi animator tapi bekerja enampuluh jam seminggu bahkan lebih. Tidak memiliki waktu untuk cukup istirahat dan kehilangan canda keluarga. Sebuah kehidupan yang sebenarnya kita hindari, mungkin saja kita benci, dan bakal disesali saat tua.

Cita-cita juga bisa berarti pencapaian. Seperti ingin menjadi juara dunia, berkencan dengan idola, manggung di tempat tertentu. Cita-cita seperti ini akan diletakkan tinggi agar memang sulit tercapai. Karena kalau sudah tercapai, kita bisa merasa gamang. Bingung mau apa. Harus segera menentukan cita-cita baru jika masih ingin memiliki hasrat hidup. Dan menentukan cita-cita bukanlah hal yang mudah.

Jadi misalnya untuk seorang pendaki gunung, ia akan bercita-cita menaklukkan tujuh puncak dunia dengan Everest sebagai pamungkasnya. Oh ya, kenalkah anda dengan Jordan Romero? Ia juga mencita-citakan hal tersebut. Dan meraihnya saat berumur tiga belas tahun. Saya tidak tahu harus senang atau sedih untuknya…ck, meraih cita-cita saat berumur tiga belas? Kira-kira, apa yang akan ia lakukan di sisa hidupnya? Mungkin karena itulah Bung Karno berkata, “Gantungkan cita-citamu setinggi langit!”. Bukan setinggi puncak Everest. Ah, tapi sekarang langit pun juga mudah dicapai.

Cita-cita juga bisa diartikan sebagai kondisi, keadaan ideal yang ingin dirasakan. Dinikmati sepanjang masa hidup. Misalnya cita-cita ingin mengabdikan seluruh diri pada kemanusiaan dengan cara pengobatan. Entah menjadi dokter atau dukun tidak soal. Atau ingin bekerja dari senin sampai jumat sepanjang tahun dari jam delapan pagi sampai sebelas malam tanpa ingat anak istri demi mengumpulkan uang yang digunakan untuk foya-foya di hari sabtu minggu bersama kawan-kawan di kelab malam. Atau ingin hidup santai bekerja kalau sedang senang, sehari-hari menikmati udara desa yang sejuk dan mendengar gemericik aliran air di kali kecil belakang rumah, makan dengan lauk sayur dari pekarangan dan ikan hasil memancing.

Saya lebih memilih untuk memiliki cita-cita seperti yang didefinisikan di atas. Sebagai kondisi. Bukan berarti saya sudah menemukan cita-cita. Saya sekarang masih sama bingungnya dengan saya yang terdahulu. Tapi paling tidak untuk sebuah kondisi, saya telah memiliki sepenggal fragmen untuk dicitakan.

Saya ingin sebuah sore yang teduh di rimbun belakang rumah. Gemericik air kolam menemani saya yang sedang membaca. Anjing peliharaan mengganggu anak-anak yang sedang belajar di lantai. Istri saya datang membawa dua cangkir teh manis panas. Lalu kami duduk bersama. Berbicara apa saja dengan tawa.

Saya ingin sebuah sore yang riuh di rimbun belakang rumah. Kecipak ikan di kolam menemani saya dan istri yang sedang membaca. Anjing peliharaan bermain dengan cucu-cucu kami yang duduk di atas lantai. Anak kami datang membawa  sepoci teh manis panas. Lalu kami duduk bersama. Berbicara apa saja dengan tawa.

9 Desember 2010, di kamar dengan mata menghitam.

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

10 Responses to Tentang Cita-Cita

  1. Cita-cita saya
    SD : jadi insinyur seperti Bapak
    SMP : punya pacar
    SMA : jadi pribadi yang bermutu dan manusia yang sukses (sukses? wtf is that?)
    Kuliah : jadi animator
    Animator : jadi entrepreneur pengolah sampah
    Freelance : jadi apa prok prok prok …

  2. antondewantoro says:

    Cita-cita saya simpel saja, ingin kaya sehingga jamban saya pun terbuat dari emas bertatahkan berlian dan zamrud khatulistiwa. Tidak berlebihan bukan?

  3. Wow postingnya panjang juga nih O.o bagus pembahasaannya… kalo saya punya cita2 yang di pupuk dari dulu ampe sekarang, ingin jadi komikus!😀

  4. Beni says:

    Cita-citaku lebih sederhana lagi Kur! Hidup penuh kebahagiaan, kebahagiaan seperti apa? Baca saja di blog-ku, he3…

    [belajar jadi blogger]

  5. Arik says:

    wah, ketemu bang KOEL di wordpress😀
    kalo cita2 saya, pengen nyelesein magang setahun di daerah brong ini dulu dah, trus disambung dengan mimpi yg lbh panjang lg, mimpi yg lbh banyak lagi🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s