Hidup Prihatin


“Prihatin itu bukan begini caranya!”

Saya nggak kuat menahan tawa mendengar kawan mengucap itu sambil pasang wajah kesal. Hari itu memang panas, kami berada di sebuah posko relawan bencana. Kawan saya, relawan lucu itu, mengeluh kepanasan dan minta disediakan kipas angin. Saya menanggapi dengan berkata sambil lalu, “Mbok ya prihatin!”

Yang benar-benar bikin ketawa adalah kenyataan bahwa si kawan itu memang bisa dibilang hidup “prihatin”. Ia dididik dalam keluarga yang hidup sangat sederhana, dermawan, disiplin tinggi, taat beragama,dan puasa senin kamis. Yaelah….prihatin kok bisa milih. Lalu apa guna segala  puasa kalau menahan gerah saja nggak bersedia. Apa gunanya kesederhanaan kalau hanya mau susah sesuai keinginan saja.

Stop. Stop bergunjingnya. Nanti ada pihak yang marah. Kejelekan orang kok dicerita-ceritakan. Bukannya lebih baik cerita borok pribadi saja. Tapi belum, saya masih ingin bercerita tentang orang lain.

Pete keluar dari bilik ATM dengan wajah pucat. Gerakannya yang biasa seperti preman pasar tampak lunglai. Matanya menerawang. Pasti soal gaji yang tak masuk akal lagi pikir saya. Kami memang digaji tak tetap, sesuai jumlah pekerjaan yang kami kerjakan. Dan hasil akhir melalui perhitungan rumit, yang kemampuan matematika Pete tak sanggup mengikuti. Tak sanggup mengikuti berarti hanya bisa pasrah kalau perhitungan salah. Dan ya! Sering salah. Dan anehnya selalu kurang dari yang seharusnya. Pete tak mau bercerita pada saya apa yang terjadi. Maklum, walau lumayan akrab kami kenal belum cukup lama. Tapi akhirnya saya tahu, gaji yang diterima Pete bulan itu hanya sepertiga upah minimum regional.

Karena pendapatan terbatas, kami tinggal di kantor. Saat malam tiba, kami menggelar kasur di antara meja dan kursi kerja. Akhir minggu kami giliran mencuci di kamar mandi kantor yang sempit. Saat memiliki uang, Pete akan mengucap dengan sombong di jalan besar yang diapit gedung-gedung angkuh, “Selama aku masih punya uang, kalian semua nggak perlu khawatir kelaparan!” Dan kami akan duduk di trotoar makan  nasi goreng lima ribuan, atau di warteg kumuh berdesakan dengan sopir taksi. Kami saling membayari dan dibayari. Begitulah cara bertahan dari gaji mencekik tak tentu.

Tapi di luar bilik ATM itu kami terdiam. Tak ada teriakan sombong. Urusan perut kami bisa saling mengisi. Tapi rengekan keponakan Pete tentang uang sekolah, pulsa, dan hape baru ada di luar kuasa. Bahkan hutang Pete di warung saja sudah menumpuk. Tidak ada pilihan, Pete dipaksa prihatin.

Pak Naryo

Di sebuah kesempatan singkat Pak Naryo menceritakan hidupnya yang tak tentu. Pagi hari ia bekerja sebagai buruh tani. Siangnya mengajar TPA. Kadang ia “harus” meninggalkan rumahnya untuk kerja sosial tak dibayar demi panggilan agama. Anaknya dua. Masih kecil. Istrinya terserang kanker dan harus

menjalani perawatan berbiaya mahal. Bagaimana keluarganya bisa bertahan hidup ia terangkan dalam sebuah kalimat pendek sederhana, “Ya nggak tahu, nyatanya ada saja tu.”

“Pernah nggak bisa makan Pak?”

“Ya pernah! Kalau nggak ada saya bilang saja sama ibu, kita puasa ya.”

Pak Naryo sekeluarga tidak puasa untuk latihan prihatin. Tidak ada pilihan, mereka memang dipaksa prihatin.

Mungkin karena ada jenis-jenis prihatin yang bisa dikondisikan, seperti puasa ramadhan, puasa senin kamis, puasa paska, puasa mutih, dan berbagai laku lainnya yang sebenarnya berupa pilihan, maka orang-orang yang nggak pernah dipaksa prihatin jadi cenderung memilih prihatin sesuai selera masing-masing. Kalau keprihatinan yang dialami dirasa tidak nyaman, ia akan memaksakan kondisi agar ia merasa nyaman. Warung-warung makan tak boleh tampak berjualan saat puasa. Tempat-tempat hiburan dipaksa tutup. Kantor diharuskan mengurangi jam kerja. Pelacur yang mencari susu buat anaknya digebuki. Dan karena gerah tidak termasuk tantangan laku prihatin menurut versinya, maka dituntutlah orang lain untuk mencarikan kipas angin.

Saya sendiri merasa belum pernah hidup prihatin. Kalau di atas tampak saya pernah hidup susah, itu cuma menyesuaikan dengan penghasilan, tidak memperhitungkan jumlah rekening tabungan. Saya juga belum pernah berpuasa dan malas berpantang. Buat latihan prihatin saya enggan. Buat apa. Latihan prihatin tidak membuat saya kebal dari prihatin. Toh kalau nanti si prihatin memaksa datang, saya juga harus menjalaninya. Learning by doing saja lah. Dan kalau nanti si prihatin benar-benar datang, dan ternyata saya bisa memilih versi saya sendiri, tentu saja saya akan memilih untuk tidak prihatin. Atau paling tidak saya memilih prihatin tidak bisa makan pizza saja, karena kebetulan saya memang tidak suka pizza.

24 November 2010, Sragen, di kamar tamu rumah kakak.

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

2 Responses to Hidup Prihatin

  1. benny.kirana says:

    Mas, pak, bung,bro..! waduh gimana saya panggilnya ya? mas aja deh, orang jawa kan?
    Mas kurnia animasi komiknya bagus-bagus, boleh ndak saya copy?
    Ya itu doang sih tujuan saya, sama sekalian nyimak…

    Salam kenal,

    Benny

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s