Perayaan Natal dan Perayaan Memar


Sewaktu kecil, Ibu saya akan bersuka cita saat ia atau saudarinya menderita memar. Nenek akan merebus sebuah telur. Panas-panas, telur itu dikupas lalu di”gunyer”kan (ditempelkan dan digoyang-goyang) pada bagian tubuh yang memar. Dengan begitu, memar yang dialami akan lekas sembuh. Telur itu kemudian bagikan di antara anak-anak. Dan ibu bersama saudari-saudarinya akan merayakan peristiwa memar tersebut dengan hidangan “mewah” yang jarang mereka santap. Saya tidak tahu apakah mereka lalu suka mememarkan diri, karena kalau iya, kasihanlah nenek saya. Saat itu, telur benar-benar berharga mahal dan hanya dimakan saat-saat tertentu.

Sewaktu kecil, saya gemar merayakan Natal. Karena Natal berarti ada lagu-lagu riang, hiasan-hiasan bagus, dan acara-acara menarik di televisi. Terutama adalah liburan panjangnya, karena saya sekolah di sekolah Katolik.  Tapi keluarga saya tidak.

Seingat saya tidak pernah ada pohon natal di rumah. Juga bungkusan-bungkusan hadiah di bawahnya. Atau bungkusan-bungkusan hadiah yang tidak di bawahnya. Tidak ada apa-apa di rumah, kecuali film-film menarik bertema natal di layar televisi yang biasa saya tonton terlambat karena kami harus pergi ke gereja. Pohon natal hanya saya lihat di gereja atau di rumah nenek.

Tapi bagaimanapun saya ingin memiliki sebuah pohon natal. Karena itu saya petik sebatang kecil daun cemara dari sekolah atau halaman gereja. Tingginya bisa hanya seruas jari. Saya dirikan dengan menancapkannya ke lilin. Saya hiasi dengan pita dari keratan krayon. Saya taburi salju berupa gerusan kapur.

Kini masih tidak ada pohon natal dan hadiah-hadiah di rumah. Acara-acara televisi bertemakan natal tetap hadir. Perbedaan yang ada hanyalah saya tidak ke gereja. Natal sudah tidak berarti lagi bagi saya. Saya tidak  merayakannya.

Bukan berarti saya tidak peduli lagi pada Yesus yang lahir ke dunia. Saya cuma tidak tertarik lagi merayakannya. Mungkin karena akhirnya saya tahu bahwa tanggal 25 Desember hanyalah tanggal yang disepakati untuk merayakan kelahiran Yesus, bukan waktu kelahiran Yesus sendiri. Mungkin karena saya menganggap bahwa perayaan natal hanyalah perayaan hedonisme berbalut keimanan. Atau mungkin memang saya yang tidak lagi memiliki iman.

Yang dulu saya rayakan karena saya yakin bahwa itu memang harus dan layak dirayakan, kini tak ubah lagi sebagai perayaan untuk merayakan perayaan. Nihil. Perayaan itu tak bermakna. Ada hanya agar kita punya alasan untuk bersenang-senang. Agar kita punya alasan berbuat kebaikan dan merasa baik. Agar kita punya alasan untuk mengadakan pesta. Agar kita punya alasan untuk berbelanja. Agar kita punya alasan untuk meregenerasi mainan dan pakaian kita. Agar ada alasan membuat obral barang-barang yang modenya mulai ketinggalan. Kesempatan meningkatkan omzet pendapatan. Kesempatan menghamburkan uang di satu sisi dan kesempatan mengeruk uang di sisi lainnya.

Maka saya lebih menghargai perayaan memar ibu saya dibanding perayaan natal. Perayaan memar ibu saya jelas merupakan perayaan kasih seorang ibu kepada anaknya yang terluka, perayaan kebersamaan dengan membagi sebutir telur untuk dinikmati bersama, perayaan lidah karena memakan makanan enak yang jarang dirasakan.

Perayaan memar itu juga tidak akan terperangkap dalam tradisi ritual semu atau simbol-simbol palsu. Karena perayaan tersebut dirayakan secara insidentil saat itu juga. Bukan kenangan atas peristiwa ribuan tahun lalu. Karena perayaan tersebut membahagiakan secara spontan. Bukan keriangan yang dikondisikan.

Kini tak ada lagi perayaan memar. Nenek saya sudah lama meninggal dan ibu saya sudah memiliki cucu. Ketika saya kecil, memar saya lebih mengenal Lasonil daripada “gunyeran” telur. Toh saya tidak doyan telur rebus dan telur sudah jadi makanan keseharian masyarakat kita, jadi tidak ada bedanya.

Tapi saya masih mengingat cerita ibu mengenai perayaan memar itu. Karena dari situ saya belajar bahwa rasa sakit bisa pula dirayakan dengan kegembiraan dalam semangat kebersamaan. Karena saya belajar bahwa hal-hal kecil sehari-hari bisa dirayakan lebih suka cita dibanding momen sejarah yang di”blow up” agama. Di situ, dan saat itu juga. Maka saya merayakan waktu di mana saya pulang ke rumah dan anjing saya mengibaskan ekor kegirangan. Saya merayakan waktu berkumpul dan makan bersama dengan teman lama, entah di restoran mewah atau gerobag pinggir jalan.

Dan saya berharap dapat terus menerus merayakan kehidupan tanpa menunggu tanggal tertentu. Karena hal-hal paling utama di dunia, makanan, kebersamaan, dan cinta, bisa datang setiap saat tanpa jadwal.

23-24 Desember 2010, di kamar


This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

2 Responses to Perayaan Natal dan Perayaan Memar

  1. reges says:

    nice story gan :beer: <— air putih

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s