Ngobrolin Agama Yuk!


Bunda Theresa tidak dikenang karena rajin ke gereja. Beliau dikenang karena pelayanannya pada kaum miskin papa.

Sewaktu sekolah dulu, di ujian Bahasa Indonesia sering ditanyakan siapakah pengarang atau nama tokoh dalam cerpen “Robohnya Surau Kami.” Pokoknya judul cerpen itu teramat familiar. Tapi saya akhirnya baru membaca cerpen tersebut tahun lalu, jauh hari setelah saya lulus kuliah.

“Robohnya Surau Kami” meninggalkan pesan kuat bahwa bekerja itu lebih berat daripada berdoa. Berdoa itu gampang. Enteng. Bekerja itu sulit. Berat. Ikut misa di gereja itu gampang. Melayani sesama manusia itu sulit.

Lalu apa fungsi dari agama?

Kalau semua manusia menjadi beragama, apakah berbagai persoalan dunia terpecahkan? Kalau semua umat manusia pergi ke gereja, apakah dunia akan menjadi lebih baik? Kalau semua umat manusia sholat di masjid, apakah dunia menjadi damai? Kalau semua orang sembahyang di pura, apakah kemiskinan bisa dihapuskan dari dunia? Kalau semua orang pergi ke wihara, akankah dunia bebas dari penderitaan?

Seorang pastor pernah menerangkan pada saya betapa bodohnya kaum muslim akan keyakinannya pada Al-Quran. Di pengajian dekat kamar kos saya, pak ustadz memastikan bahwa orang seperti saya akan dibakar di api neraka. Tapi saya tidak boleh disakiti. Kecuali saya mengganggu. Sayang tidak dijelaskan kriteria mengganggu itu. Jangan-jangan hanya memperlihatkan dengkul pada mereka saja sudah bisa masuk kriteria mengganggu. Dan sah lah darah saya ditumpahkan.

Saat mendoakan nenek saya di wihara, seorang pengurus memuji-muji saya karena tidak ikut-ikutan jadi nasrani. Saya senyum-senyum saja. Saat ikut kebaktian di jumat siang, pendeta menceramahkan bahaya islamisasi. Sebagai penandingnya ia mengajak kami semua melakukan kristenisasi. Saya segera keluar dengan alasan ingin makan siang.

Di sebuah forum dunia maya, sebuah account secara terang-terangan mencap penganut agama hindu adalah penyembah berhala. Apa salahnya menyembah berhala, pikir saya. Toh “berhala” mereka tidak mengajak melakukan genosida atau melanggar rambu lalu lintas.

Di forum yang sama Yesus disebut sebagai kafir anjing Yahudi. Kalau ya lalu mengapa? Apakah kemudian ajarannya yang mengajak mengasihi Tuhan melebihi segala sesuatu dan menyayangi sesama manusia seperti menyayangi diri sendiri harus ditinggalkan?

Masih di forum yang sama, Nabi Muhammad dinyatakan sebagai pedofilia haus darah. Hmmm….rasanya ini mulai tak berujung.

Salah menyalahkan dan ngotot mengaku benar menjadi pola keseharian. Yang muncul kemudian adalah kafir mengkafirkan dan hancur menghancurkan. Karena soal agama bom diledakkan, kepala dipenggal, kendaraan dibakar, bangunan dihancurkan, dan perikemanusiaan disingkirkan. Semua dilakukan atas dasar membela Tuhan. Membela sesuatu yang diaku serba maha. Apakah bukan perbuatan sia-sia membela sesuatu yang serba sempurna?

Lalu apa fungsi dari agama?

Katanya agama adalah alat untuk menjaga keteraturan manusia. Kenapa sekarang agama malah mengacaukan kehidupan manusia.

Yang berdoa tiap hari masih saja tak kuasa menahan marah, iri, dan nafsu birahi. Yang menutup mulut akan makanan terlarang tetap saja mengucapkan kata yang menyakiti sesama. Yang berpuasa menahan lapar dan haus, terus saja menumpuk harta di rekening. Menghisap keringat orang lain. Kenapa masih saja semua mengaku yang paling benar? Bukannya kenyataan yang terlihat menunjukkan tidak ada yang benar?

Apakah lebih baik semua manusia jadi atheis saja? Ah, Tuhan itu candu. Ketika manusia tidak mengakui eksistensi Tuhan, secara manusiawi ia akan mencari objek pemujaan baru. Keyakinan baru. Dan akhirnya keyakinan-keyakinan baru ini juga akan mencari pembenaran untuk kemudian memaklumatkan diri yang paling benar. Lalu mulailah lagi konflik berkepanjangan umat manusia.

Ketika kita mengenang kembali apa yang telah dilakukan Bunda Theresa, yang dikenang bukan karena ketaatannya pada perintah gereja, kita akan melihat sebuah keyakinan yang lintas batas. Keyakinan yang mewujud utuh pada sebuah perbuatan. Mewujud dalam bentuk pelayanan pada sesama manusia yang menderita. Sesama manusia yang tidak dilihat dari caranya berdoa, warna kulit, atau bahasa yang digunakan.

Kasih sayang tanpa pamrih tak pernah terbantah. Tidak oleh dogma agama. Tidak oleh ayat-ayat dalam kitab.

Bunda Theresa membuat agama yang dianutnya sebagai alat bantu keteguhan dalam pelayanan, bukan sebagai hasil akhir dari kegiatan peribadatan. Kalau saja umat manusia mampu memahami ini, apapun keyakinan yang dianutnya, pastilah agama mewujud menjadi harmonisasi dunia. Tidak akan menjadi sumber kekacauan. Perselisihan. Peperangan. Apalagi alasan menumpahkan darah.

23 Oktober 2010, Pondok Turi Lamongan – pondok sumber kasih sayang.

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

10 Responses to Ngobrolin Agama Yuk!

  1. kudha says:

    ada sebuah perkataan nabi muhammad yg kadang orang saking sibuknya
    beribadah, dan mengurusi hal2 kecil dan mengurusi perbedaan terlupa

    para sahabat ingin rangkuman dari apa itu islam
    maka nabi menjawab, ” Islam itu adalah Akhlaq yg mulia…”

  2. antondewantoro says:

    takut ah komentar soal agama, kalo salah ngomong sama agama sendiri bisa dicaci, sama agama lain bisa dilempari, sama pemerintah bisa dibui. Apaa coba fungsi agama?

    • Buat anda sepertinya cuma pengrepot saja. Yang menarik bagi saya itu adalah buat osama bin laden, agama bisa jadi alasan untuk mengumbar nafsu merusaknya, sedang buat buat orang lain jadi landasan cinta kasihnya.

  3. Ahh… Caci maki, saling menghakimi, apalagi melakukan sesuatu yang salah demi alasan “greater good”, demi Tuhan katanya.. Padahal Tuhan tidak pernah mengajarkan untuk berbuat salah.

    Seandainya semua orang menganggap agama sebagai rambu kehidupan… Nasib, nasib…

  4. karena pada dasarnya manusia di lahirkan dengan hasrat mencari identitas diri, jadilah mereka membeda – bedakan, membuat kotak2 dan dengan sukarela memasukkan diri pada kotak2 tersebut.
    sehingga lupa pada fakta bahwa sejatinya mereka adalah sesama manusia..
    yang merasa sudah mempunyai identitas akan mempertahankannya….walau itu nyawa taruhannya….
    Yang merasa lebih baik identitasnya berusaha memaksakannya pada yang lain….
    belum lagi di tambah beberapa golongan yang sengaja membuat kotak2, dimana khalayak akan disibukkan dengan gesekan antar kotak. sehingga golongan tersebut dapat dengan bebas mendapatkan apa yang mereka inginkan.

  5. Yonathan C. says:

    “Bunda Theresa membuat agama yang dianutnya sebagai alat bantu keteguhan dalam pelayanan, bukan sebagai hasil akhir dari kegiatan peribadatan” Wow.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s