Ada Untuk Berada


Wulan Jameela

“Namamu siapa?”

“Wulan.”

“Oh, Wulan.”

“Iyaaaa, Wulan Jameela.”

***

Pada masa lalu, salah satu hal yang paling saya takutkan adalah anak-anak. Mereka itu lugu sekaligus manipulator ulung tanpa ampun. Mereka itu tampak jauh di dunia yang berbeda, namun jika sudah dekat mereka akan menempel lekat seperti permen karet sehabis dikunyah. Mereka menggelayut, tak mau lepas, menjadi beban, menarik kita ke dalam dan lebih dalam ke dunia mereka, seakan seluruh hidup mereka tergantung pada kita. Semua itu dilakukan dengan rengekan, tangisan, pelukan, tawa, bahkan binar mata. Dan saya merasa harus melepaskan diri, menggesek-gesekkan sol sepatu pada aspal agar permen karet itu terlepas. Namun itu tak pernah berhasil secara tuntas. Saya melangkah dengan rasa mengganjal di kaki. Saya bergegas kabur, menjauhi mata kecewa mereka.

Di depan anak-anak saya takut berbuat apa-apa. Saya diam mematung menjaga jarak. Tahun-tahun berlalu dan saya semakin menjauhi masa kanak-kanak dan anak-anak. Ketakutan saya berubah menjadi kebiasaan.

Di depan anak-anak, saya tak tahu harus berbuat apa. Benar-benar tak tahu, walau tahu seharusnya berbuat sesuatu. Saya tahu ada yang salah pada saya. Untungnya semua itu pelan-pelan berlalu.

Saya punya anjing yang bisa saya pakai untuk latihan berbincang dengan anak-anak yang belum bisa bicara. Kemudian saya punya keponakan yang menyenangkan, bersama dia seorang saya merasa aman. Ketakutan saya pada anak berlangsung hilang. Tapi bukan berarti saya tahu bagaimana menghadapi anak-anak. Bagi saya mereka tetaplah ancaman. Berhubungan dengan anak selain keponakan saya tadi seperti seekor kucing yang mencelupkan ujung jarinya ke air dingin. Bersentuhan sedikit dengan permukaan, buru-buru diangkat.

Awal November 2010 Gunung Merapi meletus. Para korban berbondong-bondong mengungsi. Kenalan saya mendirikan posko. Salah satu programnya adalah menghibur anak-anak pengungsi. Istilah kerennya trauma healing. Anak-anak diajak belajar, bernyanyi, menggambar, bermain. Saya membantu kenalan tadi sebagai tenaga dokumentasi.

Dalam hati, ingin juga saya menggunakan kesempatan tersebut untuk belajar menghadapi anak-anak. Tapi saya tak tahu harus berbuat apa. Mulai dari mana. Ya sudah saya pasrah. Cuma ikut duduk. Saya ikut memainkan permainan mereka untuk membunuh waktu. Kebetulan saya juga menyenanginya.

Kemudian seorang anak datang. Memperhatikan saya. Saya melirik sebentar, lalu meneruskan permainan. Ia duduk. Mengambil mainan dari tumpukan di hadapan saya dan turut memainkannya. Satu lagi datang. Memperhatikan. Ikut bermain. Saya diam saja.

“Mas, Mas! Saya juga bisa bikin seperti itu lho.”

“Masa? Cobaa..,” jawab saya.

“Mas, Mas! Kita bikin yang banyak ya!”

“Berapa? Sepuluh?”

“Ya!”

“Mas. Mas! Kita mewarnai saja ya.”

“Ya.”

“Aku ambilin pensil warnanya ya.”

“Ya. Buku mewarnainya di mana?”

“Di sana. Aku ambilin ya.”

“Ya.”

“Mas, Mas! Mas yang gambar bunga apa mobil?”

“Kamu ingin yang mana?”

“Saya mobil saja ya.”

“Ya. Kalau gitu saya yang bunga.”

“Ahahahaha! Cowok tapi mewarnai bunga.”

Relawan lain sudah beranjak pergi. Tanpa terasa, tinggal saya relawan seorang diri. Anak-anak yang tadi sudah bubar sendiri-sendiri mulai mengumpul lagi mengerubungi saya. Seorang pemuda datang menghampiri kami. Basa-basi sejenak dengan seorang anak, lalu memotret kami. Setelah itu melenggang pergi.

Saya berbaur dengan anak-anak tersebut tanpa berbuat apa-apa. Tanpa usaha sama sekali. Saya cuma ada di sana. Cuma berada. Lalu mereka hadir. Menyapa dan saya membalas. Dan mereka menikmati keberadaan saya. Saya yang tak berbuat apa-apa.

Saya menoleh memandang Merapi. Asap besar bergulung dari puncaknya. Pagi tadi beliau meletus lagi. Sejak kakek nenek saya belum lahir sampai sekarang, ia berada di sana. Candi Borobudur yang menakjubkan itu disusun dari batu yang keluar dari perutnya. Gedung-gedung tinggi menjulang dibangun dari pasir yang dimuntahkannya. Tanaman petani subur karena abu yang dihembuskannya. Saya tidak melihat malapetaka. Saya menyaksikan keagungan.

Jangan-jangan begitulah juga kehidupan. Tugas saya di dunia hanya untuk ada. Tidak perlu bingung untuk bermanfaat. Tidak perlu berusaha untuk berfaedah. Ketika Tuhan meletakkan saya di dunia, saya cukup untuk berada saja. Nanti ketika makhlukNya yang lain hadir di dekat saya, saya tinggal menyapa. Nanti ketika makhlukNya yang lain datang menyapa, saya tinggal membalas. Dan kami akan saling menikmati keberadaan satu sama lain. Lalu harmoni terjadi.

Saat anak-anak lain asyik dengan diri mereka sendiri, Dimas berbisik lirih pada saya, “Mas, Mas mau jadi teman saya?”

***

Dimas memeluk saya dari belakang, “Ayo main petak umpet Mas!”

“Main petak umpet gimana? Tempatnya besar segini sehari juga nggak akan ketemu!”

“Ya jangan jauh-jauh.”

“Terus di mana?”

“Ya di sini-sini saja.”

“Kalau di sini itu bisa sembunyi di mana?”

“Kan bisa dibalik tiang itu. Mas yang jadi duluan ya!”

“Ya, tapi kamu sembunyinya di balik tiang itu ya!”

“Ya! Ayo tutup mata lalu hitung sampai sepuluh!”

“Tapi janji lho ya, kamu sembunyinya di balik tiang itu.”

“Iya Mas! Janji!”

“Sip! Satu…dua….tiga…empat….”

15 Desember 2010, di kamar dengan badan sedikit meriang. Besok lusa, mengikuti ajakan teman, saya akan bertemu anak-anak pengungsi lagi. Kali ini sebagai fasilitator pembuatan video dokumentasi.

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

6 Responses to Ada Untuk Berada

  1. kudha says:

    mantebs….
    no comment cuman mantebs aja

  2. Seru baca posting ini :0)

  3. antondewantoro says:

    Tugas saya di dunia hanya untuk ada. Tidak perlu bingung untuk bermanfaat. Tidak perlu berusaha untuk berfaedah. Ketika Tuhan meletakkan saya di dunia, saya cukup untuk berada saja – Saya juga mampir berkomentar hanya untuk sekadar ada.

    Jadi tidak menyesal weekend ini aku habiskan dengan bermalas-malasan. Terima kasih, kolom-Mu sudah memberi kekuatan. Ada rencana bikin kitab suci sendiri?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s