Yang Gila Yang Gembira


Suatu malam, saya menonton kisah kehidupan Bunda Theresa di salah satu stasiun televisi. Ada penuturan beliau yang membuat saya terkesiap,

“Saat saya tidur, saya pergi ke surga. Dan itu bukan mimpi. Di pintu surga saya bertemu dengan Petrus. Petrus berkata, “Tidak ada gembel di surga.” Saya marah. Saya berbalik badan dan kembali ke dunia. Saya benar-benar marah dan bertekad balas dendam. Akan saya kirim orang-orang gembel ke surga. Dan itu saya lakukan. Saya kirim orang-orang gembel ke surga. Sekarang sudah ada sekitar 50.000 orang gembel yang ada di sana.”

Ya Tuhanku dan Allahku! Apakah nenek tua itu sudah gila ?!? Nglindur di depan kamera !?!

Di hadapan saya tampak Petrus menjambak rambutnya sendiri dengan kedua tangan. Dagunya jatuh ke lantai. Mencak-mencak melihat orang-orang gembel berkeliaran di surga. Mereka tidur di emper-emper istana yang batanya terbuat dari emas. Mereka mencuci pakaian kotor di sungai yang konon berkerikil permata.

Ia perempuan muda. Payudaranya kencang. Pantatnya sekal. Pinggangnya ramping. Tubuhnya padat berisi. Dan senyum yang memamerkan gigi tonggos selalu menghiasi wajahnya.

Pagi agak siang ia berjalan dengan langkah cepat tegas bagai peragawati ke utara. Menjelang sore ia kembali ke selatan, masih dengan energi yang sama. Tiap hari ia memakai pakaian yang berbeda. Tak lupa tas yang ia sampirkan di pundak. Pakaian dan tas itu sepertinya dijahit sendiri dari bahan-bahan seadanya. Modelnya terus berganti tiap hari. Yang jelas selalu seksi. Dan ya, saya pernah melihatnya suatu siang, di sudut pasar sedang menjahit kain dari karung. Mungkin untuk pakaian keesokan hari.

Suatu waktu saat bermain di rumah teman, orang gila ini lewat. Teman saya bercerita bahwa perempuan gila itu tinggal di kuburan. Sering saat berjalan, pemuda-pemuda setempat akan memanggil-manggilnya, “Artis! Artis!” Dan ia, sang artis jalanan dengan baju kain karung, akan membalas panggilan tersebut dengan senyum dan lambaian tangan.

Mungkin ia benar-benar menganggap dirinya artis.

Kini ia sudah tak pernah terlihat. Terakhir saya melihatnya, badannya sudah tambah mekar. Tidak (terlalu) seksi lagi. Sejujurnya, saya kehilangan dirinya. Bukan karena saya kangen melihat tubuh seksinya. Saya rindu melihat langkahnya yang penuh percaya diri dan senyum lebar yang dipenuhi gigi maju. Ia tampak begitu gembira. Dan tiap kali saya melihatnya, kegembiraan itu selalu menular pada saya.

Sering saya bertanya dalam hati, “Bilamana si artis itu disembuhkan ingatannya, disadarkan bahwa ia bukanlah seorang artis, hanya perempuan yang tinggal seorang diri di kuburan, apakah kegembiraan masih menyertainya?” Mungkin demi kebahagiaan dirinya, dan semua orang yang tertular kegembiraannya, termasuk saya, lebih baik ia dibiarkan gila.

Saya juga berandai-andai bilamana Bunda Theresa memang benar gila dan saya memiliki mesin waktu. Saya kemudian pergi ke masa lalu dengan niat menyembuhkan kegilaannya.

Seorang gembel dari surga menyusul saya. “Hei, hei, apa yang akan kamu lakukan?!”

“Aku hendak menyembuhkan Bunda Theresa dari kegilaannya.”

“Jangan! Jangan sekali-kali kamu berani berbuat itu! Saya akan mencegahnya. Kalau perlu dengan nyawa saya!”

“Tapi kamu memang sudah tidak bernyawa.”

“Yaaa….pokoknya….”

“Kenapa kamu ingin mencegah saya?”

“Jika beliau tidak gila, maka beliau akan kembali menjalani kehidupan manusia normal. Ia tidak akan membaktikan seluruh hidup merawat orang-orang terlantar. Dan itu termasuk saya. Saya akan mati kesepian dalam got yang berbau busuk. Saya tidak akan merasakan kasih sayang sampai nafas terakhir. Saya tidak akan masuk surga dan mendapat kesempatan meledek Petrus.”

“Hmmm, begitu ya. Sebenarnya siapakah Bunda Theresa bagi anda?”

“Bagi saya ia adalah seorang santa. Juru selamat! ”

“Jadi, karena sudah diselamatkan, maka anda yang sudah mati bertekad berjuang mati-matian untuk menjaga penyelamat anda tetap gila? Begitu?”

“Yaaa….pokoknya…..”

“Sudah-sudah. Nggak apa, saya juga sependapat dengan anda.”

16 januari 2011, di kamar.
-tulisan ini didedikasikan untuk semua orang yang dibilang gila karena kebaikan hatinya yang luar biasa (walau mungkin memang gila) –

gambar diambil dari http://3.bp.blogspot.com/_RgQ_XUDZTyM/SqcMdZcEBMI/AAAAAAAACq0/eif_8V_WTE0/s400/Mother_Theresa.jpg

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

2 Responses to Yang Gila Yang Gembira

  1. selvi says:

    apakah anda jg termasuk orang gila yg selalu buat saya senyum2 sendiri stiap baca tulisan anda🙂
    kalau iya, jgn berhenti menulis dgn kegilaanmu ya..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s