Tentang Pengantar Koel 1


Entah sebenarnya basa-basi atau bukan, saya gembira sekali saat Andre menawarkan diri untuk menulis tentang Koel. Sebenarnya saya tidak tahu kemampuan menulis Andre, tapi berhubung dia sudah punya nama sebagai seniman, tentu saja saya begitu tersanjung untuk menerimanya.

Ia adalah orang yang saya kagumi sejak saya mulai belajar membuat komik. Dan ia juga termasuk salah satu penikmat komik-komik awal saya yang masih tak beraturan. Dan asyiknya, saya tidak merasa takut sama sekali bahwa Andre akan berwacana muluk khas orang-orang seni rupa.

Wacana-wacana seperti itu memang saya hindari karena membuat kerut dahi. Saya mendamba tulisan pengantar di buku Koel adalah tulisan yang jernih, mudah dinikmati siapa saja. Saya yakin Andre akan mewujudkannya karena saya telah mengenal karyanya.

Menurut saya, karya Andre dapat dinikmati siapa saja. Bentuknya jelas, tidak absurd tidak abstrak. Sebagai pemuas mata, karya-karyanya sempurna. Namun jika ingin dipahami lebih dalam, dipikirkan dengan kerut dahi, karyanya memberi peluang lebar. Ia sedap di luar dan mencerahkan di dalam. Persis seperti tulisan yang saya harapkan. Persis seperti komik yang ingin saya hadirkan.

Dan begitulah Andre menuliskannya dengan pas. Yang lebih menggembirakan lagi adalah kenyataan bahwa dalam tulisannya, bahkan digunakan sebagai judul, ia menjabarkan bahwa Koel sebenarnya adalah kita semua. Persis dengan usaha saya memotret manusia dalam kerja membuat komik Koel.

Terima kasih sekali lagi buat Andre. Silakan membaca untuk yang belum membaca😀

KOEL: Tentang Kurnia, Saya, dan Anda
Membaca KOEL, komik karya Kurnia H.W., membuat saya teringat pengalaman-pengalaman menyebalkan sehari-hari yang sepertinya kerap dialami banyak orang termasuk saya. Seperti yang dulu (sebenarnya sampai sekarang) saya alami ketika kantuk pasti tiba-tiba datang ketika saya memulai membaca buku pelajaran. Entah sisi mana yang sebenarnya lebih menyebalkan, rasa kantuk atau buku pelajarannya. Silahkan Anda jawab sendiri.

Tapi justru mungkin hal-hal menyebalkan itu yang membuat saya menyukai komik Kurnia. Kisah-kisahnya begitu sederhana namun mendalam sekaligus lugu. Artinya kita tak perlu mencari-cari siapa Koel sesungguhnya. Pasti banyak yang menduga-duga bahwa Koel tentunya adalah Kurnia sendiri dan kisah-kisah dalam komik Koel adalah kehidupan Kurnia juga. Mmm…. Mungkin demikian. Tapi tunggu dulu… Saya rasa Koel itu ya kita sendiri. Koel adalah Anda dan saya. Itulah kenapa saya bilang komik Koel ini mendalam sekaligus lugu. Karena dia berani berbicara mengenai hal-hal yang selama ini dianggap kurang “baik” jika dibicarakan secara terbuka. Padahal sesungguhnya kita mengalami pergolakan tersebut di dalam batin. Seperti misalnya tentang jodoh, keterbukaan dalam berpendapat, tekanan-tekanan dalam pekerjaan atau sekolah.

Kalo boleh jujur, saya jarang tertawa ketika membaca Koel, tapi sering kali senyum-senyum sendiri pada sekuen-sekuen tertentu. Entah kenapa, saya justru tertarik pada hal-hal kecil yang tengah dialami oleh Koel. Kebanyakan terasa satire, misalnya tentang obsesi besar Koel akan hari libur, harapan-harapan untuk bekerja tidak dibawah tekanan maupun kejaran deadline. Semuanya dikemas dalam narasi yang sederhana, konyol, dan pembaca seolah boleh berkata “aku banget nih!”. Dalam sosok Koel saya melihat suatu realitas yang sangat dekat dengan kita, realitas keseharian yang dikemas dalam narasi yang sederhana. Namun jangan salah, dibalik kesederhanaan itu muncul suatu penyadaran akan realitas yang tengah terjadi. Dan sesuatu yang sangat sederhana yang bahkan kadang terlupakan oleh kita.

Bagi saya berbicara soal Koel tak bisa lepas dari sosok Kurnia Harta Winata, S.T. sebagai pencetus komik kartun yang fantastis ini. Saya mengenal Kurnia pertama kali saat sekolah di SMP Negeri 5 Yogyakarta, selama 3 tahun kami sekelas. Namun sejujurnya saya tidak terlalu dekat dengan Kurnia, tidak bisa diibaratkan seperti Batman ‘n Robin ataupun About ‘n Castello. Mungkin justru ketidakdekatan itulah yang menjadi saya bisa mengamati dan paling tidak menjadi tahu gerak-gerik Kurnia. Bagaimana Kurnia yang menjadi pemain otelo (O dan X) dan catur selain kepiawaiannya mengomikkan kejadian, menertawakan kejadian bahkan menertawakan diri sendiri melalui komiknya. Saya kali pertama mengetahui komik ciptaan Kurnia tentang tokoh Munyuk Balap, suatu kisah parodi tentang guru kami waktu itu yang tentunya membuat kami menahan tawa di tengah-tengah pelajaran sedang berlangsung. Lantas muncul komik kolaborasi Kurnia dengan beberapa teman SMP-nya (Enas, Ardhian, Jimmy, Joko) berjudul “Min & Man”, kisah tentang dua karib seniman pengukir kayu yang sebenarnya adalah guru ukir kami, Pak Tukimin dan Pak Dakriman. Dasar Kurnia….🙂

Lantas tentang Koel sendiri, saya baru “mengenalnya” ketika secara periodik Kurnia nge-tag kisah komiknya lewat satu situs jejaring pertemanan. Ternyata hobby ngomiknya tak luntur dimakan waktu. Saya kira komiknya semakin matang dan telah berhasil menemukan jati diri yang memiliki ruh dari Kurnia sendiri. Bukan proses yang mudah tentunya. Proses berkarya Kurnia sendiri telah diungkapkannya melalui tulisan-tulisan tentang bagaimana ia membuat komik. Mulai dari menemukan ide yang datangnya tak dapat diduga, menulis naskah, merancang panel, membuat sketsa pensil, hingga penintaan. Proses yang panjang dan membutuhkan totalitas.

Namun hal yang sangat menggembirakan saya adalah ketika saya dapat kabar dari Kurnia bahwa Koel hendak diabadikan dalam sebuah karya buku. Wah… ini yang sudah saya tunggu. Sayang kalau tokoh berbakat secerdas Koel (meski mukanya pas-pas-an sebagai artis, hahaha….) hanya nampang tiap minggu di sebuah situs jejaring pertemanan. Selain gembira atas terbitnya buku Koel ini, terlebih lagi saya bangga atas kemauan Kurnia menyusun buku ini tak sekedar dokumentasi dari kisah Koel namun juga sebagai buku pembelajaran. Kurnia tak segan membagi pengalaman berharganya yaitu proses kreatifnya kepada semua pembaca Koel. Bahkan lewat penjelasan yang cukup detail sehingga memberi wawasan bagi para pembaca dan pecinta komik. Ini yang paling penting menurut saya.

Selamat mengapresiasi komik Koel!
Sewon, 10 April 2010

A.C. Andre Tanama
dosen dan perupa

 

Website-nya Andre

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s