Tentang Pengantar Koel 2


Ketika memikirkan siapakah yang sebaiknya saya todong untuk membuatkan pengantar buku komik Koel kedua, tanpa ragu saya memilih Anton. Saya tahu pengantar seperti apa yang saya inginkan, dan saya tahu apa yang bisa Anton lakukan dengan tulisannya.

Saya mendamba pengantar yang sederhana tapi mendalam. Bebas dari ungkapan-ungkapan sulit, kutipan-kutipan para ahli, dan istilah-istilah akademis. Untuk itu saya menginginkan penulis yang tulisannya bagus, bukan akademisi komik, namun memiliki analisia tajam dalam memandang persoalan.

Tulisan-tulisan dalam blog Anton sangat saya nikmati. Ia memiliki kemampuan menulis yang sangat baik, bahkan lebih baik dari beberapa kenalan saya yang mengaku penulis. Dan ia juga pembenci tulisan rumit ala kritikus berwawasan filosofis. Ia pandai memandang sesuatu secara menyeluruh, mengambil sari patinya, lalu menuangkannya ke dalam tulisan mendalam berbahasa ringan. Singkat kata, tak diragukan lagi ia adalah penulis yang tepat.

Dan saat tulisannya tiba, saya merasa melayang ke awan. Saya bahagia. Anton memaparkan salah satu konsep komik Koel yang susah payah berusaha saya pegang teguh walau sepertinya kontra-populer. Yang saya tidak yakin benar apakah itu sampai ke pembaca. Konsepnya yang reflektif. Rasanya semua usaha yang saya kerahkan dan semua gagasan yang ingin saya lontarkan ke masyarakat memiliki guna.

Terima kasih sekali lagi untuk Anton. Selamat membaca.

Tentang Koel

Koel, yang dibaca sebagai Ko-eL, kalau ditulis dengan aksara Jawa maka akan ditulis dengan awalan aksara Ka dan diakhiri dengan La. Batara Kala dalam mitologi Jawa adalah raksasa yang menelan matahari saat gerhana terjadi. Keberadaanya sering diasosiasikan dengan ketidak-beruntungan. Pelafalan Koel sebagai ko-el sebenarnya cukup sulit diingat sehingga nama itu bersifat sonya alias sepi. Jika nama Koel dipakai untuk nama toko, maka toko tersebut adalah toko yang sepi atau tidak beruntung.

Dalam kehidupan pribadi komikus, nasib apes sudah diakrabi dengan baik. Ketidak-beruntungan yang menghampiri seringkali ditertawakan saja alih-alih disesali. Bahkan dalam blog pribadinya, komikus menganggap bahwa menertawakan kesialan sendiri adalah merayakan kehidupan, bentuk lain dari bersyukur.

Koel adalah pemuda biasa yang ingin tampil besar sebagai pemenang namun selalu dikecilkan dan dikalahkan baik oleh dosen, teman kuliah, Si Mbak Reporter, atau bahkan dikalahkan oleh hari libur. Jika seniman picisan selalu berujar bahwa ilham dalam berkarya berasal dari kegelisahan maka sebaliknya Koel berangkat dari kenyamanan. Koel nyaman untuk menampilkan dirinya sebagai pecundang, nyaman dengan sandal jepit dan rambut sugutnya, serta nyaman karena sering mendapat nilai E di kuliah.

Komik strip yang umumnya kita jumpai di koran nasional umumnya berupa kritik sosial kepada orang lain. Sementara buku komik yang beredar di pasaran bikinan komikus intenasional maupun maupun lokal mayoritas diisi tokoh-tokoh jagoan, mulai dari Tintin, Superman, hingga Gundala Putera Petir. Melalui tokoh pecundang bernama Koel ini kita lebih banyak diajak untuk melihat diri sendiri. Dengan mudah kita mengagumi para jagoan superhero atau bintang pop Korea hingga memasang foto mereka menjadi latar layar HP. Atau sebaliknya kita dengan mudah pula mengkritik para pejabat korup dan anggota DPR yang gemar membolos. Tetapi Koel lebih suka mengkritisi dirinya sendiri yang mengalami gejala schizophrenia ringan dengan menciptakan pacar imajiner atau mengkritisi kebiasaannya menumpuk utang. Kita seperti diingatkan bahwa tindakan dan keadaan kita perlu diteliti lebih lanjut sebelum menertawakan orang lain.

Jika kita berharap bisa tertawa hingga sakit perut berguling-guling gara-gara komik ini mungkin harapan itu agak berlebihan. Akan tetapi untuk tokoh komik yang cukup sering tampil monolog dalam frame-nya, Koel cukup berhasil membuat kita tergelak sambil sesekali bercermin diri. Namun demikian, standar sebuah kelucuan tidaklah sah jika tidak dikonfirmasi oleh anak gaul Jakarta, dan saya sayangnya hidup terlalu lama di Yogyakarta sehingga mungkin pandangan saya ini kurang valid. Kebetulan salah seorang rekan kantor, yang lahir dan besar di Jakarta, suka melihat komik mingguan Koel di Facebook dan berkomentar, “ Komik temen lu itu garing tapi renyah” demikianlah kira-kira gambaran umum kadar kelucuan Koel. Jadi tunggu apa lagi? Buka saja halaman berikutnya. Selamat menikmati!

Jakarta, Desember 2010
Anton Dewantoro
Pekerja kantoran biasa

 

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

2 Responses to Tentang Pengantar Koel 2

  1. antondewantoro says:

    engkau menaruh link ke blog ku kawan, upahmu besar di di surga!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s