Tuli Nada dan Gagap Tempo Saya


dibuat oleh vicky sebagai Koel’s fanart

Kedua kakak saya tidak bisa menyanyi. Sedari kecil. Jadi sejak saya belum sekolah, cerita seram mengenai kakak saya yang diketawai saat menyanyi di depan kelas terus menghantui.

Dan begitulah. Saat saya masuk sekolah dasar, mimpi buruk itu akhirnya turut hinggap dalam kehidupan saya. Saat pelajaran menyanyi, satu persatu siswa disuruh maju bergiliran susuai urutan absen. Di depan, kami harus menyanyi. Lagu bebas sih.

Sungguh saya tak tahu kenapa, tiap saya menyanyi di depan kelas teman-teman selalu tertawa keras-keras. Saya yang memang cengeng tentu saja menangis. Saya pikir kutukan keluarga juga menimpa saya. Kalau kakak saya diketawai karena bernyanyi tanpa nada, tentu saja itu juga yang menimpa pada saya.

Pelajaran menyanyi menjadi begitu menakutkan. Jauh lebih horor daripada film kuntilanak Suzana. Karena terlalu takutnya saya, ayah saya sempat dipanggil ke sekolah. Dari hasil dialog orang tua – guru ini saya dibebaskan dari kewajiban menyanyi di depan kelas. Saya masih selalu mengenang Bu Guru kelas dua yang baik hati itu. Kalau tidak salah namanya Bu Ning.

Tapi tentu saja itu tidak berlangsung lama. Hari berganti. Begitu juga guru. Saya harus kembali menyanyi di depan kelas dan menerima hujan tawa dari teman-teman. Resep saya waktu itu adalah bergegas maju saat dipanggil ke depan. Langsung menyanyi dengan irama cepat sambil menatap foto para pahlawan nasional di dinding belakang. Begitu selesai lirik terakhir, langsung melesat kembali ke bangku.

Sampai kira-kira kelas empat. Saya takjub dengan beberapa teman yang bisa berada di muka kelas tidak sampai LIMA DETIK! Saya coba mendengar apa yang mereka gumamkan, tapi tidak berhasil. Semuanya berlangsung terlalu cepat. Akhirnya saya bertanya pada salah satu pelaku.

“Tadi nyanyi apa sih?”

“Suwe Ora Jamu.”  (salah satu lagu daerah jawa)

“Mbok aku diajari.”

Suwe Ora Jamu memang memiliki lirik yang sangat pendek. Khas lagu jawa, temponya sangat lambat. Jadi kalau dinyanyikan kira-kira begini;

Suuuuweeeeeeeeeee ooraaaaaa jaaaaamuuuuuuuuu….
Jaaamuuuuuu gooodhoooooongggg teeelaaaaaaaaaa…..
Suuuuuweeeeeeeeeeee oooooraaaa keeeeteeemuuuuuu…..
keeeteeemuuuuu piiiisaaaaaan gaaaaweee geeeeeeeelaaaa.

Tapi kami menyanyikan dengan sangat cepat;

Swerajamu
Jamugdhongtela
Sweraketemu
Ktemupsan’gwegela!

Jadi kalau Jahanam dan teman-temannya dianggap sebagai pelopor rap jawa, percayalah kami telah melakukannya lebih dahulu.

Terpujilah pencipta lagu Suwe Ora Jamu. Beliau jadi penyelamat saya.Penyelamat Adit yang wajahnya sudah mau menangis begitu berdiri dari bangku. Penyelamat Sony yang selalu maju dengan wajah pucat dan terus menerus mematahkan jari-jarinya sampai-sampai bisa dikira suara ketukan pengiring lagu. Penyelamat semua anak pengidap nyanyiphobia.

Di SMP, insiden menyanyi saya berkenaan dengan lagu upacara bendera. Kami sekelas dilatih oleh Bu Seni Musik yang sudah saya lupakan namanya. Kami berlatih untuk menjadi koor upacara yang memang digilir dari kelas ke kelas.

Saya yang tahu diri dengan kemampuan olah vokal saya hanya menggerak-gerakkan mulut mengikuti suara teman-teman yang lain. Lipsync lah. Bu Seni Rupa yang telinganya sangat terlatih itu berhenti di dekat saya. Sebentar lalu ia menyuruh saya ikut menyanyi. Wah ketahuan pikir saya.

Tentu saja saya tidak berani bernyanyi. Saya hanya bergumam. Namun telinga Bu Seni Rupa memang benar-benar hebat. Ia berhenti di depan saya lagi. Lalu mendekatkan telinga ke muka saya.

“Ayo lebih keras!”

Okelah kalau itu mau anda. Saya mulai BENAR-BENAR bernyanyi. Saya tak tahu bagaimana ia melatih telinganya, tapi ia kembali berhenti di dekat saya. Kali ini mendekatkan mulut ke telinga saya. Lalu berbisik di tengah keras suara koor kelas kami.

“Kurnia mulutnya saja yang gerak ya, nggak usah pakai suara.”

Sungguh saya lupa bagaimana perasaan saya waktu itu. Tapi tentu saja saat ini saya mengingatnya dengan penuh tawa. Peristiwa yang tiada bandingnya dalam hidup saya.

Waktu SMU, paduan suara sekolah kami kekurangan pelamar. Jadi diadakan audisi wajib bagi kami yang kristen katolik. Bukannya diskriminasi, tapi memang dua agama ini yang umumnya sudah terbiasa menyanyi di gereja. Pengurus paduan suara kebanyakan juga memeluk dua agama ini. Kami diculik sehabis pulang sekolah. Dipaksa menyanyi satu-satu di ruang agama. Suasananya persis audisi Indonesian Idol. Celakanya, sepeda saya diparkir di depan ruang agama. Maka tak ayal lagi, terculiklah saya. Meronta tak guna, karena sepeda saya tersandera.

Di depan para “juri” saya ditanya,

“Mau menyanyi apa?”

“Pelangi” (sambil bingung memikirkan lagu yang gampang -entah kenapa saya lupa lagu “suwe ora jamu”)

“Silakan.”

“Pelangi pelangi, alangkah indahmu
Merah kuning hijau, di langit yang biru
bla bla bla dst…”

Setelah selesai saya dibebaskan dalam damai. Tentu saja saya tidak diterima. Audisi saya hanya membuang waktu mereka. Terserah, salah sendiri diberitahu tidak mau.

Yang tidak saya ketahui, ternyata audisi ini berbuntut panjang. Sewaktu berpapasan, kakak-kakak kelas tiga memasang wajah lugu lalu melagu, “Pelangi pelangi, alangkah indahmu…” Ternyata para “juri” audisi ini merasa telah saya permainkan. Seharusnya lagu yang boleh dinyanyikan adalah lagu pop. Dan kebetulan saat itu ada lagu pop yang sedang populer berjudul “Pelangi”. Nah, mereka mengira saya akan menyanyikan lagu itu. Maka saya sangat berterimakasih pada Tuhan yang telah menyelamatkan saya di ruang agama.

Ruang agama dengan pelajaran agamanya memang merupakan penerus teror menyanyi. Salah satu bahan ujian  EBTA (Evaluasi Bersama Tahap Akhir) praktek agama adalah menyanyi. Tidak sembarang menyanyi, tapi menyanyikan salah satu lagu rohani berbahasa jawa. Sendiri-sendiri satu persatu.

Memang terdengar mengerikan, tapi sebenarnya tidak terlalu berat. Kiat kami para lemah nada adalah cukup menghapalkan liriknya saja. Notasinya biar nanti improvisasi saat ujian berlangsung. Jadi jika anda sedang berjalan melewati ruang agama saat itu, mungkin saja anda akan mengira bahwa kami sedang menjalani ujian deklamasi.

Tidak salah kata teman saya Anang, “Kalau ngasih aba-aba Kurnia jangan do sama dengan C. Karena bagi Kurnia, do sama dengan re.”

Urusan kegagapan saya dalam bermusik yang paling legendaris bagi teman-teman dekat saya adalah saat kami kelas dua. Saat itu kami berlatih untuk pertunjukan teater. Saya yang menolak manggung berniat turut berperan dalam ilustrasi musik. Alat-alat yang kami pakai adalah alat-alat musik tradisional. Gamelan dan teman-temannya. Ada saron, ada bonang, ada kendang, ada rebana, dan semacamnya.

Pertama saya dilatih menguasai saron. Menyenangkan, tapi tentu saja saya gagal. Lalu dicoba alat musik lain. Juga menyenangkan. Tapi juga tidak kunjung saya kuasai. Indahnya adalah kami tidak pernah memecat anggota yang rajin berlatih seperti saya. Jadi setelah beberapa hari, Nadrik pelatih yang mengurus musik waktu itu, membawakan dua buah kentongan kecil. Satu kecil satu agak besar. Untuk saya! Yayyy!!!!

Tugas saya cuma memukulnya bergantian secara ritmis. Tik tok tik, tik tok tik, tik tok tik, tik tok tik – tok tik tok tik…

Untung tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak. Untuk urusan semudah itu, ternyata saya juga tidak bisa melakukannya dengan benar. Alamak! Saya gagap tempo. Oleh Anang yang sama dengan Anang yang di atas tadi, saya dibilang, “Kurnia itu nggak salah tempo. Dia cuma menciptakan temponya sendiri.”

Ya ya, saya rasa disebut egois memang lebih baik daripada disebut bodoh.

Tetapi dunia memang indah. Saya tetap tidak dipecat. Saya tetap berperan dalam ilustrasi musik pementasan. Tiap kali tempo saya ngawur, eh…tiap kali saya mencoba menciptakan tempo sendiri, Nadrik yang duduk di dekat saya akan memandang saya. Lalu memberi aba-aba dengan anggukan kepala. Cihuy, semua lancar!

Hanya saja setelah itu, saat teman-teman membicarakan kemampuan bermusik saya, salah satu dari mereka akan menyebut tentang insiden “tik tok”, lalu semua akan tertawa. Oh, malangnya saya. Untung ada Mas Nadrik yang baik hati.

Sewaktu berlatih, Nadrik pernah menatap saya tanpa saya sadari. Lalu ia berkata sembari menunjuk saya kepada pelatih yang lain, “Woh, asik banget tuh. Sepertinya menikmati sekali.”

Mendengar itu, saya lalu menyadari bahwa kepala saya sedang bergerak-gerak menuruti alunan musik (entah seirama atau tidak) tanpa saya sadari. Ya, saya memang sedang menikmati musik yang saya mainkan. Saya memang sangat menikmati musik.

Saya sangat menyenangi irama yang berloncatan menari-nari dalam kepala saya. Bahkan waktu kecil, saya suka menciptakan lagu sendiri. Saya akan mencatat liriknya dalam salah satu buku saya dalam tulisan anak-anak yang tidak karuan. Dan karena liriknya saja yang ditulis, tentu saja lagu itu menghilang bersama ingatan saya. Saat ini pun saya kadang bermain suling recorder, satu-satunya alat musik di rumah peninggalan kakak yang pernah terkena wajib drumband. Tentu saja anda tidak akan tahan mendengar permainan saya, tapi saya suka.

Kembali lagi waktu SD, kalau tidak salah kelas enam, saat horor menyanyi di depan kelas sudah ditawarkan dengan Suwe Ora Jamu, saya pernah bertanya kepada teman dekat saya.

“Eh, dahulu waktu masih kecil, kamu inget nggak kenapa kalau aku menyanyi di depan kelas selalu ditertawakan? Padahal yang nggak bisa nyanyi kan banyak, ada Sony, ada Adit, tapi kenapa aku yang ditertawakan paling keras?”

“Oh, kamu itu kalau nyanyi, badanmu itu selalu bergoyang ke kiri dan ke kanan.”

Saya baru memahami makna jawaban itu setelah saya dewasa. Astaganaga! Jadi saya ditertawakan bukan karena saya tidak bisa menyanyi. Tapi karena saya begitu menikmati nada-nada yang berdansa di kepala! Saya begitu menikmatinya sehingga tubuh saya bergoyang mengikuti irama langkah mereka. Dan karena goyangan itulah saya tumbuh dengan penuh rasa takut terhadap nada-nada itu sendiri.

siang hari di kamar, 12 Februari 2011

Kedua kakak saya tidak bisa menyanyi. Sedari kecil. Jadi sejak saya belum sekolah, cerita seram mengenai kakak saya yang diketawai saat menyanyi di depan kelas terus menghantui.

Dan begitulah. Saat saya masuk sekolah dasar, mimpi buruk itu akhirnya turut hinggap dalam kehidupan saya. Saat pelajaran menyanyi, satu persatu siswa disuruh maju bergiliran susuai urutan absen. Di depan, kami harus menyanyi. Lagu bebas sih.

Sungguh saya tak tahu kenapa, tiap saya menyanyi di depan kelas teman-teman selalu tertawa keras-keras. Saya yang memang cengeng tentu saja menangis. Saya pikir kutukan keluarga juga menimpa saya. Kalau kakak saya diketawai karena bernyanyi tanpa nada, tentu saja itu juga yang menimpa pada saya.

Pelajaran menyanyi menjadi begitu menakutkan. Jauh lebih horor daripada film kuntilanak Suzana. Karena terlalu takutnya saya, ayah saya sempat dipanggil ke sekolah. Dari hasil dialog orang tua – guru ini saya dibebaskan dari kewajiban menyanyi di depan kelas. Saya masih selalu mengenang Bu Guru kelas dua yang baik hati itu. Kalau tidak salah namanya Bu Ning.

Tapi tentu saja itu tidak berlangsung lama. Hari berganti. Begitu juga guru. Saya harus kembali menyanyi di depan kelas dan menerima hujan tawa dari teman-teman. Resep saya waktu itu adalah bergegas maju saat dipanggil ke depan. Langsung menyanyi dengan irama cepat sambil menatap foto para pahlawan nasional di dinding belakang. Begitu selesai lirik terakhir, langsung melesat kembali ke bangku.

Sampai kira-kira kelas empat. Saya takjub dengan beberapa teman yang bisa berada di muka kelas tidak sampai LIMA DETIK! Saya coba mendengar apa yang mereka gumamkan, tapi tidak berhasil. Semuanya berlangsung terlalu cepat. Akhirnya saya bertanya pada salah satu pelaku.

“Tadi nyanyi apa sih?”

“Suwe Ora Jamu.” (salah satu lagu daerah jawa)

“Mbok aku diajari.”

Suwe Ora Jamu memang memiliki lirik yang sangat pendek. Khas lagu jawa, temponya sangat lambat. Jadi kalau dinyanyikan kira-kira begini;

Suuuuweeeeeeeeeee ooraaaaaa jaaaaamuuuuuuuuu….

Jaaamuuuuuu gooodhoooooongggg teeelaaaaaaaaaa…..

Suuuuuweeeeeeeeeeee oooooraaaa keeeeteeemuuuuuu…..

keeeteeemuuuuu piiiisaaaaaan gaaaaweee geeeeeeeelaaaa.

Tapi kami menyanyikan dengan sangat cepat;

Swerajamu

Jamugdhongtela

Sweraketemu

Ktemupsan’gwegela!

Jadi kalau Jahanam dan teman-temannya dianggap sebagai pelopor rap jawa, percayalah kami telah melakukannya lebih dahulu.

Terpujilah pencipta lagu Suwe Ora Jamu. Beliau jadi penyelamat saya.Penyelamat Adit yang wajahnya sudah mau menangis begitu berdiri dari bangku. Penyelamat Sony yang selalu maju dengan wajah pucat dan terus menerus mematahkan jari-jarinya sampai-sampai bisa dikira suara ketukan pengiring lagu. Penyelamat semua anak pengidap nyanyiphobia.

Di SMP, insiden menyanyi saya berkenaan dengan lagu upacara bendera. Kami sekelas dilatih oleh Bu Seni Musik yang sudah saya lupakan namanya. Kami berlatih untuk menjadi koor upacara yang memang digilir dari kelas ke kelas.

Saya yang tahu diri dengan kemampuan olah vokal saya hanya menggerak-gerakkan mulut mengikuti suara teman-teman yang lain. Lipsync lah. Bu Seni Rupa yang telinganya sangat terlatih itu berhenti di dekat saya. Sebentar lalu ia menyuruh saya ikut menyanyi. Wah ketahuan pikir saya.

Tentu saja saya tidak berani bernyanyi. Saya hanya bergumam. Namun telinga Bu Seni Rupa memang benar-benar hebat. Ia berhenti di depan saya lagi. Lalu mendekatkan telinga ke muka saya.

“Ayo lebih keras!”

Okelah kalau itu mau anda. Saya mulai BENAR-BENAR bernyanyi. Saya tak tahu bagaimana ia melatih telinganya, tapi ia kembali berhenti di dekat saya. Kali ini mendekatkan mulut ke telinga saya. Lalu berbisik di tengah keras suara koor kelas kami.

“Kurnia mulutnya saja yang gerak ya, nggak usah pakai suara.”

Sungguh saya lupa bagaimana perasaan saya waktu itu. Tapi tentu saja saat ini saya mengingatnya dengan penuh tawa. Peristiwa yang tiada bandingnya dalam hidup saya.

Waktu SMU, paduan suara sekolah kami kekurangan pelamar. Jadi diadakan audisi wajib bagi kami yang kristen katolik. Bukannya diskriminasi, tapi memang dua agama ini yang umumnya sudah terbiasa menyanyi di gereja. Pengurus paduan suara kebanyakan juga memeluk dua agama ini. Kami diculik sehabis pulang sekolah. Dipaksa menyanyi satu-satu di ruang agama. Suasananya persis audisi Indonesian Idol. Celakanya, sepeda saya diparkir di depan ruang agama. Maka tak ayal lagi, terculiklah saya. Meronta tak guna, karena sepeda saya tersandera.

Di depan para “juri” saya ditanya,

“Mau menyanyi apa?”

“Pelangi” (sambil bingung memikirkan lagu yang gampang -entah kenapa saya lupa lagu “suwe ora jamu”)

“Silakan.”

“Pelangi pelangi, alangkah indahmu

Merah kuning hijau, di langit yang biru

bla bla bla dst…”

Setelah selesai saya dibebaskan dalam damai. Tentu saja saya tidak diterima. Audisi saya hanya membuang waktu mereka. Terserah, salah sendiri diberitahu tidak mau.

Yang tidak saya ketahui, ternyata audisi ini berbuntut panjang. Sewaktu berpapasan, kakak-kakak kelas tiga memasang wajah lugu lalu melagu, “Pelangi pelangi, alangkah indahmu…” Ternyata para “juri” audisi ini merasa telah saya permainkan. Seharusnya lagu yang boleh dinyanyikan adalah lagu pop. Dan kebetulan saat itu ada lagu pop yang sedang populer berjudul “Pelangi”. Nah, mereka mengira saya akan menyanyikan lagu itu. Maka saya sangat berterimakasih pada Tuhan yang telah menyelamatkan saya di ruang agama.

Ruang agama dengan pelajaran agamanya memang merupakan penerus teror menyanyi. Salah satu bahan ujian EBTA (Evaluasi Bersama Tahap Akhir) praktek agama adalah menyanyi. Tidak sembarang menyanyi, tapi menyanyikan salah satu lagu rohani berbahasa jawa. Sendiri-sendiri satu persatu.

Memang terdengar mengerikan, tapi sebenarnya tidak terlalu berat. Kiat kami para lemah nada adalah cukup menghapalkan liriknya saja. Notasinya biar nanti improvisasi saat ujian berlangsung. Jadi jika anda sedang berjalan melewati ruang agama saat itu, mungkin saja anda akan mengira bahwa kami sedang menjalani ujian deklamasi.

Tidak salah kata teman saya Anang, “Kalau ngasih aba-aba Kurnia jangan do sama dengan C. Karena bagi Kurnia, do sama dengan re.”

Urusan kegagapan saya dalam bermusik yang paling legendaris bagi teman-teman dekat saya adalah saat kami kelas dua. Saat itu kami berlatih untuk pertunjukan teater. Saya yang menolak manggung berniat turut berperan dalam ilustrasi musik. Alat-alat yang kami pakai adalah alat-alat musik tradisional. Gamelan dan teman-temannya. Ada saron, ada bonang, ada kendang, ada rebana, dan semacamnya.

Pertama saya dilatih menguasai saron. Menyenangkan, tapi tentu saja saya gagal. Lalu dicoba alat musik lain. Juga menyenangkan. Tapi juga tidak kunjung saya kuasai. Indahnya adalah kami tidak pernah memecat anggota yang rajin berlatih seperti saya. Jadi setelah beberapa hari, Nadrik pelatih yang mengurus musik waktu itu, membawakan dua buah kentongan kecil. Satu kecil satu agak besar. Untuk saya! Yayyy!!!!

Tugas saya cuma memukulnya bergantian secara ritmis. Tik tok tik, tik tok tik, tik tok tik, tik tok tik – tok tik tok tik…

Untung tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak. Untuk urusan semudah itu, ternyata saya juga tidak bisa melakukannya dengan benar. Alamak! Saya gagap tempo. Oleh Anang yang sama dengan Anang yang di atas tadi, saya dibilang, “Kurnia itu nggak salah tempo. Dia cuma menciptakan temponya sendiri.”

Ya ya, saya rasa disebut egois memang lebih baik daripada disebut bodoh.

Tetapi dunia memang indah. Saya tetap tidak dipecat. Saya tetap berperan dalam ilustrasi musik pementasan. Tiap kali tempo saya ngawur, eh…tiap kali saya mencoba menciptakan tempo sendiri, Nadrik yang duduk di dekat saya akan memandang saya. Lalu memberi aba-aba dengan anggukan kepala. Cihuy, semua lancar!

Hanya saja setelah itu, saat teman-teman membicarakan kemampuan bermusik saya, salah satu dari mereka akan menyebut tentang insiden “tik tok”, lalu semua akan tertawa. Oh, malangnya saya. Untung ada Mas Nadrik yang baik hati.

Sewaktu berlatih, Nadrik pernah menatap saya tanpa saya sadari. Lalu ia berkata sembari menunjuk saya kepada pelatih yang lain, “Woh, asik banget tuh. Sepertinya menikmati sekali.”

Mendengar itu, saya lalu menyadari bahwa kepala saya sedang bergerak-gerak menuruti alunan musik (entah seirama atau tidak) tanpa saya sadari. Ya, saya memang sedang menikmati musik yang saya mainkan. Saya memang sangat menikmati musik.

Saya sangat menyenangi irama yang berloncatan menari-nari dalam kepala saya. Bahkan waktu kecil, saya suka menciptakan lagu sendiri. Saya akan mencatat liriknya dalam salah satu buku saya dalam tulisan anak-anak yang tidak karuan. Dan karena liriknya saja yang ditulis, tentu saja lagu itu menghilang bersama ingatan saya. Saat ini pun saya kadang bermain suling recorder, satu-satunya alat musik di rumah peninggalan kakak yang pernah terkena wajib drumband. Tentu saja anda tidak akan tahan mendengar permainan saya, tapi saya suka.

Kembali lagi waktu SD, kalau tidak salah kelas enam, saat horor menyanyi di depan kelas sudah ditawarkan dengan Suwe Ora Jamu, saya pernah bertanya kepada teman dekat saya.

“Eh, dahulu waktu masih kecil, kamu inget nggak kenapa kalau aku menyanyi di depan kelas selalu ditertawakan? Padahal yang nggak bisa nyanyi kan banyak, ada Sony, ada Adit, tapi kenapa aku yang ditertawakan paling keras?”

“Oh, kamu itu kalau nyanyi, badanmu itu selalu bergoyang ke kiri dan ke kanan.”

Saya baru memahami makna jawaban itu setelah saya dewasa. Astaganaga! Jadi saya ditertawakan bukan karena saya tidak bisa menyanyi. Tapi karena saya begitu menikmati nada-nada yang berdansa di kepala! Saya begitu menikmatinya sehingga tubuh saya bergoyang mengikuti irama langkah mereka. Dan karena goyangan itulah saya tumbuh dengan penuh rasa takut terhadap nada-nada itu sendiri.

siang hari di kamar, 12 Februari 2011

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

12 Responses to Tuli Nada dan Gagap Tempo Saya

  1. Timbul says:

    Astaghfirullah….

  2. antondewantoro says:

    kapan yuk kita pentas opera

  3. Gugun 7 says:

    Mase Kurnia ketemu maning ning kene

  4. mbok mangkat jazz mben senes tiap senin malam di bentara budaya jogja 9pm till 12.00 pm

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s