Debat Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir dan Bapak Pemandu RRI


Perlu tidaknya pembangkit tenaga nuklir di Indonesia sudah jadi pembahasan yang berkepanjangan. Ada yang pro, banyak yang kontra. Beragam alasan dikemukakan. Yang pro menggunakan alasan ketersediaan energi yang terbatas, yang kontra lebih banyak lagi alasannya.

Salah satu solusi yang paling sering dikemukakan pihak kontra untuk membantah pihak pro adalah penggunaan sumber energi alternatif. Penggunaan energi alternatif dipandang sebagai jalan terbaik untuk mengatasi keterbatasan energi. Indonesia dipandang kaya sumber energi alternatif. Ada panas bumi. Ada pasang surut. Ada angin. Ada mikrohidro. Ada bioenergi. Ada macam-macam. Selain sumber energi alternatif, pihak yang kontra dengan energi nuklir juga mengungkit melimpahnya cadangan batu bara Indonesia.

Saya sebenarnya malas mengikuti segala debat tetek bengek soal itu. Saya rasa cuma ada satu hal yang saya ketahui dengan cukup baik. Persoalan yang ada tidaklah sesederhana yang dibicarakan para pengusung gagasan sumber energi alternatif. Untuk masalah mencukupi ketersediaan energi, saya condong mendukung didirikannya pembangkit listrik tenaga nuklir.

Sejauh pengetahuan saya, krisis energi negara kita ini bukan serta merta krisis energi nasional. Tapi lebih ke krisis energi Jawa! Jadi jangan mudah menggampangkan masalah. Batu bara dari Kalimantan harus diangkut melalui pelabuhan-pelabuhan yang sudah mulai over-loaded. Proyek untuk gasifikasi baru bata malah sudah tidak terdengar lagi gaungnya, mungkin dulu hanya sebatas wacana. Teknologi untuk energi panas bumi masih belum berhasil sepenuhnya. Dampak sosial, efesiensi rendah, dan turbin yang mudah rusak selalu jadi masalah. Lupakan mikrohidro, karena yang kita bicarakan adalah pemenuhan energi untuk kota-kota besar bukan desa-desa terpencil. Apakah Anda berpikir kita bisa mengambil energi gerak dari air Sungai Ciliwung? Proyek percobaan energi pasang surut juga kabarnya terkatung-katung.

Bagaimana dengan bioenergi. Petani sekarang mulai membabati tanaman jaraknya karena proyek tersebut gagal dengan alasan konyol; harga minyak bioetanol lebih mahal dari harga minyak fosil. Bukankah dari awal ini sudah diketahui.

Itulah alasan utamanya, masyarakat kita mau serba enak!! Solusi solusi ditawarkan, tapi siapkah kita dengan konsekuensi dari solusi itu? Tidak!!

Kita mau energi tersedia dan berharga murah. Di lain pihak, kita tidak mau berhemat karena harganya murah. Kita menolak sumber energi beresiko mematikan seperti nuklir. Tapi dengan entengnya kita berboros menggunakan energi fosil yang mematikan perlahan dengan polusinya. Kita malas mematikan lampu yang tidak terpakai. Kita malas berjalan atau bersepeda atau menggunakan transportasi umum. Dan begitu pasokan energi tersendat, kita marah alang kepalang.

Di acara berita Metro TV, Sony Keraf, seorang pemerhati lingkungan hidup, menyatakan bahwa kita belum siap! Saya mengambil kesimpulan sendiri dari penjelasan beliau.  Lebih baik kita jangan menggunakan suatu tekhnologi yang beresiko tinggi. Karena kita, masyarakat Indonesia, belum bisa mempercayakan keselamatan kita sendiri pada sesama manusia Indonesia. Menyedihkan bukan?

Dahulu saya sempat kerja praktek di RRI Yogyakarta. Sempat kami serombongan dibawa melihat-lihat ruang mesin pemancar. Seperti ruang-ruang mesin pada umumnya, ruang tersebut sangat dingin. Karena kalau tidak, mesin akan cepat rusak. Kira-kira beginilah petikan penjelasan salah seorang bapak karyawan RRI selaku pemandu kami,

“Wah, seharusnya ini masih lebih dingin lagi. Masuk harus pakai jaket. Kalau pengawasnya datang (bule-bule dari mana mesin tersebut dibeli), dijamin kami akan dimarahi habis-habisan. Jadi kalau mereka bilang mau datang, kami akan turunkan lagi suhunya.”

“Tidak takut mesinnya cepat rusak Pak?”

“Gimana lagi ya? Tiap jam kami kan harus masuk buat memeriksa. Kalau terlalu dingin nanti kami masuk angin. Ini kan cuma mesin, lha kalau kami yang sakit nanti malah tidak bisa masuk kerja.”

Saya tidak mau gegabah mendukung atau menolak pendirian pembangkit listrik tenaga nuklir. Toh bukan saya juga yang punya wewenang. Tapi satu hal yang saya ketahui pasti. Kalau pembangkit listrik tenaga nuklir jadi didirikan di Jawa dan ternyata bapak pemandu dari RRI itu diterima kerja di sana, saya akan buru-buru cari kerja di luar negeri. Kalau perlu saya tanggalkan status WNI saya. Saya boyong orang tua dan anjing tercinta untuk berada jauh-jauh dari Pulau Jawa.

17 Maret 2011, malam hari di kamar sembari berbagi apel dengan anjing saya.

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

6 Responses to Debat Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir dan Bapak Pemandu RRI

  1. kawelangi says:

    hag hag hag!
    ‘sebentar, saya maen dragon age dulu’

  2. anton says:

    Terlalu insinyur juga menyebalkan, saya kebetulan sedang muak dengan pengawas baterai dari Inggris yang selalu menginginkan suhu ruangan di bawah 25 derajat celcius guna memperpanjang umur baterai di perangkat komunikasi. Ketika diaudit tampak bahwa biaya operasional AC per tahun lebih mahal daripada harga baterai dan tentu saja bapak pengawas dari Inggris itu juga mahal sekali bayarannya hingga 10 kali lipat tukang lokal. Andai saja bapak RRI itu yg dipekerjakan , dunia damai.

    • Wah, itu sih namanya perusahaan goblok mempekerjakan insinyur goblok!

    • berli says:

      karena anda hanya meng-audit hanya satu sisi saja operational cost, anda pernah menghitung ga berapa kerugian dampaknya klo baterai nya rusak..? trus anda yakin kalau baterainya rusak tinggal beli ke indomaret di depan komplek hehee.. belum lagi instalasi baterai nya, reset sistem (mungkin aja), prosedur teknis lain yg anda ga tahu dan hanya bisa oleh ahlinya.. dan tentu ada biaya lagi manpower ahli..
      coba deh itung kerugian akibat breakdown baterai sama biaya operasional AC.? masih bisa bilang murah ganti baterai.
      Make up your mind pak anton, jgn percaya-percaya aja sama auditor akuntan gak jelas, krn mereka ga akan pernah paham “engineering”.

  3. Popo says:

    Menarik! Menarik!
    tapi tolong jelaskan yang bagian ini saya kurang mengerti,
    “Wah seharusnya ini masih lebih dingin lagi”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s