Setan Kredit Berbentuk Mbak Dengan Suara Manis


Banyak cara orang mencari uang. Salah satunya menjadi rentenir. Atau jaman dulunya sering disebut lintah darat. Memang sebutan itu memiliki konotasi negatif. Tapi tidak selalu demikian. Kadang para lintah darat ini memang diperlukan agar perekonomian suatu daerah bisa bergulir.

Pada jaman modern ini, kita masih tetap mengenal lintah darat. Bahkan ukurannya jauh lebih besar. Lintah darat jumbo. Lintah darat raksasa. Kita menyebutnya PERBANKAN.

Yang unik dari lintah darat raksasa ini adalah kita juga dibujuk buat berutang padahal sebenarnya tidak butuh. Tentu saja caranya dengan mengiming-imingi kartu kredit.

Awalnya saya iri sama teman-teman yang ditawari kartu kredit oleh bank-bank terdekat. Bukan berarti saya ingin punya kartu kredit juga, cuma kok rasanya tersisih. Sepertinya bank membedakan saya dengan teman-teman saya.

Memang beda sih, malah besar sekali bedanya. Tingkat pendapatan kami jelas-jelas beda, jadi wajar saja kalau saya tidak ditawari kartu pengutang itu. Tapi tetap saja kenyataan tersebut membuat rasa iri yang sudah mendarah daging dalam diri saya meronta ke permukaan. Oh, seandainya saya tidak berpikir demikian.

Doa saya dijawab Tuhan. Sebuah nomor tak dikenal menghubungi saya. Suara mbak-mbak yang ramah memperkenalkan diri. Dari bank yang jadi rekanan perusahaan tempat saya bekerja dulu. Sebut saja perusahaan K. Perusahaan K memang mewajibkan karyawannya mempunyai rekening di sana untuk mempermudah pembayaran gaji.

Saya ditawari kartu kredit! IHIY!!

Tapi begitulah saya. Saya cuma ingin ditawari, bukan ingin memiliki. Jadi penawaran itu saya tolak dengan halus. Dan…UGH! Ternyata menolak mbak-mbak tukang kartu kredit ini jauh lebih menyebalkan dari yang saya sangka. Sudah ditolak masih menanyakan alasannya juga. Muter-muter njlimet-njlimet. Tiap alasan saya ditangkis dengan suatu solusi. Solusinya memang tepat sih, tapi saya kan cuma beralasan saja. Intinya adalah saya tidak mau punya kartu kredit. Titik.

Kutukan itu tidak berhenti di situ. Penolakan pertama tidak membuat mbak-mbak bersuara manis berhenti mengejar saya yang bersuara pahit. Enggg…sebenarnya bahkan saya tidak tahu apakah itu mbak-mbak yang sama.

“Tululut lululut”

“Halo”

“Halo, apakah benar saya berbicara dengan Bapak Kurnia?”

“Benar, saya sendiri.”

“Saya dari bla bla bla menawarkan bla bla bla. Sebelumnya apakah benar Bapak Kurnia bekerja di perusahaan K?”

“Oh sudah tidak lagi.”

“Kalau boleh tahu sekarang Bapak bekerja di mana?”

Berdasar pengalaman yang sudah-sudah saya membuat strategi.

“Saya sekarang kerja di Jakarta. Tapi cuma KERJA KONTRAK NGGAK JELAS.”

“Oh, sayangnya penawaran kami hanya berlaku untuk karyawan tetap atau pekerja kontrak dengan jangka waktu tertentu. Maaf dulu Pak, mungkin kami akan menawarkan kembali di lain kesempatan.”

Yesss!!! Cara menolak yang brilliant dari saya. Sayangnya itu tidak bertahan lama. Besok-besoknya lagi mbak-mbak tukang kredit tetap membujuk walau saya hanya “pekerja kontrak tidak jelas” atau “pegawai serabutan dengan pendapatan tak menentu”. Memutuskan pembicaraan dengan berkata sedang sibuk atau sengaja tidak mengangkat telepon juga bukan solusi yang bagus. Karena mbak-mbak agresif ini akan terus menghubungi.

Ibu saya menasehati saya, “Mereka itu kan cuma cari uang. Kalau nggak ada yang mau kartu kredit nanti bagaimana dengan anak-anaknya di rumah? Wajar kalau mereka mengejar-ngejar terus”

Karena itu saya tetap berusaha selalu sopan sembari mencari strategi baru untuk menolak. Percakapan paling tidak sopan yang saya lakukan kira-kira seperti ini,

“Maaf saya tidak berminat.”

“Kenapa Bapak?”

“Enggak aja.”

“Ini tidak memakai biaya lho Pak.”

“Maaf nggak.”

“Kenapa tidak diaktifkan sekarang saja Pak, mungkin sewaktu-waktu butuh.”

“Enggak.”

“Kalau boleh tahu alasannya Pak? Mungkin kami bisa mencarikan solusinya?”

“Mmmm…Nggak.”

Begitu seterusnya. Pokoknya latah ngomong “nggak nggak” terus sampai mbaknya lelah dan menyerah. Untung Si Mbak tidak sempat berujar, “Mau saya carikan istri yang cantik, pintar, baik, dan kaya?” Strategi latah saya bisa-bisa membuat saya melewatkan peluang emas.

Namun percakapan paling ekstrim yang membuat saya cukup syok terjadi belum lama ini.

“Kalau boleh tahu apakah Bapak masih bekerja di PT K ?”

“Nggak.”

“Kalau begitu sekarang Bapak bekerja di mana?”

“Saya pengangguran.”

“Oh, sudah tidak menjadi karyawan lagi ya Pak?”

“Benar.”

“Wiraswasta mungkin?”

“Nggak.”

“Mmm, tapi tentu Bapak masih punya sumber penghasilan kan ya?”

“Nggak.”

“Lalu sekarang Bapak usaha apa?”

“Nggak ada.” (mulai berpikir teganya mbak-mbak kartu kredit satu ini)

“Rencana usaha? Buka toko mungkin?”

“Nggak ada.”

“Kalau keluarga?”

“Apanya?”

“Kalau keluarga usaha apa ya Pak?”

“Nggak ada.”

“Lalu keluarga berpenghasilan dari apa Pak?”

“Nggak ada.” Serem sendiri dengan ucapan saya, saya menambahkan,

“Sekarang nggak ada. Sekarang saya pengangguran dan tidak berpenghasilan.”

“Oh baiklah kalau begitu Bapak. Mungkin kalau Bapak sudah berpenghasilan lagi bisa menghubungi Bank *****.”

“Terima kasih.”

Fiuhhh….Sungguh saya sebenarnya gentar juga sampai berbohong seperti itu. Bagaimana kalau itu benar-benar terjadi. Tapi di lain pihak saya rasa mbak-mbak kartu kredit itu juga keterlaluan. Apakah mencari uang harus sampai meninggalkan empati. Bayangkan apa yang saya rasakan jika waktu itu saya sekeluarga benar-benar dalam kondisi tidak berpenghasilan dan dikejar terus dengan penawaran kredit semacam itu. Sebenarnya saya tergoda juga berucap,

“Bahkan saya tidak tahu besok harus makan apa!”

Tapi mungkin mbak-mbak kartu kredit nir empati itu akan menjawab,

“Kalau begitu pas sekali jika Bapak memiliki kartu kredit. Bapak bisa menggunakannya di supermarket terdekat dan tidak perlu bingung untuk utang di warung.”

5 April 2011, siang hari di kamar.

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

18 Responses to Setan Kredit Berbentuk Mbak Dengan Suara Manis

  1. robertusarian says:

    Kurnia,
    setelah punya kartu kredit, penawaran dari mbak-mbak bersuara manis itu malah makin menjadi. Makin ditolak makin menjadi… Kadang malah tambah bingung. Ra diangkat, aja-aja masalah transaksi kemarin yang musti dikonfirmasi. Diangkat jebul nawani utang, nawani asuransi, nawani pinjaman, tapi ncen ra ana sing nawani bojo… bener kuwi…
    Sing kudu ditertibke ki ra mung debt collector, tapi telemarketingnya juga…. munyuk tenan kok iki…

  2. Sisca says:

    Hmm.. Artikel yang menarik..

    Jadi tahu kedepannya buat ngadepin kustomer sinis kyk gini …
    hahahaha…

  3. Ukay says:

    Pak kurnia emang hebat! lucu n menyentuh…..! aq dah baca komik yg ke 2…..! tentuny bli bkuny jg!

  4. Woalah, tega bener ya mbaknya.. Sampai ga pake perasaan saat ngebales jawaban kamu.. -__-“

  5. anton says:

    Pak Kurnia nganggur dan gak punya cewek?

    Kejam nian si tukang kredit mengungkit itu semua

  6. Mika says:

    Mulai kesepian ya? Nda ada lawan jenis, berharap kartu kreditpun jadi

  7. bem whiezhanarcho says:

    pernah pas jam pulang saya ditawarin, karena super duper ngueyelll akhirnya sambil jalan ke parkiran motor saya pura2 ga denger suaranya, itu si mbak ngomong cas..cis..cus… ndak tau kali yah kalo lawan bicaranya dah ga dengerin lagi😀 …

    • Haha, ketika memberi penjelasan produk saya juga tidak pernah benar-benar mendengarkan. Sekadar siap siaga saja buat merespon kalau mereka bertanya demi menjaga sopan santun. Saya rasa sebenarnya mereka sadar kalau kita tidak memberi perhatian, tapi tetap saja maju terus pantang mundur. Persis seperti anjuran-anjuran pelatihan dan buku-buku pengembangan diri ala “Menjual dengan Sukses”😀

  8. negeribocah says:

    saya juga ga punya kartu kredir dan i’m happy tuh
    serem juga ngelihat kejadian bank anu yg (katanya) pake jasa tukang tagih serem yang suka gebukin orang … hiiii takuuutttt

  9. namakudodie says:

    tapi perlu memikirkan juga si mbak-nya lho… dia ngomong gitu kan tuntutan pekerjaan…

    apa mbak-mbak itu dengan ikhlas dan senang hati melakukan itu? dia saya rasa juga terpaksa melakukan itu demi mendapatkan penghasilan… jadi yang nelpon sama yang ditelpon sama-sama berada di posisi korban..

    • Tentu !

      Bukan sekedar meraih target pengguna kartu. Pasti percakapan itu juga ada prosedurnya. Kalau saya jawab ini ia harus berkata itu. Bahkan telepon itu juga direkam oleh perusahaan, jadi ia harus mempertanggung jawabkan percakapannya juga. Dalam peradaban yang semakin mbulet ini kita semua dikorbankan atas nama kemajuan. Kemajuan apa saya tidak tahu. Semoga saja kita semua mampu menjaga pikiran agar tetap jernih @_@

      btw: di telepon terakhir beberapa hari lalu saya mulai kehilangan kesabaran @_@…tsk, mungkin besok lagi saya mulai berkata lebih ngawur

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s