Kenangkanlah Aku Dengan Perayaan Seminggu Sekali!


Sering ada pertanyaan ke saya,

“Kok nggak ke gereja?”

Kalau saya anggap si penanya cukup moderat dan bisa bercanda, maka saya akan menjawab,

“Yesus saja nggak pernah ke gereja kok!”

“Tapi Yesus kan ke Bait Allah!”

“Benar, Bait Allah itu tempat ibadat orang Yahudi. Apa hubungannya sama ke gereja.”

“Artinya kalau nggak ke Bait Allah kamu harus ke gereja. Intinya adalah pergi ke tempat ibadat.”

“Memangnya Yesus pernah nyuruh. Nggak kan?”

“Ada. Di sepuluh perintah Allah; Rayakanlah Hari Tuhan!”

“Memang Tuhan bilang Hari Tuhan itu Minggu? Bahkan Tuhan nggak bilang harinya ada tiap seminggu sekali. Bisa saja cuma seabad sekali. Bahkan semillenium sekali. Lagi pula memang ada ya hari yang milik Tuhan dan hari yang bukan milik Tuhan?”

Ya ya ya, tentu saja itu argumen ngawur. Jangan dipercayai kebenarannya. Itu cuma alasan. Alasan saja buat saya yang malas ke gereja. Saya juga ke gereja kok, walau mungkin setahun cuma satu dua kali.

Kalau mau dalil-dalilan ngawur mengapa saya tetap ke gereja, saya memakai ayat yang menyebutkan Yesus memecah roti pada perjamuan terakhir dan berkata, “Kenangkanlah aku dengan merayakan peristiwa ini!” Jadi saya tetap berangkat ke gereja buat mengenang Yesus. Tentu nggak setiap minggu, bukankah Yesus juga tidak berkata, “Kenangkanlah aku dengan merayakan peristiwa ini tiap hari Minggu, Sabtu sore juga boleh!”


Maka berdasar dalil itu, dalam masa kira-kira dua tiga tahun, saya sempat ke gereja benar-benar hanya sekali dalam setahun. Saat Kamis Putih, hari perayaan perjamuan terakhir tersebut. Tentu saja ini juga alasan. Alasan malas sering-sering ke gereja. Dari pada ke gereja saat Natal, Jumat Agung, atau Paskah, saya merasa lebih nyaman ke gereja saat Kamis Putih. Cenderung sepi. Dan tentu saja misanya lebih cepat.

Tapi seperti yang telah digariskan oleh Tuhan, rasa malas saya bertambah. Jadi sudah bertahun ini saya tidak pernah ke gereja lagi pada saat hari raya. Sebagai gantinya saya ke gereja saat ingin saja. Tapi benar kok, setahun paling tidak sekali.

Ah, setahun tidak ke gereja sama sekalipun saya akan punya alasan. Orang malas selalu punya alasan, walau sebenarnya tidak perlu. Buat apa saya membela diri di depan sidang pembaca.

Pembaca yang beragama dengan baik tentu menganggap saya ini sesat. Murtad. Kafir. Calon penghuni neraka. Dan dengan nyata juga akan saya akui, saya umat gereja yang sesat. Mungkin calon penghuni neraka. Mungkin. Karena Tuhan kan maha pengampun. Siapa tahu ia ampuni segala dosa saya. Dan ke surgalah saya dengan Anda sekalian.

Loh! Tidak mungkin! Tulisan saya ini mengolok-olok iman Kristiani, mengolok-ngolok institusi gereja, masak dosa saya akan diampuni Tuhan? Mungkin demikian pemikiran Anda. Mungkin juga benar adanya.

Sejarah mengenal masa-masa kelam gereja. Masa-masa ini berlangsung antara sekitar abad sebelas sampai dengan akhir abad delapan belas. Saat itu moral gereja jatuh pada titik terendah. Gereja mengeluarkan surat aflat, surat penebusan dosa. Jadi dosa-dosa kita bisa dihapuskan jika kita memiliki cukup uang. Caranya adalah dengan membeli surat itu. Saya tidak ingin kembali ke masa itu untuk menebus dosa-dosa saya. Mau bagaimana lagi, saya juga tidak punya banyak uang.

Di masa itu, sejarah juga mengenal inkuisisi gereja. Inkuisisi adalah pengadilan gereja abad pertengahan yang ditunjuk untuk menyelidiki hal-hal yang bertentangan dengan tradisi dan aturan gereja. Inkuisisi tidak sekeren istilahnya. Inkuisisi adalah kekuasaan tak terbatas. Inkuisisi adalah penyiksaan kelewat batas. Pengadilan tanpa keadilan. Brutal. Sadis.

Para tertuduh bahkan tidak mengetahui siapa yang menuduhnya. Penyiksaan dengan berbagai macam metode dan berbagai macam alat digunakan untuk mengorek keterangan. Jika mereka tidak mengakui, mereka akan dibakar. Jika mereka mengakui, hukuman mungkin lebih baik. Dicambuk. Dibuang. Dikucilkan. Dan tentu saja, mengaku atau tidak mengaku, harta kekayaan mereka dirampas untuk gereja.

Lucunya lagi adalah, tuduhan “melawan tradisi dan aturan gereja” ini dapat terjadi bagi orang-orang yang nyata-nyata tidak akan kita anggap bersalah pada jaman sekarang. Coba kita lihat siapa saja yang dibakar.

Wanita yang membuat ramuan dari tumbuh-tumbuhan untuk obat, karena itu berarti ia adalah penyihir. Pesulap yang tidak mau memberitahukan trik sulapnya, karena berarti ia menggunakan kekuatan yang berasal dari iblis. Ilmuwan yang meyakini Bumi bergerak mengelilingi Matahari, karena berarti ia menentang “tafsir” alkitab.

Untunglah masa itu telah berlalu. Gereja membenahi diri, dan akhirnya telah meminta maaf pada dunia! Gereja telah menjadi institusi yang baik kembali, penuh kasih sayang, yang tidak akan menghukum saya karena telah menulis racauan seperti ini. Mungkin di cap sesat. Tapi tidak akan diberi hukuman fisik. Tidak akan dibakar dan dibunuh. Haha, saya suka kebebasan.

Daftar dosa gereja di atas bisa dibuat lebih panjang lagi, tapi tentu saja kasihan saya sebagai penulis yang harus meriset lebih banyak. Walaupun akhirnya gereja telah meminta maaf, kita, yang kini hidup dalam masa modern, dapat melihat betapa dalam dosa yang telah dilakukan oleh gereja.

Untungnya Tuhan Maha Pengampun. Yesus penuh belas kasih! Dengan memikul salib ke puncak Golgota, ia pikul juga dosa-dosa umat manusia. Hmmm…coba bayangkan sebentar, kira-kira seberapa banyak dosa gereja mengisi ruang dalam salib itu. Tapi Yesus wafat! Lalu bangkit! Yihaaaa! Hanguslah dosa-dosa umat manusia. Yang perlu kita lakukan hanyalah percaya dan meminta pengampunan. Itu menurut gereja. Sepertinya.

Dan karena Tuhan bersedia mengampuni dosa-dosa gereja yang maha dahsyat, terakumulasi selama berabad-abad, bahkan masih mengijinkannya untuk menggembala umat, maka saya pun berkeyakinan sebesar biji sesawi kalau dosa-dosa saya yang lalu dan akan datang, pasti juga akan diampuniNya! Halleluya!

Kurang ajar sekali ya saya! Haha! Tapi tentu saja hal di atas, sekali lagi seperti tadi, hanyalah alasan saya untuk tidak mengacuhkan perintah-perintah gereja. Lha wong gereja saja pernah salah sampai menyedihkan seperti itu, bagaimana kita bisa yakin kalau sekarang tidak salah lagi. Jadi saya lebih percaya bisikan nurani dalam hati saya, daripada khotbah pastur di mimbar. Begitulah kira-kira.

Begitulah kira-kira alasan saya jika ditanya kenapa tahun ini belum ke gereja juga. Dan jika saya didesak dan didesak, tidak boleh pakai alasan ngawur, akan saya nyatakan bahwa saya memang bukan dan tidak berminat jadi umat gereja yang baik. Saya hanya ingin jadi murid Yesus yang baik. Perlu diingat, Yesus tidak ada sangkut pautnya dengan gereja. Membuat agama saja tidak, apalagi institusinya. Gereja sendirilah yang menyangkut-nyangkutkan diri.

Dan bagi saya, menjadi murid Yesus yang baik bukanlah rajin hadir di perayaan mengenang kisah hidupnya. Menjadi murid Yesus yang baik adalah menjalankan ajarannya.

Jadi kalau saya disuruh mengenang Yesus, saya tidak akan pilih Natal. Atau Minggu Palma. Saya tidak pilih Paska. Kamis Putih apalagi Jumat Agung. Untuk apa bikin upacara sedih-sedih jika kita semua tahu kalau tiga hari lagi Ia akan bangkit. Konyol.

Kalau saya ingin mengenang, saya memilih mengenang Yesus saat ia memberikan khotbah di bukit. Saat ia berseru,

“Setiap orang yang marah terhadap saudaranya harus dihukum; siapa yang berkata pada saudaranya: Kafir! harus dihadapkan ke Mahkamah Agama dan siapa yang berkata: Jahil! harus diserahkan ke Neraka yang menyala-nyala.”

“Janganlah kamu melawan orang yang berbuat jahat kepadamu, melainkan siapapun yang menampar pipi kananmu, berikanlah juga pipi kirimu. Dan barang siapa hendak mengadukan kamu karena menginginkan bajumu, serahkanlah juga jubahmu. Dan siapapun yang memaksa engkau berjalan satu mil, berjalanlah dengan dia dua mil. Berikanlah kepada orang yang meminta kepadamu dan janganlah menolak orang yang mau meminjam dari padamu.”

“Dan apabila kamu berdoa, janganlah berdoa seperti orang munafik. Mereka suka mengucapkan doanya dengan berdiri di dalam rumah-rumah ibadat dan pada tikungan-tikungan jalan raya, supaya mereka dilihat orang.”

“Janganlah kuatir akan hidupmu, akan apa yang kau makan dan apa yang kau minum, janganlah kuatir pula akan tubuhmu, akan apa yang hendak kau pakai. Bukankah hidup itu lebih penting dari pada makanan dan tubuh lebih penting dari pada pakaian?”

“Janganlah kamu menghakimi, supaya kamu tidak dihakimi. Karena dengan penghakiman yang kamu pakai untuk menghakimi, kamu akan dihakimi dan ukuran yang kamu pakai untuk mengukur, akan diukurkan kepadamu.”

Saya tidak malu karena tidak pergi ke gereja. Saya tidak merasa bersalah karena sudah mengolok aturan gereja. Tapi tiap saat saya membaca dan mengingat khotbah di bukit, saya merasa malu. Karena saya belum. Belum menjadi murid Yesus yang baik.

Senin, 18 April 2011. Malam hari setelah melihat kalender, baru sadar Paska datang sebentar lagi.

Sumber:

http://www.sarapanpagi.org/inkuisisi-dalam-sejarah-gereja-vt1554.html
http://djokoyuniarto.multiply.com/journal/item/13/REFORMASI_GEREJA
Injil Matius
Beberapa buku dan dokumenter yang saya tonton, tapi sudah lupa judulnya

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

22 Responses to Kenangkanlah Aku Dengan Perayaan Seminggu Sekali!

  1. Tobias Tjandra says:

    Nice article, Kur. Ini tulisan kamu sendiri / hasil pemikiran sendiri?

    • Terima kasih ^_^. Ya, untunglah saya menulis pemikiran sendiri. Apa jadinya dunia jika terlalu banyak orang yang berpikir seperti saya :p

      • Tobias Tjandra says:

        1. Rasanya dunia akan menjadi lebih baik😀
        2. Rasanya (lagi) memang banyak kok yg se-pemikiran dengan kamu😀 hahaa….

      • Hahaha, semoga memang bisa lebih baik. Iya sih, sepertinya memang banyak juga. Cuma kebanyakan ndak mau bersuara, atau kalah sama pemikiran lain yang suka teriak-teriak😀

  2. yust says:

    “Janganlah kamu menghakimi, supaya kamu tidak dihakimi. Karena dengan penghakiman yang kamu pakai untuk menghakimi, kamu akan dihakimi dan ukuran yang kamu pakai untuk mengukur, akan diukurkan kepadamu.”

  3. Gugun 7 says:

    Saya kenalkan teman saya Kur, persis sama apa yang terjadi padamu.

  4. Ferdin says:

    Nice story , coba dah buka yg satu ini
    http://diarysiloser.wordpress.com/

  5. anton says:

    kalau di game “Medieval Total War” pas inquisitor muncul biasanya waktu kuliah dulu kami yang pada main ngakak-ngakak puas karena jenderal yang kita inkuisisi pasti tersingkir dan pasukannya mudah dibasmi.

    Gereja selama lebih dari 2000 tahun bekerja lebih seperti mesin politik yang keji ketimbang lembaga agama yang mengayomi. Itulah juga sebabnya ia bertahan begitu lama dan memiliki umat terbesar hingga kini. Kenyataan ini memukul iman saya sebagai pengikut Katolik namun tidak mengurangi sedikitpun penghormatan saya akan ajaran Yesus.

    Saya ke gereja demi menyenangkan istri, daripada ribut sampai seminggu penuh cuma gara-gara saya menolak menemani ke gereja minggu mendingan saya meluangkan waktu 1-2 jam ikut misa, lalu pulang beli bakpao, mampir pasar, dan dunia damai.

  6. mega says:

    kalau saya ke gereja karena gereja disini selalu menyediakan makan malam lengkap, ada babi guling pula….. Plus suami saya rajin sekali…..

  7. kucingtawur says:

    mas saya sependapat dengan anda…
    status fb saya:
    “saya nggak bisa ke gereja setiap minggu kalo saya belum benar-benar siap buat Tuhan. saya merasa lebih baik ke gereja sebulan sekali dengan niat tulus daripada seminggu sekali tetapi dipaksakan :o”

  8. TIta says:

    Senagnya banyak yang sepemikiran😀 Agamaku berkiblat pada yesus, tapi masih belum bisa meneladani yesus 100%..😦 untuk gereja.. yaah kalo niat buangeet baru ke gereja, itupun lebih bahagia kalau pergi ke kapelnya😀

  9. Petra aja boleh says:

    Semoga uda tobat, tapi kalo buat yg blm tobat ttg malas k greja saya ada ayat dari khotbah Yesus di bukit: Matius 5:20
    “Maka Aku berkata kepadamu: Jika hidup keagamaanmu tidak lebih benar dari pada hidup keagamaan ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, sesungguhnya kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga.”
    JBU

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s