Antara Korban, Relawan, dan Wisatawan Bencana


Sore itu jalanan aspal yang biasa kelabu begitu putih. Puing bongkaran bata dan beton menumpuk di pinggir jalan. Di kiri dan di kanan. Jalanan bertambah sempit. Ketika ada angin berhembus, debu-debu halus menghambur masuk ke mata. Jalanan macet. Kendaraan susah bergerak. Banyak plat nomor dari luar kota. Dari utara hendak ke selatan, dan dari selatan hendak ke utara.

Berboncengan dengan kawan, saya beranjak dari selatan menuju Yogya bagian utara. Mengemban misi kemanusiaan penting. Mencari nasi kucing!

Begitulah situasi Yogya beberapa hari selepas gempa Mei 2006. Beberapa hari mie instant jadi makanan pokok. Nasi kucing, nasi porsi kecil dengan lauk seadanya itu menjadi barang mewah yang ditunggu-tunggu. Mie instant memang lebih populer sebagai bantuan dibanding beras. Sudah terkemas dalam kardus, ringan, dan lebih mudah dimasak.

Kardus kardus mie instant dan air minum kemasan juga memiliki fungsi lain. Kardus-kardus itu menjadi tiket bagi wisatawan untuk menikmati sensasi bencana. Rombongan-rombongan mobil datang. Orang-orang berpakaian bagus dan wangi keluar, diserahkannya beberapa kardus yang mereka bawa ke tenda-tenda pengungsian. Setelah itu mereka serasa berhak untuk melihat-lihat kehancuran yang ada.

Hmmm…wisatawan-wisatawan bencana itulah penyumbang kemacetan jalan yang menghambat misi nasi kucing. Begitulah mereka. Sesudah puas melihat-lihat dan berfoto-foto ria mereka pulang dengan sumringah. Senang. Sekardus mie instant memang lebih murah dari tiket masuk Dufan, dan tontonan bencana tidak bisa disaksikan kapanpun mereka inginkan.

Kardus-kardus mie instant dan bantuan-bantuan lain itu juga bisa dilihat bertumpuk di posko-posko kemanusiaan. Para petugas di posko ini tidak melulu relawan yang datang dari lain daerah. Malah kebanyakan adalah korban dari wilayah sekitar. Mereka menerima lalu menyalurkan bantuan tersebut. Ke diri mereka sendiri, ke tetangga-tetangga mereka, ke posko-posko lain yang membutuhkan.

Para korban bencana tersebut lebur menjadi satu dengan relawan.

Semasa bencana meletusnya Merapi 2010, saya tidak mengemban misi sepenting nasi kucing itu. Tugas utama saya adalah membantu dokumentasi teman saya yang membuka posko kemanusiaan. Walau saya rasa berdokumentasi tidak sepenting mencari nasi kucing di saat genting, tugas saya kali itu juga tidak remeh-temeh amat. Harus digaris bawahi, berfoto-foto ria adalah salah satu syarat agar bantuan dari donor dapat turun dengan lancar.

Cari perwakilan dari korban buat menerima! Yak, bantuannya diserahkan ke perwakilan, bersalaman, oke cepret! Sekali lagi sekali lagi! Ganti orang! Cepret! Sekali lagi! Cepret! Jangan lupa harus kelihatan banner sebagai background! Cepret! Sekali lagi! Cepret! Sekali lagi di situ, jadi tumpukan bantuannya juga kelihatan! Lha tapi itu bantuan dari donor lain! Nggak apa! Cepret! Sekali lagi! Yak! Lagi!

Asyiknya membantu dokumentasi adalah saya ikut pergi kemana-mana tapi tidak perlu turut serta dalam kerja fisik yang melelahkan. Semisal waktu penyaluran sumbangan dalam bentuk hewan kurban. Saya turut serta. Tidak perlu angkat pacul untuk membuat lubang. Tidak perlu menghunus parang untuk menyembelih. Tidak perlu memegang pisau untuk menguliti. Tidak perlu mengipas arang untuk membakar. Tinggal ceprat cepret sate kambing dan sate sapi sudah mampir ke mulut saya.

Di salah satu perjalanan itu, kami sempat menjemput beberapa relawan dari Bandung. Mereka masih satu lingkaran dengan badan pemberi hewan kurban. Berhubung lusanya mereka akan pulang, jadi kami berbaik hati mengajak “jalan-jalan”. (Mereka juga berencana belanja di Malioboro selepas itu.)

Mobil penuh sesak oleh mereka. Khas anak muda, mereka berhaha hihi sepanjang perjalanan. Di jalan tengah ladang luas membentang, seseorang dari mereka, pemudi dengan jilbab, berteriak,

“Hei lihat! Ada rumah adat Jawa!”

Kaget juga saya mendengarnya. Tidak terlihat sebuah rumah pun. Bahkan di tempat seperti itu tidaklah biasa kita bisa melihat rumah tradisional. Coba tebak wahai pembaca, apa yang dikira mahasiswi sebuah perguruan tinggi sangat ternama itu sebagai rumah adat Jawa? TOBONG BATU BATA!

Saya diam saja. Manyun. Salah seorang rekannya menyahut,

“Ngawur. Itu, itu…apa itu namanya, yang buat membakar batu bata atau genting itu lho!”

Lalu mereka berhaha hihi kembali. Haha hihi. Saya berharap di situ ada saung Sunda. Lalu saya akan berteriak,

“Lihat! Ada kandang ayam!” Cisss!

Selesai urusan penyembelihan mereka tidak langsung pulang. Mereka ikut ke posko kami yang berada di dekat Stadion Maguwoharjo. Pusat pengungsian Merapi. Alasannya tentu sama sederhananya. Ingin nonton.

Jadi kami beristirahat di posko, sedang mereka tamasya ke tempat pengungsian terbesar se-Jogya dan sekitarnya.

Setelah melepas lelah, kami mendengar kabar kalau jalur ke atas dibuka kembali. Jadi diajaklah saya ke atas. Turut serta mengambil barang-barang yang tertinggal. Pada saat Merapi meletus keduakalinya, teman-teman relawan terpaksa meninggalkan barang-barang tersebut karena harus lari menyelamatkan diri. Sejak itu, jalan menuju ke atas ditutup karena dianggap berbahaya.

Kami hendak beranjak pergi saat para relawan haha hihi tadi pulang dari tamasyanya. Mereka mendengar rencana kami, lalu dengan antusiasnya beramai-ramai masuk mobil. Tanpa diundang. Tentu saja sambil ketawa ketiwi. Saya terbengong. Walau hati ini saat ingin melihat padang pasir dan abu, saya mengurungkan niat untuk turut serta. Bukan saja mobil tersebut sudah penuh sesak, tapi mengingat akan ditempatkan di mana barang yang akan diambil itu nanti .

Untung akhirnya diketahui kemudian, barang-barang itu sudah lenyap. Dijarah sepertinya.

Saat itu saya sulit membedakan mana relawan mana wisatawan. Keduanya seperti sudah lebur jadi satu.

Karena pengungsi sudah mulai pulang ke tempat tinggal masing-masing, teman saya menutup poskonya. Sedang saya diajak teman saya yang lain untuk menjadi relawan dengan tugas lain. Jadi fasilitator workshop pembuatan video dokumentasi bagi anak-anak korban letusan Merapi.

Workshop itu dilakukan tiga hari berturut-turut di Tlatar, Muntilan. Kalau hari cerah, dari tempat itu dengan mudah kita bisa melihat puncak Merapi. Kehidupan di sana sudah cukup normal. Menyisakan tanah yang tertutup abu tebal, pohon salak yang rusak, dan kolam yang ikannya mati.

Pada hari ketiga, beberapa anak tidak hadir. Tidak mengagetkan. Sehari sebelumnya saya mendengar kabar bahwa beberapa orang dari desa mereka menyewa bus untuk beramai-ramai pergi ke Cangkringan.

Oalah….Gusti, Gusti! Tertegun saya.

Anak-anak ini, orang-orang ini, yang merasai sendiri hujan batu dan pasir berhamburan dari langit, mendengar sendiri batang-batang bambu meledak patah, lalu dipaksa menjadi pengungsi selama berhari-hari, kini turut juga jadi wisatawan bencana. Untuk bencana yang sama dengan bencana yang mereka alami. Tamasya berjamaah ke bekas tempat tinggal mendiang Mbah Maridjan.

Mana korban mana wisatawan ternyata melebur juga jadi satu.

Yang jadi korban, yang jadi relawan, dan yang jadi wisatawan tiada lagi mampu dibedakan. Sepertinya dunia memang tidak bisa dikotak-kotakkan.

Yogyakarta, Februari – Mei 2011

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

10 Responses to Antara Korban, Relawan, dan Wisatawan Bencana

  1. GA9 says:

    “Mengemban misi kemanusiaan penting. Mencari nasi kucing!” inspirasi keren kuwi.

    “Lihat! ada kandang ayam!” Cissss, lumayan narsis sekaligus rasis… hehehe

    ikut menikmati bacaan ini, sekaligus otokritik buat relawan yang kurang makan… hhihihihi

  2. Ikutin lomba aja Kur.

  3. selvi says:

    wahahaha..
    Bagus jg neh artikel, mengupas dari sisi yg tak terpikirkan orang lain..
    Lucu tapi berisi..
    Lama jg menunggu update-an artikelmu..hehe..

  4. Ironis ya om? Kmrin pas bencana juga banyak orang d jogja rame2 jadi relawan. Tapi pas d sana cuma banyak foto2 trus diupload d fb. Habis itu cerita berhari2 klo dah “menyelamatkan umat manusia”. Kebayang ga seh klo kita yang jadi korban? Abis itu ada orang luar datang cuma buat moto?

  5. anton says:

    Amat ingin berkomentar tapi takut diamuk seperti waktu komentar di kamar teman yang gondrong itu

    • Menyedihkan ya. Sebenarnya cukup wajar kalau kamu diamuk saat dia sedang “kemrungsung”. Mungkin sedang tidak bisa berpikir jernih. Tapi ternyata saat keadaan sudah tenang pun ia masih mempersalahkan.

      Padahal kalau kita mau sedikit melihat kenyataan saja, banyak relawan yang menjadi relawan hanya demi ego. Bukan karena kasih sayang terhadap sesama yang sedang kesusahan. Biar ada kegiatan, biar merasa suci, biar mengantongi uang (bukan uangnya sendiri, tapi toh digunakan juga buat kesenangan pribadi). Saya contohnya😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s