Kalau Nggak Dua Ya Satu


Sehabis sholat, teman-teman masih berada di dalam mushola. Gus Yang keluar duluan. Menghampiri saya yang duduk-duduk santai di pelataran.

“Mas, Mas nggak sholat?”

“Nggak.”

“Kenapa? Kata ayah, kalau nggak sholat besok disiksa di neraka.”

“Eee…”

Untung saja sebelum saya terpaksa mengeluarkan aji pengawuran, Gus Yang sudah ngeloyor pergi. Mengendarai truk mainan yang terbuat dari kayu. Bijaksana sekali ia, tidak membutuhkan jawaban saya.

Beberapa hari berikutnya, pagi saat akan dimulai pengajian umum, saya berpapasan kembali dengan Gus Yang. Ia menyapa saya kembali.

“Mas, Mas nggak ikut pengajian?”

“Eee…”

“Kenapa?”

“Eee…”

“Mas ini sudah nggak pernah sholat, juga nggak ikut pengajian. Gimana ini?”

Saya cengar cengir.

“Kata ayah, kalau memang nggak bisa dua-duanya, yang paling nggak satu saja. Kalau nggak sholat ya ikut pengajian, kalau nggak pengajian ya sholat.”

“Ya,” jawab saya tertawa kikuk.

Karena sudah terlanjur mengatakan “ya” walau dalam kondisi kurang kesadaran, akhirnya saya putuskan ikut pengajian. Tentu saja saya diserang rasa bosan. Saya menengok keluar melalui jendela yang melompong tak berdaun.

Lhadalah! Bajigur beras kencur!

Di kejauhan saya melihat Gus Yang sedang bergembira ria memanjat pohon jambu air bersama teman-temannya. Saya terpekur sambil mengumpat dalam hati. Sialan! Dikadali bocah kecil! Dia suruh saya ikut pengajian tapi dirinya sendiri malah bermain. Saya tengok lagi keluar. Kali ini Gus Yang berlarian senang sambil memakan jambu-jambu yang baru saja ia petik.

Namun setelah pikiran saya sedikit tenang dari rasa shock, saya rasa Gus Yang konsisten juga. Ia kan berkata kalau nggak bisa dua-duanya ya paling tidak pilih salah satu. Karena ia sudah sholat, maka ia tidak ikut pengajian. Karena saya tidak sholat, maka saya  ikut pengajian.

Ini mirip ajaran Budha yang pernah saya baca. Kalau belum bisa menjadi vegetarian, ya paling tidak jangan makan hewan yang kita bunuh sendiri. Kalau belum bisa melepaskan diri dari keterikatan harta benda, ya paling tidak jadilah orang kaya yang dermawan. Agar pada kehidupan mendatang diberi kemudahan.

Tapi soal ini juga bisa diberlakukan untuk hal lain. Walau belum bisa berhenti korupsi, paling tidak saya sudah mendirikan yayasan sosial. Walau masih suka melanggar rambu lalu lintas, paling tidak saya sudah naik haji. Walau belum bisa berhenti membenci, paling tidak saya rajin ke gereja. Walau suka menyakiti sesama, paling tidak saya tidak pernah menyakiti anjing sendiri.

Wah wah, saya jadi bingung sendiri dengan apa yang saya kisahkan. Jadi apa pesan moral dari Gus Yang? Masak saya harus pergi menemui ia  kembali. Saya takut dimarahi karena nggak pernah sholat pun nggak pernah ikut pengajian. Adakah pembaca yang bersedia membantu saya?

Moral dari cerita ini adalah:

A. Tidak ada. Tulisan di atas cuma tulisan orang nglindur.

B. Jangan sampai berpapasan dengan Gus Yang.

C. Aturan itu tak penting, karena aturan itu gampang dibelok-belokkan. Semua balik lagi ke hati masing-masing individu.

D. Kalau Anda hidup di negara yang mewajibkan warganya untuk beragama, pilihlah jadi Nasrani. Karena bila ditanya, “Kenapa tidak ke gereja?” Anda bisa menjawab, “Buat apa? Yesus saja tidak pernah ke gereja kok!”

E. < isi sendiri dengan kata-kata Anda sendiri >

25 Januari 2011, di kamar diselingi hujan badai yang memutuskan aliran listrik.

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

4 Responses to Kalau Nggak Dua Ya Satu

  1. Niken says:

    Ijin link.

  2. anton says:

    Umumnya orang memang penganut logika “ATAU” seolah boleh memilih antara menjadi kaya atau menjadi tampan. Sementara saya penganut logika “DAN” sehingga saya ini adalah orang yang berusaha menjadi kaya DAN tampan DAN teman seorang komikus.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s