Perampok Unta dan Nasehat Orang Tua


Ini tentu merupakan sebuah kisah dongeng yang telah kita akrabi,

Seorang musafir sedang melakukan perjalanan dengan untanya. Di tengah jalan, ia melihat seseorang tergeletak tak bergerak. Didorong rasa kasihan, serta merta ia turun dari unta dan menghampirinya. Tak dinyana tak disangka, orang itu tiba-tiba bangun dan mencengkram.

Wah wah wah, ternyata ia adalah perampok yang menipu. Pura-pura butuh pertolongan sebagai strategi mencuri unta.

Si perampok menaiki unta dan menghelanya pergi. Si musafir mengejar. Berlari sambil berteriak-teriak menyuruh berhenti.

“Ah, nanti kalau sudah lelah paling juga berhenti sendiri,” pikir si perampok.

Tapi ternyata musafir terus berlari. Walau tampak benar ia sudah kelelahan, dan nafasnya tersengal-sengal tidak karuan.

Perampok kembali berpikir, “Jangan-jangan, unta ini sangat berharga baginya. Biarlah aku berhenti dan bertanya, toh dengan kondisi kelelahan seperti itu ia tidak akan sanggup menyerangku.”

Perampok menghentikan lari untanya. Menunggu musafir tiba dan bertanya,

“Apa yang kamu inginkan?”

Musafir mengatur nafas dan berkata, “Aku cuma ingin bilang padamu. Tolong jangan ceritakan hal ini pada siapapun. Kalau orang-orang mendengar cerita ini, mereka akan takut menolong orang di jalan.”

Saya tidak tahu apakah kemudian perampok itu tutup mulut atau tidak, yang jelas cerita ini kemudian menyebar. Saya juga tidak tahu apakah ini cerita nyata atau tidak, tapi mari menengok kisah nyata lainnya.

Beberapa tahun lalu seorang kawan meninggal dalam sebuah kecelakaan lalu lintas. Ia bukan sekedar kawan, tapi juga anak dari teman ayah saya. Jenazahnya ditemukan tergeletak tak jauh dari motornya. Di jalan aspal lengang yang membelah hutan. Nampaknya ia meninggal sendiri, dalam sepi gemerisik hutan.

Belakangan pengusutan polisi menemukan bahwa itu bukan kecelakaan tunggal. Sebuah mobil pick up menabrak, lalu kabur begitu saja. Tabrak lari.

Menanggapi kejadian ini, orang tua saya menasehati. Sebuah nasehat yang masih mengganjal dalam hati. Seperti kerikil dalam sepatu.

“Kalau kamu besok menemui kejadian seperti itu. Di tengah jalan menemukan orang kecelakaan dan di saat itu tidak ada orang lain, pura-pura saja tidak tahu. Terus saja. Jangan ditolong  Kalau kamu menolong, kamu nanti malah dituduh sebagai penabrak. Apalagi kalau nanti mati, urusannya bisa panjang.”

Tentu saja saya marah! Aturan macam mana nasehat seperti itu dikeluarkan orang tua!

Apakah Anda pembaca marah juga mendengar nasehat orang tua saya? Mungkin Anda naif, masih anak-anak, seperti orang tua saya mengatai saya. Mungkin. Mungkin benar naif adanya.

Orang tua saya bukan tanpa argumen. Mereka lalu menceritakan kisah yang dialami oleh orang yang dikenalnya. Persis seperti itu. Menemukan orang kecelakaan. Tanpa saksi. Ditolongnya orang itu, dibawanya ke rumah sakit. Tapi apa yang didapat!? Tudingan sebagai pelaku. Oleh polisi maupun keluarga korban. Yang ditolong akhirnya meninggal, tidak dapat memberi kesaksian. Orang naif ini menjadi pesakitan. Harus memberi ganti rugi agar tidak masuk penjara.

Pada sebuah siang yang ramai, sebuah sepeda motor oleng menabrak mobil butut saya dari belakang. Tentu saja bukan saya yang salah. Mobil saya sedang parkir di tepi jalan. Pengendara sepeda motor itu, seorang bapak muda, tidak mengalami cedera berarti. Namun istrinya cedera cukup parah. Tidak mampu berdiri. Orang -orang ramai hendak menolong. Beberapa mobil dicegat, diminta mengantar. Tapi semua menolak.

Akhirnya saya tawarkan diri mengantar. Dengan mobil pick up kecil mungil kami berhimpitan berangkat. Keringat dingin mengucur deras dari kulit saya. Bukan karena tegang mengenai keadaan istri tadi, tapi tegang karena sebenarnya saya belum mahir menyopir. Jangan-jangan gara-gara mencoba menolong korban kecelakaan, malah saya akan menghasilkan korban baru. Saat pergi ke tempat tadi, sebenarnya kakak saya yang menyopir. Tapi karena suatu urusan, ia harus pergi sebentar. Tinggallah saya seorang diri dengan mobil dan kuncinya. Selain mobil yang memang kecil ukurannya, itulah alasan saya tidak menawarkan diri sejak awal.

Ternyata bapak muda ini adalah perwira angkatan udara. Sesuai petunjuknya, saya mengantar ke rumah sakit angkatan udara. Di depan rumah sakit, tanpa berkata apa-apa ia keluar membopong istrinya. Saya bingung sendirian di luar, mau pulang atau menunggu. Saya pilih menunggu.

Setelah lama, bapak tadi menggendong istrinya kembali ke mobil saya. Dengan arahannya kami pergi ke rumahnya. Di perumahan angkatan udara dekat situ.

Mobil saya hentikan di depan sebuah rumah kecil yang mirip dengan rumah-rumah di sampingnya. Bapak tadi keluar, kembali menggendong istrinya. Tetangganya, sekeluarga, yang kebetulan sedang duduk-duduk di depan rumah bergegas menghampiri mereka. Bapak tadi tanpa babibu langsung saja membawa istrinya memasuki rumah.

Dan saya, apa yang saya dapatkan?

Tatapan benci penuh tuduhan dari keluarga tetangga tersebut saat mereka mengikuti si korban masuk rumah. Tubuh saya rasanya mengkerut. Cuma anak perempuan si tetangga saja yang tidak melempar tatapan benci. Malah tatapan genit yang bikin saya bergidik.

Saya bersandar bingung pada mobil saya. Lagi-lagi saya ditinggalkan sendiri, tidak disuruh menunggu tidak disuruh pulang. Yang ada perasaan kecut karena merasa jadi tertuduh.

Dipikir-pikir wajar juga saya mendapat tatapan itu. Saya, pemuda tanggung dengan wajah bocah (kejadian ini terjadi saat saya masih kuliah semester awal – banyak yang mengira saya masih SMA), memakai kaos oblong putih polos tipis cap swallow, celana pendek, sandal jepit, berkeringat dingin dan kebingungan, kemungkinan saat itu juga berwajah pucat, cocok sekali jadi profil penyebab kecelakaan.

Tidak ada hukuman baru setelah tatapan menuduh tadi. Si bapak keluar sendirian, langsung masuk mobil, lalu minta diantar ke tempat kejadian perkara. Sepeda motornya masih di sana. Sampai di tempat awal, ia juga langsung pergi. Tidak ada ucapan terima kasih atau apa. Tidak mengapa. Mungkin ia masih terlalu tegang.

Orang tua saya benar adanya. Tidak semua kebaikan akan dibalas dengan kebaikan. Kemungkinan yang ada malah tuduhan. Masih baik saya hanya memperoleh tatapan, coba jika tetangga tadi spontan menggebuk saya. Pemuda tanggung keturunan Cina dianiaya perwira angkatan udara karena salah paham, masih untung jika dimintai maaf.

Bukan berarti nasehat orang tua saya harus dituruti. Tapi harus diakui, marah dengan nasehat tadi jelas-jelas adalah sebuah bentuk kenaifan.

Sekarang saya jadi ragu andai jika menemui kejadian seperti itu. Seperti sendirian menemukan korban kecelakaan di jalan. Apakah saya akan menolongnya ataukah berpura-pura tidak tahu. Jika mendapat tatapan menuduh saja saya sudah mengerut kecut, apalagi harus mendekam di penjara dan membayar ganti rugi. Apalagi mengingat budaya masyarakat kita yang sering main amuk.

Saya juga ragu-ragu, apakah bijak menuliskan cerita ini pada Anda? Jangan-jangan, karena cerita ini Anda juga jadi realis peragu seperti saya? Dan mungkin hilanglah satu nyawa di jalan karena akhirnya kita memilih kura-kura dalam perahu, pura-pura tidak tahu?

Tapi ini yang saya tahu dan saya tidak ragu-ragu mengenainya;

Kalau sayalah yang menjadi korban, tergeletak sendirian di sepi jalan, saya berharap akan ada yang menolong saya. Mungkin Anda, mungkin orang lain, tidak peduli siapa. Saya berharap akan adanya sebuah penolong!

Saya tidak akan sempat memikirkan apakah penolong saya akan dituduh oleh kemalangan saya, bahkan saya tidak akan sempat peduli siapa yang akan menolong saya dan bagaimana nasibnya nanti. Ya, saya yakin dengan pasti. Saya menginginkan pertolongan!

Saya rasa demikian juga dengan Anda.

Yogya, Juni-Juli 2011

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

8 Responses to Perampok Unta dan Nasehat Orang Tua

  1. Niken says:

    Menurut saya kita tenang2 aja sih kalau kita berniat baik. Dulu pernah ditabrak anak sma pas nyebrang, terus anak itu saya ajak ke rumah. Kakak saya ngantar dia ke rumah sakit dan mengantarnya pulang. Minggu berikutnya, saya sekeluarga dikirimi sayur banyaaak banget, karena ternyata ibunya juragan di pasar shoping.
    Saya salut dengan sampeyan yang dipercaya Tuhan mendapat cobaan yang demikian. Ternyata Anda sanggup melakoninya dengan sukses. Keyakinan Anda-pun sudah terbukti tidak menyebabkan sebuah kisah yang tragis atau membawa Anda ke penjara😀

    • Menyenangkan bisa tenang-tenang dalam segala hal yang kita lakukan. Tapi mendasarkannya pada keyakinan niat baik selalu dibalas kebaikan adalah naif. Pernah mengalami pengalaman demikian tidak berarti bahwa kenyataan akan selalu demikian.

      Seperti komen dari kud, apakah kita serta merta men-cap si penolong tidak mempunyai niat baik?

      Saya sendiri suka hidup yang tenang-tenang saja. Karena itu saya tidak suka dicobai. Oleh manusia, setan, atau Tuhan. Bahkan sampai sekarang saya tidak memahami mengapa Tuhan kurang kerjaan memberi cobaan, atau bagaimana ia mengukur kesuksesan kita dalam menjalaninya.

  2. kud says:

    ada kejadian jg percis… pas menolong di RSnya si penolong ditodong polisi
    mau dipenjara atau bayar sogokan.. beberapa juta gitu…

    selain dari orang2 kerabat yg ditolong
    diwaspadain jg oknum polisi yg memeras… tambahan aja..

    tp tetep marilah kita tolong orang2😀 hahahahahahaha…………. urusan laennya pikir belakangan…

  3. Tobias Tjandra says:

    Dunia sudah terbolak2ik ya..mo menolong orang aja salah😦

  4. ratrie says:

    saya juga pernah menolong,tapi untung nya pas di RS saya dipercaya sebagai penolong, bukan si penabrak..soalnya si korban tergeletak ga sadarkan diri,orang orang berkerumun mempertanyakan cara menghubungi keluarga si korban bagaimana,.pokoknya teknis en ga penting banget bagi saya. karena bagi saya nyawa si korban lebih utama..please deh,yang ditabrak manusia juga gt loww..bukan ayam..

    • Wuaaahhh…Tante Ratri memang baik sekali😀.
      Tapi itulah amannya menolong orang saat ramai, malah aman, banyak saksi. Jadi kesalahpahaman mudah diluruskan.
      Bukan berarti saya menyarankan hanya menolong hanya saat ramai lho ya😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s