Geraham Kecil yang Hilang


Geraham kecil adalah gigi berakar dua yang berguna untuk menggilas dan mengunyah. Pada gigi susu tidak didapati jenis gigi ini, jadi gigi ini hanya dimiliki oleh orang dewasa. Jumlahnya dua di setiap bagian. Kanan atas dua, kiri atas dua, kanan bawah dua, kiri bawah dua. Jadi total ada delapan buah.
Saya?sakit. Lahir batin. Fisik maupun mental. Ada darah yang tertumpah. Anyir di mulut beberapa hari. Jahitan yang harus dilepas dari gusi. Dan rasa kehilangan itu membuat saya lemas di kursi dokter gigi.

Yang paling sulit saya terima dari hilangnya geraham kecil ini adalah prosesnya. Suatu pagi saat sarapan, dengan nasi berlauk sayur, saya dikejutkan dengan sensasi mengunyah kerikil berukuran besar. Saya periksa dengan lidah saya dimanakah kerikil itu berada. Namun yang saya temukan adalah sesuatu yang keras namun licin. Saya muntahkan benda itu. Putih berkilat. Darah saya berdesir. Saya periksa kembali dengan lidah saya. Kali ini gigi di mana saya merasa mengunyah kerikil.
Ada sesuatu yang hilang di sana. Ada sesuatu yang hilang dari hati saya.

Namun saya masih berharap agar ilmu kedokteran masa kini bisa menyelamatkan gigi saya. Entah di sambung dengan porselen, atau di cor dengan amalgam.

Sore hari saya langsung pergi ke dokter gigi. Dikorek-korek sedikit gigi saya yang pecah itu. Beberapa hancuran jatuh ke dinding mulut. Lalu vonis jatuh. Gigi saya tidak terselamatkan!

Busuk! Hancur! Cabut! Hilang! Selamanya!

Kebusukan gigi saya sudah sampai akarnya. Jadi, ya, begitulah. Padahal saya tidak merasa sakit sebelumnya. Menjelang pecah. Saat pecah. Atau sesudahnya. Syaraf gigi saya sudah mati. Habis dicabut itu yang sakit. Berdarah-darah.

Padahal saya ini termasuk manusia Indonesia yang perhatian pada kesehatan gigi. Tanpa ada keluhan apapun saya tetap melakukan kontrol. Dan selama kontrol, kerusakan pada geraham kecil itu tak pernah diketahui.

Pernah sih, saya memeriksakan geraham itu karena kadang ia terasa sakit saat digunakan untuk menggigit benda keras. Dan itu juga tidak terus-terusan. Hanya terjadi saat saya merasa kesehatan menurun. Saat masuk angin atau apalah. Dokter tidak menemukan ada yang salah. Saya disarankan melakukan rontgen. Saya lakukan. Tidak diketemukan juga apa yang salah. Karena memang sakitnya juga tidak terasa mengganggu, jadi ya sudah, saya melanjutkan hidup saja. Dokter cuma menyarankan banyak mengkonsumsi vitamin C, kemungkinan saya memiliki radang.

Lalu sampailah hari itu. Hari di mana saya kehilangan si geraham kecil. Salah geraham kecil itu sendiri, kenapa ia tidak sakit saat mulai keropos. Sakit seperti benar-benar sakit gigi yang tak tertahankan itu. Jika saja ia sesakit sakit gigi pada umumnya, tentu saja akan ada usaha ekstra untuk mencari sebabnya. Dan ia bisa terselamatkan. Dengan tambalan tentu saja.

Sakit gigi memang tak menyenangkan. Tapi saat ini saya merutuki (mantan) gigi saya karena ia tidak merasa sakit.

Rasa sakit merupakan mekanisme tubuh kita untuk memperingatkan bahwa ada yang salah. Dengan adanya peringatan, kita mampu melakukan tindakan pencegahan dan perawatan. Tanpa memiliki rasa sakit, kita tidak akan lolos dari seleksi alam.
Bagaimana bisa menghentikan pendarahan jika kita tidak sadar bahwa sedang berdarah. Bagaimana bisa selamat dari melepuh kalau kita tidak pedih saat kaki kita terkena knalpot panas. Bagaimana mulai beristirahat jika kita tidak sadar tubuh kita diserang kuman penyakit.

Tahu-tahu kita sudah mati kehabisan darah. Tahu-tahu kaki kita sudah tidak berfungsi lagi dan butuh diamputasi. Tahu-tahu kita sudah di liang lahat dengan tubuh penuh virus dan bakteri. Tahu-tahu gigi itu sudah busuk dan tak terselamatkan lagi.

Rasa sakit memang tidak menyenangkan. Tapi karenanya kita terselamatkan dari kehilangan lebih jauh.

Rasa sakit tidak selalu hanya dirasakan tubuh. Tapi juga dirasakan hati.
Kalau tubuh yang sakit kita pergi ke dokter. Kalau hati yang sakit kita pergi ke psikolog.

Tahukah Anda apa beda buku kedokteran dan buku psikologi?

Saat kita membaca buku kedokteran, kita cenderung mencari hal-hal yang bersangkutan dengan diri kita. Oh oh, telapak tanganku banyak berkeringat. Sakit jantungkah aku?

Saat kita membaca buku psikologi, kita cenderung menyangkutkannya dengan orang lain. Oh oh, si itu gampang sekali tersinggung. Sepertinya saat kanak-kanak kekurangan kasih sayang.

Sama juga saat sakit. Saat tubuh kita sakit, kita segera melihat ke dalam diri kita sendiri. Apa yang salah dengan tubuhku? Apa yang harus kulakukan untuk memperbaikinya?

Namun saat hati kita yang sakit, dorongan untuk melihat keluar lebih kuat dari dorongan melihat ke dalam. Bukannya mencari tahu apa yang salah dengan diri kita, kita cenderung mencari siapa yang salah atas sakit hati kita. Dan tentu saja, bagaimana cara untuk membalasnya.

Oh oh, aku sakit pilek. Gara-gara siapa ini. Siapa yang menulari? Sialan! Pasti si anu. Akan kubalas, akan kutulari ia dengan sakit panu. Dan semua dari kita akan semakin sakit. Semakin parah. Semakin akut.

Tubuh yang sehat tidak mudah terserang penyakit. Sama juga dengan jiwa yang sehat tak mudah mengalami sakit hati. Selayaknya kita memperlakukan badan halus kita seperti kita memperlakukan badan kasar. Jika kita sakit hati dan tidak memperlakukannya sebagai peringatan akan adanya sesuatu yang tidak beres dalam diri kita, jiwa kita akan semakin rusak. Semakin busuk. Semakin keropos. Mungkin kemudian harus dicabut. Hilang. Dan tak kan pernah kembali. Seperti geraham kecil saya yang malang.

Yogyakarta, di kamar sambil baca Bakuman,  23 Juli 2011

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

6 Responses to Geraham Kecil yang Hilang

  1. Yust says:

    saya mengerti penderitaan anda >,<

  2. Tobias Tjandra says:

    I know how you feel. Been there too😀 Cerita dikit:
    Saya mgkn lbh beruntung, sebab msh terasa sakit2 dulu. Lalu dokter bilang: “udah busuk, musti cabut.”
    Hah?
    Kapan & bagimana bs busuk????? Tapi ya sudahlah, demi kesehatan ya cabut…sakit? sedikit.
    Kehilangan?? Iya…rasanya “Wah, ada bagian dari diri ku yg musti dibuang. Mati. Cacat. Nggak lengkap” Hiks…
    Tp setelah melihat kondisi si gigi yang busuk…weleh..untung juga uda dicabut😀

  3. mamung says:

    semoga gigi yang lain tidak ilang juga mas..
    gigi geraham saya sudah lubang dua-duanya, kata dokter puskesmas harus dicabut, namun pas datang ke dokter gigi pribadi, ternyata masih bisa diselamatkan meski butuh perawatan intens😀

    • Uwaaahhh!
      Bener itu, dicabut adalah pilihan terakhir. Kalau tempat saya memang parah, jadi saya pasrah saja. Diraba pakai lidah sudah terasa hancur sampai dibawah permukaan gusi @_@

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s