Daftar Impian yang Menyusut


Sekitar awal tahun 2000, booming buku-buku pengembangan diri.

Sekitar awal tahun 2000, saya gemar membolos kuliah.

Ada tiga tempat langganan saya waktu itu. Langganan buat membolos. Toko ikan milik teman SMP saya. Oscar namanya. Bagus ya, orang bernama ikan membuka toko ikan. Yang kedua adalah rumah Nugie, teman SMA saya. Enak buat tempat membolos karena walau kuliah di tempat lain, Nugie juga gemar membolos. Yang ketiga, tentu saja toko buku. Toga Mas dan Gramedia. Awalnya malu membaca berlama-lama di sana. Akhirnya biasa saja. Saya hitung, saat itu saya kuat membaca berdiri, jongkok sekali-kali, selama kira-kira dua jam. Masuk jam ketiga konsentrasi saya mulai berkurang. Di sanalah saya lalap buku-buku pengembangan diri banyak-banyak. Komik-komik juga tentunya.

Semua buku-buku itu sebenarnya sama. Bermimpilah! Lalu berjuang secara cerdas dan keras. Berikut tips dan triknya. Karena itulah sekarang saya sudah malas membaca buku-buku pengembangan diri. Bukan berarti isinya tidak benar atau tidak berguna. Cuma membosankan saja. Diulang-ulang. Serupa. Kemasan baru kalimat baru. Tapi sama.

Salah satu hal yang saya ikuti dari buku-buku itu adalah membuat daftar keinginan tertulis. Jadi kita diminta membuat daftar keinginan. Lima puluh. Seratus. Lebih. Boleh apa saja. Tidak dibatasi realita apapun. Segila-gilanya. Semua keinginan yang terlintas di kepala.

Misal ingin mobil BMW keluaran terbaru, berlibur ke Timbuktu, punya tas Lui Fitong, makan malam di gedung pencakar langit, petantang petenteng pakai I-Pad, punya rumah seluas tiga hektar, atau apa saja. Bebas ! Bebas sebebasnya !!

Berdasar penelitian, orang-orang yang mampu mendefinisikan impiannya lalu menuliskannya, cenderung menjadi lebih sukses dibanding yang tidak.

Tetapi ternyata menulis impian tidak semudah yang saya bayangkan. Belum sampai tigapuluh saya sudah bingung. Selebihnya impian yang diada-adakan. Misalnya ke Antartika. Padahal kalau punya uang dan waktu untuk mewujudkannya pun, saya memilih berleha di rumah menyeruput teh manis panas. Sayang sekali, saya bongkar-bongkar lemari tapi tidak menemukan daftar pertama itu. Lumaya buat bernostalgia.

Membuat daftar itu cukup menyenangkan. Tapi lebih asyik lagi saat membacanya beberapa tahun kemudian. Kita akan menemukan beberapa hal yang dahulu terasa sulit dicapai, kini sudah bisa kita bubuhkan tanda centang di sampingnya. Kadang impian-impian itu tercapai bahkan tanpa kita sadari. Tanpa direncanakan. Bahkan rasanya tanpa diusahakan.

Setelah itu, hal berikut yang perlu kita lakukan adalah membuat daftar baru. Lalu saya menemukan impian saya berkurang. Berkurang dan terus berkurang. Tiap kali saya membuat daftar baru, semakin sulit saya menemukan keinginan.

Mimpi-mimpi saya menyusut lebih cepat dari yang saya duga. Apakah saya menua secepat ini?

Berdasar laju penyusutan mimpi dan data-data dari buku pengembangan diri yang ada, masa depan saya suram. Bagaimana tidak? Apa yang bisa dicapai bila mimpi pun tak punya.

Coba bayangkan, bukan saya tidak berani bermimpi. Lebih parah dari itu. Tidak punya mimpi.

Apakah ini malapetaka?

Buat saya sendiri saya tidak tahu. Bagi dunia ekonomi jelas. Saya adalah malapetaka!

Berkuranglah satu calon konsumen untuk dimangsa para kapitalis global. Satu yang tidak lagi tertarik (dan tidak mampu) plesiran ke luar negeri, rajin membeli gadget terbaru, menumpuk pakaian bermerk di lemari, belanja atribut-atribut sosial terkini, atau jajan makanan sampah bergengsi. Karena individu yang terkikis keinginannya semakin lama semakin mirip hewan. Hidup sebutuhnya saja.

Sudah jadi pengetahuan umum, kalau industri dewasa ini dibangun atas dasar keinginan bukan kebutuhan. Konsumen dibujuk, dengan halus atau kasar untuk mengkonsumsi barang dan jasa yang sebenarnya tidak dibutuhkan. Dan lama-lama, kita semua percaya bahwa semua itu memang kita butuhkan.

Coba, buat apa kita harus minum soda ringan? Kita cukup minum air putih dan malah akan lebih sehat. Buat apa beli tas versace kalau pakai kresek saja bisa. Buat apa beli mobil mahal kalau angkutan umum saja gampang didapat. Buat apa pula nonton film animasi dan baca komik?

Eeeeng…buat yang terakhir itu, jawabnya adalah biar saya tetap punya nafkah.

Aaahhh, tapi ayolah! Mari kita jujur terhadap diri kita sendiri. Saya tidak ingin bicara salah benar, tapi mari rasakan saja. Apakah saya butuh komputer? Buat mengetik blog ini dan mempostingnya? Sebenarnya saya juga nggak butuh-butuh juga. Cuma ingin saja, sedikit sisa dari keinginan saya yang menipis itu. Buat bekerja? Iya memang sih. Tapi coba kalau tidak ada lagi yang ingin nonton dan baca komik, tentu saya akan lebih membutuhkan pacul dibanding notebook aus  ini.

Komputer tidak dibutuhkan manusia. Bermillenium-millenium manusia tidak mengenal komputer, televisi, kendaraan bermotor, dan hidup-hidup saja. Ya, mereka memang akhirnya mati. Tapi karena takdirnya. Bukan karena tiadanya barang-barang yang saya sebut di atas.

Yang kita butuhkan sebenarnya sederhana sekali. Makan ketika lapar. Minum ketika haus. Tidur ketika lelah. Dan tentu saja kedamaian dan kebahagiaan.

Makanan sumbernya dari alam, bukan dari hypermarket. Air juga dari alam, bukan dari dispenser. Di Sumenep, Madura, warga lebih suka tidur di atas pasir daripada kasur. Dan kalau butuh hiburan, apa yang lebih menarik dari berkumpul bersama teman lalu ngobrol ketawa ketiwi bersama.

Kalau umat manusia tiba-tiba berubah kembali jadi makhluk sebutuhnya, berapa banyak pabrik yang akan tutup. Industri yang gulung tikar. Toko-toko yang bangkrut. Dan miliaran manusia yang kehilangan pekerjaan. Tidak perlu seekstrim kalimat-kalimat saya di atas. Saya sendiri juga tidak seekstrim itu. Cukuplah misal hanya membeli barang elektronik jika sedang benar-benar butuh saja. Tidak perlu mengikuti trend terbaru. Saya percaya PHK massal akan terjadi di perusahaan-perusahaan elektronik tersebut.

Sederhananya, orang-orang seperti saya cenderung menyeret dunia ke dalam peradaban pra-industri. Bukan maksud saya begitu sih, tapi mau bagaimana lagi. Memang tampaknya begitu.

Tapi tenang saja, dunia tidak akan mundur hanya gara-gara saya. Saya ini, seperti sebagaimana yang pembaca sadari, hanya noktah dalam peradaban. Anomali kecil yang tidak berarti. Terlalu kecil untuk perubahan. Berlebihan kalau tadi saya menulis bahwa saya adalah malapetaka bagi perekonomian. Tulisan saya memang sengaja saya bikin berputar-putar biar kesan curhatnya menghilang. Paling tidak berkurang.

Yang merupakan kenyataan adalah, saya harus menghadapi realita kalau kemungkinan besar hidup saya akan stagnan. Tidak maju-maju. Tentu saja karena tidak punya mimpi. Saya percaya buku-buku itu kok. Buku itu benar adanya. Walau belum tentu berguna juga.

Apakah itu buruk? Saya tidak tahu. Kalau berdasar buku-buku pengembangan diri, keadaan saya ini memang buruk adanya. Tapi mari mengikuti nasehat lain dari buku-buku tersebut. Mensugesti diri! Kalau perlu bohong pada diri! Berpikir positif!

Siapa tahu menyusutnya impian-impian saya ini, keinginan-keinginan saya ini, adalah efek samping dari semakin mendekatnya saya pada pencerahan.

Om Mani Padme Hum….

Atau lebih baik berhenti berpikir, menerima, dan menikmati kenyataan. Di sini, saat ini, sebagaimana adanya.

Om Mani Padme Hum…

Saya masih hidup dan (tampaknya) bahagia.

Om Mani Padme Hum…

Tapi kok masih ada cemas-cemas dikit.

Om Mani Padme Hum…105 x…

Yogyakarta, 17-18 September 2011

This entry was posted in Uncategorized and tagged . Bookmark the permalink.

12 Responses to Daftar Impian yang Menyusut

  1. Ditya Rama says:

    Susahnya jadi manusia !!
    Kalau kata pedagang Mimpi di Sarkem, doanya gini :
    OM Mari Sini Ooomm.
    Mimpi bareng yUkk.. Yuuuuu’……!!

    Kalo mimpinya mulai susut, ya di isi ulang saja ke pedagang mimpi terdekat.

  2. antondewantoro says:

    Saat ini saya sampai pada masa menjadi mual ketika melihat gadget terbaru di ambasador. Mencabuti rumput di depan rumah dan memasak sarapan adalah kegiatan yang justru kini membuat bahagia. Badan saya seolah mengajak saya kembali seperti jaman pra-industri, namun mata pencaharian saya memaksa saya hi-tech. Ada saran Kur?

    • Itulah kenikmatan dalam hal-hal kecil, termasuk tidak melakukan apa-apa. Dolce far niente….
      Saran saya sederhana, buang semua yang kau miliki (hibahkan ke saya boleh juga, kecuali istri dan hutang). Telanjanglah dan hidup di hutan yang tak terjamah manusia. Hutan mana, itu susahnya.

  3. Tobias says:

    Wah..saya nggak tahu kamu menulis dgn gaya sarkasme ato apa.
    Tapi, menurut saya, kalau kamu memang sudah ga punya mimpi2, justru kamu harus senang!
    Artinya apa2 & smua yang kamu mau sudah tercapai🙂 Smua yang kamu buthkan sudah ada.
    Semua yang memuaskan kebutuhan duniawi-rohani dll, sudah dicapai..hehe..

    Sama, Kur. Aq juga kadang2 mikir spt kamu. Melihat smua kecanggihan teknologi dll skrg ini, sll terpikir, apakah kt perlu? Toh kebutuhan manusia dr dulu ga pernah berubah: Makan, tidur, merasa damai.

    Anyway, just my thoughts only….:)

    • Kalau kita nggak ber-thoughts, nanti nggak nulis apa-apa. Termasuk komentar dan blog😀

      Sebenarnya nggak niat bersarkasme. Tapi kalau dirasa begitu, mungkin sarkasme sudah ada dalam gen saya. Ya itulah, bahagia-bahagia cemas gitu deh…:p Sepertinya karena belum lepas benar dari kemelekatan, yang serba tanggung itu nggak enak.

  4. kud says:

    pengembangan diri plus nulis tujuan2 pencapaian tidak harus berupa belanja benda kan..?

  5. didik says:

    bukannya mulai kuliah baru pertengahan thn 2000 ya? kok awal 2000 dah mulai bolos kuliah….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s