Piramida Korban


ber.kor.ban v cak 1 menjadi korban; menderita (rugi dsb); menyatakan kebaktian, kesetiaan, dsb; memberikan sesuatu sbg kurban: kami rela ~ demi kejayaan nusa dan bangsa

Tulisan ini mulai saya ketik saat takbir Idul Adha berkumandang. Besok Hari Raya Kurban. Hari untuk memperingati saat Nabi Ibrahim diminta Allah mengorbankan anaknya. Allah memintanya untuk menyembelih anak kesayangannya. Dan Ibrahim dengan ikhlasnya menuruti perintah Allah.

Kalau saya di sana waktu itu, saya pasti sudah mencegahnya. Kalau saya bawa pistol, bisa jadi saya tembak Ibrahim. Bagaimana lagi, saya kan tidak tahu jika itu perintah Allah. Dan kalau pun Ibrahim mengatakannya, saya juga tidak akan percaya begitu saja. Bisa jadi Ibrahim mengalami delusi, atau memang gila dari sananya. Dan saya tidak akan percaya Allah bisa setega itu.

Tapi cukup andai-andainya. Karena menurut kitab, saya tak ada di sana. Dan tangan Ibrahim juga tidak jadi bersimbah darah anaknya. Apalagi tangan saya, tidak bersimbah darah Ibrahim.

Ibrahim tidak jadi menyembelih anaknya. Sebagai gantinya, ia menyembelih hewan ternak yang disediakan Allah. Maka ribuan tahun sesudahnya, darah ribuan, bahkan jutaan hewan ternak menggenangi tanah untuk memperingatinya.

Dan dagingnya menyumpal lambung kita. Jadi tahi dan darah tinggi.

Beberapa simpati pada kesialan para hewan. Sapi, kambing, kerbau, unta, dan teman-temannya. Gara-gara Ibrahim, mereka memiliki hari pembantaian massal.

Beberapa tidak bersimpati. Tidak peduli tepatnya. Sate dan tongseng lebih enak daripada simpati.

Beberapa bersimpati. Tapi peduli. Mereka menganggap para simpatisan adalah orang yang tak mengerti. Karena sebenarnya, hewan-hewan ini bahagia ketika disembelih. Mereka bersyukur telah terpilih untuk dikorbankan. Dan langsung ke surga melewati jalan bebas hambatan.

Tentu saya tidak tahu mereka benar bahagia atau tidak. Apakah saya bahagia atau tidak pun kadang saya tak tahu benar.

Saya sendiri termasuk kalangan yang bersimpati (dan tak mengerti). Bukan karena saya vegetarian. Saya pun penikmat daging makhluk yang saya beri simpati itu. Cuma saya terganggu ingatan akan penyembelihan yang pernah saya saksikan. Pemudi keponakan Ibu Kos yang terbahak saat memainkan testikel kambing yang baru saja disembelih. Sapi yang menyeruduk meronta saat hendak dirubuhkan. Atau semburan darah dan otot yang mengejang meregang nyawa.

Kata orang, mata adalah jendela jiwa. Dan saya tidak melihat kebahagiaan dalam mata melotot yang seolah melawan perlakuan yang dialaminya. Apakah hanya mata manusia yang menjadi jendela jiwa?

Tapi saya bisa jadi salah. Tentu saja saya bisa salah. Saya bukan kambing atau sapi. Dan tak pernah sekalipun saya merasakan tajamnya parang penjagal di urat nadi saya.

Dan yang paling jelas, saya adalah manusia. Saya adalah makhluk di puncak piramida makanan.

Bersimpati pada hewan-hewan itu tidak akan mengubah hukum alam. Makan memakan. Mangsa memangsa. Dan kita, manusia, adalah pemangsa paling rakus.

Lupakan Idul Adha. Pada hari-hari biasa ternak juga dibantai. Untuk apalagi selain menjadi makanan kita. Menu di restoran siap saji, hidangan prasmanan di acara pernikahan, atau lauk pauk di baskom warung tegal langganan.

Walau bukan dengan tangan kita, kita selalu membunuh untuk makan. Untuk hidup. Ayam, bebek, sapi, kambing, anjing, babi, ikan, menggelepar dalam kuasa kita. Apakah kita kaum pembunuh ini punya tanggung jawab bersimpati pada mereka. Toh hewan-hewan itu juga pembunuh. Mereka memangsa. Ayam memangsa cacing, bebek memangsa siput, sapi memangsa rumput. Hanya para tumbuhanlah yang bebas dari membunuh. Itu pun tak semua. Dan sebagai yang terendah dalam rantai makanan, hampir tak terdengar suara yang bersimpati pada mereka.

Saya lihat meja makan di rumah saya hari ini. Dan saya lihat kuburan dari para makhluk yang pernah bernyawa. Lalu lirih dalam hati saya ucapkan, “Maaf, tanpa mencabut nyawa kalian saya tak bisa hidup.”

Entah sukarela atau tidak, entah bahagia atau tidak, entah ke surga atau tidak, mereka berkorban untuk kelangsungan hidup saya. Bukan sekedar dengan jerih keringat atau sepersekian dari kekayaan mereka. Mereka berkorban dengan nyawa mereka. Dengan kehidupan mereka, yang katanya cuma sekali itu.

Apa yang selayaknya saya lakukan untuk menghormati pengorbanan mereka?

Makan secukupnya tanpa sisa.
(dan berdoa agar jasad saya menyuburkan tanah kelak)

Yogyakarta, November 2011
di kamar

http://bahasa.cs.ui.ac.id/kbbi/kbbi.php?keyword=korban&varbidang=all&vardialek=all&varragam=all&varkelas=all&submit=kamus

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

5 Responses to Piramida Korban

  1. Timbul says:

    Kapan giliran Anda dikorbankan?

  2. Tobias says:

    “Apa yang selayaknya saya lakukan untuk menghormati pengorbanan mereka?”
    “Makan secukupnya tanpa sisa.”

    SetujušŸ™‚ Itu juga yang diajarkan orang tua ke saya.

  3. Norma says:

    Sy jg gak suka pas dibagian ini, dulu pernah waktu kecil pertamakali lihat proses penjagalan sampek menguliti. Hasilnya sy g mau makan dagingnya, kasihanšŸ˜¦
    Setelah itu sudah gak mau lg nontonšŸ˜¦

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s