Mari Belajar Berbohong Semenjak Usia Dini


Noda-noda coklat terlihat jelas pada sela-sela gigi keponakan saya. Karena merasa tidak ada yang memberinya coklat, maka orang tuanya bertanya.

“Makan apa kamu?”

“Makan nasi.”

Saya tidak tahu apakah itu kebohongan pertama yang ia ucapkan. Tapi yang jelas, bagi keluarga kami, peristiwa beberapa tahun lalu tadi jadi penanda bahwa anak kecil lucu yang suka tertawa itu sudah mulai bisa berbohong.

Wajar sebenarnya. Anak kecil mana yang tidak pernah berbohong. Bahkan Cuka anjing saya pun pandai berbohong. Ini kisah kebohongan Cuka paling canggih yang pernah saya ingat.

Saat itu Cuka masih kecil. Masih banyak peraturan rumah yang harus dibiasakan. Salah satunya adalah dilarang mengendus apalagi mengambil barang dari tempat sampah. Sering kali kami melihat ia memeriksa tempat sampah, kadang dengan gelagat akan mengambil sesuatu.

“Hayo Cuka!”

Cuka akan tersentak kaget dan berlari pergi. Ia tahu telah melakukan kesalahan. Lucu juga melihat ia tertangkap basah begitu.

Suatu ketika saya berjalan lewat dekat tempat sampah, gerak-gerik Cuka tampak mencurigakan. Saya tunggu sebentar. Ia menoleh ke belakang, lalu berlagak mengendus-ngendus sekitar tempat sampah. Ke area non larangan. Saya tunggu sebentar. Ia tetap saja mengendus, tapi terkesan tidak sungguh-sungguh. Saya berjalan pergi. Tapi karena masih curiga, saya mengintip.

Setelah saya pergi, Cuka sekali lagi menoleh ke belakang. Ke arah saya tadi berada. Lalu langsung menuju ke tempat sampah hendak mengambil sesuatu.

“HAYO!”

Cuka terperanjat! Kaget sampai meloncat! Meloncat dalam pengertian benar-benar terloncat. Segera ia berlari pergi dengan takut. Sedang saya terkekeh-kekeh sendiri tidak percaya dengan apa yang baru saja saya alami.

Kali lain, terdengar suara barang berklontangan dari belakang rumah. Saya menengok. Cuka tampak lari dari arah suara itu berasal. Terbirit-birit ketakutan. Tapi begitu sampai di ruang keluarga, tempat orang-orang berkumpul, tiba-tiba jalannya berubah biasa saja seolah tak terjadi apa-apa. Tampaknya ia tidak menyadari kehadiran saya dibelakangnya. Dan tahu, ia pasti akan menjadi tersangka utama di bali kegaduhan barusan.

Berbohong sepertinya memang naluri alam. Sesuatu yang kita pelajari dari keadaan. Dalam kebohongan, kita menemukan bahwa hidup menjadi lebih mudah. Kita melakukannya, kita mendapatkan keuntungan darinya, kita melakukannya lagi, kita ketagihan, dan lama-lama berbohong menjadi kebiasaan. Semakin lama dan semakin kita terbiasa, sehingga seolah berbohong adalah bagian dari kemampuan bertahan hidup. Seolah kita tidak mampu hidup normal tanpa berbohong. Seolah. Atau mungkin memang demikianlah adanya.

Saya sendiri lupa kapan berbohong untuk pertama kali. Tapi saya yakin saya sering karena akhirnya saya menyukainya. Dan ketika semakin besar dan semakin sering merenungkan kehidupan, saya mulai menyadari bahwa berbohong tidak mesti memudahkan. Kadang ia membuat keadaan lebih rumit. Berbohong dapat merugikan orang lain, juga merepotkan kita sendiri.

Dimulai dari kesadaran itulah saya mulai berusaha mengendalikan kebohongan saya. Sayangnya saya sudah ketagihan dengan seni berbohong. Berbohong terlalu mengasyikkan. Karena itu saya membatasi kebohongan saya pada hal-hal yang saya anggap tidak merusak.

“Eh, aku pinjam PR fisikanya dong!”

Padahal tidak ada pe-er. Itu cukup membuat teman saya panik dan saya terpuaskan karenanya.

Untuk hal-hal penting, saya memilih untuk mengelabui. Mengelabui beda lho dengan berbohong.

“Kenapa pulang sore banget?”

“Nganter temen pulang.”

Padahal benar mengantar teman pulang, tapi lalu main di rumah teman itu sampai soreeee sekali.

Sayangnya kesukaan mengelabui sebagai ganti berbohong ini juga tidak berlangsung lama. Mengelabui, yang tidak termasuk dalam golongan bersaksi dusta, ternyata tidak sesuci yang saya sangka.

Yudhistira, sulung para pandawa, terkenal karena kejujurannya. Seumur hidup ia tidak pernah berbohong. Karena itu dalam perang bharatayudha roda keretanya melayang di atas tanah.

Saat itu pandawa mengalami kesulitan dalam menghadapi Durna, guru pandawa dan kurawa yang berperang di pihak kurawa. Kresna mengajukan siasat untuk mengalahkannya. Dalam pertempuran, Bima membunuh seekor gajah bernama Aswatama. Lalu berteriaklah ia,

“Aswatama gugur!”

Durna kaget. Aswatama adalah nama anaknya. Tapi ia tidak percaya begitu saja. Maka bertanyalah ia pada Yudhistira karena tahu Yushistira tidak akan berbohong.

“Benarkah Aswatama gugur?”

“Benar Guru!” jawab Yudhistira sesuai skenario yang dirancang Kresna.

Seketika itu lunglailah Durna. Ia terduduk mengambil sikap samadi. Drestajumena, salah satu ksatria di pihak pandawa, memenggal kepalanya. Durna meninggal.  Pada saat itu, roda kereta Yudhistira turun dan menyentuh tanah.

Setelah selesai membaca kisah itu, mau tidak mau harus saya akui, mengelabui juga tidak membuat saya bebas dari kesalahan. Buktinya roda kereta Yudhistira turun ke tanah. Akhirnya saya mengambil sikap. Lebih baik menggunakan hak tidak menjawab daripada menipu ataupun mengelabui untuk hal-hal yang bersifat penting. Untuk hal-hal remeh, ah, berbohong itu kan mengasyikkan. Selama tidak ada yang dirugikan tentu tak mengapa.

“Mas, boleh tanya?” Saya sering mendapat pertanyaan seperti ini.

“Tentu saja boleh, selama saya boleh tidak menjawab.” Itu jawaban standar saya.

Sayangnya tidak selalu sikap “tidak menjawab” melepaskan kita dari rasa salah dan kerepotan. Dan itu adalah hal yang saya ingat sebagai masa-masa pertama saya dalam belajar berbohong. Masa itu adalah masa taman kanak-kanak.

“Apa cita-citamu?”

“Nggg, nggak tahu?”

Saya menjawab dengan jujur. Tapi orang-orang dewasa itu tidak mau jawaban “tidak tahu”. Dengan beragam cara mereka memaksa saya  menjawab.

“Masa nggak punya? Kalau nggak punya besok besar jadi apa dong? dsb dst…”

Demi membebaskan diri dari tekanan, saya akhirnya berbohong.

“Jadi dokter,” jawaban standar yang paling mudah dipikirkan.

Mereka puas, saya tenang.

Selain sebagai tempat belajar membaca, menulis, dan berhitung, sekolah juga mengajarkan saya berbohong agar  selamat dalam mengarungi kehidupan.

“Mana PR-mu?”

“Nggak bikin Pak?”

“Kenapa nggak bikin?”

“Malas Pak.”

Wah dijamin saya bakal lebih aman mengatakan kalau PR saya tertinggal. Dihukum sama-sama dihukum, tapi masalahnya tidak akan berlarut-larut.

“Apa yang dimaksud dengan ikatan kovalen?”

“Nggak tahu Bu.”

“Kok bisa nggak tahu? Kemarin kan sudah saya ajarkan.”

“Kemarin saat Ibu mengajar saya sedang baca komik di bawah meja Bu.”

Wah, jawaban jujur ini dijamin bakal membuat saya dimarahi kuadrat. Jadi agar sekadar dimarahi lebih baik saya menjawab memakai kata andalan. Lupa.

Kejadian paling parah terjadi saat saya kelas tiga SMA. Saat seharusnya saya berada di laboratorium multimedia untuk pelajaran biologi, saya memilih tidur di kelas. Saat itu saya benar-benar merasa lelah dan malas. Sialnya, ternyata hari itu banyak teman yang berpikiran untuk bolos. Akibat terlalu banyak yang kabur, maka ketahuanlah kami.

“Ke mana kamu?”

“Di kelas Pak.”

“Di kelas saja? Memang ngapain?”

“Tidur Pak?”

“Tidur? Wah, cari alasan mbok ya yang lebih bagus.”

Hati saya tertonjok. Saya menjawab jujur dan malah dikatai sebaiknya mencari alasan lain. Yang berarti menyuruh saya berbohong. Teman saya yang saat itu juga tertangkap dan memakai alasan palsu malah tidak mendapat komentar apa-apa. Kami semua dihukum. Disuruh menyerahkan surat pernyataan tidak akan membolos lagi yang ditandatangani oleh orang tua masing-masing.

Saya sudah menceritakan hal tersebut pada orang tua saya, sebagai pembuka untuk meminta tanda tangan. Saat itu saya memilih jujur daripada berbohong. Saya tidak ingin memalsu tanda tangan orang tua. Ironisnya, pada hari saya harus menyerahkan surat itu, saya lupa belum meminta tanda tangan. Dan demi kemudahan, saya palsukan jua tanda tangan orang tua saya.

Sekolah bukan saja mengajarkan saya untuk berbohong, tapi juga memberi insentif jika saya melakukan kebohongan untuk melindungi diri. Hal ini menjadi paradoks yang konyol. Norma dan segala aturan menuntut kita untuk menjadi jujur, tapi masyarakat, bahkan sekolah, terus mendorong kita untuk berbohong.

Maka kita terus berbohong dan berbohong. Semakin terbiasa dan terampil. Semakin sering dan sering, sampai mempercayai kebohongan kita sebagai kenyataan. Semakin yakin dan yakin, sampai lupa bahwa kita sedang berbohong.

***

Seorang guru agama bertanya pada anak didiknya yang masih ingusan dan belum tahu apa-apa.

“Kamu percaya Tuhan?’

“Tuhan? Apa itu?”

“Yang menciptakan alam semesta. Kalau kamu tidak percaya, kamu akan disiksa di neraka. Dan kalau kamu tidak takut siksa neraka, masyarakat akan mengucilkan dan mungkin menyiksamu semasa kamu massih di dunia. Sedangkan saya akan terus menerus berusaha membuatmu percaya, sampai-sampai kamu tidak punya waktu untuk bermain lagi.”

“Eeeenng, baiklah. Saya percaya.”

Yogyakarta, di kamar. 5 Februari 2012.

This entry was posted in Uncategorized and tagged . Bookmark the permalink.

7 Responses to Mari Belajar Berbohong Semenjak Usia Dini

  1. lio says:

    mari budayaka berbohong😀

  2. Afinelzi says:

    Inspiratif. Bagus mas. Apik. Lampiran marjane satrapi-nya lebih keren😉 (aku iki jujur lho..) hehe..

  3. benny says:

    Menarik mas artikelnya !
    Menurut saya bohong itu kalo perlu saja,
    masalahnya kalo perlunya setiap saat….????

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s