Pukul Lantainya! Injak Semutnya!


Jonea, keponakan saya berlari goyah. Maklum baru saja bisa jalan. Sulit baginya mempertahankan keseimbangan. Jalan atau lari tidak jelas bedanya. Dan duk, ia jatuh berlutut.

Sepertinya sih nggak apa-apa. Ia mendongak, melihat ekspresi kami yang juga kaget. Lalu mulai ancang-ancang untuk menangis. Ibu saya sigap. Dihampiri cucunya itu.

“Mana yang sakit? Ini yang sakit? Kena lantai? Lantainya nakal ya? Dipukul saja.”

Buk buk, ibu saya memukul lantai. Jonea heran, lalu ikut-ikut menendang lantai dengan tumitnya. Ia tidak jadi menangis. Hebatkah ibu saya?

Beberapa tahun kemudian keponakan saya itu berkunjung lagi ke rumah neneknya. Jonea sudah tumbuh jauh lebih besar. Dan lebih penakut. Jangankan dengan laba-laba, dengan sarangnya saja takut. Parahnya lagi, dengan semut juga.

Ia bermain dengan ibu saya. Tak disangka disekitarnya banyak semut. Terang saja ia ketakutan. Ibu saya kembali sigap menenangkan.

“Nggak apa itu. Cuma semut. Kecil-kecil gitu diinjak saja bisa.”

Bak buk bak buk, langsung saja Jonea berusaha menginjak-nginjak semut-semut tersebut. Saya pelototi ibu saya, sebelum berusaha menghentikan kekejaman raksasa cilik satu ini.

Kita, orang Indonesia memang khawatir sekali jika ada anak kecil jatuh atau ketakutan. Pokoknya harus segera ditolong.

Di ruang tunggu Bandara Soekarno Hatta, saya melihat seorang ayah muda dengan anak lelakinya yang masih belajar berjalan. Ia berkulit putih, berkebangsaan asing. Kaki anaknya dibebat perban tebal. Ada noda kuning besar ditengahnya. Tapi ayahnya dengan sangat bersemangat membiarkannya berjalan-jalan. Di lantai. Di pinggir pot besar. Si anak tampak sangat senang, ayahnya apa lagi.

Saat berada agak jauh dari ayahnya yang mengawasi, ia terjatuh di samping pria paruh baya yang berjalan lewat. Pria Indonesia tersebut langsung saja membantunya berdiri. Si ayah menghampirinya,

“Thank you, but you don’t need to do that.” Terima kasih, tapi kamu tak perlu melakukannya.

Waw, ayahnya sendiri bahkan tidak berharap anaknya ditolong. Kejamkah ayah ini?

Di tempat yang sama dan waktu yang berbeda. Sama-sama orang asing, tapi yang ini ibu muda cantik. Anaknya apa lagi. Imuuuttt sekali! Balita, sudah bisa berjalan sendiri. Pipinya montok. Rambutnya ikal keemasan. Matanya biru besar. Memakai tas punggung kebesaran. Berjalan mengikuti ibunya dari belakang, aduh lucunya.

Nah, karena anak lucu ini keasyikan menengok kiri kanan, ia tertinggal dari ibunya. Mulailah ia menangis. Mendengar tangisan anaknya, si ibu menoleh ke belakang. Dalam bahasa inggris ia berkata dengan nada kesal,

“Kita baru terpisah dua atau tiga meter, dan kamu sudah mulai menangis? Ayo sini!”

Anak kecil manis itu berlari menyusul ibunya sambil menahan tangis. Tas ranselnya terhentak-hentak di belakang. Adududududuhhhh…..lucunyaaaaaa…..

Pengalaman satu ini lebih ekstrem. Saya dan teman-teman makan di McD Kemang. Karena ramai sekali, terpaksa kami makan dekat permainan anak-anak. Tak jauh dari keluarga besar yang juga sedang makan di situ. Keluarga asing tentunya. Tak lama, salah satu anak menangis di arena bermain. Si ibu menjemput dan menggendongnya ke arah kami. Dan saat itulah saya mendengar percakapan “mengerikan” ini (tentunya dalam bahasa inggris),

“Mana yang sakit?”

Anak laki-laki itu menunjuk kakinya.

“Ohh, ini. Perlu kita potong nggak?” Sambil tangannya memperagakan untuk memotong kaki si anak.

Anak menggeleng lemah.

“Nggak? Baiklah kalau begitu, kita duduk saja di sini dulu.”

Setelah agak lama, si ibu kembali bertanya pada si anak.

“Bagaimana, kamu sudah ingin bermain lagi belum?”

Si anak mengangguk, lalu berlari kembali ke arena bermain. Saya takjub.

Apakah karena cara mendidik yang “kejam’ itu maka bangsa barat jadi tampak lebih superior dari kita?

Pendidikan yang kita peroleh dari kecil tentu mempengaruhi cara kita melihat diri sendiri. Juga cara kita melihat orang lain. Dan kebiasaan para orang tua untuk khawatir pada kejatuhan dan ketakutan telah membuat kita jadi begitu bergantung pada pihak lain. Bukan sekadar secara fisik, tapi lebih secara emosional. Kita menjadi pengemis empati.

Coba lihat saat bencana alam tiba. Lagu pilu mendayu di radio dan televisi. Bahkan saat para korban sudah siap membangun kembali, bosan dan muak pada tangisan, lagu ini masih saja terus diperdengarkan. Karena kita ketagihan. Bukan saja ketagihan untuk dikasihani, tapi juga ketagihan untuk mengasihani.

Lalu dalam kejatuhan itu, kita lebih sigap menyalahkan pihak lain daripada sigap untuk segera bangun. Kita salahkan Tuhan, yang katanya muak dengan dosa-dosa. Kita salahkan orang-orang, yang berbuat dosa-dosa. Kita salahkan bantuan yang terlambat datang. Kita salahkan pemberi bantuan yang tidak tulus dan penuh pamrih. Kita salahkan juga diri sendiri.

Seolah kita lupa, bahwa yang mendesak bukan mencari siapa yang salah, tetapi berjuang untuk berdiri kembali. Ah saya yang lupa. Kita tidak lupa. Malah sebenarnya, kita tidak sadar. Kita memang tak pernah belajar untuk berdiri sendiri.

Yang lebih parah, kita diajar untuk menaklukan ketakutan kita dengan menyerang penyebab ketakutan itu. Kalau kita takut kecoak, kita bunuh kecoak itu. Kalau kita takut membunuh kecoak, kita berteriak agar seseorang membunuh si kecoak.

Kecoak malang. Laba-laba malang. Tikus malang. Semut malang.

Kita tidak pernah diajar menaklukan rasa takut itu di dalam diri kita sendiri. Akibatnya kita mencoba membinasakan pihak-pihak lain yang kita anggap menakutkan. Walau sebenarnya mereka tidak menyerang kita, bahkan baik-baik saja pada kita.

Komunis malang. Ahmadiyah malang. Syiah malang. Kristen malang. Pedagang cina malang.

Dan saat kita bertikai, menyakiti sesama kita sendiri atas ketakutan-ketakutan yang didasarkan pada kebodohan dan ketidaktahuan, pemimpin kita hanya bisa prihatin. Meratapi nasib. Curhat. Memalang-malangkan diri untuk mengais empati.

Yogyakarta, 03 Mei 2012
di kamar

This entry was posted in Uncategorized and tagged . Bookmark the permalink.

15 Responses to Pukul Lantainya! Injak Semutnya!

  1. Kisah membiarkan anak jatuh dibiarkan berdiri sendiri memang bagus untuk bisa mandiri.. tapi juga perlu diperhatikan untuk mengajari bersikap empati terhadap sesama yang membutuhkan..

  2. Tobias says:

    Begitu melihat judulnya, saya udah duga kamu akan bercerita seperti diatas😀 Saya juga ada pengalaman, tapi berkebalikan dengan yang dialami Jonea:

    Waktu itu lagi kumpul2 keluarga besar. Om, tante, sepupu & ponakan2 saya, semua berkumpul di rumah kakek. Tiba2 ponakan saya yang baru belajar jalan, terjatuh di lantai. Tante saya yang melihat dia terjatuh lsg menghampiri & bilang: “lantai nakal ya ? Pukul lantai..” Belum selesai bicara, ibu saya memotong: “eh, gak boleh gtu. Nanti dia akan terus menyalahkan orang atas semua kesulitan. Kalau jatuh, bilang ga pa pa, ayo berdiri lagi”

    Saya kira, betul juga apa yg kamu utarakan diatas, jg apa yg dikatakan ibu saya. Selalu lebih mudah, dan selalu tanpa kita sadari, kita menyalahkan orang lain / hal2 lain atas kesulitan yang kt buat sendiri.

  3. elang says:

    Ditulis oleh yang belum punya anak, dikomentari saya yang juga belum punya.

    Semoga tulisan ini dibaca oleh lebih banyak orang tua. Karena ini bagus sekali.

  4. ratri says:

    jadi gag sabar nunggu kur punya anak,..pasti seru cara bikinnya…ehh..cara mendidiknya,maksut saya..:D

  5. Annie Soehardjo says:

    bagooosss

  6. filantropis says:

    bagus.. mengajarkan anak untuk bersikap mandiri dan tidak ketergantungan pada orang lain. Dan tidak selalu menyalahkan orang lain akan kesalahan/kegagalan yang kita buat. Tapi pelajaran berempati tetap harus diajarkan.

    Tidak selalu Indonesia jelek dan orang asing lebih baik. Menurutku, Justru pendidikan terbaik untuk hal moral adalah Indonesia. Sikap empati terbaik adalah Indonesia. Orang asing selain kurang ada tata krama kepada yang lebih tua. Juga kurangnya peduli terhadap sekitar.

    Meski, orang Indonesia saking pedulinya. Kadang keblasur suka ikut campur urusan orang lain..hehe

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s