Fokus… Fokus Lulus…. Dapatkan Nilai, Ilmu Nomer Dua


ImageDengan tidak bangga saya nyatakan bahwa saya ini sarjana teknik fisika. Bagaimana saya bisa kuliah di fakultas teknik fisika tidak akan kita bahas di sini. Tetapi bagaimana saya bisa lulus, akan sedikit kita bahas. Saya bisa lulus karena berorientasi hasil, bukan proses. Artinya saya berorientasi pada jumlah SKS dan besar IP, bukannya pada ilmu yang saya peroleh.

Dari beragam jurus lulus yang saya pakai, satu akan saya bagikan dalam tulisan yang sekarang Anda baca. Yaitu jurus pengawuran. Mengawur dalam menulis jawaban saat kuis, ujian mid-semester, maupun ujian akhir. Kita harus memahami sepenuhnya, bahwa C itu berarti cukup. Bahkan dalam kasus saya, D sudah mampu memberi kelulusan selama tidak melebihi seperempat dari total jumlah SKS. Fokus…fokus lulus….dapatkan nilai, ilmu nomer dua.

Kebanyakan mata kuliah yang blas tidak saya mengerti adalah mata kuliah-mata kuliah yang ujian-ujiannya menggunakan persamaan tingkat tinggi. Tingkat tinggi yang saya maksud sebenarnya nggak tinggi-tinggi amat, cuma selevel kalkulus satu dan kalkulus dua. Mohon dimaklumi, bagi saya itu sudah tinggi. Pada kalkulus satu saya berhasil dapat nilai C karena semester satu masih rajin. Kalkulus dua saya dapat D karena semester dua saya sudah lebih menerima keadaan. Fokus… fokus lulus…. dapatkan nilai, ilmu nomer dua.

Harapan tertinggi saat ujian adalah mendapat contekan dari teman. Tapi ini untung-untungan, karena posisi teman yang berkenan memberi contekan tidak dapat disesuaikan dengan harapan kita. Plus kalau dosennya sendiri yang menunggu ujian dan ia mengawasi dengan sungguh-sungguh. Nah, saya jauhi mata kuliah-mata kuliah seperti ini. Untuk mata kuliah pilihan yang seperti ini, saya hanya mengambil mata kuliah yang dosennya suka pada ujian buka terbuka. Kalau sudah demikian maka amanlah saya. Fokus… fokus lulus…. dapatkan nilai, ilmu nomer dua.

Ujian buku terbuka benar-benar sebuah berkah. Tidak perlu belajar untuk mengerjakannya. Yang penting adalah membekali diri dengan sebanyak-banyaknya bahan. Terutama contoh-contoh soal. Tipsnya saat ujian adalah mencari contoh soal paling mirip dengan soal ujian yang muncul. Lalu dijiplak saja. Ubah angka-angkanya, atau kalau tidak angkanya cukup ubah parameter dan variabelnya. Jelas salah? Tidak peduli. Fokus… fokus lulus…. dapatkan nilai, ilmu nomer dua.

Saya tidak berbuat ini tanpa pertimbangan. Saya melakukan ini berdasar pengamatan. Ketika saya mencoba menjawab dengan benar, lalu mentok di tengah dan tidak saya teruskan, saya mendapat nilai seadanya. Namun walau saya tahu saya salah tapi tetap saja saya teruskan, saya mendapat nilai lebiih baik. Semakin panjang (dan rumit) persamaan yang saya tulis, semakin baik nilai yang saya dapat. Dan dari mana asal karangan persamaan panjang itu kalau tidak jawaban dari contoh soal yang saya miliki. Beda soal tapi jawaban sama bukanlah masalah. Yang penting lembar jawab penuh. Tidak cuma sekali saya mendapat nilai B untuk mata kuliah yang tidak saya pahami sama sekali. Tidak lain tidak bukan karena jurus saya itu. Fokus… fokus lulus…. dapatkan nilai, ilmu nomer dua.

Adakah yang saya dapatkan selain nilai yang mencukupi syarat kelulusan? Ada. Seperti Alfa Edison yang menemukan seribu cara gagal membuat lampu, saya memahami tanda-tanda bagaimana jawaban salah. Walau tidak tahu bagaimana yang benar, saya tahu mana yang salah. Tandanya mudah. Jawaban salah adalah ketika kita gagal menyederhanakan persamaan akhir. Atau angkanya sangat ganjil, jika jawabannya berwujud angka.

Tapi memang itulah fisika! Persamaan-persamaan, rumus-rumus yang sering kita pakai semuanya sederhana. F = m.a;  E=M (c) kuadrat; Ep= m.g.h; Ev=1/2 m.v(kuadrat)

Dan kalau kita mau belajar bagaimana rumus itu tercipta, maka kita harus memahami sederet persamaan-persamaan tingkat tinggi memusingkan yang berada di belakangnya. Persamaan-persamaan panjang dan rumit itu didapatkan dari persamaan-persamaan sederhana yang sudah ada, lalu digabungkan, diurai panjaaaaaang, lalu akhirnya disederhanakan kembali.

Itu fisika! Dasar kita memahami alam semesta. Sederhana sederhana sederhana! Kalau masih rumit berarti salah!

Contoh yang sangat baik adalah saat Dr. Nurul Taufiqu Rochman menjadi pembicara dalam seminar TED Jakarta. Ia menerangkan apa itu nanoteknologi dengan bahasa yang membuat kesan bahwa ini adalah ilmu yang bisa dipahami dengan mudah oleh anak SMP atau SMA.

Mampu menyederhanakan persamaan atau persoalan ternyata adalah tanda bahwa kita memahami fenomena yang kita hadapi. Dan ketika saya melangkah keluar dari ruang ujian dengan lembar jawab penuh tapi pasti salah, saya melihat dunia secara lain. Saya mengerti bahwa pemahaman saya ini tidak hanya berlaku pada soal fisika. Ia mencakup segala sesuatu di alam semesta.

Dalam matematika, ilmu sosial, biologi dan matematika. Dalam interaksi antar manusia, dalam interaksi dengan diri sendiri. Dalam penggunanaan bahasa, dalam argumen, dalam logika sehari-hari. Kalau kita belum mampu menyederhanakannya, maka itu tanda kita belum memahaminya. Jika kita merasa sudah memahami namun masih melihatnya secara kompleks, maka berhati-hatilah. Karena itu artinya kita cuma merasa. Merasa memahami. Tapi sebenarnya belum mengerti.

Merasa memahami tapi masih memandang atau mengutarakan suatu hal secara kompleks tidak hanya berarti menipu diri sendiri, tapi juga menyusahkan orang lain.

Dalam dunia animasi dikenal dengan pameo KISS. Jangan senang dulu. Itu bukan cium mencium. KISS adalah kependekan dari “Keep It Simple, Stupid!”

Saat animator bekerja, ia dituntut untuk mampu melihat secara sederhana apa yang ia kerjakan. Jika tidak, itu akan berujung pada keadaan mempersulit diri sendiri dan membingungkan penonton. Clarity, atau kejelasan dari scene yang bersangkutan tidak akan tercapai. Jadi dengan pameo itu kita diingatkan untuk menjaga pekerjaan kita tetap sederhana.

Seharusnya KISS tidak hanya dikenal dalam dunia animasi. Seyogyanya KISS menjiwai segala hal. Masak memasak. Bercerita secara lisan, tertulis, maupun bergambar. Riset dan penelitian. Kampanye dan gerakan sosial. Menulis blog. Berhumor dan bercanda. Dan yang terpenting, dalam pengajaran dan pedidikan!

Tapi apa lacur, kehidupan yang kita hadapi ternyata setali tiga uang dengan yang saya temui dalam ruang ujian. Hal-hal kompleks dinilai lebih daripada hal-hal sederhana, walau sama-sama salah. Yang repot dalam kehidupan sehari-hari adalah masyarakat tidak tahu mana yang benar dan salah, beda dengan dosen yang memeriksa lembar jawab saya. Dan yang terjadi akhirnya adalah hal-hal ruwet dipuja, sedangkan hal-hal sederhana, entah itu benar atau salah disingkirkan. Padahal dari pengalaman yang saya utarakan di atas, hal-hal ruwet itu kalau tidak “salah”, pasti “belum selesai”. Belum dimengerti. Belum dipahami.

Maka kita tak perlu memahami dan mengerti persoalan terlebih dahulu untuk di cap pintar dan pakar oleh masyarakat. Pokoknya berkata-kata saja secara kompleks, ruwet, memakai bahasa-bahasa yang sulit dimengerti.

Dan yang terjadi kemudian adalah;

Orang yang menggunakan kalimat-kalimat canggih untuk menerangkan hal-hal yang sederhana akan tampak pintar bagi orang yang tolol, tapi tampak tolol bagi orang yang pintar.
Orang yang menggunakan kalimat-kalimat sederhana untuk menerangkan hal-hal yang kompleks akan tampak bodoh bagi orang yang tolol, tapi tampak cerdas bagi orang yang pintar.

Sayangnya orang tolol menjadi mayoritas dalam masyarakat kita. Karena itulah ketika kita berusaha mengumpulkan massa mencari pengikut, mencari dukungan, yang harus kita lakukan bukan berusaha untuk dimengerti. Bukan berusaha agar orang lain mengerti apa yang kita utarakan. Melainkan berusaha agar kita tampak pintar. Tampak cerdas. Bagi mayoritas. Anda paham maksud saya?

Kita perlu menggunakan kalimat-kalimat canggih walau itu berupa jargon-jargon kosong. Kita harus tampak pintar dan untuk itu kita menjaga massa tetap bodoh. Terus menerus. Sampai kita sendiri percaya bahwa kita pintar. Sampai kita sendiri tolol. Sampai kita tak perlu memilah hal tolol mana yang perlu kita ucapkan, karena semua yang keluar dari mulut dan pikiran kita adalah hal bodoh. Fokus… fokus kekuasaan…. dapatkan pengikut, kebenaran nomer dua.

Lalu untuk menjaga pengaruh kita itu, kita mulai membenci pertanyaan. Karena pertanyaan membuat kesadaran yang sudah kita pendam tersebut menggeliat, mengingatkan diri bahwa kita sebenarnya tidak memahami apa yang kita katakan. Pergolakan tersebut membuat kita ketakutan. Seolah semua orang yang mengamati dan mencoba memahami, apalagi yang berusaha memberi tahu akan kebenaran adalah ancaman. Panik. Dan kita terjebak dalam lingkaran pembelaan diri. Terjebak dalam tarik ulur hasrat akan kesadaran dan hasrat memiliki pengikut.

Maka berbahagialah orang yang tidak mengikuti dan tidak ingin diikuti. Berbahagialah orang-orang sederhana. Berbahagialah juga mahasiswa-mahasiswa yang mendapat ijazah walau tak mengerti apa-apa.

Yogyakarta, 9-10 Juli 2012
di kamar

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

7 Responses to Fokus… Fokus Lulus…. Dapatkan Nilai, Ilmu Nomer Dua

  1. elang says:

    another AMAZING post. simply AMAZING

  2. antondewantoro says:

    Untuk menyatakan hal yang sama

    Gunakan bahasa Inggris, Latin atau Yunani maka kamu akan sah sebagai ahli hukum, dokter, filsuf, dll. Menunjukkan kepakaran.

    Gunakan bahasa Jawa, maka kamu akan tampak ndeso dan tidak berpendidikan seperti saya

  3. Dear kurniahartawinata.wordpress.com,

    Sore,

    Kami dari Humas Merdeka.com bermaksud menawarkan content yang sesuai dengan tipikal blog Anda yang bisa digunakan secara gratis. Content ini sangat mudah aplikasinya dan sangat membantu Anda dalam Reblogging.
    Jika Anda berminat, silahkan kunjungi http://content.merdeka.com/ dan dapatkan contentnya.

    Terima kasih atensinya, kami menunggu kabar baik dari Anda.

    Salam,

    Humas Merdeka.com
    Selvie Chummairoch

  4. Pingback: Berbicara Bodoh Biar Tampak Pintar | Kolom Kurnia

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s