Antara Memaafkan dengan Membiarkan Diri Digebuki


Ada pembahasan cukup seru waktu saya masih SMA dahulu. Tak tahu mulai dari mana, teman-teman sedang sibuk mengobrolkan tentang memaafkan. Mereka sepakat kalau sulit sekali memaafkan, kalau mengucap kata maaf sih gampang.

Saya yang hadir belakangan merasa berbeda. Saya kebalikannya. Minta maaf itu sulit, sedang memaafkan itu mudah. Begitu saya bikin pernyataan itu pada mereka, eeeh….

“Yuk, kita gebuki saja Kurnia. Nanti habis itu kita minta maaf! Kan dia bilang sendiri gampang memaafkan.”

Tentu saja saya kabur. Lari menyelamatkan diri. Ada beda jelas antara memaafkan dengan membiarkan diri digebuki.

***

Memaafkan juga diajarkan oleh Bunda Theresa. Kata nenek tua ini, kita harus selalu memaafkan. Jangan pernah menyimpan dendam.

“Kita butuh begitu banyak cinta untuk memaafkan,dan kita butuh banyak kerendahan hati untuk melupakan. Karena memaafkan tidak akan lengkap jika kita tidak melupakan. Selama kita tidak benar-benar melupakan, kita juga tidak akan benar-benar memaafkan.”

Alangkah bahagianya para manusia pikun, karena kepikunan mereka memudahkan mereka untuk memaafkan secara lengkap.

***

Apa sih gunanya memaafkan, sehingga kata maaf sering sekali disebut-sebut dan dibahas? Bahkan saat lebaran, masyarakat Indonesia bermaaf-maafan sampai harus antre bersalam-salaman seperti semut sedang berbaris? Sampai orang sesibuk saya merelakan waktu bermain untuk menulis blog tentang maaf?

***

Saya lupa waktu itu saya kelas berapa, nol kecil atau nol besar. Ah tak penting juga, hanya beda tombol capslock saja. Tak tahu bagaimana, tahu-tahu mbak-mbak yang tinggal di warung dekat lapangan dekat rumah menyuruh saya minta maaf karena saya telah membuat adiknya yang masih bayi menangis. Kata si bayi, saya yang menakali.

Apa?!? Bahkan saya tidak tahu apa yang telah saya lakukan. Seingat saya saya tidak pernah berurusan dengan anak kecil itu. Tentu saja saya tidak mau minta maaf, lha wong berbuat kesalahan apa saja saya tidak tahu.

Tapi mbak-mbak itu terus saja menteror saya. Sampai melarang saya bermain di lapangan itu kalau belum mau mengaku dan meminta maaf.

Apa!?! Kamu lebih percaya bayi daripada saya? Pernahkan terbersit dalam pikiranmu kalau si bayi itu bisa saja salah mengenali orang? Atau cuma asal tunjuk? Atau bermimpi saja?

Kakak saya menasehati agar minta maaf saja, asal ngaku, biar bisa bermain di lapangan lagi.

***

Diam-diam ayah saya jengkel terhadap salah satu tetangga. Tetangga itu memang dikenal sebagai keluarga yang menyebalkan. Nah, suatu saat tetangga itu berbaik hati menghadiahi kami dengan sekardus roti. Tentu saja ayah menerimanya, ia tidak mau bermusuhan secara terbuka. Di dalam rumah, ia menghempas roti itu ke kursi sambil mendengus kesal. Ia tidak mau memakan roti itu.

Ibu geleng-geleng heran. Tapi saya tahu perutnya bersorak senang. Bagaimana lagi, itu roti mahal yang enak rasanya.

***

Minta maaf dan memaafkan menjadi pasangan serasi. Yang dianggap bersalah meminta maaf, dan yang menuntut permintaan maaf memaafkan. Amboi indahnya!

Hanya dengan itu dunia bisa kembali seperti sedia kala. Yang dulu bermusuhan dan enggan duduk bersisihan bisa kembali bersalaman. Bahkan berangkulan. Saya bisa bermain lagi di lapangan dekat rumah dan mungkin si mbak bisa medapat pemasukan jika saya jajan di warungnya. Bahkan saya tidak perlu tahu sebenarnya apa yang sudah saya lakukan. Yang penting ego si penuntut permintaan maaf terpuaskan. Dunia kembali seperti sedia kala!! Hore!

Sayangnya di bawah permukaan, minta maaf dan memaafkan bukanlah pasangan. Ada kebutuhan untuk memaafkan tanpa perlu dimintai maaf terlebih dahulu. Karena jika kita tidak melakukannya, kita bisa saja kehilangan kesempatan makan roti enak berharga mahal seperti yang dialami ayah saya.

***

Matius mencatat bahwa Petrus pernah datang dan bertanya pada Yesus tentang maaf memaafkan ini. Tapi karena ini bukannya Injil Matius melainkan blog saya ,saya buat saja versi saya sendiri.

“Tuanku Yesus, sampai berapa kali aku harus mengampuni saudaraku jika ia menggebuki aku? Sampai tujuh kali?”

“Bukan! Aku berkata kepadamu: Bukan sampai tujuh kali, melainkan sampai tujuh puluh kali tujuh kali.”

“Aduh Tuanku Sus, jadi berapa kali saya harus memaafkan? Saya ini tidak pandai matematika. Perkalian di bawah sepuluh saja sudah terlalu sulit untuk saya, ini kok harus menghitung tujuh puluh kali tujuh.”

“Muridku Trus, untuk itu kamu bisa memilih, belajar matematika atau belajar memaafkan sampai tak terhingga karena kamu tidak tahu berapa kali kamu harus memaafkan.”

“Kalau harus dihitung dengan Kalkulus tentu saya akan memilih belajar memaafkan sampai tak terhingga, tapi karena ini cuma perkalian biasa maka saya pilih belajar matematika. Sepertinya lebih mudah.”

Akhirnya Petrus belajar matematika, setelah beberapa hari ia berlari-lari menghampiri Yesus.

“Tuanku Yesus, Tuanku Yesus, masak saya harus membiarkan saudaraku menggebukiku sampai 490 kali? Digebuki sekali saja sudah bonyok!”

“Loh Trus, siapa suruh kamu membiarkan saudaramu menggebuki dirimu sampai 490 kali? Yang saya bilang kan maafkanlah sampai 490 kali.”

“Lha apa bedanya Tuanku Sus? Bagaimana saya tidak membiarkan saudaraku menggebukiku sampai 490 kali kalau saya harus memaafkan hal itu sampai 490 kali?”

“Trus trus….memaafkan itu beda sama membiarkan diri digebuki!”

“Bagaimana itu Tuanku Sus?”

“Maafkanlah, tapi jangan melupakan. Lepaskanlah dendam agar pikiranmu jernih. Belajarlah kenapa, sebab apa, dan bagaimana saudaramu menggebukimu. Lalu ciptakanlah lagi kondisi dimana ia tidak lagi ingin, atau paling tidak tidak mempunyai kesempatan untuk melakukannya kembali. Untuk belajar itu kamu harus mengingat dengan baik semua pengalamanmu. Karena kalau kau melupakan, kau akan membiarkan sejarah berulang. Kamu akan digebuki lagi. Selain bonyok, bukankah tidak baik juga untuk membiarkan saudaramu mengulang-ulang kesalahan yang sama.”

“Tapi kata Bunda Theresa…”

“Ini blognya Kurnia, bukan blognya Bunda Theresa. Tentu saja kamu bebas memilih yang mana, tapi suka-suka Kurnia mau menulis apa.”

“Tapi…”

“Kalau Bunda Theresa tidak mampu memaafkan secara lengkap tanpa melupakan, bukan berarti Kurnia juga tidak bisa. Tapi kalau Kurnia bisa, masak kamu nggak bisa sih, Trus?”

“Ho ho, betul itu Tuan Sus!”

“Nah sekarang pertanyaannya adalah, apakah Kurnia bisa?”

“Sepertinya lebih mudah seekor unta lolos ujian Kalkulus daripada Kurnia memaafkan secara lengkap tanpa melupakan, Tuanku Sus!”

“Ah, kamu ini!”

Yogyakarta, di kamar, HUT RI ke 67

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

6 Responses to Antara Memaafkan dengan Membiarkan Diri Digebuki

  1. Tobias says:

    Kur, setuju sekali dengan paragraf yg bilang maafkanlah, tapi jangan melupakan.
    Kalau kita lupa, artinya kita nggak belajar dr sejarah.

  2. Syukiyem_Ayu says:

    hehe..dua-duanya gampang diucapkan, tapi susah dijalani…

  3. billyotniel says:

    forgive but never forget. Tp yang susah itu bagian memaafkannya, bagian tidak melupakannya mah semua orang bisa, kecuali yang pelupa.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s