Curhat Komikus: “Bagaimana Saya Mampu Bertahan Untuk Dapat Mengomik Secara Stabil?” Bukanlah Pertanyaan yang Tepat


Sudah lebih dari tiga tahun saya rutin mengunggah komik Koel Mingguan di Facebook. Baru dua atau tiga kali saya bolos. Boleh kan saya berbangga karena itu?

Saya masih ingat masa-masa awal saya menggunggah Koel. Saat itu awal booming unggahan komik di facebook. Banyak yang tampaknya juga mencoba mengunggah secara rutin. Saya tidak sendiri. Tapi sampai sekarang, setahu saya hanya saya yang bertahan untuk terus mengunggah secara rutin. Boleh kan saya menyombongkan hal itu?

Saya tidak bercita-cita jadi komikus profesional. Saya tidak mendapat bayaran apa-apa. Terkenal? Rasanya tidak juga, banyak komikus fb lain yang mendapat pembaca jauh lebih cepat dan banyak dari saya. Tapi saya terus bertahan, pelan, sedikit-dikit. Boleh kan saya membusungkan dada untuk hal itu?

Tiga tahun sebenarnya tidak lama. Masih besar kemungkinan saya berhenti sebentar lagi. Mungkin beberapa bulan, beberapa minggu, malah mungkin minggu depan saya sudah tidak upload lagi. Itu saya sadari. Sangat saya sadari. Lha wong tiap minggu saja saya selalu bergulat dengan diri saya sendiri yang begitu malas membuat komik. Tiap minggu saya merasa malas. Tiap minggu saya mempertimbangkan untuk menghentikan Koel Mingguan ini. Tiap minggu saya ingin berhenti.

Beberapa orang bertanya kepada saya, bagaimana caranya saya mampu bertahan? Bagaimana caranya saya bisa dapat terus mengomik secara rutin?

Bagaimana? Saya bertanya pada diri saya sendiri. Saya tidak bisa menjawabnya.

Pada awalnya, saya bertekad ngomik satu minggu satu halaman semata agar saya tetap berlatih menggambar. Saat itu pekerjaan saya berkutat dengan keyboard dan mouse dari pagi sampai malam. Sementara saya suka menggambar. Dengan pensil dan kertas. Saya butuh pelampiasan. Saya suka bercerita, dan menggambar saja rasanya terlalu membosankan. Maka saya membuat komik.

Pertanyaan selanjutnya adalah, apa yang ingin saya ceritakan dengan gambar. Apa yang ingin saya sampaikan pada pembaca. Apa yang saya harapkan dari pembaca. Kalau ada yang membaca.

Saya pilih yang paling mudah untuk saya. Saya ceritakan hal-hal yang ingin saya sampaikan pada orang lain. Saya pilih yang paling asyik untuk saya. Saya ceritakan hal-hal yang sulit saya sampaikan secara langsung ke orang-orang. Melalui komik hal itu jadi lebih mudah, karena saya tidak harus berhadapan secara langsung. Saya pilih yang paling bersahabat. Saya ceritakan hal-hal yang menyenangkan dan menghibur pembaca. Saya pilih yang paling penting. Saya ceritakan pandangan-pandangan saya tentang bagaimana dunia ini dapat menjadi tempat yang lebih indah bagi semua.

Menyaksikan pergantian rezim, Soeharto yang digulingkan dengan gegap gempita, membuka mata saya. Dahulu kita berpikir kalau pemimpin busuk bisa kita gulingkan, maka rakyat yang selama ini menjadi korban dapat menggantikan mereka. Dan otomatis kita memiliki pemerintahan yang bersih. Kita akan memiliki pemimpin yang baik. Pemimpin yang berempati. Pemimpin yang menyejahterakan semua. Ternyata setelah belasan tahun berlalu, hal itu tak terbukti.

Kita singkirkan pemimpin yang busuk. Kita ganti mereka dengan yang baru. Lalu mereka menjelma menjadi pemimpin yang busuk pula. Satu-satunya penjelasan mengenai hal ini adalah bahwa sebenarnya kita semua busuk. Yang kaya dan yang miskin. Yang kuat dan yang lemah. Atasan maupun bawahan. Yang bodoh ataupun yang berpendidikan. Satu-satunya pembeda hanyalah siapa yang punya kesempatan dan siapa yang tidak.

Kita lihat para pembesar melenggang lepas, bergaya bak selebritis sehabis melanggar hukum. Tapi kita juga lihat, tukang becak bebas melanggar lampu lalu lintas di depan hidung polisi.

Masyarakat kita rusak.

Kita ajukan agama dan budi pekerti sebagai solusi. Tapi nyatanya agama dijadikan pembenaran atas keserakahan dan kekerasan. Tapi nyatanya orang-orang yang menjadi teladan budi pekerti bertindak berkebalikan dari seharusnya. Kita hanya saling tunjuk kesalahan, tapi tidak ada pembenahan. Seolah kita ingkar dari kenyataan, bahwa yang salah adalah keseluruhan dari kita semua. Saya, Anda, dan yang lainnya. Ada benang kusut dalam masyarakat kita.

Lalu dari mana kita bisa mulai mengurainya? Apa yang bisa kita lakukan untuk melakukannya?

Saya percaya kita harus mulai dari yang paling dasar. Dengan diri kita sendiri? Ya. Tapi jauh lebih mendasar dari pengertian diri sendiri yang selama ini kita sering dengar.

Saya percaya bahwa kita harus mulai dari yang lebih mendasar lagi. Bukan pada apa yang seharusnya kita pikirkan. Bukan pada apa yang seharusnya kita lakukan. Tapi pada kesadaran.

Begitu banyak kekerasan kita lakukan, secara fisik maupun mental. Kekerasan tersebut terwujud dari kebencian. Obat kebencian adalah kebahagiaan. Hati yang bahagia tidak memiliki tempat untuk membenci. Kebahagiaan kita dapat dari rasa syukur. Rasa syukur kita peroleh dari penerimaan diri. Menerima diri apa adanya. Melihat kenyataan sebagaimana adanya.

Begitu banyak penderitaan karena kita terus mengeksploitasi. Kita begitu serakah. Harta benda, kekuasaan, pengaruh, pujian, kepuasan seks, segala macam nafsu yang ada di dunia. Keserakahan kita mewujud dalam ketakutan pada kehilangan yang sudah kita miliki, atau kita pikir akan kita miliki. Mewujud dalam keinginan pada hal-hal yang tidak kita miliki, atau yang kita inginkan lebih. Dan untuk memuaskan keserakahan itu kita menindas, menghujat, merampas, memaksa, menipu, menghasut, mengelabui, memanipulasi, mencuci otak. Pada orang lain maupun diri kita sendiri.

Namun keserakahan dalam diri kita itu bisa kita bilas. Dibilas dengan penerimaan diri. Menerima diri apa adanya. Melihat kenyataan sebagaimana adanya.

Tapi itu tidak mudah. Karena kebenaran itu pahit, Jendral!

Kebenaran itu bisa menyakitkan. Sangat menyakitkan.

Melihat diri kita yang ternyata payah, jelek, miskin, dan bodoh. Menerima kenyataan bahwa selama ini kita sombong, munafik, paranoid, iri, dengki, rakus, dan serakah. Menyadari sejarah yang kita agungkan, ternyata hanya bualan. Menyadari bahwa sosok yang kita kagumi, kita lindungi kehormatannya, ternyata penuh cela. Menyadari bahwa tindakan-tindakan yang selama ini kita kira berlandaskan moral dan agama, ternyata bersumber dari hasrat kita akan kekuasaan dan pengakuan. Menyadari bahwa pemikiran  dan sikap yang selama ini kita kira berasal dari diri kita sendiri ternyata berasal dari manipulasi, hasutan, propaganda, dan cuci otak orang lain.

Berapa banyak dari kita yang mampu menerima hantaman kenyataan macam ini?

Karena itu kita lari darinya. Dari kenyataan. Kita memilih membiarkan diri terus ditipu. Oleh diri kita sendiri ataupun oleh orang lain. Karena bukankah itu memang lebih nyaman?

Percaya saja kalau kita mulia, suci, dan bermartabat. Percaya kalau nenek moyang kita adiluhung. Percaya kalau budaya kita luhur. Percaya panutan kita tanpa cela. Percaya kalau pilihan yang kita pilih murni berasal dari kehendak bebas kita.

Lalu kita terus berputar, terseret dalam lingkaran arus penipuan dan pengingkaran. Semakin dalam dan semakin dalam.

Tapi kemudian kita tetap heran. Kenapa masih begitu banyak kekerasan di muka bumi. Kenapa masih begitu banyak kebencian. Kenapa manusia tak kunjung bersahabat dengan alam. Kenapa manusia terus saja memangsa manusia lainnya. Bahkan mungkin sekali, pada kesadaran kita yang paling dalam, heran kita hanyalah lagak saja.

Dan saya ingin membuat komik tentang itu. Saya ingin membuat komik, yang mampu mengajak pembaca melihat dan menerima diri sendiri. Mengajak melihat kenyataan sebagai kenyataan. Minimal menemani pembaca saat sedang merasa jatuh dan terpuruk. Sehingga mereka tidak mudah terpengaruh rayuan dan hasutan dari pencari keuntungan pribadi yang menyaru sebagai motivator, agamawan, guru, politikus, atau apalah segala macamnya.

Sulit? Pastinya.

Bisakah berhasil? Itu urusan belakangan.

Maka saya buat Koel yang payah, jelek, miskin, dan tak laku.

Maka saya buat Koel yang penuh sifat buruk, tapi punya kejujuran untuk mengakuinya.

Maka saya jauhi kritik terhadap penguasa. Karena bila tidak, pembaca hanya akan menautkan keburukan itu terhadap pihak lain, bukan dirinya sendiri. Maka dari itu pula saya jauhi peristiwa-peristiwa aktual, walau saya tahu itu yang bikin laku. Karena bila tidak, pembaca hanya akan menautkannya dengan peristiwa tertentu, bukan keseharian mereka sendiri.

Maksudnya begitu. Berhasil atau tidak, namanya juga usaha.

Yang jelas akhirnya Koel Mingguan menemukan pembacanya. Awalnya teman-teman saya sendiri. Lalu teman dari teman. Lama-lama orang-orang yang awalnya tidak saya ketahui sama sekali.

Kemudian tanpa disangka, Koel Mingguan diterbitkan dalam bentuk buku cetak. Dipajang di rak-rak toko buku. Saya senang sekali. Bukan sekedar saya akhirnya dapat mengunduh royalti, tapi karena dengan itu Koel menemukan pembaca yang lebih banyak. Gagasan dan pandangan saya tersebar lebih luas.

Tapi itu tidak membuat saya lalu jadi kaya dan terkenal. Lebih dikenal, tentu saja. Dapat tambahan uang, iya. Tapi bukan sesuatu yang wah. Gegap gempita dalam masyarakat. Atau merevolusi kehidupan finansial saya. Nyatanya buku Koel tidak pernah mengalami cetak ulang. Penerbit yang masih tertarik untuk menerbitkan buku selanjutnya saja sudah membuat saya bersyukur tujuh turunan.

Lalu bagaimana caranya sehingga saya bisa bertahan membuat Koel Mingguan hingga kini?

Sudah saya katakan di awal, saya tidak tahu!!

Tidak tahu! Tidak ada resep-resepan! Tidak ada tips-tipsan!

Lalu mengapa saya masih bertahan membuat Koel Mingguan hingga kini?

Seiring terpublikasikannya komik Koel Mingguan, saya menerima banyak tanggapan. Melalui komentar dan pesan di fb, review yang ditulis, dan dari tatap muka langsung dengan pembaca.

Ada yang tak suka, tentu.
Ada yang menganggapnya lucu, asyik.
Ada yang tampaknya menangkap apa yang ingin saya sampaikan, hore.
Ada yang malah salah menangkap, wajar.

Beberapa di antaranya membuat saya….Aduh…, bingung saya mengungkapkannya. Saya kutipkan saja beberapa buat Anda.

“Sebagian besar cerita di komik memang garing, tapi memberikan sudut pandang berbeda yang menarik. Kalau mau bunuh diri karena kamu merasa jadi orang yang jelek, menyesal karena jadi pengangguran, atau gagal di kerjaan, susah hidup senang, komik si Koel bisa jadi bacaan alternatif yang bikin tertawa ‘hihihi’.”

“KOEL keren😀 KOEL berani blak-blakan, berani jayus, dan tetep bisa ngeliat sisi positif dari segala hal ~ my hero!!! (menyembah-nyembah)”

“Yang paling menarik dari Koel adalah: dia berani menertawakan diri sendiri, membuat sindiran-sindiran sosialnya terasa subtil namun mengena. Mengkritik diri sendiri untuk mengkritik orang lain. Itu yang saya suka.”

“Sumpah guwe jadi tau kesialan itu memang bukan kehancuran…
bahkan dari sial itu kita bisa belajar siapa diri kita sebenarnya…
Thx KOEL dah membuka hati Q………”

Dari awal saya tidak berpikiran muluk. Cukup satu saja! Satu saja dari sekian pembaca saya yang merasa hidupnya terbantu karya saya, satu saja dari sekian pembaca yang kesadarannya terpantik oleh karya saya, kepuasan saya sudah membumbung tinggi ke angkasa.

Bila ada satu saja dari pembaca seperti itu, maka jika saya cukup kuat, cukup konsisten untuk tetap berkarya, maka akan ada satu lagi.

Dan jika saya terus mempercayai pentingnya apa yang saya kerjakan, mampu bertekun, sanggup bertahan, maka akan ada satu yang lainnya lagi.

Lagi dan lagi. Lebih dan lebih…

Lalu bagaimana saya bisa berhenti berkarya?

Tidak peduli berapa komentar yang saya dapat di facebook, tidak peduli berapa banyak “like” yang saya kumpulkan, tidak peduli berapa eksemplar komik yang terjual, tidak peduli berapa banyak uang yang masuk ke rekening saya, saya tahu;

Komik saya spesial.

Kurnia Harta Winata
Yogyakarta, 27-28 September 2012
di kamar

This entry was posted in Uncategorized and tagged . Bookmark the permalink.

8 Responses to Curhat Komikus: “Bagaimana Saya Mampu Bertahan Untuk Dapat Mengomik Secara Stabil?” Bukanlah Pertanyaan yang Tepat

  1. natalianatty says:

    boleh kok Mas, boleh aja, berbangga, membusungkan dada, deelel nggak ada yg ngelarang.
    saluuuttt buat Mas Koel eh, Mas Kurnia😀
    *empat jempol*

  2. like this!😉

    seringkali apa yg kita lakukan ternyata memotivasi dan menumbuhkan semangat bagi orang lain. dan justru hal2 seperti itu (kasarnya, ndak ada bayarannya) yg malah membuat ingin terus berkarya🙂

  3. antondewantoro says:

    Kita semua busuk –> Like this

    Sejak 2004 saya selalu mengunggah tulisan busuk ke internet.
    Saya kasih judul “Belajar Menulis”, namun dalam delapan tahun itu rasanya saya tidak banyak belajar. Namun rasanya tetap ingin bercerita.

    Koel menginspirasi saya untuk tetap menulis secara rutin. Beberapa minggu bolos tapi akhirnya kembali lagi.

    Kenapa saya tetap menulis walau pembaca saya kebanyakan hanya ‘bot’ dari search engine optimizer? Tidak tahu. Hanya menulis yang membuat saya merasa eksis.

    Terima kasih KOEL atas tularan semangatnya!

  4. Kaniza says:

    Aku juga berkutat dengan keyboard dan mouse (Penulis), aku juga suka menggambar dan menulis, Aku juga suka bercerita. aku Bercerita melalui tulisan, syair dan gambaran. Tapi ga ada yang peduli #PoorSaya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s