Cetakan Manusia Bernama Sekolah


ImageSaya punya tabiat buruk. Saya suka menilai orang berdasarkan standar yang saya anut. Hasilnya adalah, saya uring-uringan sendiri. Dan ketika saya tak sanggup menahannya, saya yakin orang di sekitar saya, termasuk orang yang saya nilai, merasa tak nyaman dengan saya.

Semasa kuliah, teman saya Anton pernah menasehati saya untuk masalah ini.

“Kur, kamu itu sedari SD sampai sekarang selalu berada di kumpulan orang-orang terbaik. Jadi ketika kamu keluar dari lingkunganmu dan menemui orang-orang yang kurang, kamu harus menerimanya. Mereka itu lah yang normal, yang umum.”

Memang, saya sekolah di salah satu SD swasta yang dikenal cukup baik. Lalu melanjutkan di SMP dan SMA Negeri favorit. Kuliah pun di universitas unggulan. Semua itu saya lakukan di tempat yang dikenal sebagai kota pendidikan.

Tenang, tidak perlu berhenti membaca. Saya tidak hendak memuji diri sendiri dalam postingan ini. Bahkan sebaliknya. Walau boleh berkilah tidak ada penyesalan dalam hidup, selalu ada bagian dalam diri saya yang meratap. Lalu menyalahkan dan memaki pendidikan yang saya peroleh.

Saya sekolah di SD yang dikenal cukup keras dalam berdisiplin. Disiplin itu tak bersisa lagi saat saya masuk SMP. Saya mulai malas mencatat, hanya menggambar dan membaca di kelas. Ujian catur wulan pertama saat kelas satu membuat kami sekelas kaget. Saat ujian, kami dicampur dengan anak kelas dua. Satu meja dipakai berdua, satu anak kelas satu dan satu anak kelas dua. Tentu saja untuk menghambat kami mencontek. Tapi yang terjadi malah sebaliknya. Kami belajar contek mencontek dari anak kelas dua secara gila-gilaan. Revolusional! Tak terbayangkan sebelumnya!

Melihat, menyaksikan, dan diminta membantu ulah mereka membuat kami turut melakukannya. Bahkan saya bisa dan pernah saja menanyakan soal yang saya hadapi pada kakak kelas di samping.

Tentu saja ilmu yang kami pelajari dari kakak kelas ini kami teruskan pula pada adik kelas kami nantinya. Bahkan adik kelas yang jadi “pasangan semeja” dikemudian hari, hobi sekali bertanya pada saya. Perlu cukup waktu sampai saya akhirnya tahu, bahwa sebenarnya guru-guru mengetahui apa yang kami lakukan. Cuma mereka membiarkan saja dalam batas toleransi tertentu. Yang tentu saja sangat longgar.

Perlu waktu lebih lama lagi sampai saya menyadari, bahwa guru-guru itu, berkepentingan dengan baiknya nilai kami. Demi nama baik sekolah. Dan itulah sebenarnya keuntungan terbesar berada di sekolah favorit. Kita tidak akan tidak naik kelas karena nilai kita jelek kecuali kita sangat-sangat-sangat keterlaluan. Karena sekolah mengkatrol nilai kita. Mereka malu kalau sampai ada siswa yang tidak naik kelas. Demi kebanggaan.

Saat kelas satu SMA saya mendapatkan pelajaran Bahasa Jerman. Nilai ulangan saya selalu berkisar antara 3,4,dan 5. Ulangan umum saya juga tidak jauh-jauh dari angka itu. Tapi tenang, tidak pernah di rapor saya mendapatkan angka merah. Wajar, teman-teman juga bernasib sama. Masak satu kelas merah semua, mau ditaruh di mana muka si guru.

Jadi hal yang masih nyantol di kepala saat saya naik kelas hanyalah kata einunzwanzig. Sebuah kata bilangan yang malah saya selalu lupa berapa. Sepertinya sih duapuluh satu

Hal-hal di atas mengasyikkan bukan? Lalu kenapa saya ingin memaki?

Saya ingin memaki, bagaimana demi kebanggaan dan nama baik tadi saya merasa diperlakukan bak barang pabrikan. Kelas satu SMA, saat pertemuan pertama dengan guru biologi kami. Guru itu bertanya di depan kelas,

“Mengapa kalian ingin masuk ke sekolah ini?”

Beberapa dari kami menjawab, macam-macam alasannya. Tapi si bapak terus berkata bukan itu, bukan itu.

“Kalian masuk ke sekolah ini agar bisa lolos UMPTN!”

Memang benar sekolah saya terkenal dengan angka lolos UMPTN yang rata-rata 90% ke atas, tapi apa hak dia menentukan, bahkan menyalahkan mengapa kami ingin sekolah di sana. Toh kami yang mendaftar masuk, dan toh kami sudah diterima juga.

Dari awal kami sudah mulai diprogram agar tujuan hidup kami adalah lolos UMPTN. Di kelas dua, kami sudah mendapat pelajaran tambahan sepulang sekolah. Untuk apa lagi kalau bukan persiapan UMPTN.

Ada guru matematika kami yang saya tahu sebenarnya guru yang cerdas. Tapi terkadang saat ia sedang mengerjakan contoh soal di papan tulis ia kesulitan, mendapati ada kesalahannya sendiri, lalu berkata,

“Lho kok gini? Ya sudah kita lewati saja, tidak bisa satu soal tidak mengapa.”

Ia mengacu pada tips UMPTN, lewati saja soal yang kita anggap sulit daripada kita kehabisan waktu untuk mengerjakan soal yang lain. Bahkan kalau cuma ada satu dua yang tidak bisa, relakan saja.

Iyaaa…itu untuk ujian. Tapi saat pelajaran di kelas? Di mana gairah mengutak-atik angka dan variabel yang menjadi esensi matematika?

Saat itu yang saya tahu saya harus ikut UMPTN. Gagal UMPTN adalah hal yang memalukan. Gagal berarti menjadi golongan minoritas yang memalukan. Repotnya, saya tidak menemukan jurusan apapun yang saya sukai di daftar pilihan jurusan UMPTN.

Yah, akhirnya saya membuat keputusan yang ngawur saja.

Dan saya diterima.

Kira-kira semester lima baru saya menyadari bahwa saya tidak mau hidup sesuai jalur pilihan jurusan saya. Saya mulai memberontak terhadap diri saya sendiri. Saya mulai percaya, bahwa semua profesi memungkinkan untuk hidup. Saya mulai mencari impian saya. Saya menelusuri kembali masa lalu saya, mencari apa saja yang membuat saya bisa larut dalam waktu saat mengerjakannya. Sesuatu yang membuat saya senang dan bersemangat saat menekuninya.

Saya mempelajari diri saya untuk mengetahui profesi apa yang cocok buat saya. Saya mempelajari hasrat-hasrat saya  untuk menentukan masa depan saya. Saya berusaha mengenali apa saja yang membuat saya bergairah, lalu terjun untuk mendalaminya.

Dan di titik itu saya mulai meratap. Mulai memaki.

Seharusnya inilah yang dilakukan institusi pendidikan kepada saya. Seharusnya mereka berusaha menemukan apa yang membuat saya tertarik sehingga saya sanggup meluangkan begitu banyak waktu tanpa merasa bosan. Seharusnya mereka membantu saya menemukan apa yang menjadi semangat saya dan menjaganya tetap menyala.

Tapi tidak. Mereka memilih menjadikan saya produk pabrikan mereka. Ketika seharusnya mereka memupuk gairah saya, mereka malah merampas impian saya dan menggantinya dengan impian yang lain. Yang mereka inginkan. Bukan yang saya inginkan. Atau saya butuhkan.

Ketika saya kebingungan menentukan kemana ingin melangkah. Bukannya membentangkan pilihan-pilihan beserta konsekuensi-konsekuensinya, mereka malah memasangkan kacamata kuda. Kepada saya. Kepada murid-murid lainnya.

Mereka memasangkan cita-cita yang sama kepada setiap dari kami. Kami diseragamkan. Bukan hanya dari pakaian. Atau hal yang kami pelajari. Tapi juga impian.

Dan saya tahu ini tidak hanya terjadi di sekolah saya. Tapi hampir di seluruh penjuru Indonesia. Seluruh dunia.

Walau akhirnya saya bisa melepaskan diri dari cuci otak yang saya terima, berapa banyak waktu saya yang terbuang. Tiap kali meratapi ini, saya selalu ingat salah satu teman saya yang tidak kuliah. Sedari SMA ia sudah berujar pada orang tuanya.

“Saya tidak ingin kuliah.”

“Ya, sebenarnya sedih juga,” cerita ayahnya kepada saya. “Tapi ya sudah, saya harus menghormati keputusannya.”

Kini teman yang beberapa tahun lebih muda dari saya itu berprofesi sama seperti saya. Dan memilliki wawasan jauh lebih luas dari rerata teman-teman saya yang menempuh kuliah. Mengenalnya cukup dekat membuat saya paham benar, bahwa ia memiliki pencapaian karena ia seorang pembelajar. Orang yang terdidik untuk belajar dan terus belajar. Mengejar apa yang ingin dikuasai, menjawab yang ingin diketahui. Itu yang seharusnya sekolah ajarkan!

Sekolah seharusnya membantu kita mengenali hasrat-hasrat kita. Memberitahu kita apa saja yang perlu kita pelajari untuk mengembangkannya. Menemukan cara terbaik bagi kita untuk belajar. Karena tiap orang memiliki hasrat yang berbeda. Karena tiap orang tidak mampu mempelajari segala sesuatu yang ada. Karena tiap orang punya caranya sendiri agar nyaman dalam belajar.

Karena tiap dari kita unik. Karena tiap dari kita berbeda. Karena kita bukan barang industri.

Kita bukan barang mentah yang dibawa ke pabrik agar dibentuk seragam sesuai keinginan mereka. Kita adalah benih. Bentuk organik yang membawa kekhasannya sendiri-sendiri. Yang kita perlukan bukan cetakan. Tapi media tumbuh. Media yang memungkinkan kita tumbuh secara optimal. Seharusnya itulah kewajiban sekolah. Menjadi media tumbuh setiap benih untuk menjadi dirinya sendiri. Besar maupun kecil. Tenang ataupun bergejolak. Merah, biru, jingga, atau mungkin hijau.

Bukan mencetak siapa saja menjadi bentuk yang seragam.

***

Lalu sekarang mereka ingin menghapus IPA dan IPS dari pelajaran sekolah dasar. Saya setuju beban sekolah sekarang terlalu berat. Tapi menghapuskannya?

Dengan ilmu pengetahuan alam, nalar kita terbentuk. Kita diarahkan bagaimana memiliki dan menjawab rasa penasaran kita. Kita dilatih untuk mengobservasi. Daya kritis kita diasah dan dipelihara, persis seperti anak kecil yang selalu bertanya,

“Apa ini? Apa itu? Kok bisa begitu? Mengapa begini?”

Dengan ilmu pengetahuan sosial, pondasi kepekaan kita diletakkan. Kita belajar tentang beragamnya masyarakat, yang semua terbentuk sesuai dengan sejarah dan kondisi lingkungan masing-masing. Kita belajar bagaimana sistem sosial tertentu cocok untuk masyarakat tertentu. Empati bermasyarakat kita ditumbuhkan.
Image
Lalu mereka ingin menambah jam pelajaran untuk moral, budi pekerti, dan agama.

Apa jadinya sebuah generasi yang dilenyapkan penalaran dan daya kritisnya? Apa jadinya sebuah bangsa yang dicabut empati sosialnya? Lalu moral dan iman mereka diseragamkan dengan cetakan yang berbentuk sama?

Cetakan bentukan dan milik penguasa tentunya.

Yogyakarta, 19-20 Oktober 2012
di kamar dengan anjing yang meringkuk di pojok

This entry was posted in Uncategorized and tagged . Bookmark the permalink.

10 Responses to Cetakan Manusia Bernama Sekolah

  1. Tobias says:

    I understand how you feel, Kur.. & selamat, karena kamu berani ‘bertindak’ utk melawan keadaan.
    Oh btw, jadi masuk f*st*k itu pilihan asal2an?😀 heheh…kamu ga sendirian kok…

  2. antondewantoro says:

    Aku menyesal masuk ke SMA “tauladan”. Di sana cuma ada dua jenis cetakan yakni cetakan dokter dan cetakan teknisi. Padahal pilihan karir gemilang di luar yang dua itu banyak sekali. Mereka malas mengukir satu-satu. Pokoknya dicetak saja, kalau tidak pas di cetakan ya sudah dinyatakan gagal. Sayangnya sampai sekarang tetap tidak berani merubah bentuk cetakanku sendiri. Aku juga sama malasnya dengan guru matematika dalam cerita di atas. Dasar aku murid yang baik

  3. kud says:

    yay…. kurna for mentri pendidikan…

  4. antondewantoro says:

    Reblogged this on Anton Belajar Menulis and commented:
    Prihatin dengan dunia pendidikan kita

  5. Pingback: Personal Branding, Cap Diri Kita « Anton Belajar Menulis

  6. billyotniel says:

    Benar bget tuh mas. Tapi toh begitulah nilai yang dianut di masyarakat, bahwa semua yang pintar di sekolah adalah pemenang dan semua yang bodoh adalah pecundang. Padahal orang pintar di sekolah belum tentu bisa menghadapi persoalan di luar sekolah. Dan itulah yang sy rasakan mas. Trima kasih atas inspirasinya mas. =)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s