Curhat Komikus: Riwayat Koel


Beberapa bilang Koel adalah karakter yang sangat original. Ciri khasnya didapat dari bentuk rambutnya yang unik itu. Seperti lembaran daun, selembar di kiri dan selembar di kanan. Ada juga yang tanya, kok bisa-bisanya menciptakan rambut model seperti itu. Saya bingung bagaimana menjawabnya. Karena sebenarnya…

Koel berawal waktu saya masih SMA. Saya mulai tertarik menggambar manga. Belajar membuat rambut kaku bertingkat-tingkat ala rambut dragon ball. Tapi ternyata selalu gagal. Hanya bisa selapis paling depan. Ya itu, rambut belah tengah koel yang kita kenal sekarang.

Saat malas meneruskan kuliah, saya mulai juga kembali ke kesukaan lama yang sudah saya tinggalkan. Mengomik. Saya komikkan keluh kesah saya di bangku perkuliahan. Saya gunakan gambar karakter yang saya ciptakan semasa SMA tadi. Komik-komik ini untuk saya sendiri. Makanya hanya saya buat di binder tempat saya (seharusnya) mencatat materi kuliah. Tapi kalau ada teman tahu dan ingin baca tentu saya persilakan. Ternyata mereka senang.Dikompori semangat komik fotokopi yang marak saat itu, saya putuskan ikut2an juga. Saya fotokopi dan saya jual seadanya. Kalau nggak salah, saya perbanyak cuma sekitar sepuluh biji. Duabelas halaman. Saya jual dua ribu atau tiga ribu rupiah saja. Karena butuh sampul, saya merasa komik ini butuh judul. Karena isinya soal perkuliahan, saya kasih saja judul “Koel Anak Kuliahan”. Plesetan dari “Doel Anak Kuliahan.” Ternyata laku juga.

Kemudian ada saat di mana teman saya dapat stand di sebuah acara jepang-jepangan. Mereka ingin jual komik fotokopian. Lalu komik koel ini diproduksi ulang. Diproduseri teman saya tadi. Tentu dengan tambahan jumlah halaman. Saya terima senang saja. Ternyata Koel ini berhasil laku, walaupun kebanyakan oleh teman-teman sendiri.

Koel fotokopian ini ternyata tidak hanya dibaca oleh teman saya. Tapi juga oleh temannya teman yang tidak sengaja melihat komik itu. Lalu teman saya bercerita kalau temannya ternyata suka. Di situ kepercayaan diri saya mulai timbul. Kalau ada satu orang yang tidak kenal bisa suka komik Koel, berarti seharusnya ada orang-orang lain yang juga bakalan suka. Suka karena komik itu sendiri, bukan karena itu komik bikinan saya.

Di akhir masa kuliah, ternyata saya dikerubuti teman-teman yang suka dan rajin membuat komik. Saya mulai berkomik kembali. Tapi bukan sekadar mengomikkan keluh kesah seperti yang awalnya saya lakukan pada “Koel Anak Kuliahan”. Saya mulai membuat cerita lain. Dan tentunya membuat komik yang memang ditujukan agar dibaca orang lain.

Karena malas mendesain karakter baru, saya pakai saja karakter Koel.

Pelan-pelan saya menyadari, untuk menjadi komikus yang diakui kita harus punya gaya sendiri. Sebuah gaya yang membuat pembaca dalam selintas lihat ia langsung tahu bahwa komik yang ia lihat itu adalah buah karya kita. Gambar boleh jelek tidak karuan, tapi kalau konsisten tetap saja jadi dikenal. Sayangnya saat itu saya masih tidak rela  berhenti bereksplorasi untuk mencari gaya gambar yang nyaman dengan tangan dan mata saya. Saya tahu gambar saya masih belepotan. Dan saya tidak suka.

Lalu terpikirlah, “Bagaimana kalau saya tidak perlu konsisten di gaya gambar, tapi di karakter yang dipakai saja?”

Tentu saya ragu dengan ide itu. Apakah itu bisa diterima atau tidak.

Di masa itu saya mulai mengenal komik karya Adachi Mitsuru. Dalam setiap komiknya, Adachi Mitsuru selalu menggunakan desain karakter yang sama walaupun lain cerita. Nama boleh lain, tapi gambar dan sifat selalu sama. Dan ya, sekali lihat kita pasti tahu itu karya Adachi.

Jadi saya beranikan diri untuk berkonsisten dengan karakter yang sama walau cerita berbeda. Bahkan saya beranjak sedikit lebih jauh, saya juga konsisten dengan nama “Koel”. Itulah awal konsep saya dimana Koel adalah seorang aktor untuk komik dan animasi. Ya, saya juga menggunakan Koel untuk karya animasi saya. Kalaupun karakter utamanya tidak cocok dengan gambaran Koel, saya selalu berusaha menggunakannya secara cameo.

Pertengahan tahun 2009, saya merasakan kebutuhan besar untuk menggambar. Gimana lagi, pekerjaan saya dari pagi hingga malam hanya klak klik mouse terus. Karena itu saya memutuskan membuat satu halaman komik per-minggu yang akan saya upload di facebook. Tujuan awalnya untuk latihan menggambar saja. Komik strip Koel Mingguan pun dimulai pada Juni tahun itu pula. Saat itu belum banyak benar komik di facebook.

Tidak disangka, beberapa bulan kemudian, masih di tahun yang sama, editor sebuah penerbitan menghubungi saya via surel. Ia tertarik menerbitkan Koel mingguan tersebut. Saya kalang kabut. Jumlah strip itu masih terlalu sedikit untuk dapat dikumpulkan menjadi buku. Tapi saya tidak ingin melewatkan kesempatan ini. Saya tahu saya cukup memaksa. Naskah saya rasanya belum siap untuk jadi buku. Tapi saya realistis saja. Ada perlakuan yang jauh berbeda antara komikus yang pernah menerbitkan secara mainstream dengan yang belum. Tidak peduli seperti apa kualitas karyanya. Jadi saya kumpulkan karya yang dahulu-dahulu, merajutnya jadi satu bendel. Perbaikan sedikit disana-sini, juga menambah beberapa halaman baru.

Karena kesibukan kerja, naskah itu baru siap bulan April tahun berikutnya. Akhirnya, bulan Mei 2010 buku komik saya terbit. Impian saya jadi nyata!

Yah, saya jadi sering bingung menjawab pertanyaan orang tentang bagaimana caranya mengajukan naskah komik agar bisa diterima penerbit. Karena sampai sekarang, saya yang beruntung ini tidak pernah melakukannya.

Pastinya saya bermimpi komik saya bisa jadi best seller, lalu dari royalti saya bisa ongkang-ongkang seumur hidup. Tapi saya realis. Target saya cukup agar buku itu cukup baik sehingga penerbit masih tertarik untuk menerbitkan seri berikutnya.

Dan kini, di penghujung tahun 2012, komik Koel ketiga saya diterbitkan oleh penerbit yang sama. Doa saya masih serupa. Semoga penjualannya cukup baik sehingga penerbit tidak kapok buat menerbitkan seri Koel selanjutnya.
Yogyakarta, 20 November 2012
*ditulis atas permintaan Beng Rahardian yang saya pintai tolong jadi
pembahas launching “Koel Dalam Galau” di Festival Komik Nasional 2012 akhir Desember besok

This entry was posted in Uncategorized and tagged . Bookmark the permalink.

12 Responses to Curhat Komikus: Riwayat Koel

  1. Benkipro says:

    “Koel Dalam Galau” mudah-mudahan tak segalau judulnya..!
    Semoga sukses ..

  2. pol says:

    jadi pengen bikin plang: “awas koel galau” :))
    semoga koel semakin sukses, punya studio sendiri dan memperkerjakan bos kuda..😀

  3. warm says:

    wah, jd yg saya beli kmaren itu bener2 bikinan sampeyan yg fresh from oven tho, mas?
    ah Koel emang cool:mrgreen:

    dan festival komik? acaranya pasti keren, sukses mas !

  4. antondewantoro says:

    Rambut Koel meniru Dragon Ballz ?? Agak sulit dipercaya.
    Gambar boleh jelek tidak karuan, tapi kalau konsisten tetap saja jadi dikenal. —Yes, makannya saya mulai nggambar juga hehehehe

  5. Aditya 🍃 Mia R says:

    Koel, kalo mau beli.. berapaan harga bukunya.. kalo kirim ke jkt bisa nggak??

  6. wah sungguh menginspirasi mas😀
    tapi kan waktu dulu komik online masih jarang, kalo sekarang kan komik di fb udah jadi mainstream, kira-kira kesempatannya sama nggak?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s