Saraf Asal Njeplak yang Tampaknya Perlu Diaktifkan Kembali


Saya mewarisi gen asal njeplak dari kakek saya. Ibu saya, beberapa paman dan bibi juga memilikinya.

Kata orang, kami ini golongan makhluk hidup yang kalau ngomong tidak dipikir dahulu. Padahal tidak lho. Kami juga berpikir sebelum berbicara. Mungkin cuma tidak ditimbang-timbang sebelumnya. Jadinya terkesan asal njeplak. Tapi daripada istilah “asal njeplak”, saya lebih suka istilah “berpikir cepat”. Bisa jadi kami berpikir lebih cepat dari kebanyakan orang, oleh karena itu respon kami juga lebih cepat dari rerata.

Kebiasaan, eh kemampuan, yang sebenarnya saya ketahui sering menyakiti hati orang ini terus saya bina dan pupuk. Sampai pada hari penandatanganan skripsi oleh dosen pembimbing saya. Mungkin maksudnya sebagai nasehat terakhir sebelum saya bahagia melepaskan diri dari bangku kuliah, ia bilang begini,

“Kalau kamu mau menjawab atau menanggapi sesuatu, jangan langsung ngomong. Tunggu dulu sebentar. Saya tahu apa yang kamu omongkan itu benar. Tidak salah. Tapi ketika kamu langsung menjawab begitu saja, kesannya kamu tidak memikirkan dan mempertimbangkan terlebih dahulu. Bisa jadi orang yang mendengar jadi merasa kurang dihargai.”

Saya luluh di hadapan dosen muda yang masih kinyis-kinyis hitam manis dan sudah punya anak itu. Sejak saat itu, saya berusaha menunda diri saya sendiri sebelum berbicara. Biar berkesan berpikir. Biar berkesan merenung. Biar lawan bicara berpikir saya menghargai mereka. Padahal bisa jadi kepala saya kosong saja saat itu.

Dalam penampakan, mungkin saya jadi tampak lebih bijaksana karena nasehat sederhana itu. Mungkin. Tapi bertahun-tahun setelah itu, saya menyadari bahwa kebiasaan baru itu tidak sekedar berimplikasi bahwa saya menjadi seolah penuh penghargaan pada orang lain.

Ternyata gen tidak bisa menipu. Otak saya ogah diajak berkompromi. Jeda yang saya berikan sebelum menanggapi suatu situasi tidak menjadi sekedar waktu kosong. Otak saya terus bekerja saat itu.

Kalau sebelumnya otak mengkalkulasi jawaban yang tepat lalu langsung menjawab, maka kini ia mengkalkulasi….lalu karena harus menunggu, maka…ia mengkalkulasi beragam pilihan jawaban lain dan segala implikasinya.

Dan kalau Anda berpikir bahwa itu adalah hal yang bagus, Anda salah!

Semakin banyak pilihan tidak membuat pilihan kita jadi semakin bijaksana. Semakin banyak pilihan membuat kita lumpuh. Semakin banyak pilihan memperbesar kemungkinan untuk tidak memilih. Terlalu banyak berpikir membuat saya tercekat >_<!

Jangan kira saya mengada-ada saja, nih buktinya….

Nah, jadi sekarang Anda paham kan kesulitan yang saya hadapi karena kebiasaan baru membuat orang lain merasa dihargai ini.

Contoh paling terasa saya rasa saat saya diserobot antreannya. Kalau cuma serobot menyerobot siapa berusaha paling depan sih biasa. Ini adalah kasus di mana tidak ada antrean tapi petugas yang berwenang menghargai siapa yang datang pertama.

Jadi alkisah giliran saya tiba. Lalu ada saja orang lain yang menyerobot maju ke depan. Petugas lalu  bertanya,

“Duluan siapa ya?” sambil melihat antara saya dan penyerobot.

Celakanya reflek njeplak sudah saya matikan. Orang lain itu malah yang ngaku-ngaku duluan.

Karena kebiasaan, saya tidak langsung protes. Biar kesannya menghargai. Siapa tahu ia memang tidak tahu saya datang terlebih dahulu. Nah, jeda sepersekian detik akibat latihan mematikan reflek bertahun-tahun itu memberi waktu otak saya merumuskan sejumlah pemikiran. Seperti,

“Edaaaan! Berani banget ngaku-ngaku!”

Petugas memandang saya sejenak seolah menunggu saya bicara. Bukannya bicara malah saya berpikir lagi,

“Petugas itu memandang saya dengan kikuk. Jadi ia sebenarnya tahu saya tiba dahulu. Ia tadi bertanya untuk memberi muka penyerobot itu saja. Tapi ya namanya hidup, selalu saja ada orang tak tahu malu seperti itu.”

Petugas mulai menghadap orang itu, karena saya memang tidak, eh belum merespon.

“Waduh, saya harus segera bilang kalau seharusnya saya duluan. Tapi kalau saya bicara sekarang apa tidak terlambat. Bukannya seharusnya saya protes begitu tadi ia mengaku-aku. Kalau saya protes sekarang, bisa jadi kan saya yang dituduh ngaku-ngaku.”

“Wah, sudah kelamaan. Nggak enak sama petugasnya nanti.”

“Ya sudahlah…”

Dan kejadian di antrean macam itu, tidak terjadi hanya sekali.

Kasus terlalu banyak berpikir yang paling baru terjadi di bank. Ceritanya sudah saya tuliskan di status facebook saya. Jadi demi menghemat tenaga, saya kopas saja ke sini;

———-

Karena kartu ATM rusak gara-gara tercuci, saya berangkat ke bank. Berurusan dengan customer servicenya.

…bla bla bla…

CS: Ini di *(alamat tempat tinggal saya) usahanya apa, Mas?

Saya: *(takut ditawari kartu kredit dan semacamnya)…Anak rumah tangga.

CS: Oooh, pengangguran.

Saya: *(oaduuuh, dibilang pengangguran sama mbak-mbak manis itu ternyata rasanyaa….) Eh, ya…serabutan gitu lah.

… bla bla bla….ternyata saya juga perlu ganti buku tabungan…bla bla…

CS: Biasanya ngaku pengangguran itu biar nggak kena pajak kan, ya?

Saya: *(weits, apakah transaksi saya yang tercatat di rekening terlalu mencurigakan untuk seorang pengangguran?) … Ah nggak kok!

…bla…bla..bla…

CS: Sudah punya kartu kreditnya, Mas?

Saya: *(ya toooo…) Belum. Tidak tertarik.

CS: Kalau investasi?

Saya: Tidak tertarik juga.

CS: Loh, apa-apa kok tidak tertarik?

Saya: *(jurus andalan)….kan pengangguran….

CS: Lho, walaupun pengangguran boleh kan berinvestasi. Yaaa…kalau memang punya…

…bla…bla…bla…

CS: Sudah kawin?

Saya: *(woalaaah, dari tadi tanya-tanya ini itu tu ternyataaa…..) Belum! (menjawab dengan mantap)

CS: Besok kalau sudah kawin kerja ya…, kasihan istrinya nanti kalau yang harus kerja.

Saya: *(doh! -_- tenang…tenang…jaga mulut, lebih penting menjaga citra sebagai pria jujur daripada lepas dari predikat pria nir-profesi)

….bla…bla…bla….tanda tangan sini tanda tangan situ masukin nomer PIN…

CS: (sambil mengerjakan berkas-berkas) Anak mama ya …

Saya: *(Adooooooooohhh…… >_<!!! cukup cukup)

——

Ini yang terjadi di kepala saya pada pertanyaan pertama;

“Lha itu kan tempat usahanya orang tua saya. Bukan saya. Saya cuma numpang hidup. Iya sih, saya cari uang juga di situ. Tapi kan cuma di kamar. Tidak terikat tempat. Bisa di mana saja. Diusir sama orang tua juga kerjaannya sama saja. Ah, Mbak ini paling cuma mau nawarin kartu kredit atau semacamnya. Jawab apa ya enaknya, yang nggak bohong tapi juga nggak menimbulkan pertanyaan susulan.”

Jadi saya jawab anak rumah tangga.

Saat Si Mbak bilang pengangguran, ini yang terpikir oleh saya,

“Yaa kaaaan, malah mikirnya pengangguran. Kalau saya bilang iya nanti saya bohong. Kalau saya bilang nggak, nanti malah ditanya-tanya lebih lanjut. Kalau saya diam saja, nanti ia salah paham. Ah, bukan urusanku lah kalau dia salah kira. Daripada repot menjawab pertanyaan yang menjerumuskan ke penawaran kredit”

Jadi saya hanya meringis-meringis saja.

Saat si Mbak “menuduh” saya ngaku pengangguran karena tidak mau membayar pajak,

“Laah, yang nuduh saya pengangguran kan situ. Enak ya, saya ini bayar pajak. Tuuuh, royalti langsung dipotong. Saya dapatnya cuma segitu. Iya sih, saya tidak membayar pajak dari penghasilan yang lain. Tapi kan nggak besar-besar juga, berapa sih penghasilan saya. Kalau ada uang besar masuk rekening juga bukan berarti itu semua uang saya. Kan masih perlu buat bayar ke teman-teman. Lagipula saya bukannya nggak mau bayar kok, cuma malas gara-gara bingung nggak tahu cara ngisi SPT-nya. Tapi kalau sekarang saya protes, nanti kesannya tadi bohong terus ketahuan. Yaaah, sudahlah. Terserah Mbaknya. Jawab aja, nggak! Habis perkara.”

Bisa Anda saksikan, kan? Banyak berpikir tidak membuat jawaban saya lebih tepat. Malah bisa makin parah. Tidak cuma merugikan citra saya, tapi juga membuat orang lain salah sangka. Bagus sih, membuat mereka bahagia karena merasa superior. Namun bisa jadi malah membuat mereka semakin tenggelam dalam ketololannya sendiri (yang seharusnya bisa saya perbaiki). Misal seperti cerita di bawah ini;

Bapak-bapak ngobrol berdua dengan saya. Ia membanggakan masjid dan kepengurusannya di mana ia bernaung. Ada aturan kalau memasuki masjid itu alas kaki harus di tata rapi di luar. Diletakkan berjejer menghadap keluar. Jadi kalau orang hendak keluar, ia tinggal keluar saja tanpa susah payah membalik sandal atau kakinya.

“Hooooo tuuuh, itu cuma soal sepele. Tapi siapa coba yang bisa kepikiran hal seperti itu kalau bukan di sini?”

Otak saya menjawab, “Bukannya itu budaya Jepang. Mereka seperti itu karena di sana rawan gempa. Jadi kalau ada gempa, dengan mudah orang bisa segera lari keluar tanpa sibuk dengan sandalnya. Ooooh, ini pasti didapat saat salah seorang pengurusnya waktu ia pergi ke Jepang. Bukannya kemarin itu ada yang cerita salah kalau *****pernah belajar ke Jepang? Bilang nggak ya?”

Jeda sekian detik itu membuat saya melihat kebanggaan sedemikian besar pada si bapak.

“Tapi kalau saya bilang, nanti bapak ini bukan saja malu tapi runtuh segala kebanggaannya. Lagipula bisa-bisa saya dikira tidak terima dengan kehebatan masjidnya.”

Si Bapak menyahut lagi,

“Coba deh, saya tanya. Kalau Mas ke gereja, apa ada aturan seperti itu?”

“Yaeeelah Bapak!!! Kok terus jadi hebat-hebatan agama gini?  Masjid dibandingin sama gereja. Waaa…gimana ini? Kalau aku jawab nanti kelihatan bener begonya bapak ini. Pasti aku juga nggak kuat nahan senyum. Tapi saya kan nggak mau bohong. Oh iya, aku jawab ‘nggak’ aja dah. Toh memang bener kan nggak ada aturan seperti itu. Ngatur alas kaki apa, wong kalau masuk ke gereja alas kaki nggak dilepas kok.”

“Nggak, Pak.”

Si Bapak mencondongkan badan ke belakang sembari membusungkan dada. Mulutnya setengah terbuka. Tangannya setengah menuding ke atas.

“Hiyaaaa taaaaa….”

Ah, sudahlah. Mungkin lebih baik saya aktifkan kembali saraf njeplak saya.

Yogyakarta, 06 – 07 Desember 2012
di kamar

This entry was posted in Uncategorized and tagged . Bookmark the permalink.

3 Responses to Saraf Asal Njeplak yang Tampaknya Perlu Diaktifkan Kembali

  1. antondewantoro says:

    Kabar baiknya, apa yang biasanya njeblak pertama kali itu adalah yang paling benar. Jika kita sudah memilih dan memilah kata dan pemikiran sebelum disampaikan biasanya sudah melalui serangkaian manipulasi yang belum tentu benar. Saya rindu bisa asal njeblak seperti dulu. Makin tua makin sedikit kesempatan untuk asal njeblak karena kita tahu konsekuensi dari berbagai pilihan yang ada. Aku benci menjadi “bijaksana”… dan kamu…njeblaklah kawan.

  2. Tobias says:

    IMO, bukan masalah njeplak atau nggak. Tapi kapan & bagaimana merespon yang tepat. Terkadang, berpikir & menjawab cepat dan mengena itu perlu (keahlian yg blm saya miliki)…terutama kalau dalam kasus diserobot org😀 Namun ada baiknya juga kita berpikir dari segala sudut sebelum memberi keputusan / respons. Just my two cents..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s