Menjaga Motivasi Sebesar Nol


“Let me tell you a secret, it’s called a secret.”
“There’s another secret, you’re an asshole.”

29/31 – (Garfunkel and Oates)

Saya bosan dengan kata-kata motivasi. Apalagi motivatornya. Motivasi, yang seharusnya berkekuatan membebaskan orang, malah menjadi doktrin yang harus ditaati. Dan sewajarnya doktrin, ia juga merupakan penghakiman.

Bekerjalah dengan keras agar sukses. Dibaca pula sebagai, kalau kamu tidak sukses berarti kamu malas. Dan karena motivasi ini sudah jadi produk dagangan, maka orang harus dibuat merasa rugi kalau tidak membeli. Malas itu jelek. Kalau kamu tidak sukses berarti kamu jelek.

Sayangnya dunia tidak berjalan seperti itu. Kenyataan berbicara lain. Ada orang-orang yang tidak bisa sukses seberapa pun keras mereka bekerja. Beberapa orang dipermainkan alam. Beberapa lainnya dipermainkan sesama manusia. Tidakkah kau pernah dengar kata “budak”.

Sama seperti penjual obat, motivator tak pernah salah. Kalau salah, dagangan mereka tak lagi laku. Cuma enaknya, motivator tidak punya barang riil. Jadi lebih mudah membuat dalih.

Kurang cerdas bekerja. Kurang berkeyakinan. Kurang banyak gagal. Kurang keras lagi.

Mungkin mereka yang kurang melihat dunia. Kurang memahami kemanusiaan. Sehingga benar-benar percaya bahwa apa yang mereka katakan itu hukum alam. Atau mungkin memang ada kurang di balik batu. Entahlah. Tapi yang jelas mereka mengambil tumbal. Kebahagiaan-kebahagiaan kecil yang bisa selalu kita petik tanpa harus menjadi sukses. Bunga-bunga kehidupan yang bisa kita nikmati hanya jika kita tenang dan menerima dan menikmati kenyataan sekarang.

Tapi apa yang bisa dijual dari iklan dengan tag line “Nikmati apa yang kamu alami dan miliki saat ini, sekarang, dan sebagaimana adanya.”

Orang butuh ingin ini dan menjadi itu agar bisa dibujuk ini dan diiming-imingi itu. Sederhananya, orang butuh dimotivasi. Dan jaman kita sekarang ini adalah jaman;

Orang dimotivasi agar bermotivasi!

Lalu saya katakan saja kalau motivator itu membuat kita menutup mata dari kenyataan. Hasilnya saya dibilang orang negatif. Pesimis sinis.

Sebenarnya inilah masalah kebanyakan orang-orang positif. Mereka selalu menganggap orang-orang yang tidak seperti mereka sebagai orang negatif. Tapi mereka lupa satu hal. Selain negatif dan positif, ada nol. Tepat di tengah. Kesetimbangan.

Memang sulit menjaga keseimbangan diri. Kadang positif kadang negatif itu wajar. Paling tidak kita bisa usahakan diri untuk tidak jauh-jauh dari titik itu. Karena disitulah kenyataan. Di situ kebenaran berada.

Memandang segala sesuatu secara negatif menjauhkan kita dari kenyataan. Demikian juga halnya berpikir positif. Mengaburkan kenyataan di hadapan.

Dan tahukah Kau, Kawan? Lari dari kenyataan terus menerus itu menggerus kewarasan?

Tapi ini kabar baiknya, kalau kamu gila karena selalu positifis optimis, saya rasa kamu akan jadi orang gila yang senyum dan tertawa. Dan sejujurnya, saya lebih suka melihat yang seperti itu daripada orang gila yang mengumpat dan marah-marah.

Koel_227

Yogyakarta, di kamar diiringi suara hujan reda
13 Februari 2013

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

14 Responses to Menjaga Motivasi Sebesar Nol

  1. elang says:

    Motivasi bertahan satu-dua hari. Kebiasaan bertahan bertahun-tahun.

  2. Motivasi ki luwih mirip kecepatan po percepatan? Kalau lebih mirip kecepatan, maka dengan nilai nol kita ga ke mana-mana dong. Kalau lebih mirip percepatan, maka nilai nol berarti kita bergerak dengan konstan. *abaikan

  3. mujix says:

    “saatnya yang susah yang memotivasi”

  4. kudha says:

    akhirnya menyerah terhadap alam…… dan hidup santai…. ya gak ??

  5. Tobias says:

    Hoho..setuju banget Kur..terutama dengan paragraf 1 & 2. Lain kali kalau ada org cuap2 tentang ‘harus bermotivasi’, bakal saya kasih link ke sini deh😀

  6. Rama says:

    Benar sekali bang, terkadang kita terlalu bertindak positif supaya berhasil atau terlalu berfikir negatif untuk mengihindari kegagalan yang akibatnya kita seolah olah kehilangan kepribadian kita. Makanya Sang Pencipta memberikan kita akal dan perasaan untuk memahami keduanya supaya netral. keren deh bang😀

  7. anharrara says:

    saya pikir beberapa kalangan orang juga harus mengerti bahwa pemaknaan ‘sukses’ bagi setiap individu itu berbeda.
    jadinya tak perlu lah motivator untuk menetapkan standar-standar perilaku yang harus diterapkan supaya (katanya) sukses.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s