Manga Jepang & Komik Indonesia Modern: Pergumulan Dalam Mencari Kelokalan


ditulis untuk bahan presentasi dalam acara Animangation, IFI (LIP), Yogyakarta, 10 Maret 2013

Pada pertengahan tahun 90an sampai awal tahun 20an, ada semacam gerakan anti manga. Komik jepang yang jumlahnya begitu banyak ini, genrenya beragam, harganya murah, membanjiri rak-rak komik toko-toko buku Indonesia. Di waktu yang sama, komik Indonesia, atau kita sebut saja komik lokal, terpuruk hingga titik nadir. Jadilah manga ini kambing hitam bagi jatuhnya komik lokal. Ditengah semakin banyaknya pembaca yang tergila-gila pada manga, muncul pula penggiat komik lokal yang phobia pada jenis komik satu ini. Komikus-komikus muda yang menggambar karakter-karakter dengan mata-mata besar ala manga harus siap-siap dicerca.

Keadaan ini diperparah dengan kenyataan akan apa yang dilakukan oleh komikus-komikus berstyle manga dan penerbitnya sendiri. Komik-komik yang diproduksi ini bukan saja mencontoh gaya manga, tapi mengambil latar dan menggunakan nama-nama Jepang untuk tokoh-tokohnya. Bahkan penerbit dengan sengaja menempatkan nama-nama Jepang sebagai pengarang, yang sebenarnya orang Indonesia juga.

Sebagian orang yang mengetahui praktek ini menjadi geram. Selain bersikap anti terhadap manga, mereka juga menggelorakan sikap kembali pada gaya komik lokal. Gaya yang diwakili oleh komik-komik pada masa keemasan komik Indonesia, seperti karya-karya Tegus Santosa, Jan Mintaraga, RA Kosasih, dan Hans Jaladara. Gaya yang dianggap sebagai gaya asli komik Indonesia. Original!

Namun apakah betul komik-komik Indonesia para era 60-an sampai 80-an itu benar-benar asli Indonesia?

Itulah yang sulit untuk ditentukan. Tiap produk budaya adalah anak dari jamannya. Secara visual, jelas terlihat bahwa komik-komik itu amatlah mirip dengan komik-komik Amerika. Komik luar yang banyak beredar pada jaman itu. Bukan saja gaya gambarnya, melainkan juga bentuk dari karakter-karakternya. Sri Asih yang mirip Wonderwoman, Godam yang mirip Superman, atau Gundala yang mirip dengan Flash.

Apakah ini hal yang sah untuk dilakukan? Tentu saja.

Mencontoh adalah salah satu dari bagian proses belajar. Manga pun melalui proses ini. Osamu Tezuka, Bapak Manga, membangun karirnya dari mencontoh komik-komik Amerika. Terutama karya Disney yang memang sangat disukainya.

“I liked Disney, I adored Disney, here before you is a man whose life was determined by Disney.”

“I first followed the comics of Tagawa Suihō and Yokoyama Ryūichi. But suddenly, once I became devoted to Disney, I set out to copy and master that stuffed-animal style, eventually ending up with how I now draw.”

Namun proses belajar tidak berhenti di mencontoh saja. Ada proses mengembangkan. Memaknai, mengolah, dan mengemas sesuai dengan pandangan dan pemahamannya sendiri. Dan ini dilakukan manga dengan sangat baik sehingga memiliki ciri khas yang kita kenal sekarang.

Sebenarnya proses ini sudah dijalankan oleh komik-komik Indonesia di jaman keemasannya. Tidak berhenti di mencontoh, komikus-komikus senior tersebut menempatkan tokoh-tokohnya benar-benar di Indonesia. Bahkan bisa lebih spesifik dari itu. Semisal Gundala, ia benar-benar hidup di Yogyakarta. Jalan-jalan di alun-alun dan naik becak. Mereka menghadapi masalah-masalah yang ada di Indonesia, dan dengan cara pandang dan cara berpikir Indonesia juga masalah-masalah itu diselesaikan. Sayangnya, proses ini terhenti seiring dengan jatuhnya komik Indonesia.

Apakah proses ini bisa diteruskan di masa kini? Tentu saja bisa. Dan itu sudah terjadi.

Sudah muncul kesadaran dalam komikus-komikus Indonesia bergaya manga untuk mengangkat kebudayaan lokal. Secara fenomenal, bisa dibilang gerakan ini dimulai oleh Iis Yuniarto dengan Garudayana-nya. Komik yang mengambil tokoh-tokoh Mahabharata sebagai karakternya. Setelah itu banyak kita jumpai komik-komik lokal bergaya manga yang dengan penuh percaya diri mengambil tokoh dan latar lokal. Tidak cukup di situ, banyak komik yang juga mengangkat ikon-ikon tradisional, maupun artefak lokal sebagai properti cerita.

Proses ini seyogyanya tidak hanya berhenti di sini saja. Menampilkan kelokalan, mengangkat kebudayaan, tidak bisa sekedar berhenti di menempatkan tokoh lokal di latar lokal dan menampilkan artefak lokal saja. Mari kita tengok makna kebudayaan menurut KBBI;

ke·bu·da·ya·an n 1 hasil kegiatan dan penciptaan batin (akal budi) manusia spt kepercayaan, kesenian, dan adat istiadat; 2 Antr keseluruhan pengetahuan manusia sbg makhluk sosial yg digunakan untuk memahami lingkungan serta pengalamannya dan yg menjadi pedoman tingkah lakunya;

Dapat kita lihat bahwa kebudayaan juga merangkum cara pandang dan pola pikir suatu masyarakat yang terbentuk dari keadaan alam dan sosial di mana ia tinggal. Cara pandang dan pola pikir inilah yang nantinya mewujud dalam artefak-artefak kebudayaan yang dapat kita saksikan sehari-hari. Jadi janggal jika misalnya kita menghadirkan elemen-elemen visual berlanggam Jawa seperti keris dan batik dalam komik, namun tokoh-tokohnya tidak berpikir, memandang, dan bertindak sesuai dengan budaya Jawa. Apabila ini yang terjadi, maka kedekatan emosional antara pembaca dan cerita yang seharusnya muncul dengan penggunaan nilai-nilai lokal akan gagal. Ya, komik tersebut akan terlihat seksi, keren, nasionalis, namun sayangnya tetap akan membentangkan jarak dengan pembaca. Ada sesuatu yang hilang di sana. Seperti bule yang memakai blangkon, atau gadis desa di pelosok Indonesia yang memakai pakaian ala Britney Spears.

Ini menjadi tugas selanjutnya bagi komikus Indonesia. Apa pun gayanya. Tugas yang besar memang. Tugas ini mensyarakatkan kepercayaan diri yang besar. Bukan saya percaya diri pada tradisi masyarakat yang kita miliki, tapi juga percaya diri pada pengetahuan kita, pengalaman kita, pandangan kita, maupun pola pikir kita. Lebih dari itu kita juga dituntut untuk peka pada situasi ataupun masalah sosial dan alam di sekitar kita pula. Inilah proses yang ditempuh oleh Osamu Tezuka pada khususnya dan mangaka Jepang pada umumnya selepas proses mencontoh komik barat. Sehingga komik Jepang akhirnya memiliki ciri khasnya sendiri.

Kita sudah cukup habis-habisan mencontoh budaya Jepang. Kita menginginkan kemajuan mereka. Kita menginginkan komik kita seunik manga. Kita menginginkan industri komik kita semaju industri manga. Namun untuk meraihnya kita tidak bisa sekedar mencontoh aspek visual, pola cerita, atau cara bertutur. Kita berbeda dari mereka. Kita memiliki budaya kita sendiri. Kita memiliki permasalah sendiri, pengalaman sendiri, pengetahuan sendiri, dan cara pandang kita sendiri. Sehingga dalam tahapan ini, bilamana kita masih ingin mencontoh, maka yang perlu kita contoh adalah prosesnya. Proses pergumulan mereka dengan kehidupan sehari-hari lengkap dengan segala masalah dan penyelesaian sesuai budayanya. Keberanian dan kepercayaan diri macam itu yang perlu kita contoh sehingga komik kita mampu memiliki ciri khasnya sendiri. Tidak hanya dalam aspek visualnya, namun yang terpenting adalah cara bertuturnya. Tak ketinggalan juga proses produksinya.

Globalisasi tak mungkin dibendung. Komik-komik impor akan terus berdatangan. Saya rasa pun akan banyak pembaca yang tidak terima jika komik impor dilarang hadir. Di sisi lain komik Indonesia berhasil bangkit. Telah ada sekian judul komik per bulannya yang terbit dan bertengger di rak-rak toko buku. Penerbit sibuk mencari naskah berkualitas. Pasar yang walau masih terbatas menyambut dengan antusias.

Saya harap kemajuan ini terus berjalan sampai akhirnya komik lokal mencapai kejayaannya kembali. Dan saya yakin itu akan dicapai bukan dengan menang melawan atau malah menyingkirkan komik impor, melainkan dengan mendapatkan citarasa tersendiri yang berbeda. Sama seperti bakmi jawa yang tidak akan tergantikan oleh ramen atau spaghetti. Ini dicapai bukan dengan duduk bersama dan merumuskan seperti apakah komik Indonesia itu, melain menjadi tugas bagi masing-masing komikus lokal untuk berkarya sebaik mungkin tanpa menanggalkan apa yang kita punya. Baik yang berwujud materi atau pun yang berwujud pemikiran.

Yogyakarta,
Februari 2013

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

4 Responses to Manga Jepang & Komik Indonesia Modern: Pergumulan Dalam Mencari Kelokalan

  1. icha says:

    Norak. Ga mutu.

  2. Tobias says:

    Bravo! Bukannya ikut2an, tapi sekali lagi, saya setuju dgn mu, Kur. Terutama di bagian Tezuka yang awalnya mencontoh, lalu mengembangkan gaya nya sendiri.

    Kalau boleh saya share pengalaman sedikit, sekitar pertengahan/akhir dekade 90an, saya membaca 1 artikel di majalah (nggak inget, apa itu Tempo atau Gatra atau semacamnya) yang membahas komik Indonesia, yang isinya, as you might have guessed, menjelek2an komik lokal yang meniru gaya manga. Yang ada di kepala saya waktu itu: ‘…so what? Yah biarin aja orang meniru2 dulu, baru dari situ bisa mengembangkan gaya sendiri. Kalau baru mau mulai, apa2 langsung dikritik habis2an spt itu ya..kapan bisa maju?’ Sempat muncul semacam rasa antipati dlm diri saya. Image yang terbersit dlm benak adalah: komik lokal = sesepuh yg kolot, gaya gambar nya gak menarik, ga memahami perkembangan jaman.😀

    Setahu saya, waktu tahun 60-70an, saat Jepang baru mencoba merambah industri elektronik & mobil, semua produk mereka selalu dicemooh. Jelek. Tiruan. Kualitas rendah/murahan. Tapi saat tahun 90an? Semua tergila2 produk Jepang. Kesimpulannya? Biarkan saja kita mencontoh, sebagai tahap awal pembelajaran, baru dari situ kita kembangkan gaya/pengetahuan/kemampuan orisinil kita sendiri.

    Weleh..jadi ngobrol kelamaan..musti kerja lagi😀

    Keep writing!😀

    • Terimakasih sudah rela menulis ini di waktu kerja😀
      Aku jadi ingin mengutip perkataan Sudjojono tentang dunia seni rupa Indonesia yang dianggap kebarat-baratan, kira-kira, “Tiap-tiap kebisaan dari anak negeri adalah kebisaan dari bangsa ini juga!”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s