Mungkin Akibat Saya Medok


Saat terakhir saya menulis panjang lebar tentang Tionghoa di Indonesia, tulisan saya malah jadi bahan gontok-gontokan. Jadi bahan pertengkaran dan arena makian di beberapa forum yang membagikannya. Benar-benar bertolak belakang dari harapan saya. Saya benar-benar terpukul secara mental. Walau saya tahu itu bukan salah tulisan saya. Itu hanya gara-gara orang-orang enggan membaca tulisan yang (terlalu) panjang tapi sudah keburu menyimpulkan. Mungkin gatal ingin komentar. Jadi untuk pelipur hati, mending kali ini saya menulis lagi tentang Tionghoa di Indonesia. Tapi kali ini yang lucu-lucuan saja. Dan biar aman, saya ceritakan tentang diri saya. Kalau masih ada yang tersinggung, pasti orangnya yang keterlaluan.

Kisah pertama terjadi saat saya kelas tiga SMP. Saya mengikuti bimbingan belajar untuk persiapan Ebtanas. Ujian Nasional waktu itu. Karena kelas saya terlalu penuh dan orang-orangnya menyebalkan saya memilih pindah ke kelas lain. Saya ingat pertama kali masuk kelas itu. Tampak pembagian ras yang begitu jelas. Tiga atau empat siswa keturunan Tionghoa duduk di depan. Di barisan belakang berjejer siswa-siswa “pribumi”. Di tengah tampak kosong, cuma ada beberapa siswi saja. Naluri saya mengatakan agar saya berkumpul dengan manusia sejenis.

Tapi saya benci duduk di depan!! Dan karena seperdikiratinya orang-orangnya menyenangkan, saya pilih duduk di belakang.

Bahkan saat istirahat, kedua golongan ini tidak berbaur juga. Saya harus memilih. Dan lagi-lagi saya memilih berkumpul dengan teman-teman “duduk di belakang”. Saya dekat dengan dua diantaranya. Suatu hari saat duduk-duduk bertiga dan seperti biasanya kami ejek-ejekan, salah satu teman tadi mengucapkan kalimat yang tidak saya lupakan sampai sekarang.

“Untung kamu bukan Cina, kalau Cina pasti sudah saya hajar!”

Tentu saja saya diam saja. Masak ngaku.

Bertahun kemudian, kami beberapa kali kembali bertemu. Ia menjadi teman dari teman-teman saya waktu SMP dahulu di sekolah lain. Pastilah ia sudah menyadari kalau saya ini Cina. Tapi entah ia masih ingat kejadian itu atau tidak.

Kisah berikutnya terjadi saat saya KKN. Setelah beberapa hari dan berkenalan di sana sini, tibalah kami berkunjung ke rumah salah satu pemuka desa yang telah kami kenal sebelumnya. Rumah itu tidak jauh dari pondokan kami. Keluar gang sedikit, melewati bentangan sawah, kami bisa melihat rumah itu. Ia banyak bercerita dan kami menanggapi sebisanya. Termasuk saya dengan Bahasa Jawa Krama ( Jawa halus) saya yang seadanya. Tidak dinyana tiba-tiba pembicaraan berbelok. Ia bercerita tentang hari pertama kami tiba.

“Waktu kalian datang, istri saya yang sedang menyapu di halaman berteriak-teriak memanggil saya. Katanya, “Pak, Pak, ada Cina!”

Lalu ia merujuk ke saya dan teman saya yang lain, yang sama-sama berkulit putih dan berambut lurus. Tapi bukan Cina.

“Kalau dari jauh memang kelihatan seperti Cina. Tapi ya tidak mungkin, kan. Masak ada Cina mau masuk ke desa.”

Saya dan teman-teman lain senyam-senyum saja. Sambil sekali-kali saling berlempar lirikan.

Dan mungkin tidak cuma itu. Setelah lebih dari sebulan berlalu, bapak pondokan pun sempat menasehati saya di beranda rumah. Ia menceritakan tentang orang-orang Cina yang rajin. Pagi-pagi sudah membuka toko dan menyapu halaman. Teman saya yang kebetulan juga ada di situ senyum-senyum saja. Setelahnya, kami saling bertanya heran. Apakah bapak pondokan itu tahu saya ini Cina atau tidak.

Yang lebih mengejutkan terjadi ketika saya berada di Jakarta. Ketika itu sudah malam. Saya menunggu bus yang lewat untuk kembali pulang. Tapi bus yang sudah saya tunggu tak datang-datang. Saya putuskan untuk ngojek saja. Saya menemukan pos ojek tak jauh dari situ. Akhirnya saya menggunakan jasa seorang bapak ojek paruh baya.

Ia termasuk orang yang banyak bicara. Bertanya-tanya sedikit tentang saya dan lalu berlanjut bercerita banyak tentang dirinya. Tentang masa lalunya yang kelam dan suka mengkonsumsi narkoba. Ada jeda sebentar sebelum tiba-tiba ia berkata,

“Mas itu tampangnya kaya Cina, jadi harus hati-hati!”

Woits! Saya merasa beruntung berada dalam boncengan, jadi ia takkan melihat ekspresi saya.

“Kenapa, Pak?”

“Ya orang-orang itu kan nganggep kalau orang Cina itu punya banyak uang. Anak-anak muda itu kan, ya di daerah Mampang, Tendean,…mereka itukan kalau liat orang Cina…ya gitu deh. Jadi kalau ada dompet, atau HP, hati-hati aja, jangan dilihat-lihatkan.”

“Mmmmmm”

“Jadi kalau besok ada masalah di daerah Mampang atau Tendean, lari aja ke pos ojek!”

“Ooh.”

“Minta tolong saya, nama saya Miko.”

Akhirnya kami sampai juga di kos saya yang satu halaman dengan mushola.

“Yak, di situ, Pak! Di mesjid situ.”

“Oh di situ ya!”

Pak Miko mengerem motornya sambil berseru, “Allahuakbar.”

“Terimakasih, Pak.” Ujar saya sembari membayar ongkos ojek.

“Makasih! Assalamualaikum.”

Saya langsung masuk ke halaman kos. Masih terkaget-kaget sampai lupa menjawab, “Waalaikumssalam.”

Kisah berikutnya terjadi di Batam. Tapi yang terjadi adalah sebaliknya. Saya dan teman-teman sedang berjalan-jalan di pertokoan. Ada teman yang ingin membeli sebuah barang dan kami menemaninya. Kami mengunjungi salah satu kios. Penjualnya seorang Tionghoa.

Kami menanyakan harga padanya. Teman kami menawar. Ia bertanya dengan Bahasa Mandarin ke rekannya. Lalu memberikan harga baru pada kami.

Buset! Saya memang tidak bisa berbahasa Mandarin, tapi kalau soal harga-harga sedikit-sedikit saya tahu. Saya menangkap bahwa ia bertanya harga dasar dari barang tadi ke temannya, lalu memberikan harga baru ke kami. Kaget saya. Ia melakukannya di depan kami, yang berarti ia beranggapan bahwa di antara kami tidak ada yang tahu bahasa Mandarin. Apakah kulit saya kurang kuning dan mata saya kurang sipit baginya? Sepertinya begitu.

Kisah terakhir adalah kejadian favorit saya. Waktu itu saya sedang berkunjung ke sebuah organisasi. Saya duduk-duduk sendirian di tempat biasa seorang tamu ditempatkan. Muncullah seorang bapak-bapak dari organisasi cabang. Ia melihat saya lalu mengajak saya berbincang-bincang. Perbincangan terutama berkisar bagaimana bapak tadi membanggakan organisasi tersebut. Ia bercerita bahwa tempat itu sudah dikunjungi bermacam-macam orang dari beragam negara dan suku bangsa.

“Bahkan katanya sekarang sedang ada orang Cina berkunjung ke sini.”

Saya sih cuma manggut-manggut seperti yang saya lakukan sebelumnya. Saya tahu pasti orang yang dimaksudkan itu sebenarnya adalah saya. Tapi saya bisa menjawab apa coba?

Obrolan kemudian berputar-putar lagi. Sampai tiba-tiba ia berhenti, mencondongkan tubuhnya ke depan dan menatap mata saya sambil bertanya,

“Jangan-jangan, Cinanya itu Anda ?!?”

Yogyakarta, Maret-Juni 2013, di kamar. Setelah lama menunda menulis blog gara-gara terlalu banyak bermain.

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

7 Responses to Mungkin Akibat Saya Medok

  1. Tobias says:

    Weleh…jd intinya ga ada yg ngeduga kamu itu Tionghoa?😀 Gpp, kadang2 saya jg ga dikira Chinese disini…biasanya org tanya begini: “You Filipino ah?” Biasanya saya jawab dgn tawa & bilang: “You’re the n-th person to say that.”

    Anyway ttg pengalaman kamu di Batam, rasa2nya sih, si penjual nggak peduli kamu Tionghoa ato bukan. Dia liatnya kamu ga bs berbahasa itu, so ya aman deh buat dia buat nanya info sensitif dr rekannya🙂 sama spt saya: kalo lg berhadapan sm bulai ato org negara yg benar2 asing, saya dengan istri biasanya jg asik aja ngomong dlm Bahasa Indonesia.

  2. antondewantoro says:

    Yang saya ingat kok malah saat anda bertandang ke kos saya dan bilang “Bang Mari Bang” terus anak-anak menertawakan kemedhokan anda

  3. Black_Claw says:

    Ya, itulah, sebenarnya sama saja base muka dan tongkrongan the so called Pribumi dan the so called Cina. Banyak maen di luar juga toh kulit bakalan sama gelap. Masalah kebiasaan waktu kecil saja.

    Yang bikin jengkel itu kalau kulitnya belang, seperti saya.😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s