Yang Inspiratif Memang Bukan Untuk Saya


Saya tertarik pada kelas inspirasi sejak pertama kali mendengarnya. Program yang dilakukan oleh Indonesia Mengajar ini mengundang para profesional yang sukses karena pendidikan untuk turun tangan berbagi cerita dan pengalaman kerja selama sehari di Hari Inspirasi.

Memperkenalkan beragam profesi pada anak-anak tentu sangat baik. Bukan sekedar profesi apa mengerjakan apa, tapi juga kehidupan seperti apa yang harus dijalani sebagai konsekuensi dari pilihan profesi tersebut. Pengetahuan ini akan menjadi dasar bagi anak-anak untuk menentukan cita-cita dan menyusun rencana hidup mereka.

Sungguh tidak menyenangkan terlambat menentukan cita-cita. Itu yang saya rasakan. Seakan-akan ada waktu yang terbuang dalam hidup karena berputar-putar tak tentu arah. Maka tanpa pikir panjang saya segera mendaftar untuk berpartisipasi dalam kelas inspirasi.

Pikiran saya memang kurang panjang. Baru setelah mengirim formulir saya baru sadar kesalahan yang saya lakukan. Kelas inspirasi bukan untuk saya.

Kelas inspirasi mengharapkan para pengajar mendorong anak-anak bersekolah setinggi-tingginya. Termasuk menjelaskan jenjang studi apa yang harus ditempuh agar bisa berprofesi seperti pengajar yang bersangkutan. Pendidikan yang dimaksudkan di program ini bukan pendidikan dalam arti seluas-luasnya, tapi dalam artian bangku sekolah.

Saya tidak suka sekolah. Saya tidak pernah suka sekolah. Profesi yang menghidupi saya sekarang juga bukan profesi yang saya raih dari hasil studi. Seumur hidup saya sekolah hanya asal-asalan. Bahkan sampai sekarang ijazah saya belum pernah terpakai. Bagaimana bisa saya pembolos ini mengatakan, “Sekolahlah yang rajin biar bisa seperti saya”.

Tapi apa lacur, formulir sudah saya kirimkan. Masak saya batalkan karena soal seperti itu.

Dan kemudian saya diterima. Paragraf terakhir surat penerimaan itu berbunyi,

“Selamat merayakan pengorbanan dan pengabdian Anda ini. Selamat menikmati setiap momen, getir dan bahagia yang mengiringinya. Mari selalu kita tanamkan di benak kita bahwa hal sederhana yang kita lakukan ini bukan demi diri kita tetapi demi jutaan anak Indonesia yang akan mengisi lapis generasi masa datang.”

Saya tahu banyak orang lain yang melakukan kerja sosial. Beberapa darinya saya kenal langsung, bukan cuma dari cerita. Mereka membaktikan dirinya untuk masyarakat. Meluangkan waktu tidak cuma sehari atau dua hari. Kadang di sela kesibukan. Kadang memang itu kesibukan mereka. Mereka mengorbankan peluang hidup nyaman demi membantu lingkungan sekitar. Tapi mereka biasa saja, tuh.

Yaeeelaaaah, ini yang cuma sehari saja dramatis banget.

Kalau pun dramatisasi itu digunakan untuk mengundang lebih banyak partisipan, saya rasa tidak perlu lagi digunakan saat mereka telah menyatakan kesediaannya. Yakinlah, orang-orang yang bersedia mendaftar pastilah orang  yang sudah siap “berkorban dan mengabdi”. Buat apa lagi kata-kata berlebihan. Kecuali, tentu saja, yang dicari adalah orang-orang yang haus puja-puji memabukkan.

Firasat saya jadi nggak enak. Tapi saya terus saja. Sudah kepalang basah. Saya kirimkan formulir kesediaan.

Saya tidak pernah menyesal mengikuti kelas inspirasi. Namun firasat saya memang benar.

Acara briefing dibawakan dengan suasana yang diceria-ceriakan secara berlebihan. Segera kami dapat mengetahui, kegiatan ini dikoordinir oleh para mantan pengajar Indonesia Mengajar (IM).

Suasananya seperti acara untuk anak kecil. Dari kecil saya tak nyaman dengan suasana itu. Saya edarkan pandangan ke sudut-sudut lain. Banyak peserta sudah cukup tua, apakah mereka juga setidak nyaman saya? Seorang kenalan yang duduk disamping saya berbisik,

“Kok seperti seminar multi level marketing, ya?”

Kenalan saya itu sudah berpengalaman mendokumentasikan seminar-seminar MLM. Jadi saya anggap saja pendapatnya valid.

Semakin lama, saya semakin merasa terasing. Berada bukan pada kumpulannya.

Tips dan trik menghadapi anak-anak yang “diajarkan” oleh para fasilitator tidak cocok dengan kepribadian saya. Saya membayangkan diri saya saat masih kecil jika menghadapi perlakuan macam itu.

“Orang-orang bodoh dan menyebalkan, tapi tak apa. Aku tetap senang dengan kehadiran mereka karena berarti tidak ada pelajaran untuk hari ini.”

Tapi tenang. Tidak kebanyakan anak seperti saya. Saya ini jarang. Masuk ke golongan aneh malah.

Hal berikut yang betul-betul membuat saya tidak nyaman adalah yel-yel. Kebanyakan dari peserta dan fasilitator  kelas inspirasi hobi beryel-yel. Oh demi Tuhan, saya benci bila harus beryel-yel. Untung saat datang ke sekolah, pihak sekolah sudah menyiapkan anak-anak dengan yel-yel sendiri. Yel-yel kami yang ternyata kalah bagus dari yel-yel anak-anak terpaksa disimpan.

Bahkan ada beberapa hal yang tidak saya sukai dari sesama pengajar. Beberapa dari kami seolah meletakkan diri sebagai manusia ajaib. Datang dengan keyakinan kalau anak-anak tidak akan pernah membayangkan ada dan seperti apa profesi yang pengajar tersebut miliki. Bagi saya, pandangan seperti itu meremehkan anak-anak. Di kelas yang saya ampu, saya melihat seorang anak menuliskan “arkeolog” di kolom cita-cita. Padahal tidak ada satu pun pengajar kelas inspirasi di sekolah kami yang berbau-bau arkeologi.

Saat review kelas inspirasi, seorang pengajar bercerita di depan forum mengenai pengalamannya. Di kelas, ia menceritakan seberapa besar pendapatannya demi menarik perhatian anak-anak. Tentu bukan menyebut nominal, tapi membandingkan dengan barang. Bekerja sebulan bisa beli ini, bisa beli itu. Ia menceritakannya dengan bangga.

Anak-anak jadi trophy. Pengajar sukses kalau anak-anak di depan mereka jadi bercita-cita sesuai profesi mereka. Tidak beda dengan sekolah yang mendorong murid-muridnya untuk memilih jurusan-jurusan favorit demi mendongkrak reputasi sekolah yang bersangkutan.

Mendorong anak-anak bersekolah dengan motif ekonomi bukan hal yang perlu dilakukan. Tiap hari televisi, majalah, dan baliho-baliho iklan sudah melakukannya dengan jauh lebih baik. Apa itu yang ingin dicapai? Apa yang terjadi jika besok anak-anak tersebut berhasil memperoleh profesi yang dijejalkan pada impian mereka tapi gagal untuk kaya? Apa yang terjadi jika besok mereka berhasil kaya raya tapi tidak puas dengan apa yang ia jalani sehari-hari?

kelas inspirasi

Tidak semua pengalaman di kelas inspirasi adalah hal tak menyenangkan. Banyak pula asyiknya.

Saya senang sekali saat ada seorang murid menghadiahkan anyaman berbentuk ikan pada saya. Ketika kelas berakhir ia merajuk manja,

“Mas, disimpan lho ya Mas!”

Saya tersanjung saat rombongan anak menarik-narik tangan saya sambil berteriak, “Mas, Mas! Kami nggak ada gurunya!!” Rupanya wakil pengajar kelas inspirasi yang seharusnya mendampingi mereka saat upacara penutupan menghilang. Saya mereka tarik sebagai ganti, padahal saya harus mendampingi kelas yang lain.

Kelas inspirasi adalah program yang baik. Saya berharap program itu berkelanjutan. Cuma cukup sudah dengan saya. Saya tidak cocok berada di dalam suasana “inspiratif” itu. Sudah. Cukup. Tidak lagi.

Yogya, 12-14 Agustus 2013
ditulis saat malas ngapa-ngapain

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

13 Responses to Yang Inspiratif Memang Bukan Untuk Saya

  1. admin SK says:

    5 bintang sbg biaya sewa untuk SK

  2. Luvie says:

    saya sungguh prihatin dengan pengalamanmu, kur.. =))

    untung waktu saya ngajar di kelas inspirasi depok, semua berjalan lancar2 aja.. bahkan cukup menyenangkan.. =))

  3. swetakartika says:

    Acara seremonial pembekalan untuk para partisipan sebelum diterjunkan ke SD-SD memang dikoordinir oleh para anggota IM dengan bekal pendekatan pedagogy untuk anak-anak secara umum, koel. Tapi itu cuma contoh saja agar suasana kelas tidak membosankan, tapi tidak diwajibkan pakai cara itu. Saya ikut kelas inspirasi angakatan pertama di SD Kampung Bali 01 Pagi di Jakarta pada tanggal 25 April 2012. Saya ngisi di kelas 1,3,4,5 dan sama sekali tidak mengaplikasikan tata cara mengajar yang sudah disampaikan oleh panitia IM. Saya ngajar anak2 itu ya pake gaya saya aja, karena kebetulan di kampung biasa ngajar anak2 baca tulis arab di mesjid. Tapi intinya, kalau sampai salah menilai Kelas Inspirasi karena keanehan teknik yang diajarkan anak2 IM atau keanehan tingkah para partisipant Kelas Inspirasi yang lain rasanya kurang proporsional. Meskipun kita cuma datang sekedar bercerita pengalaman aja, anak-anak sudah sangat merasa dihargai dan mendapat hal baru. Dan anak2 itu jarang sekali men-judge satu profesi dengan nilai negatif. Sekalipun kita ‘cuma’ komikus yang jatah kerjaannya jarang ada yang mau dan jarang yang laku karyanya, tapi anak2 akan tetap mengangankan dan mengambil semangat dari keisengan kita dalam ‘menggambar’. Ya intinya sih ndak masalah lah kita mau seperti apa kondisinya, selama kita tangguh bertahan di kesibukan yang sama, rasa respect akan terus terbangun, Semoga😀

  4. kenterate says:

    Top tenan, aku suka tulisan ini. Wah, sayang aku tidak ikut jadi pengajar ya. Kalau aku jadi pengajarnya…. pasti yel-yel ku MENANG! Aku harus MENANG! Dan semua anak-anak itu kujamin pasti pengin jadi PENULIS sepertiku hahahaha *ketawa setan.

  5. Wooooh, aku sempat kecewa karena lamaranku tidak diterima. Tapi nek kudu nggawe yel-yel ya berarti aku bersyukur ra sida ketampa. Apa lagi kalau harus pakai salam, “SEMANGAT PAGIIIII???” Aku tertarik dengan ide yang menghubungkan “profesi” dan “motif ekonomi”. Masalah itu sekarang menggelayuti profesi yang saya tekuni. Sampai-sampai setiap ada anak SMU atau SMP yang bilang pengen berprofesi dari saya, sejak awal saya bilang: “kalau pengen profesi ini karena pengen kaya, JANGAN sekali-kali memilih profesi ini.” Sewaktu sekolah, karakter kita sangat berbeda. Saya banyak tidak setuju dengan konsep yang diterapkan guru-guru kita jaman SMP tapi saya lebih banyak diam, tidak seperti kamu yang protes sejak dulu sampai sekarang. Hahahaha, kita berkawan sudah lama ya….???

    • Halah, ra mesti gawe yel2 kok. jane aku beja entuk fasilitator yang nggak aneh2. tapi kok akhirnya teman2 satu kelompok juga ingin beryel-yel seperti kelompok-kelompok lain.

      Menurutku semua profesi berpotensi miskin maupun makmur, yang beda cuma probabilitasnya. Jadi kalau mau bercita-cita ya yang cocok dengan diri sendiri saja. Aku kok nggak terlalu merasakan itu waktu SMP ya? Mungkin karena waktu SMA bener2 lebih gila-gilaan jadi ingatan semasa SMP terkubur :p

  6. antondewantoro says:

    Saya makin tua makin bisa membaca bahwa yang tampak inspiratif biasanya cuma pura-pura. yang inspiratif beneran bianya malah lebih senyap dan khidmat

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s