Rani Si Bledug


rani bledugNamanya Rani. Perempuan.  Gemuk. Teman sekelas waktu sekolah dasar.

Waktu itu saya kelas dua SD. Tidak banyak teman sekelas yang saya kenal. Itu terbukti saat saya tidak menyadari keberadaan Rani sampai kakak saya bertanya,

“Kamu tahu teman sekelasmu yang namanya Rani?”

Saya tidak tahu.

Kakak saya kelas enam. Satu sekolah dengan saya. Bagaimana ia tahu tentang anak perempuan yang sekelas dengan saya?

Sehabis itu baru saya tahu alasan kakak saya menanyakannya.

“Bledug.” Bledug adalah bahasa Jawa untuk menyebut anak gajah.

Pemandangan itu saya ingat benar. Saya berada di koridor. Anak-anak yang besar, teman-teman kakak saya, memanggil-manggil Rani di halaman.

“Bledug! Bledug!”

Rani menangis marah. Ia  berusaha mengejar-ngejar teman-teman kakak saya. Tapi apalah kemampuan gadis kelas dua dibanding bocah lelaki nakal kelas enam. Tangis dan usaha Rani untuk berusaha mengejar mereka membuat bocah-bocah itu makin bersemangat.

Lupa-lupa ingat, apakah kakak saya juga ikut dengan mereka. Sepertinya iya.

Lupa-lupa ingat, apakah itu di hari yang sama atau bukan. Sepertinya bukan.

Seeorang lelaki yang saya ingat sebagai ayah Rani hadir di sana. Ia menggenggam sebuah tongkat. Entah besi, entah kayu, entah dapat dari mana.

Ia kalap. Berlari-lari menghalau bocah-bocah lelaki anak kelas enam. Mengacung-acungkan tongkat pemukulnya sambil berteriak-teriak. Suaranya parau.

Saya kelas dua SD waktu itu. Ingatan saya dapat diragukan. Tapi yang saya ingat, rasanya nada suara ayah Rani itu seperti kalau saya menangis marah tak terkendali.

Sehabis peristiwa itu, sepertinya Rani tidak lagi diganggu. Tidak tahu kenapa. Mungkin sudah ada guru yang campur tangan. Atau mungkin karena melihat apa yang dilakukan oleh ayah Rani, mereka merasa apa yang sudah mereka lakukan itu keterlaluan.

Tadi saya bertanya kepada kakak saya apakah masih ingat teman sekelasku yang dipanggil bledug. Ternyata masih. Ia masih ingat namanya Rani. Dipanggil bledug karena tubuhnya bulat.

Saya masih ingat. Kakak saya masih ingat. Mestinya Rani dan ayahnya juga masih ingat.

Yogyakarta, 2-3 September 2013
di Sanggar Koebus

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s