Pohon Kamboja yang Diperkosa


pohon kambojaIbu memanggilku untuk melihat kamboja jepangnya.

“Delok, kae.”

Pohon kamboja kecil itu, yang kini lebih dikenal sebagai adenium, berbunga lebat sekali. Bunga-bunga merah merekah bertebaran di seluruh batang. Bahkan ada yang seakan muncul begitu saja di pangkal dekat akar. Saya takjub. Baru pertama kali melihat pohon belasan tahun itu berbunga semeriah ini.

Tapi wajah ibu tidak tampak bangga atau senang. Malah muram.

“Sakne. Aku kasih pupuk yang baru saja dibeli. Enggak mengira efeknya sampai seperti itu.”

Aku lihat botol kecil pupuk itu. Seukuran botol vitamin produksi IPI. Pupuk kimia. Pemacu akar, bunga, dan buah. Ibu berkata lagi setengah berbisik,

“Kasihan dipacu seperti itu. Seperti diperkosa saja.”

Sekitar dua minggu lalu, saya ikutan sebuah acara di Taman Bacaan Mata Aksara, Yogyakarta. Namanya taman bacaan, tapi kegiatannya macam-macam. Enggak nyambung tapi disambung-sambungkan. Enggak berkait namun dikait-kaitkan, yang penting asyik. Cara mengkaitkannya adalah, mempraktekkan apa yang telah dibaca. Saya harap tidak ada buku kamasutra di perpustakaan itu.

Kali itu temanya bercocok tanam. Salah satu pelajarannya adalah membuat pupuk organik. Dibawakan langsung oleh praktisi. Mbah Bad, seorang petani.

Mbah Bad bercerita tentang masa lalu, era Soeharto. Untuk meningkatkan hasil, pemerintah mendorong petani memupuk tanaman mereka dengan pupuk kimia. Dengan cepat terjadi peningkatan hasil. Namun lama kelamaan tanah semakin tandus. Petani semakin lama semakin bergantung kepada pupuk kimia yang semakin lama harus diberikan semakin banyak. Tanpa pemupukan dengan pupuk kimia, tanah tidak lagi menghasilkan.

Tandusnya tanah ini disebabkan karena habisnya mikroorganisme yang hidup di tanah. Mati akibat residu kimia yang menumpuk. Padahal mikroorganisme ini sangat dibutuhkan tanaman. Dengan penggunaan pupuk kimia secara terus menerus, tanah diekspoitasi habis-habisan tanpa memberi kesempatan tanah untuk memperbaiki diri.

Mbah Bad minta maaf lalu memelankan suaranya,

“Seperti diperkosa.”

Karena itu Mbah Bar mulai beralih menggunakan pupuk organik yang ia buat sendiri bersama kelompoknya. Tapi pupuk organik tidak bekerja seperti pupuk kimia yang instant. Mikroorganisme butuh waktu untuk memperbanyak diri. Tanah butuh waktu untuk memperbaiki diri. Namun begitu mampu menemukan keseimbangannya, ia akan menjaga dan mengembangkan dirinya tanpa menjadi tergantung pupuk kimia lagi.

Seperti pohon kamboja yang butuh waktu untuk berbunga. Kadang banyak kadang sedikit kadang tidak. Semua ada waktunya. Semua ada prosesnya. Tanpa perlu dipacu, ia sudah indah dalam takarannya.

Omong-omong soal ketergantungan, belum lama saya mendapat sebuah pesan facebook dari seorang anak. Ia meminta saya jadi motivatornya dalam berkomik. Karena katanya, ia tidak mampu kalau tidak ada yang memotivasi.

Saya menolak permintaannya. Alasannya saya tidak mampu. Lha wong saya saja kalau ngomik tidak pakai motivasi-motivasian kok. Masa harus memotivasi orang.

Sebenarnya tidak benar kalau saya tanpa motivasi sama sekali. Saya cuma enggan mengeluarkan energi untuk hal yang seharusnya ia lakukan secara mandiri. Memupuk dan mengembangkan motivasi murni dari dalam diri. Karena kalau pun saya bersedia, energi yang saya keluarkan itu hanya akan merusak dirinya sendiri. Ketergantungan. Kecanduan motivasi.

Tapi saya tidak bisa menyalahkan anak itu. Bagaimanapun ia adalah korban masyarakat. Sistem sosial masa kini yang sedang berkembang. Semuanya harus menghasilkan. Berhasil jadi populer. Sukses jadi kaya raya.

Dan ukuran kesuksesan tidak tanggung-tanggung. Bill Gates, Mark Zuckerberg, Steve Job, Warren Buffet, Bob Sadino, atau kalau dalam komik lokal ya Ardian Syaf, lah.

Lebih dari itu, target kesuksesan juga diberi batas waktu. Sudah jadi bos sebelum lulus kuliah, jadi milyader sebelum keriput, bebas finansial selagi masih imut.

Semua dipacu. Semua memacu.

Mulai dari acara televisi, iklan di koran, khotbah di tempat ibadah, buku-buku di rak best seller, sampai status dan tweet teman-teman di media sosial. Pagi siang malam selalu hinggap di kepala. Semua memotivasi, semua mendorong, saling menyemangati, saling mengingatkan. Harus begini harus begitu jangan begini jangan begitu.

Rasanya benar saya adalah buah dari ibu saya. Hasil didikan orang yang malah sedih melihat pohonnya berbunga lebat alang kepalang. Saya sependapat dengan ibu. Kasihan si kamboja. Tanpa bunga sebanyak itu pun ia sudah cantik.

Saya menganggap segala hingar bingar motivasi-motivasian dan inspirasi-inspirasian belakangan ini seperti pupuk kimia. Ia memacu kita dan harus diakui hasilnya pun tampak mata. Tapi ada hal-hal yang tertinggal yang membuat kita seolah tanpa sebab merasa sepi dan nelangsa.  Hal-hal yang memisahkan kita dari siklus alam. Memisahkan ruh dari sangkan paran.

Momen-momen dalam kehidupan jadi seperti momen saat kita diundang oleh teman lama. Saat kita begitu rindu bertegur sapa, yang keluar adalah tawaran kerja sama. Bisnis, investasi, asuransi, ataupun prospekan pemasaran bertingkat. Tanya-tanya kabar jadi sesi mendengarkan kisah sukses berikut segala tips dan triknya. Saat ingin mengeluh dan mengumpat, kita ditahan dengan nasehat. Segala waktu dan energi dicurahkan untuk sesegera mungkin mendapat hasil dan pencapaian.

Sebaliknya, saya merasa momen-momen kesendirian atau ngobrol kesana kemari tak tentu arah bersama teman itu ibarat pupuk organik. Hasilnya tidak terasa saat itu tetapi sebenarnya lah ia telah memperkaya kita. Waktu luang adalah kesempatan mensyukuri alam. Obrolan ringan dan waktu menyendiri adalah bibit-bibit inspirasi unik yang kadang tiada duanya. Pertemuan dengan kawan dan kisah sehari-hari memelihara motivasi yang  terus menerus muncul sedikit demi sedikit dalam diri.

Kita memerlukan kesabaran. Sama seperti tanah butuh waktu untuk memperbaiki dirinya. Pikiran butuh waktu untuk mencerna segala yang ditangkap oleh indera. Ide dan gagasan butuh waktu untuk diendapkan.  Jiwa butuh waktu untuk tumbuh dan berkembang.

Saya tidak ingin suatu hari melihat ke dalam diri sendiri, lalu berkata sambil memelankan suara,

“Kasihan, seperti diperkosa.”

Sanggar Koebus, Yogyakarta 7 Oktober 2013
harusnya nglembur komik. tapi enggak apalah, kita butuh waktu untuk memperbaiki diri

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

13 Responses to Pohon Kamboja yang Diperkosa

  1. Tobias says:

    Thumbs up, Kur. Mudah2an orang2 di sekitar kt juga bs memahami pentingnya keseimbangan.

  2. Anak Terang says:

    Ini seperti yang dikatakan Lao Zi. Orang yang bisa memahami ini berarti dia telah tercerhakan. Tetaplah pada prinsip itu dan tolonglah orang-orang yang bisa kamu selamatkan

  3. kenterate says:

    Pantas ya bungamu sedikit dan rada telat. Sini Kur, tak kasih pupuk sak kandang :p

  4. PragatComic says:

    Tidak instan memperbaiki secara proses alam… Gak tergesa-gesa… Harus kuta dari godaan sekitar…😀

  5. ratri says:

    Supeeerr sekali….;p

  6. Norma says:

    Bunga jepun, bunga favorit ini….😀 yg warna putih semu kuning paling suka😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s