Dokter Indonesia dan Kapten Boycott


gejala cintaSaya tidak paham hukum dan tidak paham seluk beluk kedokteran, tapi ini yang saya tahu;

Kasus mogok kerja atau boikot pertama yang dikenal dilakukan kepada Kapten Boycott. Boycott adalah agen tanah yang sewenang-wenang pada penggarapnya. Penggarap yang miskin dan tak punya kekuatan apa-apa ini menggunakan strategi baru agar tuntutannya didengar. Mereka menolak kerja saat musim panen tiba. Alhasil panenan tak tertuai. Kapten Boycott mengalami kerugian dan terpaksa berpikir ulang untuk mengabaikan tuntutan para penggarap lahan. Konflik terselesaikan tanpa kekerasan. Kemajuan besar pada perjuangan melawan tirani kekuasaan. Yay!

Keberhasilan ini memicu gerakan-gerakan mogok yang lain. Bahkan di Indonesia kita mengenal Suryopranoto sebagai “Raja Mogok”. Yang ia lakukan tidak jauh dengan yang dilakukan terhadap Kapten Boycott. Mengkoordinir buruh untuk mogok pada penguasa lalim.

Gerakan mogok atau yang juga dikenal sebagai gerakan boikot terus dilakukan dari masa ke masa. Ia menjadi ikon perlawanan kaum tertindas.

Seiring dengan perkembangan dunia, gerakan ini tidak hanya dilakukan oleh buruh penggarap tanah. Tapi juga buruh pabrik.

Dan dokter.

Dokter-dokter Indonesia protes karena ada koleganya dipidanakan. Mereka tidak terima, rekan mereka yang bernama dr Ayu dijatuhi hukuman karena dianggap melakukan malapraktik. Dokter-dokter mogok! Mogok memeriksa pasien!
Saat buruh penggarap ditekan pemilik tanah, mereka mogok memanen agar pemilik tanah rugi. Buruh penggarap melawan pemilik tuan tanah.

Saat buruh pabrik ditekan manajemen pabrik, mereka mogok kerja agar pabrik rugi. Buruh pabrik melawan korporasi.

Saat dokter dijatuhi hukuman oleh institusi hukum akibat laporan keluarga pasien, mereka mogok melayani pasien. Siapa yang sebenarnya dilawan oleh para dokter ini? Kata mereka sih institusi hukumnya.

Ada dua cara membaca fenomena ini.

Pertama, dokter-dokter ini tak ubahnya sekumpulan anak manja. Saat mereka marah pada orang tuanya, mereka melampiaskan kemarahan itu dengan memukuli adiknya. Saat mereka protes pada institusi hukum, pasien lah yang mereka jadikan sasaran.

Namun karena saya yakin dokter-dokter ini orang-orang berpendidikan, jadi kita abaikan kemungkinan pertama. Bagaimana mungkin orang berpendidikan tinggi, masa studi lama, kuliahnya mahal enggak ketulungan, bisa bersikap seperti anak kecil seperti itu.

Kemungkina kedua, dokter-dokter ini arogan luar biasa.
Dokter pasti pernah membuat kesalahan. Tapi apakah kesalahan itu pantas dipidanakan atau tidak memang lain soal. Pasien pasti pernah berpikiran kalau dokter membuat kesalahan. Tapi apakah benar sebuah kesalahan atau tidak itu bisa diperdebatkan.

Dalam kasus dr Ayu, keluarga beranggapan dokter berbuat kesalahan. Itu wajar mengingat pasien meninggal. Mungkin dokternya memang salah, mungkin dokter sekedar tidak simpatik sehingga keluarga pasien sengit, mungkin juga keluarga shock dengan kejadian itu sehingga tak dapat berpikir jernih. Keluarga pasien kemudian melaporkan kasus ini ke institusi hukum. Ketika institusi hukum kemudian memutuskan dokter bersalah, maka cap kriminal pada dokter tidak berada pada tanggung jawab keluarga pasien sebagai pelapor. Tapi kepada institusi hukum yang bersangkutan.

Maka ketika kemudian dokter-dokter melakukan boikot pada pasien, alias mogok memeriksa mereka, secara sadar atau tidak sadar ini yang ingin dikatakan para dokter kepada masyarakat,

“Jangan pernah sekali-kali kalian berani menyalahkan kami, dasar pasien tidak tahu terima kasih!”

Yogyakarta, 28 November 2013
menulis di saat seharusnya bekerja -__-

http://en.wikipedia.org/wiki/Boycott
http://www.berdikarionline.com/tokoh/20120606/suryopranoto-si-raja-mogok.html
gambar diambil dari “Koel Dalam Galau”, Gradien Mediatama, 2012

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

9 Responses to Dokter Indonesia dan Kapten Boycott

  1. anynoymous says:

    mass, tapi kan dokter juga bukan tuhan,,,,, kalau dokter melakukan kesalahan nanti depenjara,,, mendingan kerja yang lain aja , resiko kecil, daripada jadi dokter yang niatnya menolong orang tapi malah di penjara!!

    • hai mas anonymous dengan alamat email palsu,

      saya tidak tahu tentang apa yang sebenarnya terjadi pada kasus dr.ayu. informasi yang diberikan media sering bertentangan dan sepotong-potong. saya juga tidak paham hukum, apakah seseorang yang melakukan kelalaian sehingga menyebabkan kematian saat melakukan kerja sesuai profesinya bisa dipidanakan atau tidak. bahkan saya tidak tahu apakah sejatinya dr ayu bersalah atau tidak.

      seperti apa yang saya tulis, saya sekedar membatasi diri pada gerakan mogok yang dilakukan dokter menanggapi pemidanaan dr ayu.

      tapi kalau lalu ada dokter yang memang mau beralih profesi, ya silakan saja. semua orang berhak memilih profesinya. selama ia bertanggung jawab dan tidak merugikan orang lain.

    • ela says:

      kalo melakukan kesalahan ya harus bertanggungjawab mas/mbak. salam

  2. pagibuta says:

    Hush, siapa bilang sekolah dokter zaman sekarang ini lama? Hari gini kuliah di kedokteran dapat ditempuh dengan hanya 3,5 tahun saja. Lalu mereka akan menjalani co as paling tidak 2 tahun. Habis itu sudah jadi dokter. Cepat kan? Ga kayak dulu yang butuh 7 sampai 10 tahun. Jadi dokter zaman sekarang cukup kuatkan di modal -uang- saja.

    Lagian akar masalahnya ada pada institusi pencetak para dokter. Mereka meluluskan mahasiswa kedokteran terlampau cepat. Sudah tahu kan ya tujuannya untuk apa. Akreditasi dan perputaran modal, ada yang lain? Untuk jadi dokter juga tak dibutuhkan ujian negara. Maka hancurlah sudah. Dokter hari gini susah turun ke daerah. Pengennya di RS swasta yang bergaji gede dan nyaman. Kalau tidak ya di RS pemerintah tapi bukan di pelosok. Ya, mungkin kesannya memukul rata. Tapi dengan masa studi yang cuman 5,5 tahun itu saya lebih baik berobat ke tabib daripada ke dokter. Ah, sudahlah. Ntar malah buat blog di rumah orang. Maaf ya🙂

    Dokter itu kan pekerjaan kemanusiaan. Jadi ya untuk alasan persaudaraan tapi menelantarkan kewajiban utama rasanya kok “aneh” sekali. Wong di medan perang aja kalau ada lawan yang terluka dan berada di dekat area kerjanya kudu diselamatin kok. Lho, kok saya melanjutkan igauan ini🙂. Sudah ya, sekian dari saya yang ga pake alamat surel palsu😀

  3. warm says:

    setiap pekerjaan punya resiko masing-masing, ya kalo gak mau kerja tanpa resiko ya jangan bekerja, tapi ya kedewasaan dalam menghadapi kenyataan memang tak semua orang mampu menghadapinya. cara pandang postingan ini keren, mas🙂

  4. jenis usaha says:

    Mas atau mbak Anonymous, di lapangan kerja apa pun selalu ada risikonya. Itulah kehidupan. Oleh karenanya ada yang namanya Risk Management yang sebetulnya itu sudah diterapkan di berbagai bidang walau sebelum itu dibakukan sebagai sebuah kajian. Naaah, para dokter Indonesia itu miskin dalam risk management ketika mereka mogok kerja, cuti bersama, atau apapunlah namanya seperti yang dipersoalkan istilahnya oleh Prof.DR.dr.Pangkahila. Jika merasa dirugikan MA, ya ajukanlah PK. Tepat yang dianalisis mas Kurnia HW: mereka itu sekumpulan orang manja dan sekaligus arogan.

  5. Fuad Nurhadi says:

    Saya bukan dokter. Tetapi isteri saya dokter, yang berasal dari keluarga dokter. Memang ada beberapa dokter yang punya kompleks superioritas, walaupun ini berdasarkan fakta, karena memang mereka lebih pandai daripada masyarakat umumnya (kalau tidak lebih pandai tentunya tidak bisa diterima masuk FK, dan tidak bisa lulus mata-mata kuliah sains yang sulit). Tetapi kebanyakan dokter, seperti istri saya, menjadi dokter itu karena panggilan jiwa. Kalau tidak, ngapain sekolah lama-lama (dulu ditambah dinas di daerah selama 3-4 tahun), lalu belum tentu bisa masuk pendidikan dokter spesialis, apalagi kalau keturunan Cina. Lulus PPDS, sudah berumur 30an, kantong kempes, rekening bank 0. Sementara teman-teman yang kuliah Ekonomi, Teknik, sudah berkeluarga, beli rumah, bermobil. Dokter harus menunda segala itu krn keinginan kuat melayani sesamanya.

    Kalau anda tidak mau membaca tentang kasus tsb. hendaknya jangan ikut nimbrung. Dan jangan berkelit dengan kalimat “Saya tidak mengerti seluk beluk kedokteran ….”, atau “Saya tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi pada kasus dr ayu …”. Kalau mau ikut nimbrung, pelajarilah dulu.

    Dr Ayu dianggap malpraktek. Malpraktek itu kriminal, artinya tidak memberikan pelayanan sesuai standar yang berlaku. Untuk membuktikannya, mudah, karena setiap tindakan dokter, ada kesaksian (karena dokter selalu dibantu oleh perawat, asistent, dll), ada berbagai macam tes, yang semuanya ada rekam jejak kronologis. Bahkan yang sudah mati pun, ada autopsi. Nah, kasus ini setelah diautopsi, menunjukkan pasien mati karena emboli. Emboli itu ialah risiko yang terjadi pada setiap operasi, yang diterima pasien dan keluarganya ketika menerima untuk dioperasi. Di luar kemampuan dokter untuk mencegahnya. Saya pernah menjalani prosedur angioplasty untuk jantung saya. Sama, saya dan keluarga harus terima dan tanda tangan bhw akan ada risiko termasuk emboli tsb. Baik di Indonesia maupun di USA, prosedurnya sama.

    Ikatan Dokter Indonesia merasa, tidak adil, jika suatu peristiwa yang di luar kemampuan seorang dokter untuk mencegahnya, dibebankan kpd sang dokter yang sudah berjuang sesuai prosedur, sebagai tindakan malpraktek alias kriminal. Pemogokan ini ialah ungkapan dari rasa ketidakadilan itu. Protes terhadap kualitas sistem kehakiman Indonesia yang bobrok. Sekarang ini yang kena dokter, tetapi yang jadi korban dari hari ke hari, dari menit ke menit ialah seluruh rakyat Indonesia. Coba, ada Hakim Agung yang selingkuh dengan seorang hakim negeri. Ada ketua MK yang korupsi milyaran walaupun gajinya sudah ratusan juta per bulan. Artinya, kasus ini kemungkinan diputuskan tidak berdasarkan logika hukum dan kedokteran, tetapi karena 1) kualitas hakim Indonesia yang tidak kompeten, 2) moralitas hakim Indonesia yang rendah, dari tingkat bawah bahkan sampai ke tingkat MA dan MK.

    Itulah inti dari protes ini, yang saya lihat dan baca. Bukan karena saya keluarga dokter. Tetapi krn saya juga sangat prihatin akan kualitas hakim dan sistem peradilan di Indonesia.

    • Halo Mas Fuad,
      Terima kasih tanggapannya.

      Berbagai macam orang dari berbagai macam profesi memiliki kisah jatuh bangun dan perjuangannya masing-masing. Beberapa dari yang berhasil mungkin menjadi merasa superior karena faktanya memang mereka lebih hebat dari yang lain. Tapi apapun latar belakangnya, arogan tetaplah arogan. Sombong tetaplah sombong. Apakah karena seseorang berjuang lebih keras dari orang yang lain maka ia berhak diistimewakan. Tidak. Dunia tidak berjalan seperti itu. Lagipula, memang mungkin dokter bersekolah lebih lama dari profesi lain. Tapi tidak berarti perjuangannya lebih berat dari yang lain. Seperti yang telah saya katakan, setiap profesi memiliki kisah berdarah-darahnya sendiri.

      Saya membaca kasus dr. Ayu. Saya mengikuti berita tersebut. Saya aktif mencari tahu. Saya tahu tercatat ada kasus pemalsuan tanda tangan korban yang sudah dibuktikan oleh lab forensik. Saya tahu rekam jantung korban yang masuk ke dalam berkas berasal dari tahun 2004. Saya tahu mengenai tidak diketahui siapa yang melakukan penggantian infus kedua terhadap korban. Tapi saya sengaja membatasi masalah agar saya tidak terjebak jadi sok tahu tentang hukum. Terlebih mengingat informasi dari media yang sangat simpang siur.

      Apa yang saya bahas dalam tulisan saya di atas terbatas pada pemogokan. Tidak harus mogok untuk mengungkapkan rasa ketidakadilan. Dokter masih bisa melakukan demonstrasi tanpa mogok. Kalau tidak bisa dilakukan di hari kerja lakukan di hari libur.

      Kalau institusi hukum yang ingin diprotes, jangan berikan sinyal melawan masyarakat dengan melakukan mogok melayani mereka. Apalagi dengan slogan-slogan “apa jadinya kalau kami tidak ada”.

      Saya pribadi tidak pusing dengan ancaman arogan itu. Kenyataan bahwa saya masih mengenal dokter-dokter yang baik, yang secara sembunyi-sembunyi menyatakan bangga tidak ikutan mogok, membuat saya percaya apa pun yang terjadi masih ada jiwa-jiwa mulia yang mengabdikan diri untuk meningkatkan kualitas kesehatan sesamanya. Toh tidak hanya profesi dokter yang mengalami ancaman penjara. Jurnalis dan kartunis saja memiliki resiko dipenjara, termasuk ancaman langsung dari moncong senjata. Bahkan saat mereka menyatakan kebenaran.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s