Jogja Last Friday Mob


Jogja Last Friday Ride adalah aktifitas bersepeda bersama keliling kota Yogyakarta yang diadakan pada  hari Jumat terakhir tiap bulan.

Lebih dari satu kali ada wacana dari teman untuk ikutan acara itu bersama-sama. Saya selalu menolak.
Perjumpaan pertama saya dengan Jogja Last Friday Ride (JLFR) adalah saat saya pulang dari menemani ibu saya di rumah sakit. Ibu menunggui paman saya dioperasi. Saya memboncengkan ibu dengan sepeda motor. Malam itu saya lelah dan lapar, kulit terasa lengket oleh keringat. Ingin rasanya segera pulang ke rumah. Mandi, makan, dan beristirahat. Tapi keinginan tinggal keinginan. Saya terjebak macet. Macet oleh sekumpulan muda mudi bersepeda dengan dandanan anak nongkrong memenuhi badan jalan. Kendaraan sulit lewat. Jika ada yang minta jalan dengan cara membunyikan klakson, anak-anak muda ini lalu riuh rendah menyoraki.

Mulai saat itu kegiatan lokal yang mengambil nama dari bahasa asing ini jadi sosok yang membangkitkan trauma. Yang saya saksikan setelah itu juga tidak jauh beda. Anak-anak muda yang bersepeda berjajar memenuhi badan jalan. Melanggar peraturan lalu lintas. Berkendara zig zag mengancam keselamatan diri sendiri dan pengguna jalan yang lain. Saat ada pengguna lain ingin meminta haknya, mereka ramai-ramai menyoraki dengan nada mengancam.

Tidak simpati dengan kegiatan ini membuat saya enggan mencoba untuk turut serta. Sampai malam ini.

Akhirnya saya mencoba mengikuti JLFR. Start dari Kridosono.

Awalnya saya pergi ke Kotabaru untuk mengunjungi Bentara Budaya. Di sana sedang ada pameran foto bertajuk, “Yogya Berhenti Nyaman”. Plesetan dari semboyan “Yogya Berhati Nyaman”. Pameran tersebut bertutur tentang kota Yogyakarta yang tidak lagi terasa nyaman bagi penduduknya. Hotel yang menjamur, tenggang rasa antar warga yang menipis, dan tentu saja: jalanan yang macet.
Iya, jalan macet. Parah. Saya juga terjebak kemacetan saat berangkat. Ditambah lagi ada jalan yang ditutup. Jalan menuju Kridosono. Biasanya saya lewat situ kalau mau ke Bentara Budaya.

Seharusnya menurut publikasi, malam Sabtu ini ada diskusi  tentang Yogya yang berhenti nyaman. Tapi ternyata tidak jadi. Diskusi diundur esok hari. Saya kecewa. Saya pulang setelah melihat foto sebentar.
Saya pulang melewati Kridosono. Dari arah Bentara, jalan ke Kridosono ternyata tidak ditutup. Jadi saya memilih lewat situ. Ternyata jalan di seputaran Kridosono ramai sekali. Penuh remaja-remaja bersepeda yang  berdandan layaknya akan pergi kencan. Sekali lagi saya terjebak macet JLFR.

Tapi kali ini saya tidak dalam keadaan lapar dan lelah. Tidak juga terburu-buru. Jadi santai saja. Saya tenggelamkan diri dalam lautan sepeda itu.

Saya mencoba mengikuti arus. Toh arus ini searah dengan tujuan saya. Katanya sih kegiatan bersepeda, tapi buat menggenjot saja susah saking macetnya. Beberapa orang memilih menuntun sepedanya.

Dan kumpulan ini…

MENGERIKAN!!

“Hoi hoi! Bakar wae mobile!”, bakar saja mobilnya teriak salah satu pesepeda.

Pokoknya saat ada kendaraan bermotor yang melakukan hal yang tidak berkenan bagi mereka, maka ada yang berteriak.

“Hoi! Hoi!!”

Yang lain, yang karena jarak pasti tidak tahu apa yang terjadi, akan ikutan berteriak memanasi suasana,

“Hoi! Hoi!!”

Ada mobil membunyikan klakson. Langsung heboh.

“Hoi! Hoi!!”

Kereta yang melintasi rel di atas jembatan membunyikan peluit.

“Hoi! Hoi!!”

Tapi untuk kali ini mereka cuma berteriak sebentar saja karena segera menyadari kesalahannya. Mereka kira itu klakson mobil.
Tidak cuma pada kendaraan bermotor mereka berteriak. Mereka juga berteriak pada gadis di pinggir jalan.

“Woi! Woi! Pupune putih woi!” Teriak mereka melihat paha salah satu perempuan yang sedang duduk di sebuah cafe pinggir jalan.

Gila! Edan! Berandalan! pikir saya. Jadi saya putuskan untuk mengikuti JLFR sampai tuntas. Karena kalau tidak saya akan merasa tidak adil telah mencap mereka sebagai begundal jalanan. Saya ingin jadi pengamat yang melihat secara keseluruhan baru komentar. Paling tidak  pengamat dari sudut pandang peserta yang berusaha mengikuti kegiatan secara utuh.
Rombongan kemudian masuk ke jalan Malioboro. Tidak habis pikir bagaimana penyelenggara tega membuat rute melewati jalan Malioboro di saat malam liburan seperti ini. Pada saat bukan liburan saja Malioboro sudah langganan macet. Ini bukan saja liburan, tapi Malioboro juga dipasok ribuan pesepeda yang berjalan lambat berjajar di jalan.

Saya tiba saat lampu hijau beralih ke merah. Rombongan pesepeda tidak mau berhenti. Di jalanan yang termasuk kecil, tiga orang polisi berusaha menghentikan pengguna jalan yang datang. Dengan susah payah, akhirnya pesepeda dapat dihentikan. Ada teriakan-teriakan dari belakang yang menyuruh untuk terus saja. Lampu hijau menyala. Polisi masih menghadang pesepeda dan menyuruh kendaraan dari arah lain untuk terus berjalan. Saya paham. Kemacetan sudah sedemikian parah. Kendaraan dari arah itu sudah mengular jauh sekali. Sudah sewajarnya mereka dibiarkan terus dulu dan kami menunggu. Tapi pesepeda tidak mau tahu. Mereka berusaha menerobos. Yang dibelakang ramai meneriaki polisi. Saya yang tetap diam di tempat, didorong-dorong dari belakang. Akhirnya polisi mengalah.

Di sepanjang Malioboro sulit sekali untuk mengayuh. Jalanan terlalu padat.
Kenapa sih kita sebaiknya menggunakan sepeda alih-alih kendaraan bermotor. Sepeda lebih ramah untuk alam. Lebih ramah untuk kita. Lebih ramah untuk kota. Sepeda tidak mengeluarkan emisi. Sebel kan saat kita menikmati udara yang  sejuk tiba-tiba disembur panas yang dikeluarkan dari kendaraan. Sepeda lebih ringkas dari kendaraan lain. Ia yang paling bebas macet. Ia tidak mengotori alam, ia memaksa kita bergerak, dan ia tidak memenuhi jalanan.  Jadi bisa dibilang sepeda adalah kendaraan paling toleran. Tapi tidak di JLFR!

Toleran apanya. Sepeda-sepeda ini digunakan untuk kegiatan bersenang-senang tanpa menghormati pengguna jalan yang menggunakan jalan untuk keperluan seharusnya. Untuk berpindah tempat dari satu lokasi ke lokasi lainnya. Sepeda-sepeda ini tidak mau berhenti di lampu merah. Sepeda-sepeda ini tidak mau berhenti saat ada pejalan ki menyeberang lewat di zebra cross. Sepeda-sepeda ini berjajar renggang, berlenggang santai memenuhi separuh bahkan sampai 3/4 ruas jalan. Sepeda-sepeda ini tidak mau minggir saat ada kendaraan lain mau lewat.

Di jalan Kusumanegara, keadaan juga sempat macet cet. Ada mobil pemadam kebakaran terjebak di sana. Untung sepertinya tidak dalam keadaan bertugas. Tapi coba bayangkan kalau itu mobil yang hendak menyelamatkan rumah kita yang sedang kebakaran. Atau ambulans yang sedang membawa orangtua kita ke rumah sakit.

Di perempatan SGM, saya berhenti di depan lampu yang sedang merah. Saya berhenti di area tunggu sepeda. Peserta JLFR yang lain tidak peduli. Mereka melanggar terus. Dari arah lain kendaraan mengular menunggu lewat. Seorang bapak yang mengatur lalu lintas susah payah menahan pesepeda. Pesepeda ini jadi menumpuk di tengah perempatan. Seorang Ibu pembonceng motor di samping kanan saya berkata,

“Terus aja Mas, sepeda kan enggak apa-apa.”

“Enggak Bu, namanya sama-sama pengguna jalan ya harus taat aturan.”

“Enggak apa-apa Mas. Itu teman-temannya aja terus kok!”

“Ah, sing edan ben edan!” Yang gila biar aja gila, jawab saya.

Tiba-tiba ada mbak-mbak di samping kiri saya nyletuk sambil menjeb, mencibir,

“Tertib ya, Mas!”

Sehari-hari sepeda memang seperti raja jalanan. Coba saja melanggar aturan di depan polisi, paling dibiarkan saja. Jaman saya masih mungil dan kakak saya masih kecil, sepeda tidak kebal hukum. Kalau ketahuan polisi, pesepeda yang nakal bisa disuruh turun dan dihukum push up. Kalau apes ya digembosin.

Saya rasa penyelenggara JLFR tidak bisa lepas tangan terhadap kegilaan para peserta ini. Jujur boleh saya katakan, mereka bukan saja mengganggu tapi juga menteror pengguna jalan yang lain.

Sejatinya jalanan adalah milik umum. Belum ada larangan bagi mobil dan sepeda motor untuk menggunakan jalan raya. Adanya adalah undang-undang yang menyatakan kalau pengguna kendaraan bermotor wajib mendahulukan pesepeda dan pejalan kaki. Itu bukan berarti pesepeda boleh seenaknya.

Penyelenggara memaklumatkan bahwa JFLR bertujuan agar masyarakat bisa mencicipi kesenangan dalam bersepeda. Tapi yang saya saksikan bukanlah kesenangan akan bersepeda, tapi kesenangan akan kekuasaan. Seakan saat sudah bersepeda beramai-ramai mereka jadi penguasa jalanan. Boleh seenaknya. Lalu mengintimidasi yang menentang. Ini sih fasisme gaya baru. Fasisme dengan pedal dan roda.

Penyelenggara menyatakan kalau JLFR bertujuan membentuk kebiasaan agar masyarakat menggunakan sepeda sebagai alat transportasi utama. Saya bertanya-tanya, apakah remaja-remaja ini menggunakan sepeda saat berangkat ke sekolah. Sudah dua tahun kegiatan ini berjalan tapi jalanan kita masih sepi sepeda. Parkiran sekolah sama sepinya dari sepeda. Apalagi parkiran kantor.

Dahulu awal-awal demam sepeda menjamur, tukang parkir dekat rumah saya yang menguasai lahan depan toko sepeda bisa punya karyawan. Ia cuma kerja setengah hari, selebihnya karyawannya itu yang kerja. Dan dalam setengah hari itu ia bisa mendapat uang sampai seratus ribu. Belum ditambah setoran dari karyawannya.  Kalau tukang parkir saja bisa dapat segitu, bisa dibayangkan omset si toko sepeda.

Sepeda di Yogya memang benar-benar sudah jadi gaya hidup. Kalau dulu gaya hidup yang dimaksud adalah sebagai pilihan moda transportasi, sekarang lain lagi. Ya itu tadi, gaya hidup betulan. Buat gaya-gayaan saja. Selebihnya, sehari-hari jalanan kota semakin parah dengan meluapnya kendaraan bermotor.

JLFR yang saya ikuti ini cukup unik. Entah apakah ini juga ada di penyelenggaraan sebelumnya. Ada sepeda-sepeda dan pesepeda yang dihias. Salah satunya sepeda yang dibuat punya karoseri dari karton mirip bus. Ada tulisannya besar-besar, kalau tidak salah ingat “Paguyuban Sumber Macet”. Saya tidak tahu apakah itu bermaksud menyentil kendaraan bermotor atau dengan bangganya menunjukkan kalau dirinya adalah sumber macet di hari Jumat.

Di Jalan Mangkubumi yang menjadi daerah finish JLFR, ada kertas-kertas fotokopian di tempel di aspal.

“Iki Jakarta apa Jogja, kok macet Su!” Ini Jakarta apa Jogja, kok macet Njing!

Kasar ya pakai kata makian. Tapi mirip kok dengan suasana JFLR yang penuh teriakan intimidatif. Saya tidak tahu dari siapa dan untuk siapa tulisan itu. Mungkin dari peserta JFLR ditujukan ke kendaraan bermotor, mungkin dari pengguna jalan ke peserta JFLR. Atau mungkin tidak kedua-duanya.

Buat saya, menggunakan jalan itu sejatinya adalah bentuk saling menghormati kepentingan yang lain. Kita ingin berpindah dari satu tempat ke tempat yang lain dengan memanfaatkan jalan, begitu juga pengguna lain. Mungkin juga kita sekedar ingin menikmati suasana, tapi mungkin juga ada yang sedang membutuhkan jalan dengan kepentingan yang lebih mendesak. Mengantar orang sakit misalnya.
Dan sepertinya sepeda adalah bentuk moda transportasi paling toleran. Sepeda tidak mengeluarkan polusi yang merugikan orang lain. Sepeda juga mengambil ruang yang kecil.
Tapi ketika sikap menghormati pengguna lain ini tidak ada, maka sepeda tidak ubahnya dengan kendaraan lain. Bisa jadi malah lebih parah. Sudah makan ruang yang banyak, jalannya pelan lagi. Menghalangi pengguna jalan yang lain.  Walau tidak mengeluarkan polusi, kemacetan yang ditimbulkan memaksa kendaraan bermotor yang ada mengeluarkan emisi lebih banyak lagi.

Akhirnya kegiatan bersepeda beramai-ramai ini jadi cermin ke-Indonesia-an kita secara keseluruhan. Kalau sudah bisa ramai-ramai jadi merasa berkuasa. Kalau sudah merasa berkuasa bersikap seenaknya. Usaha mengajak masyarakat menuju ke kehidupan yang lebih baik malah menciptakan masalah baru. Maka cita-cita memiliki tempat hidup yang ramah tinggal impian belaka.

27-28 Desember 2013, Sanggar Koebus Yogyakarta
sembari menunggu keringat kering.

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

20 Responses to Jogja Last Friday Mob

  1. warm says:

    saya kurang setuju dengan ulasan singkat, cuma menilai budaya sepeda dari hasil ikutan JLFR satu kali. Lalu seakan menggeneralisasi pengguna sepeda di Jogja

    kalimat sampeyan “gaya hidup betulan. Buat gaya-gayaan saja..” TIdak berlaku sepenuhnya, mungkin iya saat anak muda meluapkan waktu bebasnya satu hari di tiap jumat terakhir itu, tapi sebaiknya sampeyan berkenalan dengan teman-teman saya di komunitas MTB Federal Jogja, ada beberapa yang benar-benar militan, kemana-mana memang terbiasa dan sering naik sepeda.

    Kemudian alinea di ending tulisan.. ” Akhirnya kegiatan bersepeda beramai-ramai ini jadi cermin ke-Indonesia-an kita secara keseluruhan. Kalau sudah bisa ramai-ramai jadi merasa berkuasa” Ya ampun, jangan dikaitkan melebar kemana-mana mas. Mungkin iya saat JLFR kemarin, yang mana saya pun terjebak macet, walaupun pelan-pelan bisa jalan, dan pesepeda yang saya temui ‘kebetulan’ sopan-sopan, mereka memberi jalan saja tuh, juga saya pun jadi hormat memberi jalan pada mereka saat memerlukan celah di jalanan.

    Tentunya tak adail menjudge perilaku mereka hanya dalam satu even yang tampaknya juga baru satu kali sampeyan ikutin, kalau mau membandingkan, siapa yang lebih bikin kesel dijalanan jogja sehari-harinya? Mobil-mobil dari seluruh penjuru Jawa yang makin membludak di akhir pekan, atau sepanjang pekan, justru bagi saya lebih mengganggu.

    Oh iya, saya mau nanya sedikit, pernahkah sampeyan sepedaan minggu pagi, menyusuri jalan Kaliurang sampai ke Warung Ijo, Pakem? Kalau belum cobalah sesekali, dan rasakan atmosfer lain dunia sepeda, yang ramah dan menyegarkan🙂

    Salam !

    • Halo Warm,

      Terimakasih atas tanggapannya. Saya juga tidak setuju jika budaya sepeda dan para pengguna sepeda di Yogyakarta dinilai dari hasil ikutan JLFR satu kali. Kalau ada yang melakukannya, pasti ia arogan luar biasa.

      Saya juga setuju kalimat “buat gaya-gayaan saja” tidak berlaku sepenuhnya untuk semua pengguna sepeda di Yogyakarta. Kalimat itu cocoknya untuk mayoritas pemilik sepeda. Terutama yang menggunakannya buat pamer, ngeceng, dan adu gengsi. Kadang di satu hari Jumat terakhir itu. Kadang di acara-acara sepeda gembira.

      Tentu menarik berkenalan dengan komunitas MTB Federal Jogja. Kebetulan sepeda saya juga Federal. Seri Monaco. Dia setia menemani saya dari tahun 94. Onderdilnya masih asli semua, kecuali laker, ban, dan kawat rem yang terpaksa diganti karena sudah aus.

      Ada beberapa teman saya yang juga militan. Kemana-mana naik sepeda. Sepeda buat mereka adalah moda transportasi utama. Mayoritas dari teman-teman saya yang militan itu ternyata sepandangan dengan saya. JLFR bikin macet saja. Wajar sih mengingat salah satu dari mereka pernah berkata, “Aku ki ngepit udu merga hobi je. Ncen nggo lunga-lunga.”

      Oh iya, saya memang sengaja mengaitkan itu lebar-lebar. Saya menganggap fenomena peserta JLFR yang seolah jadi penguasa jalanan ini tidak jauh beda sama geng motor. Atau konvoi suporter sepak bola. Gerombolan massa yang mengatasnamakan agama. Mahasiswa yang demo tidak jelas. Pokoknya kalau jumlahnya sudah banyak, mereka sok kuasa.

      Memang tidak adil menghakimi perilaku peserta JLFR hanya dari satu even. Bahkan dari satu even itu saya tahu tidak semua sembarangan. Banyak juga yang tertib. Tapi sudah berkali-kali saya berpapasan dengan JLFR. Dan dari kumpulan pengalaman itulah saya memutuskan menuliskannya dalam blog ini dengan resiko dibenci pecinta sepeda. Saya kenal salah satu aktifis JLFR ini yang sepengetahuan saya termasuk militan dan “benar” dalam bersepeda. Ada rasa sungkan dan tidak enak yang membuat saya ragu mengunggah tulisan ini. Tapi akhirnya suatu masalah harus diungkapkan bukan?

      Mobil-mobil dan motor-motor yang membuat macet itu memang sungguh mengganggu. Jengkel rasanya melihat satu mobil hanya diisi satu atau dua orang saja. Atau pengguna sepeda motor yang menggunakan kendaraannya hanya untuk berpindah beberapa ratus meter bahkan beberapa puluh meter. Mereka benar-benar sudah mengganggu, jadi saya benar-benar berharap tidak ada tambahan gangguan lagi. Apalagi yang dilakukan dengan pembenaran, “Kami kan tidak semengganggu mereka, jadi boleh saja dong!” Uhhh! Bayangkan kalau semua orang seperti itu. Gangguan yang kita hadapi pastilah terakumulasi jadi berlipat-lipat.

      Belum. Saya belum pernah bersepeda menyusuri jalan Kaliurang sampai Pakem. Sudah lama saya ingin. Mengingat semasa saya kecil, ayah saya sering melakukannya. Tapi mungkin kegiatan itu juga belum akan saya lakukan dalam waktu dekat. Minggu pagi buat saya waktu untuk bermalasan di rumah. Memang menarik merasakan dunia sepeda yang ramah dan menyegarkan. Dunia sepeda saya kebanyakan beratmosfer panas dan penuh asap. Deg-degan diserempet kendaraan dari belakang, takut disundul dari belakang saat berhenti pas pergantian ke lampu merah, jengkelnya lihat satpam yang menyebrangkan kendaraan bermotor tapi tidak pejalan kaki dan pesepeda di arus yang horor, dan tak lupa tukang parkir yang diskriminatif. Bayangkan, di Malioboro sepeda saya ditolak di parkiran dan disuruh dirantai saja di tiang bendera samping jalan.

      Salam

      • warm says:

        wah makasih sdh ditanggapin puanjang lebar,
        dan wih seri Monaco terrain, kapan2 gabunglah sesekali, minggu pagi biasanya rame di Pakem, ada beberapa anak2 Federal yg suka ngumpul & ngobrol, kadang terus naik ke Kaliurang, tenang saja mas, so far jalanan ke arah situ bersahabat, paling tidak menurut saya, begitu juga ke seluruh penjuru JOgja, walau ya mungkin sedikit kepaksa memakan asap, tapi toh bisa diakali dengan masker😀

        dan soal JLFR ini, fenomenanya mirip sekali dengan saat diadakannya even FunBike, apalagi kalau hadiahnya bombastis. Coba sesekali amati juga, dan bandingkan dengan JLFR, rasanya parah juga bikin macetnya, walau tidak rutin setiap bulan sekali.

        Tapi, kembali soal sampeyan yang mengaitkannya dengan geng motor, saya lagi-lagi tak sepakat. Karena toh even yang diikuti ini, tak membuat kerusakan kok, dan sok kuasa, lagi-lagi toh tak bisa kita menilainya dari seorang-dua yang kebetulan tingkahnya bikin eneg di jalan, bukan ?😀

        Terakhir, kembali soal pamer, saya pikir malah lucu, kualitas sepeda mereka justru jauh dari kesan pamer, mayoritas banyak yang sederhana modelnya, kayak punya saya hehe mungkin yang paling pas : pengen eksis sesekali. Dan soal resiko dibenci pesepeda? Ah tenang saja mas, siapapun berhak menuliskan pengalaman tak enaknya di jalan terkait para pelintasnya, saya tak termasuk pembenci lah, cuma berusaha meluruskan sedikit, padahal saya juga sering ngaco juga pas di jalanan:mrgreen:

        yaampun, komen saya panjang lagi>
        Salam !

      • Iya dong ditanggapi panjang lebar, komennya kan juga panjang lebar.

        Tidak mengapa kita tidak sepakat. Kalau semua sepakat, dunia akan sangat membosankan. Dan sungguh saya tidak antipati total pada JLFR. Acara bersepeda bersama itu menyenangkan. Tapi seharusnya acara seperti ini tidak perlu sampai mengganggu pengguna jalan lain. Peserta bisa bersepeda dengan lebih sopan, berkonvoi cukup berjajar dua sehingga tidak menutup arus yang lewat, dan tetap mematuhi aturan lalu lintas🙂

        Salam

    • mawi wijna says:

      Perkenankan saya memperkenalkan diri terlebih dahulu. Nama saya Wijna. Saya adalah pengendara sepeda di kota Jogja.

      Kalau mas Warm atau mas Kurnia misalnya lewat daerah seputar Kridosono – Pengok – UIN di hari kerja sekitar jam 10.00 s.d. 12.00 mungkin bakal berpapasan dengan saya yang menunggangi sepeda kuning. Lebih lanjutnya silakan main-main ke blog saya saja ya karena sehabis ini saya mau menyuarakan pendapat saya mengenai artikel ini terutama balas-balasan komentar mas-mas berdua.

      Mas Kurnia yang saya hormati, memang tidak semua pesepeda di kota Jogja berlaku arogan seperti yang Mas Kurnia temui di JLFR. Tetapi saya setuju bahwa ada pesepeda JLFR yang berlaku tidak sopan terhadap pengguna jalan lain.

      Kenapa ketidaksopanan itu bisa terjadi?

      Menurut saya, salah satu penyebabnya adalah karena kurangnya penegakan aturan di kegiatan JLFR. Selama ini JLFR dalam pandangan saya adalah wadah untuk membebaskan ekspresi bersepeda. Sayangnya, kebebasan itu seringnya sih kebablasan kalau tidak ada aturan yang mengikat. Anda setuju toh mas-mas berdua?

      Sejauh pengamatan saya, JLFR adalah kegiatan yang tidak diatur dengan baik. Tidak ada pimpinan JLFR yang mengatur tertibnya kegiatan. Hanya ada panduan rute, titik mulai, dan titik akhir. Selebihnya ya silakan bersepeda menurut penafsiran masing-masing pesepeda. Ah, mungkin saya salah menggunakan kata pimpinan, sebab yang saya dengar JLFR itu tidak memiliki pimpinan.

      Ini yang menurut saya harus dibenahi dari JLFR. JLFR berbeda dengan kegiatan nyepeda bareng yang jumlah pesertanya bisa dicacah dengan jari. Peserta JLFR bisa mencapai ratusan orang dan tentu untuk menertibkan jalannya kegiatan yang diikuti ratusan orang sangat tidak mungkin jika hanya mengandalkan kesadaran diri dari tiap-tiap pesertanya bukan?

      Mas Warm dan Mas Kurnia tentu paham kan kalau sebagian besar masyarakat kita itu (mohon maaf) amat sulit untuk taat pada peraturan? Anda berdua tentu sadar kan kalau budaya tertib dan disiplin itu belum sepenuhnya ditaati oleh masyarakat kita?

      Nah, hal-hal itulah yang memicu arogansi pesepeda JLFR seperti yang dikisahkan oleh Mas Kurnia barusan. Saya tekankan lagi pada mas-mas berdua supaya tidak salah paham, bahwasanya amat sulit untuk menertibkan kegiatan dengan ratusan peserta bilamana tidak diatur dengan baik.

      Mas Kurnia dan Mas Warm yang saya hormati, terlepas dari sedikitnya jumlah warga Jogja yang rutin bersepeda tiap harinya, bagi saya bersepeda itu adalah kegiatan yang menyenangkan. Namun tidak semata-mata untuk bersenang-senang, karena agar aktivitas bersepeda saya menyenangkan maka saya tidak boleh membuat pengguna jalan lain tidak senang dengan aktivitas saya. Intinya adalah kita sebagai sesama pengguna jalan raya harus selalu disiplin dalam berkendara.

      Sekian saya rasa karena komentar saya sudah jauh melampaui komentar Mas Kurnia dan mas Warm. Lebih dan kurangnya saya mohon maaf. Salam dari saya, warga Jogja yang senang bersepeda.

  2. antondewantoro says:

    Saya terjebak JLFR…STUVWXYZ (or whatever, wueelek banget singkatane pokokmen) kemarin Jumat di Kridosono. Yang amat saya heran adalah siapa yang mengkoordinir ribuan remaja labil ini. Sekali disentil dengan hasutan tidak bertanggung jawab mudah saja jadi rusuh.Mobil – mobil terjebak tanpa tahu bisa kemana. Semua badan jalan dipakai untuk parkir sepeda. Polisi hanya tampak menutup Jalan Abubakar Ali tapi membiarkan akses lain di samping RRI dilewati mobil sehingga kami terjebak – bak tanpa harapan. Sejam kemudian baru bisa melipir ke jalan Wardani samping SMP 5 dan lolos menuju jalan layang. Fyuhh.

    Bersepeda itu sungguh baik kalau niatnya mengurangi kemacetan dan polusi. Tapi untuk kasus JLFR saya setuju sekali bahwa itu adalah arogansi pesepeda semata. Entah siapa penggagas atau penyelenggaranya wajib membuat format yang lebih ramah dan menghormati pengguna jalan lain. Meyakini bahwa bersepeda itu baik jangan lantas mencap bermobil itu dosa.

    Aku sakjane meh mengeluarkan uneg2 meneh, ah tapi iki dudu blog ku sih….tak repost oleh ora?

  3. azhar gilang says:

    saya sedih melihat ulasan di blog ini, jogja yang saya kenal dan tahu 4 tahun yang lalu tidaks searogan ini. saya juga termasuk salah satu anggota klub sepeda di jakarta selatan bernama Rosela. Fenomena JLFR ini sama dengan acara Kelap Kelip yang diadakan di jakarta. Pada awalnya acara kelap kelip di gagas acara pulang bareng karyawan kantor yang sama2 bersepeda dan se arah ke daerahnya masing2. Semenjak banyak sponsor dan adanya tawaran hadiah2 peserta menjadi membludak. Tidak lama dari itu semangat kelap kelip berubah menjadi semangat arogansi peserta yang menguasai jalanan dan memburu hadiah semata (bounty hunter). sejak itulah kelap kelip berakhir dengan sendirinya.

  4. nur cholish says:

    betul Mas dab, dulu kalo aku pas masih di Jogja kadang bersepeda ke kampus, pas kerja jg pernah tp cuma bbrp kali lha Godean-Monjali uadohe ra njamak😀.. Ane jg slalu berhenti pas ada lampu merah dan seakan-akan semua mata tertuju padaku (do Gumun paling), mungkin ngrasa kalo ga ada aturan lalin bwt sepeda jd seenaknya sendiri dan kesannya kebal hukum ya, lha polisi wae jg kayak pura2 ga liat.
    Intinya kalo ane sih bukan masalah pd sepeda utk gaya hidup atau rame2 spt JLFR yg menimbulkan kesan buruk, krn memang masih banyak di tempat lain di Jogja yg mnjadikan bersepeda jd moda transportasi utama dan jg tertib kok di jalan, coba lihat di daerah Srandakan ke utara sedap sekali dilihat kalo bpk2 ibu2 yg bersepeda mau kerja tiap pagi.
    Kalo ane sih pengennya kayak dulu ketika sepeda harus punya semacam STNK tp lupa apa namanya, jd kalo pas nglanggar bisa ditilang😀 biar adil, sesama pengguna jalan jd pas lampu merah yg bersepeda berhenti semua, dan rasanya Jogja Kembali Nyaman😀
    Salam kenal Mas,

  5. rasarab says:

    Pada dasarnya saya tau maksut apa yang ingin disampaikan. Namun saya kurang setuju masalah

    ” Sehari-hari sepeda memang seperti raja jalanan ”

    hehehe seolah olah JLFR mewakili seluruh pesepeda Jogja, saya rasa tidak.Saya bersepeda setiap hari dan nyatanya tetap jogja masih sepi sepeda pada hari aktif tentunya senin sampai sabtu, hanya pas momen atau event tertentu saja Jogja memang terlihat lautan sepeda. jadi bisa saya pastikan sangat jauh dari sehari-hari sepeda memang seperti raja jalanan. Kalau sepeda motor ane baru iyain:mrgreen:

    Juga masalah di gembosin polisi itu jujur 20 tahun saya hidup dijogja gak pernah ngalamin itu, saya kebetulan tinggal di kota di jalan kusumanegara. Gak tau pengalaman yang dialami mas e itu:mrgreen:

    Saya sendiri pesepeda namun jujur sangat tidak respect dengan JLFR, pernah ikut awal2 dari 1-12 namun merasa tidak sepaham dengan hati ane, ane memutuskan untuk tidak ikut setelah itu.

    ane juga menulis tentang JLFR yang mungkin bisa jadi blogwalking ke blog ane:mrgreen:
    1. http://rasarab.wordpress.com/2013/09/28/jogja-last-friday-ride-jlfr-dan-arogansi-konyol/
    2. http://rasarab.wordpress.com/2013/09/02/tentang-jogja-last-friday-ride-jlfr/

    salam kenal

  6. indrijuwono says:

    eh, halo kak kurnia, kebetulan kok nyasar di blogmu ini sesudah membaca blog lutfi. dan senangnya menemukan teman yang sama-sama masih pakai federal, walau punyaku sudah ditinggal di rumah orang tua di bandung sana. dulu aku punya tahun 93 kalau nggak salah, hadiah ulang tahun ke.. ah, sudahlah.

    hanya menemukan nostalgia bersepeda ya, sekarang sih aku bersepeda hanya untuk menjaga kesehatan, karena sehari-hari aktivitas terlalu jauh kalau ditempuh dengan sepeda.

    salam, semoga kak kurnia masih ingat aku..🙂

  7. Tobias says:

    Wah, aq malah baru liat posting kamu yang ini…ketinggalan kereta yah?

    Sepeda raja jalanan di Jogja? Ga tau ya sekarang ini…jaman kita dulu taon 2000, semester 1, aq malah empot2an nge gowes sepeda sampe kampus…berhati2 supaya ga disalip motor😀 hehe..

    Tapi itu sekedar nostalgia. Aq sebenernya cuma mo tanya sih, apa iya kondisi Jogja udah separah itu? Nggak lagi nyaman? Soalnya lagi berencana mo jalan2 ke Jogja nih…

  8. sabar laksana says:

    Sama2 mempunyai itikad baik,,jd baik mn,,bersepeda ato pke kendaraan bermotor???
    JLFR bikin macet cm sebulan sekali,, sdangkan kendaraan bermotor stiap hari??!!
    Sampai kpn bangsa ini mau sadar dan move on dari gilanya teknologi yg tdk di atur penggunaannya??

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s