Orang Tabah Disayang Tuhan


Masih ingat komik-komiknya Tony Wong jaman dahulu semacam “Tapak Sakti” dan “Tiger Wong”? Di komik-komik itu, hampir semua tokoh lelaki digambarkan berotot.

Ada dua teman jago gambar sekelas yang suka mencontoh gambar-gambar di komik tersebut. Tentu saja gambar pria-pria kekar. Serba berotot. Akibat terlalu sering terpapar dan memaparkan diri pada tubuh-tubuh berotot, kedua teman itu, Andre dan Adhi ikutan ingin berotot. Lalu mereka berdua memproklamirkan klub baru mereka.

Klub Photix.

Asalnya dari kata pothok yang artinya berotot. Mengikuti logika berbahasa Jawa, pothok sekali disebut photik. Biar keren ditulis photix.

Tapi tidak semua siswa di kelas kami bisa photix. Ada beberapa siswa yang berukuran kecil. Anggap saja anak-anak yang terlambat perkembangannya. Kumpulan siswa tidak populer, tidak berprestasi, kecil nyempil duduknya ngumpul di belakang. Ada saya, Jimi, Joko, Enas, Candra, Hanggoro, dan Oscar.

Kami tidak ingin kalah. Hendak bikin klub juga. Namun karena naga-naganya kesulitan mencari persamaan yang keren, akhirnya siswa-siswa “yang terlambat berkembang” ini memilih “tabah” sebagai nama klub.

Klub Tabah.

Semboyannya adalah, “Orang tabah disayang Tuhan.”

Oscar sebenarnya tidak termasuk ke dalam “anak yang terlambat berkembang”. Walau masih SMP badannya sudah penuh bulu. Tapi mungkin ia merasa senasib seperjuangan dengan kumpulannya tersebut.

Kalau Klub Pothix perjuangannya jelas. Menempa diri menjadi berotot. Sedang Klub Tabah agak-agak absurd. Tidak jelas. Mungkin lebih ke penjiwaan. Bukan perbuatan.

Semisal waktu Jimi kembali ke bangku saat baru saja mengambil hasil ulangan dari depan kelas. Sambil mengelus-elus dadanya ia berujar,

“Tabah, tabah! Orang tabah disayang Tuhan.”

Lalu teman-teman, terutama teman se-Klub Tabah tertawa berderai. Bukankah tawa memang merupakan mekanisme alam untuk melonggarkan pikiran dari tekanan yang menghimpit? Atau nilai ulangan berangka pelit?

Sedang saya, mungkin karena sombong, tidak mau ikut keduanya. Saya bikin klub sendiri.

KFC. Kurnia Fans Club.

Adapun apa yang pantas digemari dari saya itu sungguh saya tak tahu. Pokoknya terdengar keren dan mirip merk terkenal. Nyatanya klub saya sukses. Beberapa teman, termasuk dari Klub Photix dan Klub Tabah terdaftar sebagai anggota KFC. Ada kartu anggotanya segala. Saya gambar dengan tangan.

Biar eksis dibentuklah kegiatan. Misal lomba menggambar ulang tampang Presiden Soeharto yang fotonya menggantung di muka kelas. Pemenangnya ditentukan berdasar voting bersama seluruh anggota KFC.

Namun memang sulit mengelola penggemar. Ataupun organisasi yang dalam kasus ini berupa klub. Klub-kluban ini perlahan-lahan menghilang. Tidak dilupakan, tapi keberadaannya diabaikan. Klub Pothix dan Klub Tabah jadi legenda. Sedang KFC kembali jadi hanya sekedar nama bagi ayam goreng.

Oh ya, saya teringat Klub Tabah karena tadi menonton Angela Lee Duckworth: The Key To Succsess? Grit

Intinya bahwa dari penelitian-penelitian yang dilakukannya, Bu Angela menyimpulkan kalau kunci kesuksesan adalah ketabahan.

Bagaimana kabar teman-teman masa kecil saya itu?

Saya tidak tahu dengan Adhi, tapi Andre tidak bisa dibilang pothix. Ia kurus dan tinggi. Mungkin berotot, tapi jauh dari pria-pria di komik-komik Tony Wong.

Kabar terakhir menyatakan Joko menjadi karyawan pabrik susu. Beda jauh dari cita-citanya ingin menjadi profesor.

Sehabis berganti-ganti profesi, kini Jimi merantau ke kampung halaman istri barunya dan bekerja di pertambangan.

Candra hilang kabarnya. Enas juga. Tapi konon sewaktu kuliah Enas berhasil memenangkan kejuaraan robotika dan bekerja di sebuah perusahaan IT begitu lulus kuliah.

Oscar beranak pinak dan mengelola toko emasnya sendiri. Masih membisniskan hobinya memelihara binatang.

Hanggoro baru saja menyelesaikan studi S-3nya. Hasil beasiswa ke negeri orang.

Sedang saya,

Ya begini-begini saja. Menulis blog sambil mengelus-ngelus dada.

“Tabah, tabah! Orang tabah disayang Tuhan.”

Yogyakarta ,7 Maret 2014, 
dini hari tidak bisa tidur dan tergoda nulis ngawur

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

3 Responses to Orang Tabah Disayang Tuhan

  1. Benny Kirana says:

    Tumben ga ada ilustrasi ala koer, photix vs tabah vs KFC dalam komik tapak sakti, ngebayanginnya bikin ngguya ngguyu hehehe…

    “Tabah, tabah! Orang tabah disayang Tuhan.”

  2. antondewantoro says:

    Masih ada saya kok yang “begini-begini saja”. Ayo bikin klub begini-begini saja (KBBS)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s