Kota yang Dijual Seharga AC untuk Tempat Sampah


ac sampahSejak dahulu saya telah berikrar pada diri sendiri, besok kalau punya rumah tidak pakai AC. Air Conditioner. AC itu mahal, boros listrik, penyumbang besar pemanasan global, dan yang terpenting adalah kenyataan bahwa saya gampang masuk angin. Tidak tahan dengan ventilasi buatan. Entah itu AC atau kipas angin. Bahkan mungkin kipas sate. Pokoknya rumah saya besok mengandalkan ventilasi alami. Model rumah tropis. Urusan nyamuk kita hadapi dengan tanaman pengusir nyamuk. Juga ketabahan menghadapi rasa gatal dan suara berdengung.

Ealah, saat merenovasi rumah yang saya tinggali, ibu saya memberi pesan,”Mbok kamar yang itu dikasih AC.”

Alasannya?

“Biar kakakmu dan keluarganya bisa tidur di situ kalau pulang ke Yogya.”

Keponakan-keponakan yang masih sebesar cindil-cindil* itu memang sudah terbiasa tidur di kamar ber-AC. Susah terlelap kalau harus berada di kamar dengan fasilitas tradisional seperti di tempat kami. Tapi tahukah Anda yang membuat saya mengerang dalam berang?

Mereka ke Yogya paling cuma setahun sekali!!

Saya menolak dengan geram. Enak aja. Biar dibilang durhaka, biar! Cita-cita rumah tropis kok mau dihancurkan dengan jadi penginapan cindil metropolitan beberapa malam dalam setahun.

Menolak penggunaan AC pada diri dan keponakan sendiri sebenarnya meletakkan saya dan keluarga lebih rendah dari martabat sampah. Soalnya sampah saja dikasih AC, kami malah tidak. Ha ha!

Dalam pertemuan RT beberapa waktu lalu diterangkan rencana pembangunan hotel di kawasan kami.

“Sampahnya tidak bau. Mereka punya tempat sampah yang diberi AC. Nanti kalau sudah penuh baru diangkut. Jadi tidak mengganggu.”

Ingin saya berkata kalau itu mengganggu. Lebih tepatnya mengganggu pikiran saya. Tapi saya diam saja. Kan orang Indonesia.

“Mereka juga akan mempekerjakan warga sekitar. Jadi anak-anak muda yang biasanya bingung mau ngapa bisa bekerja di sana. Mending daripada cuma nganggur. Tapi tentu pakai seleksi. Tidak asal comot.”

Intinya, warga RW kami mendukung rencana pendirian hotel itu. Minimal tidak menolak. Alasan pertamanya klasik. Menyerap tenaga kerja. Lebih tepatnya menyerap jongos. Alasan keduanya termasuk baru bagi saya. Saking barunya bisa membuat saya melongo beberapa detik. Tempat sampahnya pakai AC.

Soal kemacetan tidak disebut. Penurunan air tanah tak disinggung. Apalagi soal pemandangan yang direnggut paksa dari warga kota.

Tidak jauh dari lokasi calon hotel itu ada pusat perbelanjaan. Sewaktu pembangunan pusat perbelanjaan tersebut, sumur warga sekitar menjadi kering. Perlu diingat kalau hotel akan menyerap lebih banyak air daripada pusat perbelanjaan. Sakit hati saya juga masih sering kambuh tiap kali teringat pemandangan gunung merapi dari rumah orang tua saya. Pemandangan itu kini digantikan baliho dengan tulisan “let’s shopping”.

Ayo belanja gundulmu!  (Tuh, kan! Saya masih sakit hati)

Di sudut lain kota Yogya, ada sebidang tanah yang siap diratakan. Apalagi kalau bukan untuk hotel. Hotel lagi dan hotel lagi. Gosip-gosipnya warga sekitar sepakat mematok angka 25 juta per keluarga untuk tanda tangan persetujuan pendirian hotel tersebut.

“Jogja ora didol!”

Pernyataan untuk menolak menjual Yogyakarta dikumandangkan dengan heroisme tinggi kepada pemerintah kota. Tapi rupanya pahlawan-pahlawan ini lupa atau tutup mata kalau ada warga kota yang turut berkomplot dengan pemilik dana.

***

Tidak kukira bapak-bapak pensiunan PU itu bisa cerewet bukan main. Padahal baru beberapa menit kami tidak sengaja duduk bersebelahan. Ia bercerita macam-macam sambil menutup mulut dengan jari-jari tangan. Kalau diperhati-hatikan, ludahnya muncrat-muncrat. Saya yakin giginya palsu semua.

Sudah beberapa tahun ia membeli rumah dan menetap di Yogyakarta. Sebelumnya berpindah-pindah dinas keliling Indonesia. Pernah di Jakarta. Sampai hafal daerah-daerah banjir.

“Jakarta itu tanahnya turun. Gedung-gedung di Thamrin itu tanahnya turun terus. Kelihatan. Gedungnya tidak karena pondasinya pakai tiang pancang. Tapi tahu, kan? Lantainya, yang ada di tanah. Sudah begitu air tanahnya masih disedot terus menerus. Orang sebanyak itu kan pakai air banyak sekali.”

“Wah! Yogya juga begitu, Pak! Air tanahnya turun terus!” tukas saya.

“Woooo, iya! Makanya saya pilih tinggal di utara. Tanah di Bantul saya lepas, saya beli rumah di Sleman.”

Sialan.

*cindil = anak tikus

Sanggar Koebus, Yogyakarta, 11 Mei 2014
sehabis nonton “Gerundelan Orang-Orang Republik” di Bentara Budaya Yogyakarta
duduk di sebelah bapak lulusan Teknil Sipil UGM angkatan ’66
lumayan, dapat gratisan air jeruk dan nasi gudeg

This entry was posted in Uncategorized and tagged . Bookmark the permalink.

13 Responses to Kota yang Dijual Seharga AC untuk Tempat Sampah

  1. Himajinator says:

    Reblogged this on Himajinator and commented:
    Jadi kepikiran hal yang sama, untuk enggak ber-AC ketika punya rumah kelak. Alasannya kurang lebih ya sama juga “AC itu mahal, boros listrik, penyumbang besar pemanasan global, dan yang terpenting adalah kenyataan bahwa saya gampang masuk angin.”
    Ya benar, aku gampang masuk angin dan kedinginan.

  2. kenterate says:

    Woh, sido tenan to arep digawe hotel? Jian, 25 yuta, murah tenan. Itu uang mau dibelikan rumah baru juga nggak dapat!

    Dan let’s shopping? Itu memang mengganggu betul karena SALAH secara grammar. Grkkkk. Melu gerundelan.

  3. dipo says:

    Kok aku merasa disebut-sebut ya?

  4. antondewantoro says:

    Makannya saya tinggal di bekas rawa…yang jelas airnya sudah jelek….eh

  5. Pingback: Kenapa Togua itu Logo Terbaik Buat Jogja | Kolom Kurnia

  6. Yemimaria says:

    “Giginya palsu semua” ngakak terbahak smoga bkn Drg yg buat. Hmmph mau di lanjutkan tp nanti kompleks. Tp mungkin ada baiknya klo yg buat Drg bisa jadi si bapak makin cerewet dan tak terkendali.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s