Era Popularitas, Eranya Mencari Kekayaan dengan Menjadi Populer


Sejarah peradaban manusia dapat dibagi menjadi era-era tertentu. Ada era berburu dan meramu, era bercocok tanam (agraria), era industri, dan era informasi. Era yang sekarang masih bisa diperdebatkan. Ada yang menganggap masih era informasi, ada yang bilang sudah mulai era nano teknologi, atau ada yang beranggapan era cyber optic. Semua sah-sah saja.

Era-era di atas saya pandang sebagai pembagian masa bagaimana manusia mencari penghidupan dengan cara yang paling efektif. Di era agraria, manusia mengumpulkan kekayaan dengan cara bercocok tanam. Di era informasi, manusia paling mudah mengumpulkan kekayaan dengan bermodal informasi sebanyak-banyaknya. Karena itulah saya mengganggap sekarang adalah era popularitas. Menjadi populer adalah cara termudah untuk mengumpulkan kekayaan.

Enggak harus jadi penulis hebat untuk menjual banyak buku. Cukup jadi populer lalu terbitkan buku. Bahkan tidak perlu kita yang harus menulis. Bisa suruh orang lain lalu pajang nama kita di atasnya. Jadi populer juga membuat kita gampang main film, jadi pembicara, atau tampil di acara-acara ini itu. Bahkan kadang cuma dipinjam nama atau mukanya. Semuanya menawarkan uang. Semakin populer kita, semakin banyak uang yang ditawarkan.

Menjadi populer bisa karena tidak disengaja. Misal video lip-sync “Keong Racun” Sinta dan Jojo yang nge-hits di youtube. Atau video Norman Kamaru yang membuat dia jadi selebritis instant.

Menjadi populer bisa juga karena disengaja. Memang dikonsep. Direncanakan. Diperjuangkan dalam jangka waktu yang panjang. Bentuknya bisa bermacam-macam. Intinya jual diri, berusaha sesering mungkin tampil dimana-mana.

Salah satunya adalah dengan menunggangi arus populer. Nimbrung pada suatu hal yang sedang ramai diperbincangkan masyarakat. Biasanya yang kontroversial. Melibatkan pertentangan antar dua kubu atau lebih.

Jadi jangan mudah percaya pada seseorang yang membuat sebuah karya atau pernyataaan dalam rangka menanggapi masalah yang sedang populer. Jangan gampang terpukau dengan pernyataan macam, “Saya bikin ini tidak dibayar siapa-siapa. Murni inisiatif saya sendiri!”

Ya, bisa jadi memang murni tanpa tendensi apapun.

Bisa jadi memang tidak dibayar dan mengharap bayaran dengan uang, tapi mengharap terbayar dengan popularitas.

Terbayar dengan popularitas berarti dibayar secara tidak langsung. Pembayarannya bisa berupa yang tadi saya sebut di atas. Jadi diundang ke acara ini itu atau gampang cari klien. Ujung-ujungnya sama. Duit. Mungkin pula sekedar kepuasan pribadi karena merasa dielu-elukan banyak orang.

Kalau yang saya sampaikan ini masih terlalu sulit dipahami, mari kita coba obrolkan dengan cara yang lebih sederhana. Misal saya ingin mencari uang dengan menjadi seleb-tweet. Selebritis di twitter. Saya akan akan rajin tweet hal-hal yang menarik. Mengundang follower. Untuk melakukan ini saya tidak dibayar apa-apa. Tapi begitu saya sudah berhasil menjadi seleb-tweet, memiliki banyak follower, maka berbondong-bondong ada pihak-pihak yang menginginkan saya men-tweet kan kepentingan mereka. Saya jadi buzzer, yang konon bisa menghasilkan sampai sepuluh juta rupiah perhari.

Selama itu saya akan tetap tidak dibayar untuk men-tweet hal-hal menarik, tapi saya dibayar untuk nge-buzz. Saya tidak dibayar untuk tweet ini, tapi tweet ini akan membuat saya dibayar untuk melakukan tweet itu. Apakah saya bisa dengan mudah membodohi Anda dengan membusungkan dada sambil berkata, “Saya nge-tweet ini tidak dibayar siapa-siapa. Murni inisiatif saya sendiri!”

Seyogyanya kita harus selalu sadar dan mawas diri. Bahkan mungkin saya menulis ini juga karena berharap bisa terkenal. Traffic blog saya meningkat. Biar orang-orang terngiang-ngiang terus nama saya. Biar besok-besok lebih mudah bagi saya mencari uang. Siapa tahu.

Dalamnya laut bisa diukur, tapi dalamnya selimut siapa tahu. Eh, maksud saya…

Dalamnya laut bisa diukur, tapi dalamnya hati siapa tahu.

Koel_279kecil

Yogyakarta, 26 Juni 2014
Sanggar KOEBUS, seharusnya menggunakan waktu untuk mempelajari bacaan.

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

2 Responses to Era Popularitas, Eranya Mencari Kekayaan dengan Menjadi Populer

  1. benny-k says:

    menarik dan pas banget dengan suasana jelang pilpres, ajang cari popularitas
    bahkan black campaign-pun bisa membuat calon yang dijelek-jelekan makin populer

    satu lagi mas koel, saya ijin kopi paste untuk di blog saya ya…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s